Dari Kampus, Menjadi Dampak - Sulaeman Ishak, S.P.: Alumni Fakultas Pertanian UMI, dari Pendamping Petani Kini Dua Periode Anggota DPRD Kabupaten Luwu
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebelum menyuarakan aspirasi masyarakat melalui lembaga legislatif, Sulaeman Ishak, S.P. telah lebih dahulu mengenal kehidupan masyarakat dari dekat. Ia aktif berorganisasi, bergerak pada isu lingkungan, dan mendampingi petani.
Jalan pengabdian itu berawal dari Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI). Sulaeman masuk UMI pada 1997 dan menyelesaikan pendidikan pada 2003. Pengalaman akademik dan organisasi yang dibangun selama menjadi mahasiswa kemudian dibawanya kembali ke masyarakat hingga akhirnya dipercaya menjadi Anggota DPRD Kabupaten Luwu dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) selama dua periode, 2019–2024 dan 2024–2029. Keterpilihannya untuk periode 2024–2029 tercatat dari Daerah Pemilihan Luwu VIII. Dari mendampingi petani di tengah masyarakat, kini ia membawa aspirasi mereka ke ruang kebijakan.
Dari Faperta UMI, Belajar Pertanian dan Kepemimpinan
Lahir di Tobalo, 9 Agustus 1976, Sulaeman memilih Fakultas Pertanian UMI sebagai tempat membangun fondasi keilmuan sekaligus pengalaman organisasinya. Semasa mahasiswa, aktivitasnya tidak berhenti di ruang kuliah. Pada 1999, ia tercatat sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Faperta UMI. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Legislatif Mahasiswa Pertanian UMI periode 2000–2001. Ia juga aktif sebagai pengurus IPMIL pada 2000–2002. Aktivitas tersebut menjadi ruang belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, perbedaan pendapat, kerja bersama, serta bagaimana sebuah organisasi merespons persoalan di sekitarnya.
Perhatian Sulaeman terhadap lingkungan juga tumbuh sejak mahasiswa. Pada 1999–2000, ia menjadi salah satu inisiator dan pendiri Lembaga Cinta Alam & Lingkungan Hidup IPMIL. Dari sinilah terlihat satu benang merah perjalanan Sulaeman: pertanian, lingkungan, masyarakat, dan organisasi kemudian bertemu dalam pengabdian publik.
Dari Pendampingan Petani Menuju Politik
Setelah menyelesaikan pendidikan, Sulaeman tidak langsung memasuki lembaga legislatif. Ia lebih dahulu aktif mendampingi masyarakat, terutama petani. Latar belakang pendidikan pertanian membuat keterlibatan tersebut memiliki hubungan langsung dengan kompetensi yang diperolehnya di UMI. Persoalan pertanian tidak lagi hanya dibaca melalui teori, tetapi ditemui langsung melalui kehidupan masyarakat. Ada persoalan produksi. Ada kebutuhan infrastruktur pertanian. Ada akses terhadap program pemerintah. Ada persoalan ekonomi petani. Ada pula kebijakan daerah yang dapat menentukan apakah sektor pertanian berkembang atau justru tertinggal. Pengalaman inilah yang kemudian mempertemukan pengabdian sosial dengan ruang politik.
“Mendampingi masyarakat membuat kita memahami masalah. Politik dan kebijakan seharusnya menjadi jalan untuk memperbesar kemampuan menyelesaikan masalah itu.”
Dua Periode Dipercaya di DPRD Kabupaten Luwu
Perjalanan tersebut kemudian membawa Sulaeman ke DPRD Kabupaten Luwu. Ia dipercaya menjadi anggota DPRD periode 2019–2024 dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029. Sumber publik juga mencatatnya sebagai legislator PKS yang kini memasuki periode kedua.
Di DPRD, pengalaman sebagai alumni pertanian dan pendamping masyarakat memperoleh ruang baru. Aspirasi yang sebelumnya ditemuinya langsung di masyarakat kini dapat dibawa ke pembahasan kebijakan dan program pembangunan daerah.
Hal itu masih terlihat dalam aktivitasnya sebagai legislator. Dalam reses di Desa Tobalo, Kecamatan Ponrang Selatan, pada Februari 2025, misalnya, masyarakat menyampaikan kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan petani, mulai dari jalan tani, irigasi permanen, normalisasi saluran air dan sungai, hingga infrastruktur lainnya. Sulaeman menyatakan program prioritas desa akan diperjuangkan melalui pokok-pokok pikiran DPRD. Di sinilah perjalanan dari Fakultas Pertanian menuju lembaga legislatif menemukan hubungan yang konkret. Pertanian yang dahulu dipelajari di kampus, kemudian ditemui persoalannya di masyarakat, kini diperjuangkan melalui ruang kebijakan.
Dari Aktivis Menjadi Representasi Masyarakat
Perjalanan Sulaeman menunjukkan bahwa pengalaman organisasi mahasiswa dapat menjadi salah satu laboratorium awal kepemimpinan. Saat menjadi mahasiswa, ia belajar berdiskusi dan berorganisasi. Ketika mendampingi masyarakat, ia belajar mendengar. Ketika menjadi anggota legislatif, pengalaman tersebut berubah menjadi tanggung jawab untuk membawa suara masyarakat ke ruang pengambilan keputusan.
Perjalanan politiknya juga terus berkembang. Pada kepengurusan PKS Kabupaten Luwu periode 2025–2030, Sulaeman dipercaya menjadi Sekretaris DPD PKS Kabupaten Luwu. Namun jabatan politik bukanlah ukuran akhir. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh posisi tersebut digunakan untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat. Bagi seorang alumnus Fakultas Pertanian, keberpihakan terhadap sektor pertanian menjadi semakin relevan karena pertanian bukan sekadar komoditas. Di dalamnya terdapat petani, keluarga, desa, lapangan kerja, dan kehidupan ekonomi masyarakat.
“Politik menjadi bermakna ketika suara masyarakat yang kita dengar di lapangan dapat bertemu dengan keputusan yang dibuat di ruang kebijakan.”
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Jika dirangkum, perjalanan Sulaeman membentuk lintasan yang kuat: Fakultas Pertanian UMI → Aktivis Mahasiswa → Gerakan Lingkungan → Pendampingan Petani → Politik → DPRD Kabupaten Luwu Dua Periode → Pengabdian melalui Kebijakan Publik.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pertanian tidak hanya dapat membawa lulusan menuju dunia budidaya atau agribisnis. Ilmu pertanian juga dapat menjadi perspektif penting ketika seorang alumni masuk ke ruang kebijakan. Karena persoalan petani tidak seluruhnya dapat diselesaikan di lahan pertanian. Sebagian persoalan membutuhkan keputusan anggaran. Sebagian membutuhkan infrastruktur. Sebagian membutuhkan regulasi. Dan sebagian membutuhkan seseorang yang memahami kehidupan petani untuk menyuarakannya di ruang pengambilan keputusan.
Bagi UMI, perjalanan Sulaeman meninggalkan satu jejak pengetahuan penting: alumnus Fakultas Pertanian UMI hadir bukan hanya dalam sektor pertanian, tetapi juga dalam ruang kebijakan yang menentukan masa depan pertanian dan masyarakat daerah.
“Dulu ia belajar memahami pertanian di kampus dan mendampingi petani di masyarakat. Kini, pengalaman itu dibawanya ke ruang kebijakan untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat.”
Dari mendampingi petani, menuju memperjuangkan kebijakan. Dari faperta UMI, untuk pertanian dan masyarakat luwu. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































