81 Tahun Indonesia: Sudah Tua, Sudahkah Dewasa?
Oleh: Dr. Zelfia, S.IP., M.M., M.Sos.I (Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia)
Ketika usia bertambah, seharusnya prioritas semakin jelas
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah bangsa yang memasuki usia 81 tahun.
Dalam kehidupan manusia, usia 81 tahun adalah usia yang panjang. Ia bukan lagi masa ketika seseorang sibuk mencari jati diri, mencoba berbagai arah, atau membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan segala sesuatu. Delapan puluh satu tahun adalah usia ketika pengalaman seharusnya telah mengajarkan satu kebijaksanaan penting: tidak semua hal harus dikejar, dan tidak semua yang terlihat penting benar-benar menjadi yang utama. Pada usia itu, seseorang semestinya semakin memahami mana yang perlu dipertahankan, mana yang harus ditinggalkan, dan mana yang harus didahulukan.
Begitu pula sebuah bangsa, Indonesia pada 17 Agustus 2026 memasuki usia ke-81. Delapan dekade bukan waktu yang singkat. Kita telah melewati perang mempertahankan kemerdekaan, pergantian kekuasaan, krisis ekonomi, reformasi, perubahan sosial, revolusi teknologi, hingga pandemi global. Kita telah mengalami cukup banyak peristiwa untuk belajar. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar: seberapa jauh Indonesia telah berkembang?
Pertanyaan yang lebih mendasar Adalah, Setelah 81 tahun, apakah Indonesia sudah cukup dewasa untuk mengetahui apa yang harus didahulukan?
Pertanyaan ini menjadi penting justru karena Indonesia memasuki usia ke-81 dengan modal yang sesungguhnya tidak buruk. Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sementara secara kumulatif semester I tumbuh 5,45 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Di sisi sosial, sejumlah indikator juga memperlihatkan perbaikan. Persentase penduduk miskin pada September 2025 turun menjadi 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Ketimpangan pun membaik, ditunjukkan oleh penurunan gini ratio menjadi 0,363.
Angka-angka tersebut patut diapresiasi, Namun, pada usia 81 tahun, mungkin kita perlu belajar melihat angka bukan hanya sebagai alasan untuk berbangga, tetapi juga sebagai cermin untuk bertanya lebih jauh. Sebab 23,36 juta orang miskin tetaplah 23,36 juta manusia. Di balik angka itu ada keluarga, anak-anak, orang tua, pekerja, dan mereka yang setiap hari berjuang memastikan dapurnya tetap mengepul.
Maka pertanyaan pembangunan tidak cukup berhenti pada apakah angka kemiskinan turun. Kita juga perlu bertanya: seberapa cepat kehidupan mereka membaik? Seberapa kuat mereka keluar dari kerentanan? Dan seberapa besar peluang yang tersedia bagi generasi berikutnya untuk hidup lebih baik?
Di sinilah perbedaan antara sekadar bertumbuh dan benar-benar maju. Pertumbuhan Bukan Tujuan Akhir, Pertumbuhan ekonomi tentu penting. Tidak mungkin sebuah negara membangun pendidikan yang berkualitas, memperbaiki layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja, membangun infrastruktur, dan meningkatkan kesejahteraan tanpa fondasi ekonomi yang kuat. Karena itu, pertumbuhan ekonomi 5,29 persen bukan sesuatu yang patut diremehkan. Namun, pertumbuhan bukan tujuan akhir pembangunan. Ia adalah kendaraan yang harus dipastikan adalah ke mana kendaraan itu membawa kita.
Pasar kerja memberikan gambaran yang menarik. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Sekali lagi, ini merupakan perkembangan yang positif. Tetapi ada angka lain yang perlu dibaca dengan lebih serius: rata-rata upah buruh masih sekitar Rp3,29 juta per bulan.(sumber Kompas .com)
Di sinilah kita menemukan dilema pembangunan. Seseorang bisa bekerja dan tetap belum sepenuhnya sejahtera. Memiliki pekerjaan memang jauh lebih baik daripada tidak bekerja. Tetapi pekerjaan yang tersedia juga perlu dilihat dari sisi produktivitas, kepastian, perlindungan, dan kemampuan pendapatan tersebut memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Dengan demikian, keberhasilan pasar kerja tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak orang yang bekerja.
Kita juga harus bertanya, Apakah pekerjaan tersebut memungkinkan seseorang membangun masa depan? Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika Indonesia sedang mempersiapkan diri menuju satu abad kemerdekaan. Sebab kemerdekaan ekonomi bukan sekadar bebas dari pengangguran. Kemerdekaan ekonomi berarti manusia memiliki kesempatan untuk bekerja, berkembang, memperoleh penghasilan yang layak, dan memiliki kemampuan menentukan masa depannya sendiri.
Seperti Orang Berusia 81 Tahun yang Masih Harus Menentukan Prioritas Di sinilah metafora usia 81 tahun menjadi relevan. Bayangkan seseorang berusia 81 tahun yang masih memiliki banyak keinginan. Ia ingin memiliki rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baik, mengikuti berbagai aktivitas, membeli berbagai barang, dan mengejar banyak hal sekaligus.
Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Tetapi pada usia itu, ia seharusnya memiliki kesadaran yang lebih matang bahwa kesehatan, keluarga, ketenangan, dan keberlanjutan hidup mungkin jauh lebih penting daripada sekadar memiliki lebih banyak.
Begitu pula Indonesia. Kita tentu ingin menjadi negara maju. Kita ingin memiliki ekonomi besar. Kita ingin menjadi pusat teknologi. Kita ingin membangun kota-kota modern. Kita ingin menarik investasi. Kita ingin memiliki infrastruktur kelas dunia. Semua itu sah. Tetapi di tengah semua ambisi tersebut, kita perlu memastikan bahwa manusia tidak menjadi sekadar angka dalam statistik pembangunan. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung pertumbuhan, tetapi lupa menghitung kualitas kehidupan.
Jangan sampai kita terlalu bangga dengan gedung yang tinggi, tetapi lupa memastikan bahwa anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang baik. Jangan sampai kita berbicara tentang transformasi digital, tetapi lupa memastikan bahwa masyarakat memiliki literasi digital dan anak-anak terlindungi di ruang maya. Jangan sampai kita mengejar daya saing global, tetapi lupa memperkuat keluarga sebagai tempat pertama manusia belajar tentang karakter, tanggung jawab, dan kehidupan. Karena pada akhirnya, pembangunan yang kehilangan manusia sebagai pusatnya akan kehilangan makna.
Utang dan Pertanyaan tentang Masa Depan
Prinsip tentang prioritas juga berlaku pada persoalan utang. Pada Mei 2026, posisi utang luar negeri Indonesia mencapai 444,4 miliar dollar AS. Dari jumlah tersebut, utang luar negeri pemerintah mencapai 217,3 miliar dollar AS dan tumbuh 3,7 persen secara tahunan, (sumber:Kompas.com) Angka utang tentu tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai sesuatu yang otomatis buruk. Dalam ekonomi modern, utang dapat menjadi instrumen pembiayaan pembangunan. Yang lebih penting bukan hanya berapa besar utang yang dimiliki, tetapi untuk apa utang tersebut digunakan, seberapa produktif penggunaannya, dan siapa yang pada akhirnya menikmati manfaatnya.
Di sinilah kembali muncul kata yang sama: prioritas. Jika pembiayaan digunakan untuk sesuatu yang meningkatkan produktivitas, memperkuat manusia, membuka kesempatan ekonomi, memperbaiki layanan publik, dan menciptakan nilai jangka panjang, maka ia dapat menjadi investasi. Tetapi setiap rupiah yang dipinjam tetap membawa konsekuensi bagi masa depan. Generasi yang hidup hari ini tidak boleh menikmati manfaatnya sementara generasi berikutnya hanya menerima tagihannya.
Bukan hanya berapa banyak aset yang kita tinggalkan, tetapi juga berapa besar beban yang harus mereka tanggung. Indonesia Tidak Kekurangan Modal, tetapi Membutuhkan Kejernihan, Jika seluruh indikator tersebut dibaca secara utuh, gambaran Indonesia sebenarnya tidak hitam-putih. Kita bukan bangsa yang gagal. Kita juga belum selesai. Ada pertumbuhan. Ada penurunan kemiskinan. Ada perbaikan ketimpangan. Ada peningkatan jumlah penduduk bekerja. Tetapi masih ada puluhan juta penduduk miskin.
Kita sudah berjalan cukup jauh. Justru karena itulah, kita membutuhkan kejernihan untuk menentukan langkah berikutnya. Bangsa yang baru merdeka mungkin harus membangun sebanyak mungkin. Bangsa yang sedang bertumbuh mungkin perlu mengejar ketertinggalan. Tetapi bangsa yang telah berusia 81 tahun seharusnya mulai memasuki tahap yang berbeda: menjadi lebih selektif. Tidak semua hal harus dikerjakan sekaligus, Tidak semua yang besar harus menjadi prioritas, Tidak semua yang menghasilkan angka besar otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih baik, Dan tidak semua pembangunan yang terlihat megah akan menjadi warisan yang paling berarti.
Mendahulukan Manusia
Barangkali inilah saatnya Indonesia mendefinisikan kembali makna kemajuan. Kemajuan bukan hanya ketika ekonomi tumbuh, Kemajuan adalah ketika keluarga memiliki daya tahan, Kemajuan adalah ketika anak-anak memperoleh pendidikan yang berkualitas.
Kemajuan adalah ketika masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak, Kemajuan adalah ketika orang miskin memiliki jalan yang nyata untuk keluar dari kemiskinan, Kemajuan adalah ketika teknologi membuat manusia lebih berdaya, bukan semakin rentan, Kemajuan adalah ketika pembangunan tidak hanya menciptakan pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga memperluas kesempatan, Dan kemajuan adalah ketika negara mampu memastikan bahwa pertumbuhan hari ini tidak mengorbankan kehidupan generasi esok.
Dengan kata lain, prioritas pertama pembangunan tetaplah manusia. Ekonomi harus bekerja untuk manusia, Teknologi harus bekerja untuk manusia, Infrastruktur harus bekerja untuk manusia. Kebijakan fiskal harus bekerja untuk masa depan manusia, Bahkan keberhasilan negara pada akhirnya harus dikembalikan pada pertanyaan sederhana: apakah kehidupan rakyat menjadi lebih baik?
Menjadi Dewasa Berarti Berani Memilih
Usia 81 tahun memberikan pelajaran filosofis yang sederhana. Bertambah usia adalah keniscayaan. Menjadi dewasa adalah pilihan, Indonesia tidak kekurangan potensi. Kita memiliki sumber daya alam, pasar yang besar, generasi muda, kekuatan ekonomi, teknologi, dan pengalaman sejarah yang Panjang, Persoalannya bukan apakah kita memiliki cukup modal untuk maju. Persoalannya adalah apakah kita cukup bijaksana untuk menentukan modal mana yang harus diperkuat terlebih dahulu dan untuk tujuan apa.
Kita tidak mungkin mengerjakan semuanya sekaligus, Karena itu, kematangan sebuah bangsa justru terlihat dari kemampuannya mengatakan: Ini penting. Tetapi itu lebih penting. Pembangunan ekonomi penting, Tetapi kualitas manusia lebih penting. Investasi penting. Tetapi investasi yang menciptakan masa depan manusia jauh lebih penting. Transformasi digital penting. Tetapi manusia yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas dan beradab jauh lebih penting, Pertumbuhan penting, Tetapi pertumbuhan yang menghadirkan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih merata jauh lebih penting. Inilah makna sebenarnya dari mendahulukan yang utama.
81 Tahun dan Sebuah Pertanyaan untuk Masa Depan
Pada akhirnya, peringatan 81 tahun kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi kesempatan untuk melihat ke belakang dan menghitung pencapaian. Ia juga merupakan kesempatan untuk bercermin. Apa yang telah kita pelajari selama 81 tahun? Apa yang masih harus diperbaiki? Dan yang paling penting: Apa yang harus kita dahulukan? Sebab manusia yang telah hidup selama 81 tahun seharusnya tidak lagi sibuk mengejar semua hal. Ia telah belajar bahwa waktu terbatas dan kehidupan terlalu berharga untuk dihabiskan pada sesuatu yang tidak utama.
Sebuah bangsa pun demikian.
Indonesia tidak harus menjadi negara yang sempurna pada usia 81 tahun. Tetapi Indonesia seharusnya menjadi bangsa yang semakin matang dalam menentukan arah. Kita tidak kekurangan mimpi, Kita tidak kekurangan potensi, Kita tidak kekurangan pilihan. Yang kita perlukan adalah kejernihan untuk memilih. Sebab setelah 81 tahun, pertanyaan terbesar Indonesia mungkin bukan lagi: “Seberapa jauh kita telah berjalan?” Melainkan: “Apakah kita sudah cukup dewasa untuk mengetahui ke mana harus menuju?” . Dan mungkin, di usia 81 tahun inilah Indonesia perlu belajar satu hal yang sering terlupakan dalam perjalanan panjang pembangunan: yang paling utama bukanlah menjadi bangsa yang memiliki paling banyak, melainkan menjadi bangsa yang mampu memastikan bahwa apa yang dimilikinya benar-benar menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya. Karena usia yang panjang seharusnya melahirkan kebijaksanaan. Dan bagi sebuah bangsa, kebijaksanaan itu bernama prioritas.(ZA)























































































































