Prof. Zakir Sabara: Bukan Sekadar Penyimpanan Buku, Perpustakaan Harus Menjadi Penjaga Memori UMI
Makassar, umi.ac.id – Wakil Rektor II Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., mengajak seluruh pustakawan dan asisten perpustakaan untuk mentransformasi cara pandang terhadap profesinya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pesan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Jabatan Fungsional Pustakawan dan Asisten Perpustakaan yang berlangsung di Aula Lantai 2 Perpustakaan Utsman Bin Affan (PUBA) UMI, Rabu (5/8).
Dalam paparannya yang bertajuk "Penguatan Jabatan Fungsional Pustakawan: Dari Penjaga Buku Menjadi Penggerak Peradaban Pengetahuan", Prof. Zakir menegaskan, profesi pustakawan tidak lagi dapat dipandang sebatas pengelola koleksi buku. Sebaliknya, pustakawan harus menjadi aktor strategis yang mengelola pengetahuan, mendukung riset, serta menjaga memori institusi di era transformasi digital.
"Cara pandang pustakawan masa kini tidak boleh lagi seperti cara pandang orang awam yang menganggap perpustakaan hanya tempat menyimpan buku. Dunia sudah berubah, begitu juga perpustakaan. Perpustakaan harus menjadi pusat pengetahuan, bahkan pusat kecerdasan institusi," tegas Prof. Zakir.
Ia menjelaskan, perpustakaan telah mengalami evolusi yang sangat signifikan. Dahulu, perpustakaan dipersepsikan sebagai tempat mencari buku. Kini, perpustakaan berkembang menjadi ruang pencarian pengetahuan, dan ke depan akan bertransformasi sebagai Institutional Intelligence, yakni pusat kecerdasan institusi yang mampu mengelola data, pengetahuan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi.
Menurutnya, perubahan tersebut harus diikuti dengan transformasi kompetensi pustakawan. Era AI, pustakawan tidak dituntut bersaing dengan kecerdasan buatan, melainkan menjadi sumber daya manusia yang mampu mengarahkan dan memanfaatkan teknologi tersebut secara bijaksana dan bertanggung jawab.
"Jangan bersaing dengan AI. Jadilah orang yang mengarahkan AI. Pustakawan masa depan harus menguasai AI Literacy, digital curation, research support, data management, research analytics, menjaga integritas akademik, hingga pengelolaan repositori digital," ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Zakir menekankan bahwa penguatan jabatan fungsional pustakawan bukan sekadar berkaitan dengan kenaikan pangkat administratif. Jabatan fungsional merupakan bentuk pengakuan atas kompetensi, integritas, kontribusi keilmuan, dan pengabdian pustakawan kepada institusi. Karena itu, pengembangan kapasitas pustakawan harus menjadi investasi strategis universitas dalam meningkatkan kualitas layanan akademik.
Dalam konteks pengembangan UMI sebagai World Class Islamic University, Prof. Zakir memperkenalkan konsep UMI Connection, yaitu ekosistem pengetahuan yang menempatkan perpustakaan sebagai simpul utama pengelolaan pengetahuan institusi.
Ia menegaskan, Perpustakaan Utsman Bin Affan UMI harus bertransformasi dari sekadar pengelola koleksi menjadi pusat knowledge management institusi. Peran strategis tersebut diwujudkan melalui pengelolaan institutional repository, peningkatan kualitas metadata, dukungan terhadap akreditasi, publikasi ilmiah, sitasi, open access, hingga penguatan reputasi internasional UMI.
Yang tidak kalah penting, menurutnya, perpustakaan harus menjadi penjaga memori institusi agar seluruh jejak intelektual, inovasi, hasil riset, kebijakan, serta sejarah perkembangan UMI terdokumentasi dengan baik dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Perpustakaan UMI harus menjadi tempat penyimpanan memori UMI. Semua karya ilmiah, inovasi, sejarah, kebijakan, hingga pencapaian institusi harus terjaga dengan baik. Karena institusi besar adalah institusi yang mampu menjaga memorinya," ungkapnya.
Menutup pemaparannya, Prof. Zakir mengingatkan bahwa pustakawan sesungguhnya memegang peran yang sangat mulia dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan.
"Buku membangun pengetahuan. Pengetahuan membangun peradaban. Dan pustakawan menjaga agar peradaban itu tidak pernah kehilangan ingatannya," tutupnya yang disambut antusias para peserta Bimtek.
Melalui kegiatan ini, UMI berharap penguatan jabatan fungsional pustakawan tidak hanya meningkatkan profesionalisme tenaga perpustakaan, tetapi juga mempercepat transformasi Perpustakaan Utsman Bin Affan sebagai pusat pengelolaan pengetahuan, penggerak inovasi akademik, sekaligus penjaga memori institusi dalam mendukung terwujudnya World Class Islamic University. ($)























































































































