Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muh Mahfud Hasan, S.T.: Alumni Teknik Pertambangan UMI, Kini PNS Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru Mengabdi dalam Pengawasan Lingkungan
MAKASSAR, umi.ac.id — Ilmu pertambangan tidak hanya berbicara tentang bagaimana sumber daya alam dimanfaatkan. Ada tanggung jawab yang sama pentingnya: memahami bagaimana aktivitas manusia terhadap sumber daya alam tetap memperhatikan lingkungan dan keberlanjutan. Ruang pengabdian itulah yang kini dijalani Muh Mahfud Hasan, S.T., alumnus Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang menyelesaikan pendidikan pada 2018.
Berbeda dari jalur karier pertambangan yang langsung menuju perusahaan tambang, Mahfud memilih pengabdian melalui pemerintahan. Kini ia merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru, membawa bekal pengetahuan teknis dari Teknik Pertambangan UMI ke dalam ruang pelayanan publik dan pengawasan lingkungan. Perjalanannya menunjukkan bahwa lulusan pertambangan tidak harus selalu berada di sisi produksi. Ada pula ruang penting di sisi pengawasan dan tata kelola lingkungan.
"Sumber daya alam dapat memberi manfaat hari ini. Tetapi cara kita mengelolanya menentukan apa yang masih dapat diwariskan untuk hari esok."
Dari Teknik Pertambangan UMI
Mahfud menyelesaikan pendidikan Teknik Pertambangan UMI pada 2018. Selama menempuh pendidikan, ia memperoleh dasar keilmuan mengenai pertambangan yang kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan profesionalnya. Pemahaman tersebut penting karena kegiatan pertambangan memiliki hubungan langsung dengan bentang alam dan lingkungan. Karena itu, seorang lulusan Teknik Pertambangan tidak cukup hanya memahami bagaimana aktivitas pertambangan dilakukan. Ia juga perlu memiliki perspektif mengenai konsekuensi dan tanggung jawab yang menyertai pemanfaatan sumber daya alam.
Selepas menyelesaikan pendidikan, Mahfud kemudian memilih jalur pelayanan publik. Pilihan tersebut membawa ilmu yang sebelumnya dipelajari dalam konteks pertambangan memasuki ruang yang berbeda: pemerintahan dan lingkungan hidup.
Mengabdi sebagai PNS Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru
Saat ini, Mahfud mengabdikan diri sebagai PNS di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru. Di lingkungan pemerintahan, latar belakang Teknik Pertambangan menjadi bekal untuk memahami berbagai persoalan lingkungan yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. Hal ini penting karena pengawasan lingkungan tidak semata-mata merupakan pekerjaan administratif. Untuk memahami suatu aktivitas yang berpotensi memberikan tekanan terhadap lingkungan, dibutuhkan pula kemampuan membaca karakter kegiatan di lapangan. Apa kegiatannya? Bagaimana prosesnya berlangsung? Apa potensi dampaknya? Bagaimana kondisi lingkungan di sekitarnya? Dan bagian mana yang membutuhkan perhatian dalam pengawasan?
Di sinilah pengetahuan teknis dapat memberikan perspektif tambahan dalam pelayanan pemerintahan. Ilmu teknik membantu memahami bagaimana sebuah kegiatan bekerja. Perspektif lingkungan mengingatkan bagaimana kegiatan itu seharusnya dikelola secara bertanggung jawab.
Ketika Ilmu Pertambangan Berada di Sisi Pengawasan
Perjalanan Mahfud menghadirkan perspektif menarik mengenai profesi lulusan Teknik Pertambangan. Sebagian alumni berada di perusahaan dan menjalankan kegiatan operasional. Sebagian bekerja dalam perencanaan dan konsultansi. Sebagian mengembangkan karier pada logistik, produksi, keselamatan, maupun bidang lainnya.
Mahfud memilih jalur berbeda. Ia berada dalam lingkungan pemerintahan yang memiliki tanggung jawab terhadap tata kelola lingkungan. Posisi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem pertambangan dan sumber daya alam membutuhkan berbagai perspektif. Industri membutuhkan tenaga profesional untuk menjalankan operasi secara baik. Pemerintah membutuhkan aparatur yang mampu memahami aktivitas tersebut ketika menjalankan fungsi pelayanan, tata kelola, dan pengawasan lingkungan. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pemanfaatan sumber daya alam tetap memperhatikan kepentingan yang lebih luas.
Ketiganya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Industri membutuhkan kepastian usaha. Masyarakat membutuhkan lingkungan yang terlindungi. Pemerintah bertugas memastikan kepentingan tersebut dikelola secara bertanggung jawab.
Dari Eksploitasi Menuju Perspektif Keberlanjutan
Ada perubahan cara pandang yang penting dalam perjalanan Mahfud. Ilmu pertambangan memberinya perspektif mengenai pemanfaatan sumber daya. Pengabdian di Dinas Lingkungan Hidup mempertemukannya dengan perspektif perlindungan lingkungan. Dua perspektif tersebut tidak harus dipertentangkan. Justru pembangunan membutuhkan kemampuan mempertemukan keduanya secara proporsional. Sumber daya alam memiliki nilai ekonomi. Namun lingkungan juga memiliki nilai ekologis dan sosial yang harus dijaga.
Karena itu, tantangan pembangunan bukan sekadar memilih antara kegiatan ekonomi atau lingkungan. Tantangannya adalah memastikan pemanfaatan sumber daya dilakukan secara bertanggung jawab dan memperhatikan keberlanjutan. Di sinilah latar belakang pendidikan teknis memiliki relevansi dalam tata kelola pemerintahan. Mahfud dapat memahami persoalan bukan hanya melalui dokumen, tetapi juga dengan perspektif teknis yang diperolehnya dari pendidikan Teknik Pertambangan.
Ilmu yang Menjadi Pelayanan Publik
Perjalanan Mahfud juga memperlihatkan bahwa dampak pendidikan tidak selalu berbentuk karier di perusahaan besar atau jabatan dalam industri. Dampak dapat hadir melalui pelayanan publik. Seorang aparatur pemerintah mungkin bekerja jauh dari sorotan, tetapi keputusan, pengawasan, dan pelayanan yang dilakukan dapat berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat dan lingkungan.
Karena itu, pengabdian sebagai PNS bukan berarti meninggalkan ilmu Teknik Pertambangan. Justru ilmu tersebut memperoleh ruang penerapan yang berbeda. Dari memahami bagaimana sumber daya ditambang, menuju ikut menjaga bagaimana sumber daya dan lingkungan dikelola. Inilah transformasi kompetensi yang terlihat dalam perjalanan Mahfud.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Jika dirangkum, perjalanan Muh Mahfud Hasan membentuk lintasan: Teknik Pertambangan UMI → Lulus 2018 → Pelayanan Publik → PNS Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru → Pengawasan dan Tata Kelola Lingkungan.
Perjalanan tersebut membawa pesan penting bagi mahasiswa Teknik Pertambangan UMI. Jangan membatasi masa depan profesi hanya pada satu ruang. Ilmu yang sama dapat menemukan manfaat pada tempat yang berbeda. Ada alumni yang menggunakan kompetensinya untuk meningkatkan produktivitas pertambangan. Ada yang menggunakannya untuk memimpin operasi. Ada yang bergerak pada keselamatan. Ada yang mengelola data dan logistik. Dan ada pula yang memilih berada pada ruang pelayanan publik dan lingkungan seperti Mahfud.
Semuanya menunjukkan bahwa pendidikan teknik tidak hanya menghasilkan kemampuan mengoperasikan sebuah industri. Pendidikan teknik juga dapat membentuk orang yang memahami industri ketika negara membutuhkan kompetensinya untuk melayani masyarakat dan menjaga lingkungan.
Bagi UMI, perjalanan Mahfud memperluas jejak dampak alumni Teknik Pertambangan: dari industri menuju pemerintahan, dari aktivitas pertambangan menuju tata kelola lingkungan, dan dari kompetensi teknis menuju pelayanan publik. Pada akhirnya, pertambangan yang baik bukan hanya berbicara tentang apa yang berhasil diambil dari bumi. Ada pertanyaan yang lebih panjang: apa yang tetap kita jaga setelah sumber daya itu dimanfaatkan?
"Ilmu pertambangan mengajarkan bagaimana memahami sumber daya bumi. Pengabdian lingkungan mengajarkan bagaimana menjaganya tetap bernilai bagi generasi berikutnya."
DARI MEMAHAMI SUMBER DAYA, MENUJU MENJAGA KEBERLANJUTAN. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































