Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc.: Dari Pertanian UMI, Kini Mengawal Pupuk dan Ketahanan Pangan Nasional
Alumni Universitas Muslim Indonesia ini menempuh perjalanan panjang dari ilmu budidaya pertanian, penelitian lapangan, kepemimpinan balai pertanian di berbagai daerah, hingga dipercaya memimpin Direktorat Pupuk Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh berapa luas sawah yang tersedia atau berapa banyak petani yang bekerja. Ada benih. Ada air. Ada teknologi. Ada sarana produksi. Dan ada pupuk yang harus tersedia, terdistribusi, serta digunakan secara tepat agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
Di salah satu ruang strategis yang mengurus persoalan tersebut, terdapat Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc. Alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini kini dipercaya sebagai Direktur Pupuk, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Namun perjalanan menuju posisi itu berlangsung panjang. Sebelum berada di ruang kebijakan nasional, Syamsuddin pernah menjadi mahasiswa pertanian UMI. Ia kemudian menjadi peneliti. Bekerja langsung dengan persoalan pertanian di berbagai daerah. Memimpin institusi penelitian dan penerapan teknologi pertanian. Hingga akhirnya mendapat amanah mengelola salah satu bagian penting dalam sistem produksi pangan nasional.
Berawal dari Budidaya Pertanian UMI
Syamsuddin menempuh pendidikan sarjana pada Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Muslim Indonesia dan menyelesaikannya pada 1993. Dari lingkungan pendidikan pertanian UMI, ia membangun fondasi keilmuan tentang tanaman, produksi, budidaya, serta berbagai faktor yang menentukan keberhasilan pertanian.
Ilmu tersebut kemudian terus diperdalam. Ia melanjutkan pendidikan Magister bidang Budidaya di Universitas Gadjah Mada dan menyelesaikannya pada 2008. Empat tahun kemudian, pada 2012, Syamsuddin menyelesaikan pendidikan doktoral bidang Budidaya Tanaman di universitas yang sama.
Ada konsistensi yang terlihat dari perjalanan akademiknya. Ia memulai dari pertanian. Memperdalam pertanian. Kemudian mengabdikan hampir seluruh perjalanan profesionalnya pada sektor yang sama.
Ketika Ilmu Diuji di Lapangan
Karier profesional Syamsuddin berkembang melalui dunia penelitian pertanian. Pada 2001, ia memulai jenjang fungsional sebagai Asisten Peneliti Muda di BPTP Irian Jaya. Di titik ini, pertanian tidak lagi hanya dipahami melalui buku atau ruang kuliah. Ia berhadapan langsung dengan kondisi daerah. Dengan karakter lahan yang berbeda. Dengan kebutuhan petani yang berbeda. Dengan teknologi yang tidak selalu dapat diterapkan dengan cara yang sama di setiap tempat. Dan dengan persoalan bagaimana hasil penelitian benar-benar dapat digunakan oleh masyarakat.
Perjalanannya kemudian berlanjut di BPTP Sulawesi Selatan hingga mencapai posisi Peneliti Madya pada 2022. Pada tahun yang sama, ia beralih menjadi Penyuluh Pertanian Ahli Madya. Dua ruang tersebut—penelitian dan penyuluhan—memiliki hubungan yang sangat dekat. Penelitian menghasilkan pengetahuan. Penyuluhan memastikan pengetahuan itu dapat dipahami dan digunakan petani.
Dari Peneliti Menjadi Pemimpin Institusi Pertanian
Pengalaman panjang di dunia penelitian kemudian membawanya pada tanggung jawab kepemimpinan. Syamsuddin dipercaya menjadi Kepala BPTP Nusa Tenggara Timur pada 2017–2019. Kemudian memimpin BPTP Kalimantan Tengah pada 2019–2022. Setelah itu, ia menjadi Kepala BPTP Sulawesi Selatan pada 2022–2023. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan persoalan pertanian yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Nusa Tenggara Timur memiliki tantangan sendiri. Kalimantan Tengah memiliki karakter lahan dan komoditas yang berbeda. Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah penting dalam produksi pangan nasional. Pengalaman bekerja di berbagai daerah memberinya pemahaman bahwa kebijakan pertanian tidak selalu dapat diterapkan secara seragam. Petani membutuhkan kebijakan nasional, tetapi kebijakan yang baik tetap harus memahami kondisi lapangan.
Dari Penelitian Menuju Modernisasi Pertanian
Perjalanan Syamsuddin kemudian berkembang ke ruang kelembagaan yang lebih luas. Pada 2023–2025, ia dipercaya menjadi Kepala Balai Besar Penerapan Standar Instrumen Pertanian. Kemudian pada Mei 2025, ia mendapat amanah sebagai Kepala Balai Besar Pengembangan dan Penerapan Modernisasi Pertanian. Ruang kerjanya pun berkembang. Bukan hanya bagaimana penelitian dilakukan. Tetapi bagaimana inovasi, standar, teknologi, dan modernisasi pertanian dapat diterapkan.
Sebab tantangan pertanian berubah. Petani berhadapan dengan perubahan iklim. Kebutuhan produksi meningkat. Tenaga kerja pertanian berubah. Teknologi berkembang. Dan tuntutan efisiensi semakin besar. Pada tahap ini, kemampuan seorang peneliti harus bertemu dengan kemampuan mengelola institusi dan program.
Ketika Pupuk Menjadi Urusan Strategis
Perjalanan tersebut kemudian membawa Syamsuddin ke salah satu sektor yang sangat dekat dengan kehidupan petani. Pupuk. Ia dipercaya memimpin Direktorat Pupuk pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. Tanggung jawab ini memiliki cakupan yang luas. Bukan hanya tentang berapa banyak pupuk tersedia. Ada persoalan distribusi. Ada ketepatan sasaran. Ada tata kelola. Ada pengawasan. Ada kebutuhan petani yang berbeda antarwilayah. Dan pada akhirnya, ada produktivitas pertanian yang ikut dipengaruhi.
Bagi petani, pupuk bukan sekadar barang dalam rantai distribusi. Ketersediaannya dapat menentukan keberhasilan satu musim tanam. Karena itu, kebijakan pupuk memiliki hubungan langsung dengan produksi pangan, pendapatan petani, dan ketahanan pangan nasional.
Dari Sawah ke Meja Kebijakan
Di sinilah perjalanan Syamsuddin menjadi menarik. Ia tidak memasuki ruang kebijakan pertanian hanya dari meja birokrasi. Ia datang dengan pengalaman penelitian. Pengalaman penyuluhan. Pengalaman bekerja di daerah. Pengalaman memimpin institusi pertanian. Dan pengalaman melihat secara langsung persoalan petani.
Semua itu menjadi penting ketika keputusan harus dibuat pada tingkat nasional. Sebab kebijakan yang baik membutuhkan data. Tetapi data juga membutuhkan pemahaman terhadap manusia dan kondisi lapangan. Berapa kebutuhan pupuk? Ke daerah mana harus dialokasikan? Bagaimana memastikan distribusinya? Apakah pupuk benar-benar diterima petani yang berhak? Apakah penggunaannya mendukung produktivitas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan angka. Ia membutuhkan pengalaman memahami sistem pertanian secara utuh.
Ketahanan Pangan Berawal dari Hal-Hal yang Sangat Praktis
Ketahanan pangan sering dibicarakan melalui angka besar. Produksi nasional. Kebutuhan beras. Impor. Ekspor. Swasembada. Namun bagi petani, persoalannya sering jauh lebih sederhana. Apakah benih tersedia? Apakah air cukup? Apakah pupuk datang tepat waktu? Apakah harga masih terjangkau? Dan apakah hasil panen memberikan pendapatan yang layak?
Di sinilah pekerjaan pada sektor pupuk menjadi sangat penting. Sebab kebijakan nasional pada akhirnya harus bekerja pada tingkat paling nyata: membantu petani dapat menanam dan menghasilkan.
Ketika Syamsuddin menekankan pentingnya ketersediaan pupuk untuk mendukung swasembada pangan, persoalannya bukan hanya tentang sebuah komoditas. Ia berbicara tentang salah satu mata rantai yang menentukan apakah produksi pertanian dapat berjalan dengan baik.
Dari Kampus Menuju Banyak Daerah
Jika perjalanan tersebut ditarik ke belakang, terdapat pola yang cukup jelas. UMI menjadi salah satu titik awal. Kemudian penelitian membawanya ke Irian Jaya. Kepemimpinan membawanya ke Nusa Tenggara Timur. Kemudian Kalimantan Tengah. Sulawesi Selatan. Hingga akhirnya masuk ke ruang kerja nasional di Kementerian Pertanian. Perjalanannya melintasi banyak daerah. Tetapi sektor yang dikerjakannya tetap sama: pertanian.
Di situlah terlihat bagaimana sebuah ilmu dapat terus berkembang mengikuti tanggung jawab seseorang. Apa yang dahulu dipelajari di kampus menjadi dasar penelitian. Penelitian menjadi pengalaman. Pengalaman menjadi kepemimpinan. Dan kepemimpinan kemudian dibawa ke dalam kebijakan.
Alumni UMI dan Persoalan Strategis Bangsa
Kisah Syamsuddin juga memperlihatkan sisi lain dampak alumni Universitas Muslim Indonesia. Tidak semua dampak lahir melalui profesi yang mudah terlihat masyarakat. Sebagian bekerja di dalam sistem. Menyusun program. Mengelola distribusi. Membuat standar. Mengawasi implementasi. Dan memastikan kebijakan dapat berjalan.
Pekerjaan seperti itu mungkin tidak selalu terlihat secara langsung. Namun dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat dalam skala luas. Ketika petani memperoleh sarana produksi. Ketika teknologi diterapkan. Ketika produktivitas meningkat. Dan ketika kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi. Di situlah kerja di balik sistem menemukan maknanya.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc. memulai perjalanan akademiknya dari ilmu budidaya pertanian di Universitas Muslim Indonesia. Lebih dari tiga dekade kemudian, ilmu tersebut telah membawanya melewati banyak ruang. Dari mahasiswa menjadi peneliti. Dari peneliti menjadi penyuluh. Dari lapangan menuju kepemimpinan balai pertanian. Dari daerah menuju tingkat nasional. Dan kini berada pada ruang strategis yang ikut mengawal ketersediaan dan tata kelola pupuk bagi sektor pertanian Indonesia.
Perjalanan tersebut bukan hanya tentang perubahan jabatan. Ada konsistensi bidang yang terus dijaga. Ada ilmu yang terus diperdalam. Ada pengalaman lapangan yang terus bertambah. Dan ada tanggung jawab yang semakin luas.
Di sinilah makna Dari Kampus, Menjadi Dampak menjadi nyata. Sebab ilmu pertanian tidak selesai ketika seseorang mendapatkan ijazah. Ilmu memperoleh makna ketika ia membantu menjawab persoalan petani. Ketika penelitian dapat digunakan. Ketika teknologi dapat diterapkan. Ketika kebijakan dapat bekerja. Dan ketika hasil akhirnya membantu menjaga pangan untuk masyarakat.
Dari UMI, Syamsuddin belajar pertanian. Dari penelitian, ia memahami lapangan. Dari berbagai daerah, ia memahami keragaman persoalan petani. Dan dari ruang kebijakan nasional, pengalaman itu kini digunakan untuk mengawal salah satu kebutuhan penting pertanian Indonesia.
Karena pada akhirnya, ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar. Ia juga ditentukan oleh apakah petani memperoleh apa yang mereka butuhkan untuk menanam, bekerja, dan menghasilkan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































