Dari Kampus, Menjadi Dampak - La Ode Muhammad Saban, Alumni Hukum Ekonomi Syariah UMI, Kini Penyuluh Agama KUA Mata Oleo Bombana, Pernah Wakili Sulawesi Tenggara
Dari bangku kuliah Fakultas Agama Islam UMI hingga menjadi ASN PPPK dan meraih predikat Penyuluh Agama Teladan, La Ode Muhammad Saban membangun pengabdian melalui pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua keberhasilan alumni diukur dari jabatan tinggi atau karier di perusahaan besar. Ada yang memilih mengabdikan ilmunya melalui pelayanan langsung kepada masyarakat, mendampingi warga, dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Jalan pengabdian itulah yang ditempuh La Ode Muhammad Saban, S.HI., alumni Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (FAI UMI) Makassar, angkatan lulusan 2014. Kini, Saban mengemban amanah sebagai Penyuluh Agama Ahli Pertama di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Ia menjalankan tugas tersebut sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Perjalanan profesionalnya juga diwarnai sejumlah capaian, termasuk predikat Penyuluh Agama Teladan tingkat Kabupaten Bombana dan kesempatan mewakili Sulawesi Tenggara sebagai Penyuluh Informasi Publik Indonesia (PIP).
Dari Fakultas Agama Islam UMI Menuju Pelayanan Masyarakat
Saban menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum Ekonomi Syariah di Fakultas Agama Islam UMI pada 2014. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari fondasi keilmuan yang dibawanya ketika memasuki dunia pelayanan keagamaan.
Namun, menjadi penyuluh agama tidak cukup hanya dengan memahami materi yang akan disampaikan. Seorang penyuluh juga perlu mampu berkomunikasi dengan masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi warga, serta menyampaikan pesan keagamaan secara bijaksana dan mudah dipahami. Tugas tersebut membutuhkan kesabaran, keterampilan komunikasi, dan kesediaan untuk terus belajar.
Bagi Saban, pengalaman pendidikan dan perjalanan pengabdiannya menjadi proses yang saling melengkapi. Ilmu memberikan dasar pemahaman, sedangkan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan pelayanan.
Mengabdi sebagai Penyuluh Agama di KUA Mata Oleo
Sebagai Penyuluh Agama Ahli Pertama di KUA Kecamatan Mata Oleo, Saban menjalankan tanggung jawab pelayanan dan penyuluhan keagamaan dalam lingkungan kerjanya. Profesi penyuluh agama memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Penyuluhan bukan sekadar kegiatan berbicara di hadapan banyak orang, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan menyampaikan informasi keagamaan secara tepat dan membangun komunikasi yang baik dengan warga.
Dalam pelayanan publik, pendekatan yang digunakan perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Karena itu, kemampuan mendengarkan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menjelaskan.
Pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung besar. Terkadang, manfaat justru hadir melalui pelayanan yang dilakukan dengan sabar dan konsisten. Prinsip inilah yang tergambar dalam perjalanan Saban sebagai alumni UMI yang memilih menekuni pelayanan keagamaan.
Raih Penyuluh Agama Teladan, Wakili Sulawesi Tenggara
Pengabdian Saban memperoleh pengakuan melalui sejumlah capaian profesional. Ia pernah meraih predikat Penyuluh Agama Teladan tingkat Kabupaten Bombana. Pengakuan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan tugasnya sebagai penyuluh agama.
Selain itu, Saban juga memperoleh kesempatan mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai Penyuluh Informasi Publik Indonesia (PIP). Kepercayaan tersebut memperluas pengalaman profesionalnya dari lingkungan kabupaten menuju kegiatan yang membawa nama provinsi.
Kedua capaian ini memperlihatkan perkembangan tanggung jawab dan pengakuan yang diperolehnya selama menjalankan pengabdian. Bagi seorang penyuluh, prestasi bukanlah akhir dari perjalanan. Pengakuan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ilmu yang Bermanfaat Menjadi Ukuran Keberhasilan
Perjalanan Saban menghadirkan pesan penting bagi mahasiswa dan alumni perguruan tinggi. Kesuksesan tidak selalu harus diwujudkan melalui kepemimpinan perusahaan, penghasilan besar, atau jabatan yang dikenal luas. Kontribusi juga dapat diberikan melalui profesi yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam ajaran Islam, nilai kebermanfaatan menjadi bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti orang yang melakukannya." (HR. Muslim).
Pesan tersebut relevan dengan semangat pelayanan dan penyuluhan keagamaan yang menempatkan ilmu sebagai sarana mengajak masyarakat kepada kebaikan.
Bagi UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, perjalanan alumni seperti Saban memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat menjadi bekal pengabdian yang berkelanjutan. Kiprahnya juga mencerminkan semangat Catur Dharma UMI, sebagaimana dirumuskan dalam Statuta UMI Tahun 2024, Pasal 1 angka 4, yang meliputi Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian; Pengabdian kepada Masyarakat; serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
La Ode Muhammad Saban, S.HI., merupakan alumni Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam UMI tahun 2014. Kini, ia mengabdi sebagai ASN PPPK Penyuluh Agama Ahli Pertama pada KUA Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Pengabdiannya telah mengantarkannya meraih predikat Penyuluh Agama Teladan tingkat Kabupaten Bombana serta memperoleh kepercayaan mewakili Sulawesi Tenggara sebagai Penyuluh Informasi Publik Indonesia.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat membuka jalan pengabdian yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dari ruang kuliah UMI hingga pelayanan keagamaan di Bombana, La Ode Muhammad Saban membawa pesan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang sejauh mana seseorang melangkah, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dapat diberikan di tempat ia mengabdi.
DARI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAI UMI, MENUJU PELAYANAN KEAGAMAAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































