Dari Kampus, Menjadi Dampak - Isna Nurwahida Munawar, S.Kep., Ns.: Alumni Ilmu Keperawatan UMI, dari Perawat ICU Kini Kepala UPTD Puskesmas Kadolomoko Baubau Sultra
MAKASSAR, umi.ac.id — Dari merawat pasien dalam kondisi kritis di ruang Intensive Care Unit (ICU), kini memimpin pelayanan kesehatan yang menjangkau masyarakat lebih luas. Perjalanan Isna Nurwahida Munawar, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI), memperlihatkan bagaimana kompetensi klinis seorang perawat dapat berkembang menjadi kepemimpinan pelayanan kesehatan. Isna kini dipercaya sebagai Kepala UPTD Puskesmas Kadolomoko, Kota Baubau. Amanah tersebut menjadi fase penting dalam perjalanan profesionalnya setelah mengawali karier sebagai perawat ICU.
Perjalanannya memiliki fondasi akademik yang kuat. Isna mulai menempuh pendidikan Ilmu Keperawatan di UMI pada 2011 dan menyelesaikannya pada 2015. Pada tahun kelulusannya, ia berhasil meraih predikat Alumni Terbaik I Program Studi Ilmu Keperawatan UMI Tahun 2015.
Prestasi tersebut menjadi awal perjalanan panjang dari ruang pendidikan menuju pelayanan kesehatan.
Dari Ruang ICU, Belajar tentang Ketelitian dan Tanggung Jawab
Setelah menyelesaikan pendidikan, Isna memulai karier sebagai perawat di ICU. Ruang perawatan intensif menghadirkan lingkungan kerja dengan tuntutan yang tinggi. Pasien yang berada dalam kondisi kritis membutuhkan pemantauan ketat, respons cepat, ketelitian, komunikasi, serta kolaborasi antartenaga kesehatan. Pengalaman tersebut ikut membentuk kompetensi profesional Isna.
Sebagai perawat, ia tidak hanya berhadapan dengan kondisi klinis pasien, tetapi juga belajar bahwa pelayanan kesehatan membutuhkan kerja tim, disiplin, empati, dan kemampuan mengambil tindakan sesuai tanggung jawab profesi. Pengalaman di ICU kemudian menjadi salah satu bekal ketika ruang pengabdiannya berkembang.
Kini Memimpin UPTD Puskesmas Kadolomoko
Perjalanan dari pelayanan klinis kemudian membawa Isna pada tanggung jawab yang lebih luas. Ia dipercaya menjadi Kepala UPTD Puskesmas Kadolomoko, Kota Baubau. Perubahan peran tersebut juga mengubah cakupan tanggung jawabnya. Jika sebagai perawat ICU ia memberikan pelayanan langsung kepada pasien dalam kondisi kritis, sebagai kepala puskesmas ia ikut mengelola pelayanan kesehatan yang berhadapan dengan kebutuhan masyarakat pada tingkat yang lebih luas.
Di Puskesmas Kadolomoko, tanggung jawab tersebut mencakup pengelolaan pelayanan, koordinasi tenaga kesehatan, peningkatan mutu, penguatan kegiatan promotif dan preventif, serta upaya memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Di sinilah pengalaman klinis bertemu dengan kepemimpinan pelayanan. Dahulu ia berada di sisi tempat tidur pasien. Kini, ia ikut memastikan sebuah fasilitas kesehatan mampu melayani masyarakat dengan baik.
Dari Merawat Pasien, Menuju Mengelola Pelayanan Kesehatan
Perjalanan Isna memberikan gambaran bahwa pendidikan keperawatan tidak membatasi alumninya hanya pada satu ruang profesi. Kompetensi klinis tetap menjadi fondasi. Namun pengalaman, pembelajaran, dan tanggung jawab yang terus berkembang dapat membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Seorang perawat memahami pelayanan kesehatan dari titik yang sangat dekat dengan pasien. Ia berhadapan langsung dengan kebutuhan manusia ketika sedang sakit, membutuhkan pertolongan, dan berharap memperoleh pelayanan yang baik.
Pengalaman tersebut menjadi perspektif penting ketika seorang tenaga kesehatan kemudian memperoleh tanggung jawab kepemimpinan.
Sebab memimpin fasilitas kesehatan pada akhirnya bukan hanya tentang mengelola administrasi dan organisasi. Di balik setiap program, jadwal, sumber daya, dan keputusan terdapat masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Ilmu Keperawatan yang Terus Bertumbuh
Perjalanan Isna juga memperlihatkan bagaimana ilmu yang diperoleh di UMI berkembang mengikuti tanggung jawab profesinya. Dari bangku Ilmu Keperawatan UMI, ia memperoleh fondasi keilmuan. Di ICU, ilmu tersebut diuji melalui pelayanan langsung kepada pasien. Ketika dipercaya memimpin puskesmas, pengalaman klinis itu berkembang menjadi kemampuan melihat pelayanan kesehatan secara lebih menyeluruh. Ada kesinambungan yang jelas: ilmu membangun kompetensi, pengalaman membangun kematangan, dan kepercayaan memperluas ruang pengabdian.
Bagi UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, perjalanan seperti ini memperlihatkan bahwa pendidikan menemukan maknanya ketika pengetahuan dan kompetensi hadir untuk melayani manusia. Ilmu keperawatan tidak berhenti ketika mahasiswa lulus. Ia terus hidup dalam setiap pasien yang dirawat, setiap pelayanan yang diperbaiki, setiap tenaga kesehatan yang dikoordinasikan, dan setiap masyarakat yang memperoleh akses pelayanan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Isna Nurwahida Munawar dapat dibaca melalui lintasan yang sederhana tetapi kuat: Ilmu Keperawatan UMI → Alumni Terbaik I → Perawat ICU → Pengalaman Klinis → Kepemimpinan Pelayanan Kesehatan → Kepala UPTD Puskesmas Kadolomoko. Namun cerita ini bukan semata tentang perubahan jabatan. Yang berubah adalah luasnya ruang pelayanan.
Dari seorang perawat yang memberikan pelayanan kepada pasien satu per satu, Isna kini memimpin fasilitas kesehatan yang melayani masyarakat.
"Kepemimpinan dalam pelayanan kesehatan dapat tumbuh dari pengalaman paling dekat dengan pasien: mendengar, merawat, memahami kebutuhan, lalu membawa pengalaman itu untuk memperbaiki pelayanan yang lebih luas."
Kisah Isna sekaligus membawa pesan kepada mahasiswa Ilmu Keperawatan UMI bahwa profesi keperawatan memiliki ruang pengabdian yang luas. Kompetensi klinis dapat menjadi fondasi untuk berkembang sebagai praktisi, pengelola pelayanan, hingga pemimpin fasilitas kesehatan. Di UMI, Isna belajar menjadi perawat. Di ICU, ia belajar menghadapi kondisi kritis. Kini, di Puskesmas Kadolomoko, ia memimpin pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Dari merawat pasien, kini memimpin pelayanan kesehatan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































