Rektor UMI Buka Panggung Persahabatan Abdidaya Ormawa 2026: Jangan Hanya Bawa Pulang Piala, Bawa Juga Persahabatan
120 tim dari 60 perguruan tinggi bertemu di Universitas Muslim Indonesia Makassar. Rektor UMI mengajak mahasiswa menjadikan kompetisi sebagai awal kolaborasi dan pengabdian yang lebih luas
Makassar, umi.ac.id - Ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di GOR Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Kamis (22/10/2026), dalam pembukaan Anugerah Abdidaya Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) 2026.
Di tengah semarak pembukaan, Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menyampaikan pesan yang mengundang refleksi: mahasiswa boleh datang untuk meraih juara, tetapi jangan sampai pulang tanpa membawa pengalaman dan persahabatan.
“Kalau belum membawa pulang piala, paling tidak membawa pulang persahabatan dan kenangan baik tentang Universitas Muslim Indonesia,” ujar Prof. Hambali.
Pesan tersebut menjadi salah satu penanda penting pembukaan Abdidaya Ormawa 2026 yang mempertemukan 120 tim dari 60 perguruan tinggi untuk berbagi inovasi dan pengalaman pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan nasional ini secara resmi dibuka melalui prosesi simbolis penusukan pena ke layar oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendiktisaintek RI, Dr. Beny Bandanadjaja, bersama Rektor UMI.
Kemendiktisaintek: Mahasiswa Harus Belajar Bersama Masyarakat
Dalam sambutannya, Dr. Beny Bandanadjaja menegaskan bahwa Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) merupakan sarana pembelajaran yang menghubungkan kemampuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
“Ini merupakan ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengasah organisasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Beny, Abdidaya Ormawa tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi praktik baik yang dapat dipelajari dan dikembangkan di daerah lain.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat harus ditempatkan sebagai mitra, bukan sekadar penerima program. Pengetahuan mahasiswa perlu dipadukan dengan pengalaman dan kearifan lokal agar inovasi benar-benar sesuai kebutuhan warga serta memiliki peluang berlanjut setelah masa pendampingan berakhir.
2.500 Peserta, Delapan Bidang Inovasi Pemberdayaan
Ketua Panitia Abdidaya Ormawa 2026 sekaligus Wakil Rektor III UMI Bidang Pembinaan Kemahasiswaan, Prestasi, dan Hubungan Alumni, Prof. Dr. H. M. Kamal Hijaz, menyampaikan bahwa sekitar 2.500 peserta terlibat dalam rangkaian kegiatan nasional tersebut.
Para mahasiswa membawa program pemberdayaan masyarakat dalam delapan bidang, yakni desa atau kelurahan wirausaha, smart farming, kelurahan sehat, desa pariwisata, desa cerdas, desa konservasi dan tangguh bencana, desa maritim, serta desa hutan.
Selama penyelenggaraan pada 21–25 Oktober 2026, UMI menjadi lokasi berbagai agenda, mulai dari Expo Inovasi, pameran UMKM, presentasi finalis, semiloka, forum berbagi pengalaman, malam penganugerahan, hingga site tour.
Di hadapan para peserta, Prof. Kamal mengingatkan agar kompetisi tetap berlangsung dalam suasana menyenangkan.
“Silakan berkompetisi dengan serius, tetapi jangan pula terlalu tegang,” ungkapnya.
Ia berharap pertemuan mahasiswa dari berbagai kampus dapat menghasilkan jejaring dan kerja sama yang terus berkembang setelah kegiatan berakhir.
Rektor UMI: Kompetisi Boleh Berakhir, Kolaborasi Harus Berlanjut
Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, mengapresiasi kehadiran para mahasiswa yang membawa karya dan inovasi terbaik dari perguruan tinggi masing-masing.
“Saya tahu semuanya datang membawa karya terbaik, dan tentu saja berharap membawa penghargaan,” ujarnya.
Namun, menurut Rektor, nilai sebuah pertemuan nasional tidak hanya ditentukan oleh jumlah piala yang diraih. Kesempatan bertukar pengalaman, mengenal mahasiswa dari daerah lain, dan membangun hubungan antarkampus juga merupakan hasil yang berharga.
Melalui Abdidaya Ormawa 2026, UMI ingin menghadirkan suasana kompetisi yang tetap menjunjung kebersamaan. Piala menjadi simbol prestasi, tetapi persahabatan dapat menjadi awal lahirnya kolaborasi baru.
Semangat tersebut sejalan dengan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, yang menempatkan pengetahuan dan karakter sebagai bekal untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Kepercayaan sebagai tuan rumah juga menjadi kesempatan bagi UMI memperluas jejaring akademik dan kemahasiswaan sekaligus mempertemukan beragam gagasan pemberdayaan dari seluruh Indonesia.
Dari Makassar, Membangun Jejaring Pengabdian Indonesia
Abdidaya Ormawa 2026 mempertemukan mahasiswa yang telah mengembangkan berbagai program berbasis kebutuhan masyarakat.
Ada yang membawa inovasi pertanian, kewirausahaan desa, konservasi lingkungan, pariwisata, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.
BACA JUGA:
Bulan Bahasa 2026, FSIKP UMI Menggali Kembali Makna Bahasa dan Budaya di Era AI
Masing-masing hadir dengan pengalaman berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: menjadikan organisasi kemahasiswaan sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian.
Bagi UMI, keberhasilan penyelenggaraan bukan hanya tentang kemeriahan pembukaan atau kelancaran kompetisi, tetapi juga tentang peluang kerja sama yang dapat tumbuh dari pertemuan tersebut.
“Kalau belum membawa pulang piala, paling tidak membawa pulang persahabatan dan kenangan baik tentang Universitas Muslim Indonesia.”
Pesan Rektor UMI itu menjadi pengingat bahwa setelah kompetisi selesai dan para peserta kembali ke daerah masing-masing, hubungan baik serta gagasan yang dipertukarkan dapat terus memberi manfaat.
Abdidaya Ormawa 2026 bukan hanya panggung untuk mencari juara, tetapi juga ruang untuk mempertemukan mahasiswa yang ingin bekerja bersama membangun masyarakat.























































































































