Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. H. Usman Sofian: Dari Aktivis Kampus UMI, Kini Memimpin BAZNAS Kota Makassar
Berawal dari mahasiswa UMI yang aktif berorganisasi, Dr. H. Usman Sofian, M.Pd.I. menempuh perjalanan panjang melalui kepemudaan, keagamaan, kerukunan, dan pemberdayaan masyarakat hingga dipercaya memimpin BAZNAS Kota Makassar periode 2026–2031.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua dampak alumni lahir dari satu profesi. Ada yang tumbuh melalui organisasi. Ada yang dibangun melalui kemampuan menyatukan orang. Ada yang hadir melalui pelayanan kepada masyarakat. Perjalanan Dr. H. Usman Sofian, M.Pd.I. berada di jalur itu.
Alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini memulai perjalanan sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke berbagai ruang pengabdian: kepemudaan, keagamaan, pemberdayaan, kerukunan umat beragama, hingga pengelolaan zakat.
Kini, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2026–2031. Amanah itu bukan awal dari perjalanan. Ia adalah kelanjutan dari proses panjang yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Dari Desa Rappa Menuju UMI
Usman Sofian lahir di Desa Rappa, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 4 Februari 1980. Masa pendidikan awalnya berlangsung di Bone, mulai SD Inpres 12/79 Rappa, Madrasah Tsanawiyah Bulu-Bulu, hingga MAN 2 Watampone.
Pada masa sekolah, pembentukan keagamaannya juga tumbuh melalui bimbingan Allahu yarham Anregurutta KH. Junaid Sulaiman, pendiri Pondok Pesantren Biru yang kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Modern Al Junaidiyah. Ketika menempuh pendidikan di MAN 2 Watampone, Usman tinggal di Asrama Masjid Raya pada 1995–1998.
Dari Bone, perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke Makassar. Ia memilih Universitas Muslim Indonesia sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi.
UMI dan Awal Pembentukan Kepemimpinan
Di UMI, Usman menempuh pendidikan pada Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam melalui program mahasiswa desa binaan. Namun ruang belajarnya tidak hanya berada di dalam kelas. Ia aktif dalam kehidupan organisasi mahasiswa dan dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Aktivitas organisasi tersebut tidak membuat pendidikan akademiknya tertinggal. Ia menyelesaikan studi dengan IPK 3,98, yang kemudian membawanya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister di Pascasarjana UMI. Perjalanan akademiknya terus berlanjut hingga jenjang doktoral di kampus yang sama.
Di sinilah UMI menjadi lebih dari sekadar tempat memperoleh gelar. Kampus menjadi ruang ketika ilmu, kepemimpinan, pengalaman organisasi, dan pengabdian mulai bertemu.
Aktivisme yang Berlanjut Setelah Wisuda
Bagi Usman, organisasi tidak berhenti ketika masa mahasiswa selesai. Setelah meninggalkan kampus, pengalaman tersebut justru terus berkembang.
Ia aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, dan keagamaan, antara lain PMII, BKPRMI, KNPI, dan Masika ICMI Sulawesi Selatan. Ia juga terlibat dalam Nahdlatul Ulama, Dewan Masjid Indonesia, serta Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Makassar.
Setiap ruang memberi pengalaman yang berbeda. Ada ruang untuk belajar mengelola organisasi. Ada ruang untuk memahami masyarakat. Ada ruang untuk bekerja bersama banyak kelompok. Dan ada ruang yang menuntut kemampuan menjaga kepercayaan.
Pengalaman tersebut perlahan membentuk satu kemampuan penting: mengubah jaringan sosial menjadi kerja yang bermanfaat.
Bertumbuh Bersama Nahdlatul Ulama
Salah satu perjalanan organisasi yang panjang dijalani Usman di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia memulai dari tingkat kecamatan sebagai Sekretaris Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Mamajang. Kemudian ia dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Mamajang. Perjalanan tersebut berlanjut hingga tingkat kota.
Pada periode 2019–2024, Usman menjadi Sekretaris Tanfidziyah PCNU Kota Makassar, mendampingi KH. Kaswad Sartono. Di periode tersebut, perhatian tidak hanya diarahkan pada kegiatan rutin organisasi. Konsolidasi dilakukan hingga tingkat ranting. Lembaga dan badan otonom diperkuat. Aset organisasi mulai dibangun dan dilegalisasi.
Salah satu kerja kelembagaan yang penting adalah pembangunan Kantor PCNU Kota Makassar di Jalan Darul Ma'arif Nomor 26 Makassar. Pada akhir masa khidmat kepengurusan, progres pembangunan disebut telah mencapai sekitar 70 persen.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa organisasi tidak cukup hanya memiliki struktur. Ia membutuhkan kemampuan membuat rencana, membangun konsolidasi, mengelola sumber daya, lalu memastikan hasilnya dapat digunakan untuk kepentingan bersama.
Belajar Menjaga Kerukunan
Ruang pengabdian Usman kemudian berkembang ke wilayah yang berbeda melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar. Di lembaga tersebut, ia dipercaya menjadi Sekretaris FKUB mendampingi Ketua FKUB Prof. H. Arifuddin Ahmad.
Tantangannya berbeda. Di dalam organisasi keagamaan, seseorang dapat bekerja bersama mereka yang memiliki latar keyakinan dan tradisi yang relatif sama. Di FKUB, pekerjaan menuntut kemampuan berdialog dengan kelompok yang berbeda.
Ada komunikasi yang harus dijaga. Ada kepercayaan yang harus dibangun. Ada perbedaan yang harus dikelola dengan hormat. Dan ada kepentingan bersama sebagai warga kota yang harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
Dalam perjalanan tersebut, FKUB Kota Makassar memperoleh Harmony Award 2025 dari Kementerian Agama RI sebagai FKUB Kota dengan Kinerja Terbaik II Nasional. Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kerja kerukunan membutuhkan proses panjang dan kolaborasi banyak pihak.
Dari Kerukunan Menuju Amanah Zakat
Pada 6 Juli 2026, Usman Sofian memasuki fase pengabdian baru. Ia dilantik oleh Wali Kota Makassar H. Munafri Arifuddin sebagai Ketua BAZNAS Kota Makassar periode 2026–2031. Tanggung jawab ini membawa pengalaman organisasi yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun ke ruang yang lebih spesifik: mengelola amanah zakat untuk kepentingan masyarakat.
Di BAZNAS, kepercayaan menjadi dasar. Dana yang dihimpun berasal dari masyarakat. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan integritas, tata kelola, ketepatan sasaran, serta kemampuan memastikan zakat benar-benar memberi manfaat bagi mustahik.
Pengalaman membangun jaringan, mengelola organisasi, berkomunikasi dengan banyak kelompok, dan bekerja di tengah masyarakat menjadi bekal penting dalam amanah tersebut.
Amanah yang Dibangun dari Proses Panjang
Posisi sebagai Ketua BAZNAS Kota Makassar tidak lahir dalam satu malam. Di belakangnya ada perjalanan panjang: mahasiswa yang aktif berorganisasi, Ketua BEM, aktivis kepemudaan, pengurus NU, penggerak kelembagaan, pengurus FKUB, profesional di dunia usaha, hingga akhirnya dipercaya mengelola lembaga zakat tingkat kota.
Usman juga pernah menjalani pengalaman profesional selama sekitar satu dekade sebagai Head Officer Area Sulselbar PT Amco Group Jakarta, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Pengalaman dunia profesional tersebut melengkapi kemampuan organisasional yang telah dibangunnya. Kemudian ia memilih mengarahkan pengabdian secara lebih penuh kepada masyarakat melalui BAZNAS Kota Makassar.
Dari Aktivis Menjadi Penggerak Masyarakat
Jika perjalanan Usman diringkas, ada perubahan peran yang cukup jelas: dari mahasiswa menjadi aktivis, dari aktivis menjadi organisator, dari organisator menjadi penggerak masyarakat, dari penggerak masyarakat menjadi bagian dari kepemimpinan keagamaan dan kerukunan. Lalu dari pengalaman tersebut, dipercaya memimpin BAZNAS Kota Makassar.
Ruangnya berubah. Namun ada satu hal yang konsisten: organisasi digunakan sebagai alat untuk memberi manfaat.
Baginya, organisasi bukan hanya tempat memperoleh posisi. Ia menjadi tempat belajar mendengar, belajar bekerja bersama, belajar mengelola perbedaan, belajar menjaga amanah, dan belajar memastikan sebuah gagasan benar-benar dapat dijalankan.
UMI sebagai Salah Satu Titik Awal
Dalam perjalanan tersebut, Universitas Muslim Indonesia memiliki posisi penting. Di UMI, Usman memperoleh pendidikan. Di UMI, ia belajar memimpin organisasi mahasiswa. Di UMI, prestasi akademik dan pengalaman aktivisme berjalan bersama. Dan di UMI pula perjalanan akademiknya berkembang hingga jenjang pascasarjana dan doktoral.
Dari kampus itulah sebagian fondasi kepemimpinan dan keilmuannya dibangun. Kemudian fondasi itu dibawa keluar — ke masyarakat, ke organisasi, ke ruang kerukunan, dan kini ke lembaga yang mengelola zakat untuk kepentingan umat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Dr. H. Usman Sofian menunjukkan bahwa dampak seorang alumni tidak selalu hadir melalui profesi yang terlihat besar. Ada dampak yang tumbuh melalui organisasi, melalui kemampuan menyatukan orang, melalui pembangunan kelembagaan, melalui kerukunan, dan melalui pengelolaan amanah sosial.
Ia datang dari Desa Rappa di Bone. Belajar di UMI. Tumbuh sebagai mahasiswa dan aktivis. Kemudian membawa pengalaman tersebut ke masyarakat. Masuk ke berbagai organisasi. Menguatkan kelembagaan. Membangun komunikasi lintas kelompok. Dan kini dipercaya memimpin BAZNAS Kota Makassar.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa aktivisme mahasiswa dapat menjadi awal dari sesuatu yang lebih panjang. Jika dipelihara dengan ilmu, disiplin, dan tanggung jawab, pengalaman organisasi dapat berkembang menjadi kepemimpinan sosial. Dan kepemimpinan sosial dapat menjadi jalan pelayanan kepada masyarakat.
Di situlah makna DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK menemukan bentuknya.
Dari UMI, belajar ilmu dan kepemimpinan. Dari organisasi, belajar memahami masyarakat. Dari kerukunan, belajar menjaga perbedaan. Dan melalui BAZNAS, pengalaman itu dibawa untuk menjaga amanah umat.
Sebab pada akhirnya, alumni bukan hanya mereka yang pernah belajar di sebuah kampus. Alumni adalah mereka yang membawa ilmu, pengalaman, dan nilai dari kampus untuk kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk manfaat. Dari Kampus, Menjadi Dampak.
(Bersambung)























































































































