Dari Kampus, Menjadi Dampak - Wahyudin, S.Kom., M.H., Anggota Polri dan Staf Protokol–Analis Utusan Khusus Presiden: Alumni Teknik Informatika UMI, Pengusaha hingga Kreator Konten
Makassar, umi.ac.id — Karier seorang alumni tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Ilmu yang diperoleh di kampus dapat menjadi fondasi untuk memasuki berbagai ruang pengabdian, selama disertai kemampuan beradaptasi, keberanian belajar, dan kemauan untuk terus bertumbuh.
Perjalanan itu tercermin dalam sosok Wahyudin, S.Kom., M.H., alumnus Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Muslim Indonesia (UMI) tahun 2014. Dari ruang kuliah Teknik Informatika UMI, Wahyudin menapaki perjalanan lintas bidang. Ia menjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pernah bertugas di Bareskrim Polri, dan kini mendapat amanah sebagai Staf Protokol dan Analis pada Lembaga Utusan Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Perbankan. Pada saat yang sama, ia juga tumbuh sebagai wirausahawan dan kreator konten.
Dari Teknik Informatika UMI Menuju Pengabdian Negara
Lahir di Bone, Sulawesi Selatan, Wahyudin memulai pengabdiannya sebagai anggota Polri pada 2016. Sebagai lulusan Brigadir Penyidik, perjalanan tugas membawanya memperoleh pengalaman di Bareskrim Polri. Pengalaman tersebut kemudian berkembang hingga ia dipercaya menjalankan tugas sebagai Staf Protokol dan Analis pada Lembaga Utusan Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Perbankan.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata mempersiapkan seseorang untuk satu profesi. Latar belakang Teknik Informatika memberikan fondasi berpikir sistematis, kemampuan membaca persoalan, memanfaatkan teknologi, dan beradaptasi terhadap perubahan—kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam berbagai bidang pengabdian.
Dari Abdi Negara Menjadi Penggerak Ekonomi
Di tengah tanggung jawab pengabdiannya, Wahyudin juga mengembangkan jiwa kewirausahaan. Selama kurang lebih enam tahun terakhir, ia merintis usaha di sektor food and beverage (F&B). Ia menjadi pemilik outlet Es Teh Indonesia di Sulawesi Selatan serta Kopi Saku di Parepare.
Usaha tersebut bukan hanya menjadi ruang aktualisasi kewirausahaan, tetapi juga ikut menciptakan aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal. Di sinilah pendidikan menemukan dimensi yang lebih luas: ilmu tidak berhenti menjadi pekerjaan; ilmu harus bertumbuh menjadi kebermanfaatan.
Street Moment Hunter: Menangkap Cerita Manusia dari Jalanan
Sisi lain perjalanan Wahyudin berkembang sejak 2023 ketika ia mulai serius menekuni dunia content creation dan fotografi melalui identitas Street Moment Hunter. Ia memilih jalanan dan ruang publik sebagai tempat menemukan cerita.
Melalui street photography, human interest, public interview, hingga surprise portrait gift, Wahyudin merekam berbagai ekspresi manusia dan mengubah momen sederhana menjadi cerita digital yang menarik perhatian publik. Kreativitas tersebut kemudian membuka ruang kolaborasi dengan berbagai brand nasional dan internasional, di antaranya Xiaomi, vivo, Le Minerale, dan Skintific.
Perjalanannya memperlihatkan fenomena baru dunia kerja: kompetensi masa depan tidak selalu tumbuh secara linear. Seseorang dapat mengabdi sebagai anggota Polri, menjalankan tugas pemerintahan, membangun usaha, sekaligus menjadi kreator digital. Inilah yang dapat disebut sebagai "kelincahan kompetensi"—kemampuan membawa fondasi ilmu untuk terus berkembang ketika medan kehidupan berubah.
Berani Melakukan Sesuatu yang Berbeda
Di balik perjalanan lintas bidang tersebut, Wahyudin memegang sebuah prinsip hidup: "Jika kamu ingin mendapatkan sesuatu yang belum pernah kamu dapatkan, maka kamu harus melakukan sesuatu yang belum pernah kamu lakukan."
Prinsip tersebut tercermin dalam perjalanan hidupnya. Dari mahasiswa Teknik Informatika UMI menjadi anggota Polri. Dari tugas kepolisian memasuki lingkungan pemerintahan. Dari pengabdian negara mengembangkan usaha. Dan dari dunia usaha memasuki ruang kreativitas digital. Jalannya mungkin tidak selalu lurus, tetapi setiap persimpangan melahirkan pengalaman baru.
Dari Kampus Menjadi Dampak
Kisah Wahyudin menjadi bagian dari narasi besar alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI): "Dari Kampus Menjadi Dampak." Bagi UMI, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari ijazah yang diterima ketika seseorang meninggalkan kampus. Nilainya justru semakin terlihat ketika ilmu, karakter, dan pengalaman yang diperoleh di kampus hadir kembali dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Wahyudin membawa fondasi Teknik Informatika UMI menuju berbagai medan kehidupan: pengabdian sebagai anggota Polri, tugas di lingkungan pemerintahan, penciptaan aktivitas ekonomi dan lapangan kerja, hingga kreativitas digital yang menjangkau masyarakat luas. Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan implementasi Catur Dharma Universitas Muslim Indonesia, ketika pendidikan berkembang menjadi pengabdian, kreativitas, dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Karena pada akhirnya, ukuran seorang alumni bukan hanya seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, tetapi seberapa luas manfaat yang mampu ditinggalkan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. Setiap alumni membawa cerita. Setiap pengabdian meninggalkan jejak. Setiap jejak memperluas dampak Universitas Muslim Indonesia. (Bersambung)























































































































