Ustadz Das'ad Latif: UMI Istimewa karena Mencerdaskan Sekaligus Memanusiakan dengan Adab
PANGKEP, umi.ac.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) memiliki keistimewaan yang membedakannya dari banyak perguruan tinggi lainnya. UMI tidak hanya mencerdaskan mahasiswa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memanusiakan mereka melalui pembentukan adab, akhlak, dan karakter sebagai fondasi utama pendidikan.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Dr. H. Das'ad Latif, S.Sos., M.Si., Ph.D. saat menyampaikan tausiah pada UMI Islamic Strategic Leadership Reorientation Forum (UISLRF) 2026 di Masjid Baiturrahman Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlisin UMI, Padanglampe, Kabupaten Pangkep, Senin (3/8/2026).
Di hadapan Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Dr H Mansyur Ramly, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof Dr Hj Masrurah Mokhtar, MA., Rektor, Prof Dr H Hambali Thalib, SH., MH., beserta jajaran pimpinan universitas, para dekan, wakil dekan, direktur, ketua lembaga, ketua program studi, dan kepala unit, Ustadz Das'ad menegaskan bahwa identitas UMI sebagai institusi pendidikan dan dakwah harus terus dijaga di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Perguruan tinggi lain mungkin mampu mencerdaskan mahasiswanya. Tetapi UMI memiliki keistimewaan karena mencerdaskan sekaligus memanusiakan dengan adab. Adab itulah yang membuat mahasiswa mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," tegasnya.
Menurut dia, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, akreditasi, maupun kemegahan fasilitas yang dimiliki. Keberhasilan sejati adalah ketika kampus mampu melahirkan insan yang berintegritas, berakhlak mulia, dan menjadi teladan di tengah masyarakat.
Karena itu, Ustadz Das'ad mengingatkan agar pembangunan fisik kampus selalu diiringi dengan pembangunan karakter sivitas akademika.
"Kalau UMI ingin menjadi universitas yang hebat, jangan hanya membangun gedung-gedung yang megah. Bangunlah manusia yang berkarakter, beradab, dan memiliki akhlak yang baik. Itulah investasi terbesar sebuah universitas," ujarnya.
Dalam tausiahnya, Ustadz Das'ad juga menyoroti pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang mulai mengubah cara belajar dan mengajar di perguruan tinggi. Menurut dia, teknologi dapat membantu proses pendidikan, namun tidak akan pernah mampu menggantikan peran dosen dalam membentuk karakter dan keteladanan.
"Pada era Artificial Intelligence, mungkin mesin bisa menggantikan dosen menjelaskan teori. Tetapi ada satu yang tidak akan pernah bisa digantikan mesin, yaitu mewariskan karakter, adab, dan keteladanan kepada mahasiswa," katanya.
Oleh karena itu, ia menilai tantangan terbesar dosen pada masa depan bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi figur yang mampu menginspirasi melalui sikap, perilaku, dan nilai-nilai kehidupan.
"Jangan hanya berhasil mendidik mahasiswa. Berikan mereka contoh. Jadilah role model. Karena mahasiswa lebih banyak belajar dari keteladanan dibandingkan dari ceramah," pesannya.
Menurut Ustadz Das'ad, ilmu pengetahuan akan terus berkembang mengikuti zaman, tetapi karakter yang diwariskan seorang dosen akan tetap hidup dan menjadi bekal mahasiswa sepanjang hayat.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Das'ad juga mengajak seluruh sivitas akademika UMI agar tidak hanya mengejar reputasi akademik, tetapi juga mengutamakan keikhlasan dalam setiap pengabdian.
"Kalau UMI ingin menjadi universitas yang hebat, ciptakan manusia yang berkarakter. Tetapi kalau UMI ingin dicintai Allah, jadikan dosennya ikhlas karena Allah, mahasiswanya ikhlas karena Allah, dan para pimpinannya juga ikhlas karena Allah," ungkapnya.
Ia menegaskan, keikhlasan merupakan fondasi yang akan melahirkan budaya kerja yang sehat, memperkuat ukhuwah, menghilangkan iri hati, serta menghadirkan keberkahan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Menutup tausiahnya, Ustadz Das'ad mengingatkan pentingnya rasa syukur sebagai kunci keberkahan sebuah institusi.
"Jangan pernah berhenti mengucapkan Alhamdulillah. Semakin banyak bersyukur, semakin Allah tambahkan nikmat-Nya. Kampus yang dipenuhi rasa syukur akan menjadi kampus yang dipenuhi keberkahan," tuturnya.
Pesan-pesan tersebut sejalan dengan semangat UMI Islamic Strategic Leadership Reorientation Forum (UISLRF) 2026 sebagai bagian dari transformasi menuju UMI 2030. Forum ini tidak hanya membahas penguatan tata kelola, digitalisasi, dan inovasi organisasi, tetapi juga meneguhkan kembali jati diri UMI sebagai institusi pendidikan dan dakwah yang menempatkan pembangunan adab, karakter, dan kepemimpinan berintegritas sebagai inti dari seluruh proses pendidikan.
Melalui UISLRF 2026, Universitas Muslim Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam akhlak, serta mampu menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban.
(HUMAS)























































































































