Dari Kampus, Menjadi Dampak - Rahmatullah, S.KM., M.KM.: Mantan Ketua Maperwa FKM UMI, Kini Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Maros
MAKASSAR, umi.ac.id — Pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya ditentukan oleh dokter, perawat, atau fasilitas rumah sakit. Di balik pelayanan yang diterima masyarakat, ada pekerjaan penting memastikan tenaga kesehatan, obat-obatan, dan alat kesehatan tersedia serta dikelola dengan baik.
Tanggung jawab itulah yang kini menjadi bagian dari pengabdian Rahmatullah, S.KM., M.KM., alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI), yang dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Menariknya, perjalanan kepemimpinan Rahmatullah telah dimulai sejak menjadi mahasiswa. Ia pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FKM UMI dan dipercaya menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) FKM UMI periode 2005–2006.
Dari memimpin organisasi mahasiswa hingga mengemban tanggung jawab manajerial di pemerintahan daerah, perjalanan Rahmatullah memperlihatkan bagaimana pendidikan, pengalaman organisasi, dan pengabdian profesional dapat saling memperkuat.
Dari Aktivis Kampus Menuju Kepemimpinan Profesional
Lahir di Maros pada 26 April 1984, Rahmatullah menempuh pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat di FKM UMI pada 2002–2006. Selama menjadi mahasiswa, ia tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik. Pada 2004, Rahmatullah aktif dalam HMI Komisariat FKM UMI, kemudian dipercaya memimpin Maperwa FKM UMI periode 2005–2006. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan belajar mengelola organisasi, membangun komunikasi, menyampaikan aspirasi, serta memahami tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Di lingkungan organisasi mahasiswa, kemampuan kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui jabatan. Seorang pemimpin juga harus mampu mendengarkan, mengelola perbedaan pendapat, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan.
Pengalaman itu menjadi salah satu bekal yang relevan ketika Rahmatullah memasuki dunia profesional, terutama dalam lingkungan pemerintahan yang membutuhkan koordinasi dan kerja sama lintas bidang. Perjalanannya menunjukkan bahwa aktivitas organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang melengkapi pendidikan akademik.
Mengembangkan Pengabdian melalui Organisasi Profesi
Setelah menyelesaikan pendidikan di UMI pada 2006, Rahmatullah melanjutkan perjalanan profesional di bidang kesehatan hingga berkarier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pengalamannya tidak hanya berkembang melalui tugas kedinasan, tetapi juga melalui keterlibatan dalam organisasi profesi kesehatan masyarakat. Pada periode 2015–2017, ia dipercaya menjadi Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Selanjutnya, pada 2019–2023, Rahmatullah menjabat sebagai Sekretaris Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Kabupaten Maros.
Kedua pengalaman tersebut memperlihatkan kesinambungan keterlibatannya dalam organisasi, mulai dari lingkungan mahasiswa hingga komunitas profesional kesehatan masyarakat. Melalui organisasi profesi, ia memperoleh ruang untuk memperluas jejaring, membangun komunikasi antartenaga kesehatan, dan terlibat dalam pengembangan profesi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang mengantarkannya pada tanggung jawab lebih luas dalam pengelolaan pembangunan kesehatan daerah.
Memimpin Bidang Sumber Daya Kesehatan Kabupaten Maros
Kini, Rahmatullah dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Maros. Jabatan tersebut memiliki peran strategis karena berkaitan dengan dukungan sumber daya yang diperlukan agar pelayanan kesehatan dapat berjalan secara berkesinambungan.
Ruang lingkup bidang yang dipimpinnya mencakup dukungan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional di bidang kefarmasian, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT), serta sumber daya manusia kesehatan.
Ketiga aspek tersebut memiliki hubungan langsung dengan kesiapan sistem pelayanan kesehatan. Puskesmas, misalnya, tidak cukup hanya memiliki bangunan yang baik. Pelayanan juga membutuhkan tenaga kesehatan dengan kompetensi yang sesuai, dukungan obat-obatan, dan ketersediaan peralatan kesehatan yang memenuhi kebutuhan pelayanan.
Ketika salah satu unsur tersebut tidak tersedia atau tidak terkelola dengan baik, kualitas dan kelancaran pelayanan dapat ikut terpengaruh. Karena itu, pengelolaan sumber daya kesehatan membutuhkan perencanaan, koordinasi, pemantauan, serta kemampuan memahami kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai wilayah. Sebagai kepala bidang, Rahmatullah memiliki tanggung jawab manajerial untuk mendukung pelaksanaan fungsi tersebut sesuai kewenangan dan kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros.
Dari Pengalaman Organisasi ke Tata Kelola Pelayanan Publik
Perjalanan Rahmatullah memperlihatkan hubungan antara kepemimpinan organisasi mahasiswa, pengalaman profesi, dan tanggung jawab dalam birokrasi pemerintahan. Ketika menjadi Ketua Maperwa FKM UMI, ia belajar menjalankan fungsi kepemimpinan dalam lingkungan mahasiswa. Saat memimpin HAKLI Kota Tarakan dan menjadi Sekretaris PERSAKMI Kabupaten Maros, ruang tanggung jawabnya berkembang dalam komunitas profesional.
Kini, sebagai Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, kemampuan tersebut dibutuhkan dalam lingkungan kerja yang lebih kompleks. Pengelolaan sumber daya kesehatan melibatkan kebutuhan masyarakat, kebijakan pemerintah, keterbatasan anggaran, kesiapan tenaga kesehatan, serta koordinasi dengan berbagai fasilitas dan pemangku kepentingan. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan kebutuhan pelayanan, ketentuan yang berlaku, dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup diukur dari jabatan yang dipercayakan kepadanya, tetapi juga dari kemampuannya membangun sistem kerja yang tertib, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Pengalaman Rahmatullah menjadi contoh bahwa pendidikan kesehatan masyarakat memiliki ruang pengabdian yang luas, tidak hanya pada kegiatan teknis kesehatan, tetapi juga dalam perencanaan, manajemen, dan tata kelola pelayanan publik.
Dari FKM UMI, Mengabdi untuk Daerah Asal
Perjalanan Rahmatullah memiliki makna tersendiri karena tanggung jawab profesionalnya kini dijalankan di Kabupaten Maros, daerah tempat ia dilahirkan. Dari Maros, ia menempuh pendidikan di FKM UMI Makassar, mengembangkan pengalaman organisasi mahasiswa, menjalani pengabdian profesional, hingga kembali mengemban amanah dalam pembangunan kesehatan daerah asalnya.
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan tersebut menambah jejak alumni yang berkiprah dalam kepemimpinan sektor kesehatan di pemerintahan daerah. Kisah Rahmatullah juga memperlihatkan relevansi pendidikan kesehatan masyarakat dengan kebutuhan pembangunan daerah, terutama dalam memastikan pengelolaan sumber daya kesehatan berjalan secara profesional dan bertanggung jawab.
Hal ini sejalan dengan komitmen UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta Kampus Bereputasi dan Berdampak. Melalui Catur Dharma Perguruan Tinggi, UMI mengembangkan pendidikan yang menghubungkan penguasaan ilmu, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen Ke-UMI-an dan pendidikan karakter.
Bagi mahasiswa, perjalanan Rahmatullah membawa pesan bahwa pengalaman berorganisasi dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi tanggung jawab setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, pengalaman tersebut harus terus dilengkapi dengan kompetensi, profesionalisme, integritas, dan kemauan belajar. Sebab, kepemimpinan yang bermakna bukan hanya tentang kemampuan memperoleh kepercayaan, tetapi juga kesanggupan menggunakan kepercayaan tersebut untuk menjalankan tanggung jawab dengan baik.
Kini, melalui perannya sebagai Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Rahmatullah melanjutkan pengabdian dalam mendukung pengelolaan tenaga kesehatan, kefarmasian, dan alat kesehatan bagi pelayanan masyarakat. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa ruang belajar kepemimpinan dapat dimulai sejak mahasiswa, sementara nilai pengabdian terus diuji melalui tanggung jawab yang dijalankan setelah meninggalkan kampus.
Dari aktivis FKM UMI, menuju kepemimpinan sumber daya kesehatan daerah. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































