Rektor UMI Bersyukur Abdidaya Ormawa 2026 Sukses, Terima Kasih Mahasiswa: "Kalian Telah Menjadi Tuan Rumah yang Menghangatkan Persaudaraan Indonesia"
Dari Sumatera hingga Papua, mahasiswa berbagai perguruan tinggi pulang membawa pengalaman, persahabatan, dan kenangan dari Makassar. Rektor UMI menyampaikan syukur kepada Allah SWT, penghargaan kepada seluruh pihak, serta pesan agar generasi muda terus menjaga harapan Indonesia melalui karya dan pengabdian.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur dengan piala. Ada pula keberhasilan yang nilainya jauh melampaui kemeriahan sebuah panggung. Itulah suasana yang terasa ketika Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menutup rangkaian Anugerah Abdidaya Ormawa 2026, Sabtu (24/10/2026) malam.
Di hadapan mahasiswa, dosen, pimpinan perguruan tinggi, dan tamu undangan dari berbagai daerah, Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., mengawali ungkapan hatinya dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Bagi keluarga besar UMI, kelancaran penyelenggaraan kegiatan nasional yang mempertemukan 120 tim dari 60 perguruan tinggi tersebut merupakan nikmat dan amanah yang patut disyukuri.
Sejak penyambutan peserta, pembukaan yang berlangsung meriah, berbagai agenda akademik dan pengabdian, hingga malam penganugerahan dan penutupan yang penuh semangat, UMI merasakan begitu banyak dukungan, perhatian, dan kebaikan dari berbagai pihak. Di balik kemeriahan pembukaan dan penutupan, ada kerja panjang, kesabaran, pengorbanan waktu, dan ketulusan banyak orang yang membuat seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan baik. Keberhasilan ini bukan milik satu orang atau satu lembaga. Ini adalah buah dari kepercayaan, kerja bersama, dan pertolongan Allah SWT.
Terima Kasih kepada Semua yang Telah Menjadi Bagian dari Abdidaya 2026
Dalam sambutannya, Prof. Hambali menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, khususnya Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, atas kepercayaan menjadikan UMI sebagai tuan rumah.
"UMI tidak hanya ingin diberi kepercayaan. UMI ingin terus belajar menjadi perguruan tinggi yang layak dipercaya," ujarnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Yayasan Wakaf UMI, jajaran pimpinan universitas dan senat, LLDIKTI Wilayah IX, pemerintah daerah, pimpinan perguruan tinggi peserta, dewan juri, dosen pendamping, mitra desa, serta seluruh pihak yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan. Malam penutupan tersebut turut dihadiri Plt. Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sulawesi, Prof. Dr. dr. Budu, Ph.D., Sp.M.(K), bersama para pimpinan perguruan tinggi dan undangan lainnya.
Apresiasi khusus diberikan kepada Ketua Panitia sekaligus Wakil Rektor III UMI Bidang Pembinaan Kemahasiswaan, Prestasi, dan Hubungan Alumni, Prof. Dr. H. M. Kamal Hijaz, S.H., M.H., beserta seluruh jajaran panitia. Rektor juga menyampaikan penghargaan kepada para penghubung peserta (liaison officer), relawan, tenaga kependidikan, petugas keamanan, kebersihan, kesehatan, perlengkapan, dokumentasi, konsumsi, serta semua pihak yang bekerja sejak persiapan hingga berakhirnya kegiatan.
"Tidak semua orang yang berjasa berdiri di bawah cahaya panggung. Ada yang justru memastikan panggung itu tetap bercahaya," ungkapnya.
Bagi UMI, mereka yang bekerja dalam kesunyian memiliki tempat yang sama terhormatnya dengan mereka yang menerima tepuk tangan di atas panggung.
Terima Kasih, Mahasiswa UMI. Kalian Telah Menyambut Indonesia dengan Hati
Di antara seluruh ungkapan terima kasih itu, terdapat penghargaan yang sangat khusus bagi seluruh mahasiswa Universitas Muslim Indonesia. Selama pelaksanaan Abdidaya Ormawa 2026, mahasiswa UMI bukan hanya hadir sebagai peserta atau bagian dari kepanitiaan. Mereka juga menjadi sahabat, pendamping, penunjuk jalan, penyambut tamu, dan wajah keramahan kampus bagi mahasiswa dari berbagai penjuru Nusantara.
Dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua, para tamu datang dengan bahasa, kebiasaan, pengalaman, dan karakter yang beragam. Mereka bertemu di UMI sebagai sesama anak bangsa yang membawa semangat berkarya dan mengabdi. Dalam suasana itulah mahasiswa UMI menunjukkan arti menjadi tuan rumah yang baik: bersedia berbagi ruang, memberikan bantuan, menunjukkan pengertian, serta menyambut saudara-saudara mereka dengan kehangatan.
Mungkin ada yang harus menyesuaikan aktivitas kuliahnya. Ada yang bersabar menghadapi kampus yang lebih ramai dari biasanya. Ada pula yang meluangkan waktu untuk membantu tamu menemukan tempat kegiatan, memperoleh informasi, atau sekadar merasa nyaman berada jauh dari kampung halaman. Hal-hal sederhana seperti itu mungkin tidak tercatat dalam penilaian lomba. Namun, justru di sanalah nilai pendidikan karakter memperoleh bentuknya yang paling nyata.
Keramahan bukan sekadar senyuman saat menyambut tamu. Keramahan adalah kesediaan memberikan ruang, waktu, perhatian, dan pengertian kepada orang lain. Bagi UMI, seluruh mahasiswa yang telah menunjukkan sikap tersebut patut memperoleh penghargaan yang tulus. Mereka telah ikut memperlihatkan bahwa identitas Kampus Ilmu dan Ibadah tidak hanya hadir dalam semboyan, tetapi juga dalam adab, sikap, dan kepedulian sehari-hari.
Dan ketika para peserta kembali ke daerah masing-masing, UMI berharap yang mereka kenang bukan hanya kemeriahan acara, melainkan juga persahabatan dan kebaikan yang mereka temukan di Makassar.
Di Balik Panggung yang Meriah, Ada Pelajaran tentang Kehidupan
Pembukaan dan penutupan Abdidaya Ormawa 2026 menghadirkan kemeriahan yang berkesan. Namun, Rektor UMI mengajak mahasiswa melihat makna yang lebih dalam di balik perhelatan tersebut. Sebuah kegiatan besar tidak akan berjalan hanya karena panggung yang indah, tata cahaya yang memukau, atau susunan acara yang tertib. Keberhasilannya lahir dari kemampuan banyak orang untuk bekerja sama, menghormati perbedaan, menyelesaikan masalah, mengendalikan ego, dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Pelajaran seperti inilah yang kelak dibutuhkan mahasiswa dalam kehidupan sesungguhnya.
Dunia setelah kampus tidak selalu memberikan kemudahan. Persaingan semakin terbuka, teknologi terus berubah, kecerdasan buatan berkembang cepat, dan persoalan masyarakat semakin kompleks. Karena itu, mahasiswa perlu terus memperkuat ilmu pengetahuan, keterampilan digital, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kerja sama, serta keberanian menghadapi perubahan. Namun, seluruh kemampuan tersebut perlu berjalan bersama adab, kejujuran, empati, dan kesediaan membantu sesama. Masa depan membutuhkan anak muda yang bukan hanya cerdas menghadapi perubahan, tetapi juga memiliki hati untuk menjaga sesama.
Abdidaya Ormawa menjadi salah satu ruang pembelajaran tersebut. Mahasiswa tidak hanya diuji kemampuannya menghasilkan gagasan, tetapi juga belajar bekerja bersama masyarakat, menghadapi keterbatasan, dan menghargai kontribusi orang lain.
Selamat kepada Para Pemenang, Terima Kasih kepada Semua Pejuang Pengabdian
Pada malam penganugerahan, Rektor menyampaikan selamat kepada seluruh penerima penghargaan Abdidaya Ormawa 2026. Ia mengajak mahasiswa menjadikan prestasi sebagai penyemangat untuk terus berkarya, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Kepada mahasiswa yang belum memperoleh penghargaan, Rektor berpesan agar tidak berkecil hati.
"Kompetisi memilih pemenang. Pengabdian memberi kesempatan kepada semua orang untuk menjadi berarti," ujarnya.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa nilai pengabdian tidak selalu ditentukan oleh keputusan dewan juri. Mahasiswa yang berhasil membantu masyarakat menemukan jalan keluar atas persoalannya telah memperoleh pengalaman berharga, sekalipun namanya tidak disebut sebagai penerima penghargaan. Sebaliknya, mahasiswa yang meraih prestasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan karya dan inovasinya tidak berhenti sebagai dokumentasi atau kenangan kompetisi. Piala adalah bentuk apresiasi. Manfaat yang terus hidup di tengah masyarakat adalah warisan pengabdian.
Dari Abdidaya, Rektor UMI Mengusulkan Jejaring Solusi untuk Indonesia
Untuk menjaga keberlanjutan hasil pemberdayaan, Prof. Hambali mengusulkan pengembangan Jejaring Solusi Abdidaya Indonesia. Gagasan tersebut ditujukan untuk menghubungkan karya mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat agar inovasi yang terbukti bermanfaat dapat didokumentasikan, diukur dampaknya, serta dikembangkan di wilayah lain sesuai kebutuhan setempat.
"Mahasiswa menemukan solusi. Pemerintah memperluas manfaatnya. Masyarakat menjaga keberlanjutannya," tuturnya.
Rektor berharap pengabdian mahasiswa tidak berhenti ketika pendanaan selesai atau peserta kembali ke kampus masing-masing. Dalam pandangannya, generasi muda perlu terus mengembangkan keberanian berpikir kritis sekaligus kemampuan menawarkan jalan keluar. Kritik yang baik perlu disertai kepedulian. Gagasan yang baik perlu diikuti tindakan. Sementara pembangunan harus semakin dekat dengan kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi masyarakat.
Kampus Bukan Hanya Tempat Menguji Kecerdasan, tetapi Juga Menjaga Harapan
Pada kesempatan tersebut, Rektor turut menyampaikan langkah UMI dalam membantu mahasiswa yang menghadapi kesulitan menyelesaikan pendidikan. Melalui Beasiswa Afirmasi Penyelesaian Studi, UMI mengalokasikan Rp1,599 miliar bagi 121 mahasiswa yang mendekati kelulusan tetapi menghadapi kendala biaya. Langkah ini mencerminkan perhatian UMI agar persoalan ekonomi tidak dengan mudah memutus perjuangan mahasiswa yang telah menempuh perjalanan panjang menuju gelar sarjana.
UMI juga terus mengembangkan UMI Connection sebagai bagian dari transformasi digital kampus, dengan arah penguatan layanan dan pemanfaatan data agar kebutuhan serta persoalan mahasiswa dapat dikenali dan ditangani lebih baik.
"Kampus bukan hanya tempat menguji kecerdasan, tetapi juga tempat menjaga harapan," kata Prof. Hambali.
Bagi UMI, kemajuan perguruan tinggi tidak hanya tercermin pada gedung, teknologi, dan penghargaan, tetapi juga pada kesungguhan institusi memperhatikan manusia yang belajar, bekerja, dan menggantungkan harapan di dalamnya.
Mohon Maaf atas Kekurangan, Semoga Persaudaraan Terus Terjaga
Di tengah rasa syukur dan kebahagiaan, Rektor UMI tetap menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta, pendamping, pimpinan perguruan tinggi, tamu undangan, dan masyarakat Makassar apabila selama penyelenggaraan masih terdapat kekurangan dalam penyambutan, pelayanan, maupun fasilitas. UMI menyadari bahwa menjadi tuan rumah kegiatan nasional bukan pekerjaan yang mudah. Berbagai harapan dan kebutuhan peserta tentu tidak seluruhnya dapat dipenuhi secara sempurna. Karena itu, segala masukan dan pengalaman selama kegiatan menjadi bahan pembelajaran untuk terus memperbaiki diri.
UMI juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kota Makassar, khususnya warga dan pengguna jalan di sekitar kampus, atas pengertian serta dukungannya selama kegiatan berlangsung. Kebesaran sebuah kampus bukan terletak pada keengganannya mengakui kekurangan, melainkan pada kesediaannya belajar, berterima kasih, dan terus memperbaiki pelayanan.
"Jadilah Generasi Penjaga Harapan Indonesia"
Menjelang akhir sambutannya, Prof. Hambali kembali mengingatkan pesan yang disampaikan saat pembukaan Abdidaya Ormawa 2026. Ketika itu, mahasiswa diajak menjadi Sarjana Pencipta Jalan Keluar, yakni generasi terdidik yang tidak berhenti pada kemampuan mengenali persoalan, tetapi berusaha menghadirkan solusi. Pada malam penutupan, pesan tersebut dilanjutkan dengan amanah yang lebih luas.
"Jadilah Generasi Penjaga Harapan Indonesia."
Pesan ini menjadi ajakan agar mahasiswa tidak kehilangan kepedulian ketika menghadapi kehidupan yang semakin menantang. Indonesia membutuhkan generasi yang terus belajar, mampu beradaptasi, berani berkarya, menjaga integritas, serta tetap memiliki kepedulian kepada masyarakat.
"Indonesia tidak cukup dicintai dengan kata-kata. Indonesia harus dijaga dengan karya," pungkas Rektor.
Malam pun berakhir, panggung perlahan kembali tenang, dan para peserta bersiap pulang menuju kampus serta daerah masing-masing. Namun, bagi keluarga besar UMI, Abdidaya Ormawa 2026 meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada kemeriahan acara: rasa syukur, persaudaraan, pengalaman, dan keyakinan bahwa kebaikan kecil yang dikerjakan bersama dapat menghadirkan manfaat besar.
Terima kasih kepada seluruh mahasiswa Indonesia yang telah datang membawa karya dan semangat pengabdian.
Terima kasih kepada mahasiswa UMI yang telah menyambut saudara-saudaranya dengan hati terbuka.
Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan tenaga, pikiran, waktu, dan doa.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Atas perlindungan, rahmat, dan pertolongan Allah SWT, Abdidaya Ormawa 2026 telah berlangsung dengan baik. Semoga persaudaraan yang terbangun terus terjaga dan setiap karya yang lahir membawa manfaat bagi masyarakat.
Dari UMI Makassar, kita berpisah sebagai peserta Abdidaya, tetapi pulang sebagai saudara dalam pengabdian untuk Indonesia. (Humas UMI)























































































































