120 Tim dari 60 Kampus Bakal Berkumpul di UMI, Makassar Bersiap Jadi Panggung Nasional Abdidaya Ormawa 2026
Tak sekadar menyiapkan sembilan lokasi kegiatan, Universitas Muslim Indonesia ingin memastikan setiap delegasi dari berbagai penjuru Indonesia merasakan pelayanan terbaik, keramahan Makassar, dan pengalaman berkesan selama Abdidaya Ormawa 2026.
MAKASSAR, umi.ac.id — Dalam hitungan hari, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar akan menjadi tempat bertemunya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka datang membawa gagasan, pengalaman pengabdian, dan karya pemberdayaan masyarakat yang telah dikembangkan bersama organisasi kemahasiswaannya. Sebanyak 120 tim dari 60 perguruan tinggi negeri dan swasta serta enam mitra dijadwalkan berpartisipasi dalam Anugerah Abdidaya Ormawa 2026, pada 22–25 Oktober mendatang.
Bagi UMI, menjadi tuan rumah ajang nasional ini bukan sekadar menyediakan gedung, panggung, dan ruang pertemuan. Ada tanggung jawab yang lebih dekat dengan pengalaman peserta: bagaimana mereka disambut, memperoleh informasi, menemukan lokasi kegiatan, hingga merasa nyaman selama berada di kampus. Itulah sebabnya, menjelang pelaksanaan kegiatan, panitia terus mematangkan kesiapan sembilan titik lokasi, sistem registrasi, dan pelayanan delegasi melalui Liaison Officer (LO) serta Person in Charge (PIC) dari masing-masing perguruan tinggi.
Ketua Panitia Abdidaya Ormawa 2026 UMI, Prof. Dr. H. M. Kamal Hidjaz, S.H., M.H., menegaskan bahwa pelayanan peserta menjadi perhatian utama penyelenggara.
“Kami ingin memastikan seluruh peserta memperoleh pelayanan terbaik, mulai dari kedatangan, registrasi, pelaksanaan kegiatan, hingga malam penganugerahan. Setiap lokasi harus dipersiapkan dengan baik, dan seluruh petugas harus memahami tugas serta tanggung jawabnya masing-masing,” ungkapnya.
Sembilan Titik Kampus Disiapkan, dari Masjid hingga Taman Firdaus
Kesibukan persiapan Abdidaya Ormawa 2026 tidak hanya terpusat pada satu gedung. Sejumlah fasilitas UMI akan menjadi ruang kegiatan dengan fungsi yang berbeda. Pelataran Masjid Umar bin Khattab disiapkan sebagai tempat registrasi langsung peserta. Tidak jauh dari lokasi tersebut, Kantor Kemahasiswaan di lantai 1 Masjid Umar bin Khattab akan menjadi Sekretariat Panitia sekaligus pusat koordinasi pelayanan delegasi.
Di Auditorium Aljibra, panitia mempersiapkan kegiatan Expo PPK Ormawa, penataan stan, serta penilaian poster. Sementara itu, pelataran auditorium akan menjadi ruang yang lebih terbuka dan semarak melalui Bazar UKM, Panggung Kreasi, dan UMKM Expo. Gedung Olahraga (GOR) UMI dijadwalkan menjadi tempat pembukaan, mempertemukan delegasi dari berbagai perguruan tinggi dalam satu momentum kebersamaan.
Kegiatan juga akan berlangsung di dua gedung Fakultas Kedokteran UMI. Gedung Lama digunakan untuk Semiloka dan Sarasehan Pimpinan Perguruan Tinggi, sedangkan Gedung Baru menjadi tempat Technical Meeting serta sarasehan dosen pendamping, organisasi kemahasiswaan, tim pelaksana, dan mitra. Di Aula Hidjaz Fakultas Hukum, peserta akan mengikuti agenda penilaian video program. Sementara itu, Taman Firdaus UMI disiapkan sebagai tempat malam penganugerahan, salah satu agenda yang paling dinantikan dalam rangkaian Abdidaya Ormawa 2026.
Dengan kegiatan yang tersebar di sembilan titik, panitia memberi perhatian khusus pada kejelasan petunjuk lokasi, terutama perbedaan Gedung Lama dan Gedung Baru Fakultas Kedokteran.
“Karena kegiatan berlangsung di beberapa lokasi, koordinasi menjadi sangat penting. Kami ingin memastikan setiap peserta mengetahui tempat kegiatannya, mendapatkan informasi yang tepat, dan tidak mengalami kesulitan ketika berpindah dari satu agenda ke agenda lainnya,” jelas Prof. Kamal.
Datang sebagai Delegasi, Disambut sebagai Tamu UMI
Satu hal yang tidak kalah penting dari kesiapan fasilitas adalah pengalaman peserta sejak pertama tiba di kampus. Delegasi yang datang dari berbagai daerah tentu membutuhkan informasi yang mudah diperoleh. Mulai dari lokasi registrasi, jadwal kegiatan, ruang pertemuan, hingga pihak yang bisa dihubungi ketika menghadapi kendala.
Untuk itu, panitia menyiapkan mekanisme pelayanan melalui LO dan PIC perguruan tinggi. LO menjadi penghubung antara peserta dan panitia, sedangkan PIC membantu mengoordinasikan kebutuhan anggota delegasi dari masing-masing kampus. Apabila peserta membutuhkan informasi mengenai jadwal atau lokasi kegiatan, mereka dapat berkomunikasi melalui LO dan PIC. Sementara urusan administrasi yang membutuhkan tindak lanjut akan diarahkan kepada Sekretariat Panitia. Pembaruan informasi juga disampaikan melalui kanal resmi kegiatan dan jalur komunikasi delegasi.
Prof. Kamal menilai bahwa petugas pendamping merupakan bagian penting dari kesan yang akan dibawa peserta ketika kembali ke daerah masing-masing.
“LO merupakan bagian penting dari wajah pelayanan UMI sebagai tuan rumah. Karena itu, mereka harus mampu memberikan informasi yang jelas, membantu kebutuhan peserta, dan membangun komunikasi yang baik dengan seluruh delegasi,” tuturnya.
Bagi UMI, pelayanan yang baik bukan hanya tentang keramahan saat menyambut tamu. Ketepatan informasi, kesiapan membantu, dan koordinasi antarpanitia juga menjadi bagian dari tanggung jawab tuan rumah.
Saat Karya Mahasiswa Indonesia Bertemu di Kampus UMI
Abdidaya Ormawa 2026 membawa makna yang lebih luas daripada sebuah kompetisi atau seremoni penghargaan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memperoleh ruang untuk memperkenalkan program pengabdian, berbagi pengalaman, serta belajar dari pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh tim lain. Expo, penilaian program, semiloka, sarasehan, hingga malam penganugerahan menjadi bagian dari pertemuan antara gagasan mahasiswa, pengalaman dosen pendamping, dan keterlibatan mitra.
Bagi UMI, kesempatan menjadi tuan rumah juga menjadi momentum untuk memperlihatkan lingkungan kampus yang terbuka bagi kolaborasi nasional. Identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta Kampus Peduli dan Berbagi menemukan relevansinya dalam kegiatan yang menempatkan pengabdian mahasiswa sebagai perhatian utama. Pengabdian kepada masyarakat sendiri merupakan bagian dari Catur Dharma UMI, yang mendorong ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hadir dalam kehidupan masyarakat. Dengan menjadi tuan rumah, UMI menyediakan ruang bagi mahasiswa dari berbagai kampus untuk saling memperkenalkan karya dan memperluas jejaring pengabdian.
UMI Ingin Delegasi Pulang Membawa Kenangan Baik
Prof. Kamal Hidjaz berharap seluruh unsur panitia dan sivitas akademika UMI dapat mengambil bagian dalam menyukseskan penyelenggaraan Abdidaya Ormawa 2026. Menurutnya, kepercayaan menjadi tuan rumah kegiatan nasional harus dijawab melalui persiapan yang sungguh-sungguh dan pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh peserta.
“Menjadi tuan rumah kegiatan nasional merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi UMI. Kami ingin para peserta tidak hanya datang untuk mengikuti kompetisi dan kegiatan pengabdian, tetapi juga merasakan keramahan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan UMI,” harapnya.
Menjelang 22 Oktober, UMI terus menyelaraskan kesiapan sembilan lokasi kegiatan, registrasi, sekretariat, serta petugas pendamping delegasi. Mengusung semangat “Bersama Berkarya, Berdampak untuk Indonesia Berkelanjutan”, Abdidaya Ormawa 2026 diharapkan menjadi pertemuan yang tidak hanya merayakan prestasi mahasiswa, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi dan pengabdian.
Bagi UMI, ada harapan sederhana di balik seluruh persiapan tersebut: para delegasi datang membawa karya terbaiknya, menemukan pengalaman berharga selama berada di Makassar, dan pulang dengan kesan baik tentang kampus yang telah menyambutnya. Sebab, menjadi tuan rumah bukan hanya tentang siapa yang berdiri di atas panggung. Tetapi juga tentang bagaimana setiap tamu merasa dihargai sejak pertama datang hingga saat berpamitan.
(Humas UMI)























































































































