Dari Kampus, Menjadi Dampak - H.M. Sahlan, S.Ag.: Alumni Syariah UMI, dari Penghulu Kini Pengelola Pengadaan Barang dan Jasa serta Ketua Tim Penerangan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulbar
MAKASSAR, umi.ac.id — Dari melayani masyarakat sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA), perjalanan H.M. Sahlan, S.Ag. berkembang melalui berbagai tanggung jawab di Kementerian Agama hingga kini dipercaya menjalankan tugas sebagai Pengelola Pengadaan Barang dan Jasa serta Ketua Tim Penerangan Agama Islam dan Sistem Informasi pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat.
Perjalanan tersebut memiliki akar pendidikan di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Sahlan merupakan alumnus Sarjana Syariah UMI yang kemudian melanjutkan pendidikan magister di STIA LAN Makassar. Ada kesinambungan yang menarik dalam perjalanan itu. Pendidikan Syariah memberinya fondasi keilmuan keislaman. Birokrasi mempertemukannya dengan tata kelola pemerintahan. Sementara keterlibatan dalam berbagai organisasi keagamaan memperluas ruang pengabdiannya kepada masyarakat. Dari memahami agama di ruang akademik, ia kemudian bekerja pada ruang yang mengelola pelayanan kehidupan beragama.
Memulai Pengabdian sebagai Penghulu
Perjalanan Sahlan di Kementerian Agama tidak langsung dimulai dari posisi strategis. Pada 2005, ia mengawali pengabdian sebagai Penghulu pada KUA Kecamatan Mamasa. Tugas tersebut menempatkannya sangat dekat dengan masyarakat. Sebagai penghulu, pelayanan keagamaan tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai ketentuan dan administrasi perkawinan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, memahami masyarakat, serta menjalankan pelayanan dengan tanggung jawab.
Di titik inilah pendidikan Syariah yang diperolehnya di UMI menemukan salah satu ruang penerapan yang langsung. Dari pelayanan di tingkat kecamatan, perjalanan karier Sahlan kemudian berkembang ke berbagai bidang di lingkungan Kementerian Agama. Ia pernah dipercaya sebagai Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kandepag Mamuju, menjalankan sejumlah amanah sebagai kepala seksi, Kasubbag Humas, hingga memperoleh tanggung jawab dalam pengadaan barang dan jasa serta penerangan agama Islam. Perjalanannya menunjukkan bahwa karier birokrasi dibangun secara bertahap. Dari pelayanan langsung kepada masyarakat, menuju tanggung jawab tata kelola yang semakin luas.
Kini di Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Barat
Dalam perjalanan kariernya, Sahlan kemudian dipercaya menjalankan tugas sebagai Pengelola Pengadaan Barang dan Jasa serta Ketua Tim Penerangan Agama Islam dan Sistem Informasi di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat.
Dua ruang tugas tersebut memiliki karakter berbeda. Pengadaan barang dan jasa berhubungan dengan tata kelola, ketelitian, kepatuhan terhadap prosedur, akuntabilitas, dan tanggung jawab penggunaan sumber daya publik. Sementara penerangan agama Islam dan sistem informasi bersentuhan dengan komunikasi keagamaan, penyampaian informasi, serta pelayanan kepada masyarakat.
Di sinilah perjalanan Sahlan memperlihatkan perkembangan kompetensi seorang aparatur. Latar belakang Syariah tetap menjadi fondasi, tetapi tuntutan profesi membuat kompetensinya berkembang memasuki tata kelola pemerintahan, komunikasi publik, administrasi, dan pelayanan keagamaan. Ilmu memberi dasar. Pengalaman memperluas kemampuan. Amanah memperbesar tanggung jawab.
Pengabdian Tidak Berhenti di Birokrasi
Ruang pengabdian Sahlan juga berkembang di luar tugas kedinasan. Ia dipercaya terlibat dalam sejumlah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan di Sulawesi Barat, termasuk sebagai Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Barat, Sekretaris Umum MUI Sulawesi Barat, Wakil Ketua PW Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat, serta Ketua MDS Rijalul Ansor Sulawesi Barat.
Ia juga aktif dalam kepengurusan PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), PW Dewan Masjid Indonesia (DMI), Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ), serta Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Sulawesi Barat. Keterlibatan tersebut mempertemukan tiga ruang dalam perjalanan Sahlan: birokrasi, keagamaan, dan kemasyarakatan.
Ketiganya membutuhkan satu kemampuan yang sama pentingnya: membangun komunikasi dan kepercayaan di tengah masyarakat yang beragam.
Dari Pelayanan Keagamaan Menuju Kerukunan Sosial
Keterlibatan Sahlan dalam berbagai organisasi juga memperluas makna pengabdian seorang alumnus Syariah. Pengetahuan agama tidak hanya digunakan untuk memahami hukum dan ketentuan keislaman. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, pemahaman keagamaan juga membutuhkan kemampuan berdialog, membangun harmoni, mendorong moderasi beragama, serta menjaga kehidupan sosial yang damai. Sulawesi Barat dengan masyarakat yang beragam membutuhkan ruang perjumpaan semacam itu.
Karena itu, pengalaman Sahlan dalam birokrasi Kementerian Agama dan organisasi kemasyarakatan menjadi dua ruang pengabdian yang saling bersinggungan. Pelayanan keagamaan tidak berhenti pada administrasi. Ujungnya adalah bagaimana agama ikut menghadirkan ketenteraman, kemaslahatan, dan kehidupan sosial yang harmonis.
Dari Syariah UMI, Ilmu Menjadi Pelayanan
Perjalanan H.M. Sahlan dapat dibaca melalui lintasan yang saling terhubung: Syariah UMI → Penghulu KUA → Zakat dan Wakaf → Birokrasi Kementerian Agama → Pengadaan Barang dan Jasa → Penerangan Agama Islam → Organisasi Keagamaan → Pelayanan dan Kerukunan Masyarakat.
Namun, nilai perjalanan tersebut bukan pada banyaknya jabatan yang pernah diemban. Yang lebih penting adalah perluasan ruang pelayanan. Ia memulai dari pelayanan keagamaan yang sangat dekat dengan masyarakat. Pengalamannya kemudian berkembang ke tata kelola birokrasi. Pada saat yang sama, organisasi keagamaan membawanya ke ruang pembinaan umat dan kehidupan sosial yang lebih luas.
Bagi UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, perjalanan tersebut memiliki makna yang kuat. Pendidikan Syariah tidak berhenti sebagai pengetahuan mengenai hukum Islam. Ilmu menemukan dampaknya ketika digunakan untuk melayani manusia, mengelola amanah publik, dan menjaga kemaslahatan masyarakat.
"Ilmu agama menemukan maknanya bukan hanya ketika dipahami, tetapi ketika menjadi dasar untuk melayani dengan amanah, menjaga kerukunan, dan menghadirkan kemaslahatan."
Bagi mahasiswa UMI, perjalanan Sahlan juga membawa pesan bahwa karier tidak harus dibangun dengan lompatan besar.
Ia dapat dimulai dari satu tugas, dijalani dengan konsisten, kemudian berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan kepercayaan.
Dari Syariah UMI, Sahlan memperoleh fondasi keilmuan. Dari KUA, ia belajar melayani masyarakat. Dari birokrasi Kementerian Agama, tanggung jawabnya berkembang. Dan melalui organisasi keagamaan, ruang pengabdiannya meluas untuk ikut menjaga kehidupan umat dan masyarakat di Sulawesi Barat.
Dari ilmu syariah, menuju pelayanan umat dan tata kelola keagamaan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































