Dari Kampus, Menjadi Dampak - Satryo Tandi Abang, S.Kom.: Alumni Teknik Informatika UMI, dari Programmer Kini Marine Surveyor PT SUCOFINDO Batam Bersertifikasi Liquid Cargo dan Draught Survey
MAKASSAR, umi.ac.id — Lulusan Teknik Informatika tidak selalu berakhir di depan layar komputer. Kemampuan berpikir sistematis, membaca data, memecahkan masalah, dan cepat mempelajari hal baru dapat membawa seseorang memasuki profesi yang sama sekali berbeda.
Perjalanan itu terlihat pada Satryo Tandi Abang, S.Kom., alumnus Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 2015.
Satryo memulai karier sebagai programmer. Namun, keberaniannya memasuki bidang baru membawanya ke industri maritim. Kini ia berkarier sebagai Marine Surveyor di PT SUCOFINDO Batam, dengan kompetensi profesional di bidang Liquid Cargo dan Draught Survey.
Perjalanannya memperlihatkan wajah baru dunia kerja: gelar akademik menjadi fondasi, tetapi kemampuan belajar dan beradaptasi menentukan seberapa jauh seseorang dapat berkembang.
Dari Teknik Informatika UMI
Satryo menempuh pendidikan pada Program Studi Teknik Informatika FIKOM UMI sejak 2015. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dengan predikat Sangat Memuaskan melalui skripsi berjudul "Pengembangan Sistem Analisis Berita Hoax pada Media Sosial WhatsApp Menggunakan Metode Naïve Bayes".
Topik tersebut memperlihatkan bagaimana Satryo sejak bangku kuliah telah bersentuhan dengan analisis data, algoritma, dan penggunaan metode komputasi untuk memecahkan persoalan.
Namun, kampus baginya bukan hanya ruang akademik. Satryo juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah dipercaya sebagai Ketua Kerukunan Mahasiswa Toraja Landorundun UMI. Pengalaman organisasi tersebut ikut membentuk kemampuan komunikasi, koordinasi, kepemimpinan, serta keberanian mengambil tanggung jawab.
Sebelum memasuki dunia kerja, ia juga memperoleh pengalaman praktis melalui program magang di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Makassar. Dari sinilah fondasi akademik, organisasi, dan pengalaman lapangan mulai bertemu.
Memulai Karier sebagai Programmer
Pada awal 2022, Satryo memulai perjalanan profesional sebagai Programmer di PT SGEEDE Solution Teknologi. Profesi tersebut berada pada jalur yang sangat dekat dengan pendidikan Teknik Informatika yang ditempuhnya di UMI.
Namun, perjalanan karier tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Satryo melihat kesempatan untuk berkembang pada bidang yang berbeda. Ia kemudian memasuki industri maritim dan survei independen dengan bergabung di PT SUCOFINDO Batam sebagai Marine Surveyor.
Perubahan itu bukan perpindahan sederhana. Dari dunia perangkat lunak, ia harus memasuki lingkungan kapal, pelabuhan, kargo, pengukuran, inspeksi, serta berbagai prosedur teknis yang memiliki standar tersendiri. Artinya, ia harus belajar kembali. Yang berubah adalah bidang pekerjaannya. Yang tetap dibawa adalah cara berpikir, ketelitian, kemampuan membaca data, dan keberanian memecahkan masalah.
Dari Programmer Menjadi Marine Surveyor
Menjadi Marine Surveyor membutuhkan kompetensi yang berbeda dari programmer. Surveyor dituntut bekerja secara presisi karena hasil pemeriksaan dan pengukuran menjadi bagian penting dalam aktivitas perdagangan, logistik, dan operasional maritim. Karena itu, keberanian berpindah bidang harus diikuti kemampuan membuktikan kompetensi.
Pada 2022, Satryo memperoleh sertifikasi kualifikasi Junior Surveyor bidang Liquid Cargo dari Asosiasi Independent Surveyor Indonesia (AISI). Kompetensinya kemudian diperkuat dengan sertifikasi keahlian Draught Survey pada 2024. Dua kompetensi tersebut membawanya semakin jauh memasuki dunia marine survey. Dalam pekerjaan ini, ketelitian terhadap angka, pengukuran, pencatatan, verifikasi, dan kesesuaian antara kondisi aktual dengan dokumen menjadi sangat penting.
Di sinilah muncul benang merah menarik dengan Teknik Informatika. Di dunia informatika, data harus akurat agar sistem menghasilkan informasi yang benar. Di dunia marine survey, data dan pengukuran juga harus akurat agar hasil survei dapat dipercaya. Industrinya berbeda, tetapi budaya ketelitiannya bertemu.
Menangani Survei BBM untuk KRI dan Pasokan PLN
Perjalanan profesional Satryo sebagai Marine Surveyor membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan survei maritim. Ia memiliki pengalaman melakukan survei pemuatan dan bunkering Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), mulai dari pelabuhan muat hingga kapal transporter. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian karena menyangkut proses pemuatan, pengukuran, dan verifikasi kargo.
Satryo juga memiliki pengalaman melakukan survei pemuatan BBM melalui kapal dan truk untuk pasokan menuju pelabuhan bongkar PT PLN (Persero) cabang Batam. Dari sini terlihat bahwa pekerjaan seorang Marine Surveyor berada pada salah satu mata rantai penting dalam aktivitas logistik. Surveyor mungkin tidak mengoperasikan kapal atau menggunakan energi tersebut secara langsung, tetapi hasil pengukuran dan verifikasinya membantu memastikan proses distribusi berjalan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Metanol hingga Iron Ore
Ruang pengalaman Satryo tidak terbatas pada BBM. Ia juga menangani survei pembongkaran berbagai jenis muatan khusus, termasuk metanol di PT Musim Mas dan PT Ecogreen. Pengalamannya mencakup pula penanganan survei HSD, MFO, aspal, serta LSFO di PT Cosmic.
Selain muatan cair, Satryo menjalankan Draught Survey dalam kegiatan pembongkaran bijih besi atau iron ore di PT Bredero Shaw Indonesia dan PT Duta Surya Makmur. Draught Survey merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam menentukan kuantitas muatan berdasarkan perubahan displacement kapal sebelum dan sesudah kegiatan bongkar-muat.
Dalam pekerjaan semacam ini, angka bukan sekadar angka. Ketepatan pengukuran berkaitan dengan kuantitas barang, aktivitas perdagangan, operasional perusahaan, dan kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Karena itu, profesi surveyor bertumpu pada dua hal yang tidak dapat dipisahkan: kompetensi dan integritas.
Ketika Teknik Informatika Bertemu Dunia Maritim
Perjalanan Satryo menjadi menarik justru karena profesinya hari ini tidak identik dengan nama program studi yang pernah ditempuhnya. Ia adalah Sarjana Komputer. Ia pernah menjadi programmer. Kini ia bekerja sebagai Marine Surveyor.
Tetapi jika perjalanan tersebut dilihat lebih dalam, sebenarnya terdapat kompetensi yang terus dibawanya. Teknik Informatika melatih seseorang berpikir sistematis. Pemrograman mengajarkan logika. Pengolahan data membutuhkan ketelitian. Algoritma melatih penyelesaian masalah secara terstruktur. Dan ketika memasuki dunia marine survey, kemampuan tersebut tidak hilang. Ia hanya digunakan dalam konteks yang berbeda. Dari membaca data di layar komputer, kini Satryo membaca data dari kapal dan kargo. Inilah kemampuan lintas disiplin yang semakin dibutuhkan dalam dunia kerja masa depan.
Pelajaran bagi Mahasiswa: Jangan Takut jika Karier Berbelok
Kisah Satryo membawa pesan yang relevan bagi mahasiswa UMI, terutama generasi yang akan memasuki dunia kerja di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Pekerjaan masa depan akan semakin dinamis. Seseorang mungkin memulai karier sesuai program studinya, kemudian menemukan peluang pada sektor yang berbeda. Sebagian pekerjaan berubah, kompetensi baru muncul, dan kebutuhan industri terus berkembang.
Karena itu, kampus tidak cukup hanya menyiapkan mahasiswa untuk satu jenis pekerjaan. Yang juga harus dibangun adalah kemampuan untuk belajar kembali atau reskilling, yaitu mempelajari kompetensi baru ketika tuntutan profesi berubah.
Satryo memperlihatkan proses tersebut. Ia tidak berhenti pada identitas sebagai Sarjana Komputer. Ketika memasuki industri maritim, ia mempelajari bidang baru dan kemudian memperkuatnya melalui sertifikasi profesional. Gelar membuka pintu pertama. Kemampuan belajar menentukan berapa banyak pintu berikutnya yang dapat kita buka.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Satryo dapat dibaca melalui lintasan: Teknik Informatika UMI → Analisis Data dan Algoritma → Organisasi Mahasiswa → Programmer → Reskilling → Marine Surveyor PT SUCOFINDO Batam → Sertifikasi Liquid Cargo → Sertifikasi Draught Survey → Logistik dan Industri Maritim.
Yang menarik bukan semata-mata perubahan dari programmer menjadi Marine Surveyor. Yang lebih penting adalah kemampuan Satryo mengubah kompetensi awal menjadi fondasi untuk mempelajari kompetensi berikutnya.
Bagi UMI, kisah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak selalu diukur dari kesamaan antara nama program studi dan nama pekerjaan alumninya. Ada ukuran lain yang semakin penting: apakah alumni memiliki kemampuan berpikir, karakter, keberanian belajar, dan adaptabilitas untuk tetap relevan ketika dunia kerja berubah.
Dari Teknik Informatika UMI, Satryo membawa cara berpikir sistematis. Dari programmer, ia memperoleh pengalaman profesional pertama. Ketika kesempatan baru datang, ia berani memasuki dunia maritim. Dan ketika memasuki bidang baru, ia tidak hanya mengandalkan keberanian. Ia memperkuat dirinya dengan kompetensi dan sertifikasi profesional.
Kini, sebagai Marine Surveyor PT SUCOFINDO Batam dengan kompetensi Liquid Cargo dan Draught Survey, Satryo bekerja pada aktivitas yang bersentuhan dengan kapal, energi, kargo, logistik, dan industri maritim.
Perjalanannya membawa satu pesan sederhana bagi mahasiswa hari ini:
"Jangan hanya mempersiapkan diri untuk pekerjaan pertama. Persiapkan kemampuan untuk terus belajar menghadapi pekerjaan berikutnya."
Karena masa depan karier tidak selalu ditentukan oleh jurusan yang tertulis pada ijazah. Sering kali, masa depan ditentukan oleh seberapa cepat seseorang belajar ketika kesempatan baru datang.
DARI ALGORITMA DAN DATA, MENUJU KAPAL DAN KARGO. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































