Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Surianto, Alumni Doktor UMI: Dari Pimpinan Perusahaan Tambang dan Ketua Gerindra Parepare hingga Memimpin Sepak Takraw Indonesia
MAKASSAR, umi.ac.id — Kepemimpinan tidak selalu tumbuh dalam satu bidang. Ada yang membangunnya melalui dunia usaha, mengembangkannya dalam organisasi politik, lalu memperluas pengabdiannya melalui olahraga nasional. Perjalanan tersebut tercermin dalam kiprah Prof. Dr. H. Surianto, AM., S.Ag., M.M., alumni Program Doktor Universitas Muslim Indonesia (UMI) tahun 2026, yang kini dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI) periode 2025–2029.
Surianto memiliki pengalaman lintas sektor, mulai dari kepemimpinan perusahaan pertambangan, organisasi politik, pemerintahan daerah, hingga pembinaan olahraga. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman profesional, organisasi, dan pendidikan tinggi dapat saling melengkapi dalam membangun kapasitas kepemimpinan.
Dari Dunia Pertambangan hingga Kepemimpinan Politik
Surianto dikenal sebagai pengusaha yang memiliki rekam jejak dalam sektor pertambangan. Berdasarkan pemberitaan yang merujuk dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU), pada 2022 ia tercatat sebagai pendiri, Komisaris Utama, sekaligus pemegang saham mayoritas PT Trio Kencana, perusahaan pertambangan emas di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pengalamannya di sektor usaha mempertemukannya dengan persoalan manajemen perusahaan, pengelolaan sumber daya manusia, dan tanggung jawab organisasi.
Dalam bidang politik, Surianto tercatat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kota Parepare. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Perjalanan tersebut menggambarkan kiprah yang melintasi dunia usaha dan ruang politik, sebelum tanggung jawab kepemimpinannya berkembang semakin luas dalam organisasi olahraga nasional.
Menyelesaikan Pendidikan Doktor di UMI
Di tengah aktivitas organisasi dan profesionalnya, Surianto tetap melanjutkan pendidikan tinggi. Ia menempuh pendidikan sarjana di Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Da’wah wal Irsyad Parepare pada 1995–1999, kemudian menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Patria Artha Makassar pada 2007–2009.
Pada 9 April 2026, Surianto menjalani sidang promosi doktor pada Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia dalam bidang Ilmu Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Penelitian doktornya mengangkat pengaruh kepemimpinan, kompetensi, dan budaya organisasi terhadap motivasi Islami serta kinerja karyawan pada dua perusahaan pertambangan di Sulawesi Tengah, yakni PT Sumber Swarna Pratama di Kabupaten Morowali Utara dan PT Trio Kencana di Kabupaten Parigi Moutong. Topik tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pengalaman profesionalnya di dunia usaha dan perhatian akademiknya terhadap pengelolaan sumber daya manusia.
Pendidikan doktor menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektual Surianto, melengkapi pengalaman kepemimpinan yang telah dibangunnya melalui berbagai organisasi.
Memimpin Sepak Takraw dari Daerah hingga Nasional
Kiprah Surianto dalam olahraga berkembang melalui organisasi sepak takraw. Ia pernah memimpin PSTI Kota Parepare, kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum PSTI Provinsi Sulawesi Selatan periode 2022–2026. Sulawesi Selatan memiliki tradisi prestasi yang kuat dalam cabang olahraga tersebut. Pada PON Papua 2021, tim sepak takraw Sulawesi Selatan menjadi juara umum dengan dua medali emas.
Prestasi kembali berlanjut pada PON Aceh–Sumut 2024. Ketika Surianto memimpin PSTI Sulawesi Selatan, kontingen sepak takraw provinsi tersebut meraih tiga medali emas dan satu medali perak serta kembali menjadi juara umum. Pengalaman memimpin organisasi olahraga daerah menjadi bagian dari perjalanan Surianto menuju kepemimpinan nasional.
Pada periode 2025–2029, ia dipercaya memimpin PB PSTI, organisasi yang menaungi pembinaan dan pengembangan sepak takraw Indonesia. Amanah tersebut menempatkannya pada tanggung jawab yang lebih luas, mulai dari penguatan tata kelola organisasi, kesinambungan pembinaan atlet, hingga pengembangan kompetisi nasional.
Membangun Kompetisi, Menjaga Prestasi
Sepak takraw Indonesia memiliki potensi dan rekam jejak prestasi di tingkat internasional. Pada SEA Games Vietnam 2021, Indonesia mencatat perolehan satu medali emas, dua perak, dan dua perunggu. Sementara pada kejuaraan dunia sepak takraw di Guangzhou, China, tahun 2023, tim Indonesia dilaporkan meraih dua medali emas dan dua perak. Rangkaian prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan olahraga sepak takraw Indonesia yang perlu terus dijaga melalui pembinaan berkelanjutan.
Dalam kepemimpinannya di PB PSTI, Surianto turut mendorong pengembangan Liga Sepak Takraw Indonesia 2026 sebagai upaya memperkuat sistem kompetisi. Pengembangan kompetisi menjadi penting karena prestasi olahraga tidak cukup hanya bergantung pada kemampuan individu atlet. Diperlukan organisasi yang sehat, kesempatan bertanding yang berkesinambungan, dan regenerasi atlet yang terencana. Melalui pendekatan tersebut, pembinaan sepak takraw diharapkan semakin mampu menghubungkan potensi atlet daerah dengan kebutuhan prestasi nasional dan internasional.
Pengabdian dan Pengakuan Nasional
Selain di bidang olahraga, Surianto memiliki pengalaman dalam organisasi sosial dan kemasyarakatan, termasuk pernah memimpin Palang Merah Indonesia Kota Parepare dan Perkumpulan Olahraga Domino Kota Parepare. Pengabdiannya dalam olahraga juga memperoleh penghargaan.
Pada Februari 2026, ia menerima Golden Awards dari Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI) Pusat sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasinya bagi kemajuan olahraga Indonesia. Pada Oktober 2026, ia kembali memperoleh PWI Sulsel Awards atas kontribusinya dalam pengembangan sepak takraw. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari pengakuan atas kiprahnya dalam organisasi dan pembinaan olahraga.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Prof. Surianto memperlihatkan salah satu wajah kontribusi alumni dalam kehidupan masyarakat. Seorang alumni tidak hanya membawa identitas akademik, tetapi juga pengalaman, kompetensi, dan tanggung jawab profesional yang terus berkembang setelah menyelesaikan pendidikan. Kiprah Surianto menghubungkan sejumlah ruang pengabdian, mulai dari dunia pertambangan, organisasi politik, pemerintahan, hingga kepemimpinan olahraga nasional.
Sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta Kampus Bereputasi dan Berdampak, UMI memandang pendidikan tinggi sebagai bagian dari proses pengembangan ilmu, karakter, dan kapasitas manusia untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Perjalanan Surianto menjadi contoh bahwa pengalaman profesional dan pendidikan akademik dapat berjalan berdampingan, memperluas wawasan sekaligus memperkuat tanggung jawab kepemimpinan.
Dari dunia usaha dan politik di daerah, melanjutkan pendidikan doktor di UMI, hingga mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB PSTI, Surianto menunjukkan bahwa nilai pendidikan tidak berhenti pada gelar akademik, tetapi menemukan maknanya ketika ilmu, pengalaman, dan kepemimpinan hadir dalam pengabdian nyata.
DARI UMI, MENUJU KEPEMIMPINAN LINTAS SEKTOR DAN OLAHRAGA NASIONAL. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































