Dari Kampus, Menjadi Dampak - M. Isra Arlmal Fayaupon, Alumni FKM UMI, Kini Plt. Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate
Mengabdi sejak 2009 di bidang kekarantinaan kesehatan, M. Isra Arlmal Fayaupon, S.K.M., M.Si., dipercaya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate pada 2026.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ketika masyarakat berbicara tentang pelayanan kesehatan, perhatian biasanya tertuju pada rumah sakit, puskesmas, dokter, atau tenaga kesehatan yang melayani pasien secara langsung. Padahal, ada bagian penting dari sistem kesehatan yang bekerja untuk membantu mencegah dan mengendalikan risiko penyebaran penyakit melalui pintu masuk wilayah.
Bidang inilah yang menjadi ruang pengabdian M. Isra Arlmal Fayaupon, S.K.M., M.Si., alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) Makassar.
Sejak 2009, Isra menjalani pengabdian sebagai aparatur sipil negara dalam lingkungan kekarantinaan kesehatan di Ternate, Maluku Utara. Setelah melalui perjalanan profesional yang panjang, pada 2026 ia dipercaya mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate. Penugasan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya.
Dari bangku kuliah FKM UMI hingga menjalankan tanggung jawab kepemimpinan sementara di balai kekarantinaan kesehatan, perjalanan Isra memperlihatkan salah satu bentuk pengabdian lulusan kesehatan masyarakat yang jarang terlihat secara langsung oleh masyarakat.
Dari Dili, Menempuh Pendidikan di FKM UMI
M. Isra Arlmal Fayaupon lahir di Dili pada 27 Maret 1987. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia pada 2004–2008. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari dasar akademiknya sebelum memasuki dunia kerja dalam bidang perlindungan kesehatan masyarakat.
Ilmu kesehatan masyarakat memiliki cakupan yang luas. Selain promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, bidang ini juga berkaitan dengan epidemiologi, kesehatan lingkungan, pengelolaan program, serta berbagai upaya pengendalian risiko kesehatan pada tingkat populasi. Pengetahuan tersebut memiliki relevansi dengan pelaksanaan fungsi kekarantinaan kesehatan.
Dalam sistem kesehatan, perlindungan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui penanganan orang yang telah sakit. Upaya pencegahan, kewaspadaan, dan respons terhadap risiko kesehatan juga menjadi bagian penting.
Setelah menyelesaikan pendidikan di UMI, Isra memulai perjalanan profesionalnya sebagai aparatur sipil negara pada 2009 di lingkungan balai kekarantinaan kesehatan di Ternate. Pengabdian tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier yang terus berkembang hingga memperoleh penugasan kepemimpinan pada 2026.
Mengabdi dalam Kekarantinaan Kesehatan Sejak 2009
Sejak memasuki lingkungan kerja pada 2009, Isra menjalani pengabdian di bidang yang berkaitan dengan perlindungan kesehatan masyarakat melalui sistem kekarantinaan kesehatan. Kekarantinaan kesehatan memiliki fungsi penting dalam mencegah dan menangkal masuk atau keluarnya penyakit serta faktor risiko kesehatan masyarakat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pelaksanaan fungsi tersebut berkaitan dengan kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan yang dapat muncul seiring mobilitas manusia, alat angkut, maupun lalu lintas barang. Dalam praktiknya, kekarantinaan kesehatan membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak sesuai kewenangan masing-masing.
Pelabuhan dan bandar udara merupakan contoh lingkungan yang memiliki hubungan erat dengan pelaksanaan fungsi pengawasan kesehatan di pintu masuk. Di tempat-tempat tersebut, aktivitas perjalanan dan perpindahan barang berlangsung secara terus-menerus. Karena itu, kesiapsiagaan kesehatan menjadi bagian penting dalam mendukung perlindungan masyarakat.
Perjalanan Isra di lingkungan kekarantinaan kesehatan memperlihatkan pengabdian profesional dalam bidang yang memiliki hubungan langsung dengan upaya pencegahan dan pengendalian risiko kesehatan.
Penjaga Kesehatan di Pintu Masuk Wilayah
Ada satu hal penting yang perlu dipahami masyarakat mengenai kekarantinaan kesehatan. Perlindungan kesehatan tidak selalu dimulai ketika seseorang datang untuk berobat. Dalam banyak keadaan, perlindungan justru perlu dilakukan sebelum risiko kesehatan berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Kewaspadaan terhadap penyakit menular, pengawasan faktor risiko kesehatan, serta kesiapan menghadapi kejadian kesehatan masyarakat merupakan bagian dari fungsi yang dijalankan melalui sistem kekarantinaan kesehatan. Di wilayah kepulauan, mobilitas antardaerah melalui transportasi laut dan udara menjadikan koordinasi kesehatan pada pintu masuk sebagai salah satu kebutuhan penting.
Dalam konteks tersebut, pelaksanaan fungsi kekarantinaan kesehatan memiliki hubungan dengan perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus kelancaran aktivitas perjalanan sesuai ketentuan yang berlaku. Tugas tersebut membutuhkan pemahaman teknis, koordinasi lintas sektor, ketelitian administrasi, serta kemampuan menjalankan prosedur sesuai kewenangan.
Perjalanan profesional Isra berada dalam lingkungan kerja yang memiliki karakter tanggung jawab tersebut.
Tahun 2026, Dipercaya Menjadi Plt. Kepala Balai
Tonggak terbaru perjalanan karier Isra tercatat pada 2026. Pada tahun tersebut, ia memperoleh penugasan sebagai Pelaksana Tugas Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate. Penugasan ini menempatkannya dalam tanggung jawab menjalankan tugas kepemimpinan balai untuk sementara waktu sesuai surat penugasan dan ketentuan yang berlaku.
Status Pelaksana Tugas perlu dibedakan dari pengangkatan sebagai pejabat definitif. Meskipun bersifat sementara, pelaksanaan tugas kepemimpinan tetap membutuhkan koordinasi organisasi, kesinambungan pelayanan, dan pengelolaan tanggung jawab kelembagaan sesuai batas kewenangan yang diberikan.
Bagi Isra, penugasan tersebut menjadi kelanjutan dari pengabdiannya dalam lingkungan kekarantinaan kesehatan sejak 2009. Rentang perjalanan profesional itu memperlihatkan keterlibatannya selama lebih dari satu setengah dekade dalam bidang perlindungan kesehatan masyarakat. Namun, keberhasilan pelaksanaan tugas tetap perlu dinilai berdasarkan kinerja, kepatuhan terhadap ketentuan, serta hasil yang dapat diverifikasi.
Dari Pendidikan Kesehatan Masyarakat Menuju Kepemimpinan Layanan
Perjalanan Isra juga memperlihatkan luasnya bidang pengabdian lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Selama ini, sebagian masyarakat mungkin lebih mengenal profesi kesehatan melalui pelayanan langsung kepada pasien. Padahal, sistem kesehatan juga membutuhkan tenaga profesional dalam bidang epidemiologi, kesehatan lingkungan, administrasi kesehatan, promosi kesehatan, surveilans, dan pengendalian risiko kesehatan.
Kekarantinaan kesehatan menjadi salah satu ruang pengabdian tersebut. Dalam perjalanan Isra, pendidikan FKM UMI menjadi bagian dari latar belakang akademik yang mendahului pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara. Pengalaman profesional kemudian berlangsung melalui berbagai tanggung jawab dalam lingkungan kerja kekarantinaan kesehatan. Pada 2026, perjalanan itu berlanjut dengan penugasan sebagai Pelaksana Tugas Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate.
Kisah tersebut memberikan gambaran bahwa lulusan kesehatan masyarakat dapat mengembangkan karier dalam bidang teknis maupun kepemimpinan kelembagaan, sesuai kompetensi, pengalaman, dan persyaratan jabatan yang berlaku.
Alumni UMI dan Pengabdian dalam Perlindungan Kesehatan Masyarakat
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan M. Isra Arlmal Fayaupon menjadi bagian dari rekam jejak alumni yang berkiprah dalam pelayanan dan perlindungan kesehatan masyarakat. Sebagai alumni FKM UMI periode pendidikan 2004–2008, Isra melanjutkan perjalanan profesionalnya di lingkungan kekarantinaan kesehatan Ternate sejak 2009. Penugasan sebagai Plt. Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate pada 2026 menjadi bagian terbaru dari perjalanan tersebut.
Kiprahnya relevan dengan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah serta Kampus Perjuangan dan Pengabdian. Melalui Catur Dharma UMI, pendidikan tinggi diarahkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen Ke-UMI-an dan pendidikan karakter. Dalam bidang kesehatan masyarakat, nilai tersebut berkaitan dengan tanggung jawab profesional, integritas, kepedulian, dan komitmen menjalankan tugas demi perlindungan kesehatan masyarakat.
Perjalanan Isra memperlihatkan salah satu bentuk penerapan pendidikan kesehatan masyarakat melalui pengabdian pada institusi pemerintah.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
M. Isra Arlmal Fayaupon, S.K.M., M.Si., menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia pada 2004–2008. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mengembangkan perjalanan profesional sebagai aparatur sipil negara di lingkungan kekarantinaan kesehatan Ternate sejak 2009. Pada 2026, ia dipercaya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian lulusan kesehatan masyarakat dapat berlangsung melalui bidang yang tidak selalu terlihat dalam pelayanan kesehatan sehari-hari. Di balik aktivitas perjalanan dan mobilitas masyarakat, terdapat sistem kewaspadaan serta pengendalian risiko kesehatan yang membutuhkan kerja profesional dan koordinasi kelembagaan.
Melalui bidang kekarantinaan kesehatan, Isra menjalankan pengabdian yang berkaitan dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Dari FKM UMI menuju tanggung jawab kepemimpinan sementara di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate, perjalanannya menjadi salah satu kisah alumni yang membawa latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat ke dalam pelayanan publik.
DARI FKM UMI, MENGABDI MENJAGA KESEHATAN MASYARAKAT DI PINTU MASUK WILAYAH. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































