Internasional Knowledge Sharing Bersama Akademisi Singapura: UMI–NUS Terus Perkuat Kolaborasi Riset Kebudayaan Asia Tenggara
Makassar, umi.ac.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) menghadirkan akademisi National University of Singapore (NUS) dalam program International Knowledge Sharing bertajuk Understanding Southeast Asia Through Local Perspectives: History, Heritage, and Communities Across Borders di Aula Lantai 5 Menara UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Senin (20/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Mohamed Effendy bin Abdul Hamid, Senior Lecturer, Department of Southeast Asian Studies, National University of Singapore, sebagai narasumber utama. Forum tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama akademik antara UMI dan NUS dalam mengembangkan riset kebudayaan Asia Tenggara yang berorientasi pada publikasi internasional.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya (LP2S) UMI, Prof. Dr. Ir. Muh Hattah Fattah, M.S., menegaskan bahwa kolaborasi dengan NUS merupakan salah satu pencapaian strategis UMI dalam memperluas jejaring akademik di tingkat global. Kerja sama merupakan sesuatu yang tidak mudah dibangun, namun jauh lebih sulit untuk dipertahankan. Karena itu, kemitraan ini harus terus dikembangkan agar memberikan manfaat bagi kedua institusi.
"Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui riset bersama yang hasilnya akan dipublikasikan dalam bentuk buku maupun publikasi ilmiah bereputasi internasional. Salah satu fokus penelitian adalah menelusuri kembali hubungan historis antara Sulawesi dan Singapura. Jauh sebelum Singapura berkembang seperti sekarang, masyarakat Bugis telah lebih dahulu hadir dan membangun jaringan perdagangan serta pelayaran di wilayah tersebut. Sejarah inilah yang ingin kami kaji kembali melalui pendekatan akademik," jelasnya.
Prof. Hattah juga menambahkan bahwa keberadaan JK Center diharapkan tidak hanya menjadi pusat studi ilmiah, tetapi juga mampu melahirkan regenerasi peneliti yang membawa UMI berkontribusi dalam berbagai forum akademik internasional.
Sementara itu, Wakil Rektor V UMI, Dr. Hj. Setyawati Yani, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kerja sama dengan NUS membuka peluang kolaborasi yang semakin luas di berbagai bidang keilmuan.
"Di UMI terdapat 13 fakultas dan lebih dari 60 program studi yang memiliki potensi besar untuk berkolaborasi. Saat ini salah satu fokus utama yang sedang dikembangkan adalah riset kebudayaan," ungkapnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Mohamed Effendy menjelaskan bahwa kerja sama UMI–NUS akan terus diperluas melalui kajian mengenai kebudayaan Asia Tenggara yang terus berkembang. Salah satu bentuk nyata kolaborasi tersebut adalah pengembangan riset bersama yang mengangkat hubungan historis antara Singapura dan Sulawesi sebagai bagian dari dinamika maritim Asia Tenggara.
"Penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan publikasi akademik bereputasi internasional sekaligus memperkuat kontribusi kawasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan," katanya.
Selain mendorong kolaborasi penelitian, UMI dan NUS juga berkomitmen melestarikan warisan intelektual melalui pengkajian naskah-naskah klasik Bugis-Makassar. Menurut Dr. Effendy, manuskrip tradisional menjadi sumber sejarah lokal yang penting untuk memperkaya perspektif akademik mengenai identitas, budaya, serta perjalanan sejarah masyarakat Asia Tenggara.
"Manuskrip tradisional tidak hanya diposisikan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang tetap relevan bagi penelitian masa kini," tuturnya.
Kajian mengenai jaringan maritim dan diaspora Bugis-Makassar menjadi salah satu fokus utama yang ditawarkan, terutama bagi mahasiswa program pascasarjana. Penelitian tersebut mencakup sejarah pelayaran, perdagangan, migrasi, hingga pembentukan komunitas Bugis di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Tema ini dinilai mampu menjelaskan keterhubungan lintas negara sekaligus memperlihatkan bagaimana identitas budaya terus dipertahankan dan mengalami transformasi di tengah perubahan zaman. Selain itu, jaringan maritim Bugis memiliki kontribusi penting dalam memahami dinamika politik, diplomasi, serta hubungan regional di kawasan Asia Tenggara.
Untuk mendukung penelitian tersebut, pendekatan yang digunakan bersifat multidisipliner dengan mengombinasikan penelitian arsip, sejarah lisan, serta teknologi digital. Manuskrip Lontarak dimanfaatkan sebagai sumber utama untuk merekonstruksi sejarah dan sistem sosial masyarakat Bugis, sementara wawancara mendalam dengan komunitas lokal maupun diaspora dilakukan untuk merekam ingatan kolektif yang masih hidup.
Di sisi lain, pemanfaatan media sosial dan teknologi digital membuka peluang baru dalam memahami proses pembentukan identitas generasi muda Bugis di era global.
Ke depan, riset bersama UMI dan NUS diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan kontemporer di Asia Tenggara, mulai dari keberlanjutan kehidupan masyarakat maritim di tengah perubahan lingkungan, dinamika migrasi menuju kawasan perkotaan, hingga transformasi nilai-nilai budaya yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi.
(HUMAS)
























































































































