Maulid Nabi: Inspirasi Ekoteologi Menghadapi Tantangan Lingkungan
Penulis:
Dr. Abd Majid, S.Sos.I., M.Si
Dosen Komunikasi UMI & Korwil Aspikom Sulselbar
Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kecintaan, penghormatan, dan pengingat ajaran Islam sebagai agama Rahmatan lil alamin.Tahun ini, pelaksanaannya jatuh pada Selasa, 25 Agustus 2026 Masehi, bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awal 1448 Hijriah.
Di tengah kegembiraan masyarakat dalam peringatan Maulid Nabi, kita juga dihadapkan pada berbagai bencana yang melanda bangsa ini, seperti gempa bumi yang mengguncang beberapa daerah dan kebakaran hutan yang melanda wilayah Indonesia.
Dalam konteks bencana yang terjadi, kita dapat merujuk pada Al-Qur'an:
“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan mata hati yang dapat menangkap hikmah di balik setiap peristiwa” (QS. Ali Imran: 13).
Setiap bencana yang terjadi dapat dipahami sebagai pelajaran, mengingatkan bahwa peristiwa itu akibat dari kelalaian dan ulah manusia.
Musibah yang datang silih berganti bukan sekadar bencana alam, tetapi juga mengingatkan kita pentingnya menjaga ekologis lingkungan dan memperkuat semangat ekoteologi menjaga kelestarian sebagai tanggung jawab iman dalam kehidupan bermasyarakat.
Nabi adalah Rahmat bagi Seluruh Alam
Kehadiran Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana dalam Al-Qur'an:
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. al-Anbiya: 107).
Sebagai pengikut Nabi mari kita respons kondisi yang terjadi dalam dua minggu terakhir, di Wilayah NTT mengalami gempa yang, menimbulkan kekhawatiran dan duka mendalam bagi masyarakat. Peristiwa gempa dengan magnitudo di atas 5,0 menyebabkan kerusakan pada infrastruktur dan rumah warga, terutama di daerah yang dekat dengan pusat gempa.
Masyarakat terdampak mengahadapi krisis yang sudah terbiasa dengan aktivitas tadubbur alam dihadapkan pada tantangan baru dalam hal keselamatan dan pemulihan.
Kondisi ini kembali mengetuk hati kita yang masih dalam suasana kemerdekaan ke-81, untuk bersatu, saling membantu, dan mendukung korban bencana, kita dapat mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad, yang mengajarkan kita untuk mencintai dan saling tolong-menolong serta menghormati satu sama lain.
Kebakaran Hutan dan Tanggung Jawab Lingkungan
Kebakaran hutan di Kalimantan terus menjadi masalah serius yang mempengaruhi ekosistem dan masyarakat setempat dan kiriman asap pada beberapa negeri tetangga. Pemicunya adalah peningkatan aktivitas ilegal, seperti pembalakan liar dan konversi lahan untuk pertanian serta perkebunan sawit, telah menyebabkan hilangnya ribuan hektar hutan.
Selain itu, perubahan iklim yang semakin ekstrem, seperti kebakaran hutan yang meluas, memperparah kondisi ini. Upaya penegakan hukum yang lemah dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan semakin memperburuk situasi.
Kebakaran ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan kualitas udara. Dalam konteks ini, Allah berfirman:
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik” (QS. Al-A’raf: 56).
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga alam sebagai amanah dari Tuhan yang dibebankan kepada manusia sebagai pemimpin di dunia ini.
Semangat dihari Maulid Nabi, mari kita renungkan bagaimana kita dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi, tidak hanya untuk diri kita, tetapi juga untuk generasi mendatang.
Cinta tanah air dan menjaga keseimbangan adalah bagian dari keimanan, dan kita harus menyadari bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita semua.
Ekoteologi: Menghubungkan Iman dan Lingkungan
Melalui kajian ilmiah, Cendikiawan Muslim, dan perguruan tinggi telah lama mengembangkan konsep ekoteologi, yang mengajak manusia untuk menjaga hubungan dengan Tuhan dan juga dengan alam semesta.
Konsep nilai spritual yang mengingatkan bahwa menjaga kelestarian bumi adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan bukti nyata keimanan yang kita miliki.
Rasulullah mengajarkan umat manusia untuk tidak berlebihan dalam menggunakan sumber daya, termasuk dalam hal penggunaan air dan makanan. Mari kita terapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari dengan lebih bijak dalam mengelola sumber daya alam yang ada.
Berdasarkan laporan Bappenas, kondisi food loss dan food waste di Indonesia pada tahun 2025-2026, diperkirakan bahwa timbunan sisa makanan yang terbuang mencapai angka yang sangat signifikan, dengan kerugian ekonomi mencapai sekitar 300-600 triliun rupiah per tahun, setara dengan 5-6% dari PDB Indonesia.
Angka inj menggelitik kita jumlah orang yang dapat diberi makan dari kehilangan kandungan gizi akibat food loss dan food waste diperkirakan mencapai antara 70-150 juta orang, yang mencerminkan sekitar 30% dari total populasi Indonesia. Data ini mencengangkan, dengan potensi memberi makan jutaan orang yang kelaparan, ini juga otokkritik pada tata kelola Program MBG.
Dalam peringatan Maulid, agar kita tidak berlebihan dan konsumtif dalam perayaan dengan aneka makanan pamer dan pesta, lebih baik kita berdonasi dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan, terutama mereka yang terdampak oleh bencana saat ini.
Dengan berbagi, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas di antara kita. Selain itu, perayaan yang ramah dan hemat makanan juga menjadi aspek lingkungan agar perayaan lebih menyentuh wilayah substansi kecintaan dan keteladanan pada kesempurnaan akhlak Nabi, bukan lagi seremoni yang menghabiskan Dana produksi sampah dan limbah makanan seperti yang sering terjadi di tahun sebelumnya sisa makanan terkadang menimbulkan tumpukan sampah.
Menjadi Agen Perubahan
Peristiwa Maulid dan misi dakwahnyai harus kita lanjutkan untuk mengatasi masalah lingkungan sebagai bagian tanggung jawab iman. Mari kita mendukung program pengurangan sampah plastik, penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dan peningkatan fasilitas daur ulang.
Selain itu, menjadi bagian masyarakat dalam program "Zero Waste" meminimalkan limbah dengan cara pentingnya memilah sampah dan memanfaatkan kembali material yang masih bisa digunakan.
Melalui langkah-langkah pilah sampah organik dan non organik, solusi pengelolaan sampah di kota-kota besar, seperti Makassar, agar lebih efektif dan berkelanjutan, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Peringatan Maulid Nabi harus menjadi pengingat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Pesan dakwah Nabi Kebersihan separuh dari Iman. Spirit Ekoteologi pengerak perubahan dalam menjaga keseimbangan alam, komitmen untuk berubah seperti ajakan Nabi "mulai dari diri sendiri, dari hal yang sederhana dan dari sekarang, saling sinergi". Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli kebersihan lingkungan maupun masyarakat.
Kita wujudkan semangat menjaga bumi kita sebaik-baiknya sebagai laboratorium ibadah amal sholeh untuk kehidupan akhirat, bergerak saling menguatkan ikatan persaudaraan, dan berkontribusi untuk masa depan yang lebih baik.
Dengan semangat Maulid Nabi, tercipta spirit kepedulian demi kemanusiaan yang adil dan beradab yang Ridhoi Allah SWT.























































































































