Hadapi Disrupsi AI dan IoT, UMI Percepat Transformasi Digital dan Bangun Budaya Adaptif
MAKASSAR, UMI.AC.ID – Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan tinggi di seluruh dunia. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muslim Indonesia (UMI) menempatkan transformasi digital sebagai salah satu agenda strategis dalam UMI Executive Strategic Summit (UMI ESS) 2026 yang berlangsung di Auditorium Al Jibra UMI, Sabtu (1/8).
Melalui forum yang mempertemukan unsur Pembina dan Pengurus Yayasan Wakaf UMI, jajaran rektorat, dekan, kepala lembaga, dan pimpinan unit kerja, UMI menegaskan komitmennya untuk membangun perguruan tinggi yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab perubahan zaman melalui penguatan tata kelola digital, pengambilan keputusan berbasis data, serta kolaborasi lintas sektor.
Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Dr. Andi Lukman, M.Si., mengingatkan bahwa perguruan tinggi saat ini menghadapi era disrupsi yang menuntut perubahan cara berpikir dan cara bekerja.
"Perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya mengandalkan sejarah panjang atau reputasi masa lalu. Dunia berubah sangat cepat. Kehadiran Artificial Intelligence dan Internet of Things menuntut kampus untuk lebih adaptif, inovatif, dan berani melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh CEO Tribun Network, Dahlan Dahi, yang hadir sebagai pembicara kunci dalam UMI ESS 2026. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan teknologi bukan lagi sesuatu yang akan datang, melainkan realitas yang sedang berlangsung dan memengaruhi seluruh sektor, termasuk pendidikan tinggi.
Menurut Dahlan, perguruan tinggi perlu membangun budaya organisasi yang cepat belajar (learning organization), terbuka terhadap inovasi, serta mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan, riset, pelayanan, dan komunikasi publik.
Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa transformasi digital di UMI bukan sekadar pengadaan perangkat teknologi, melainkan perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan tata kelola universitas.
"Ancaman terbesar perguruan tinggi bukan karena kekurangan gedung atau fasilitas, tetapi ketika kita masih menggunakan cara-cara lama untuk menghadapi tantangan masa depan. Siapa yang lambat membaca perubahan, akan tertinggal oleh perubahan itu sendiri," tegas Prof. Hambali.
Menurutnya, UMI telah menempatkan transformasi digital sebagai bagian penting dari implementasi UMI Connection, yang mengedepankan pengelolaan universitas berbasis Satu Data, Satu Arah, Satu Kecepatan, dan Satu Manfaat. Melalui pendekatan tersebut, setiap kebijakan diharapkan lahir dari data yang akurat, proses yang terintegrasi, dan kolaborasi yang kuat antarseluruh unit kerja.
"Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah kesiapan manusianya untuk berubah. Karena itu, UMI terus membangun budaya kerja yang adaptif, kolaboratif, dan inovatif agar mampu melahirkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi jati diri universitas," ujar Rektor.
UMI ESS 2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah seluruh sivitas akademika dalam menghadapi era digital. Melalui penguatan transformasi digital, tata kelola berbasis data, serta kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, UMI optimistis mampu mempercepat pencapaian Visi UMI 2030 sebagai World Class Islamic University yang unggul, inovatif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
(HUMAS UMI)























































































































