Antrean BBM dan Masa Depan Energi: Saatnya Pertanian Menjadi Sumber Energi Indonesia
Oleh: Dr. Ir. Abdul Haris, S.P., M.P., IPM
Dekan Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang Universitas Muslim Indonesia
Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Makassar dan beberapa wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir semestinya tidak hanya dilihat sebagai persoalan sesaat. Ketika masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), kita sesungguhnya sedang melihat sebuah pesan penting tentang betapa strategisnya energi bagi kehidupan masyarakat.
BBM bukan sekadar komoditas yang mengisi tangki kendaraan. Ia menggerakkan mobilitas, distribusi barang, aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, ketika terjadi gangguan dalam distribusi maupun pelayanan BBM, dampaknya segera dirasakan oleh masyarakat luas. Laporan mengenai antrean kendaraan yang mencapai ratusan meter bahkan lebih dari satu kilometer menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa diabaikan. Sebagian warga bahkan harus mengantre sejak subuh dan menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Namun, persoalan ini juga perlu ditempatkan secara proporsional. Ketika stok BBM dinyatakan aman dan mencukupi, antrean tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai tanda bahwa BBM telah habis. Persoalan distribusi, peningkatan permintaan, pola pembelian masyarakat, kapasitas pelayanan SPBU, hingga efektivitas operasional di lapangan merupakan bagian dari persoalan yang perlu dibenahi. Tetapi bagi saya, ada pelajaran yang jauh lebih besar dari antrean tersebut. Indonesia perlu mulai serius memikirkan kembali masa depan sumber energinya.
Ketergantungan yang Harus Mulai Dikurangi
Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan bakar fosil membuat sistem energi kita rentan terhadap berbagai perubahan. Gangguan pasokan dan distribusi, kenaikan harga minyak dunia, maupun dinamika geopolitik dapat dengan cepat memberikan tekanan terhadap kehidupan ekonomi dan sosial.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa produksi minyak bumi nasional pada Januari–Juli 2026 rata-rata masih sekitar 578 ribu barel per hari. Pada saat yang sama, kebutuhan bensin nasional berada pada kisaran 40 juta kiloliter per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut. Setelah adanya tambahan kapasitas dari Kilang Balikpapan pada 2026, Indonesia masih menghadapi kebutuhan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter.
Angka-angka tersebut memberikan satu pesan penting: persoalan energi Indonesia bukan sekadar bagaimana memastikan BBM tersedia hari ini. Persoalan yang lebih fundamental adalah bagaimana memastikan Indonesia memiliki sumber energi yang kuat, beragam, berkelanjutan, dan semakin berbasis pada sumber daya sendiri. Kita tidak boleh selamanya berada dalam posisi yang sangat bergantung pada energi fosil dan pasokan dari luar. Ketahanan energi harus dibangun dengan memperkuat sumber daya domestik dan mengembangkan berbagai sumber energi alternatif. Di sinilah saya melihat pertanian memiliki peran yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan.
Pertanian Bukan Hanya Soal Pangan
Selama ini ketika berbicara tentang pertanian, perhatian kita hampir selalu tertuju pada pangan: beras, jagung, gula, kelapa, sawit, singkong, dan berbagai komoditas lainnya. Pandangan tersebut tentu tidak keliru. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Tetapi pertanian sesungguhnya memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Pertanian dapat menjadi penyedia bahan baku industri, biomaterial, sekaligus sumber bioenergi.
Kelapa sawit dapat menjadi bahan baku biodiesel. Tebu dan komoditas lainnya memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol. Biomassa dan limbah pertanian dapat dimanfaatkan menjadi biogas, biopelet, briket, dan berbagai bentuk energi lainnya. Dengan demikian, kita perlu membangun paradigma baru bahwa pertanian bukan hanya berbicara tentang apa yang kita makan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap energi yang menggerakkan kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pertanian yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kekayaan tersebut menjadi nilai tambah melalui penelitian, inovasi, teknologi, dan hilirisasi.
Dari Komoditas Pertanian Menuju Kedaulatan Energi
Arah kebijakan energi nasional sebenarnya telah membuka ruang bagi pemanfaatan bahan bakar nabati. Pada 2026, pemerintah memperkuat penggunaan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan bahan bakar diesel. Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi. Pemerintah juga mulai memetakan pengembangan bioetanol E20. Dengan kebutuhan bensin nasional sekitar 40 juta kiloliter per tahun, implementasi E20 diperkirakan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol. Kebutuhan tersebut sekaligus menunjukkan besarnya peluang sektor pertanian untuk masuk lebih jauh ke dalam agenda pembangunan energi nasional.
Namun, pengembangan bioenergi harus dilakukan secara hati-hati. Kita tidak boleh menciptakan persoalan baru dengan mempertentangkan kebutuhan pangan dan energi. Pengembangan bahan baku bioenergi harus mempertimbangkan produktivitas, efisiensi, kesesuaian lahan, keberlanjutan lingkungan, dan kepentingan petani. Karena itu, kita membutuhkan penelitian yang serius untuk menemukan bahan baku bioenergi yang produktif, efisien, adaptif terhadap lahan marginal, memiliki nilai ekonomi, dan tidak mengganggu ketahanan pangan. Pada titik inilah perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis.
Kampus Harus Membawa Riset Sampai ke Masyarakat
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian yang berhenti di laboratorium atau publikasi ilmiah. Penelitian harus menemukan jalan menuju masyarakat. Dalam konteks energi, riset pertanian harus diarahkan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pemilihan bahan baku, peningkatan produktivitas, teknologi pengolahan, efisiensi energi, hingga model pemanfaatan dan hilirisasi. Kita membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, petani, dan lembaga penelitian.
Sulawesi Selatan memiliki peluang besar mengambil bagian dalam agenda ini. Daerah ini memiliki basis pertanian yang kuat dan beragam sumber biomassa. Bioetanol, biodiesel, biogas, biopelet, briket biomassa, dan berbagai bentuk bioenergi lainnya dapat menjadi ruang riset sekaligus ruang hilirisasi yang melibatkan kampus dan masyarakat. Jika ekosistem tersebut dibangun dengan baik, manfaatnya tidak hanya berhenti pada persoalan energi.
Pemanfaatan komoditas dan limbah pertanian sebagai sumber bioenergi dapat menciptakan nilai tambah bagi petani, membuka lapangan kerja di pedesaan, memperkuat industri pengolahan, mengembangkan ekonomi sirkular, sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan emisi. Inilah yang saya maksud dengan hilirisasi pertanian sebagai bagian dari strategi ketahanan energi.
Antrean Hari Ini, Pelajaran untuk Masa Depan
Antrean BBM di Makassar pada akhirnya mungkin akan berakhir ketika distribusi dan pelayanan kembali normal. Dalam jangka pendek, pemerintah dan Pertamina memang harus memastikan persoalan tersebut segera diselesaikan. Stok di setiap SPBU harus terjaga, distribusi harus efektif, jumlah operator dan nozzle yang berfungsi harus optimal, serta mekanisme pelayanan harus mampu mencegah masyarakat mengalami antrean berkepanjangan.
Tetapi setelah antrean berakhir, jangan sampai persoalannya juga kita anggap selesai. Justru dari peristiwa inilah kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: Sampai kapan Indonesia akan bergantung pada energi fosil? Dan pertanyaan berikutnya: Apa yang dapat kita siapkan mulai sekarang untuk mengurangi ketergantungan tersebut?
Menurut saya, salah satu jawabannya ada di sektor yang selama ini lebih banyak kita bicarakan sebagai sektor pangan: pertanian. Kita memiliki lahan, komoditas, biomassa, limbah pertanian, sumber daya manusia, dan perguruan tinggi yang dapat menjadi bagian dari ekosistem energi masa depan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah cara pandang. Sawah, kebun, dan lahan pertanian tidak hanya harus dilihat sebagai sumber pangan. Dengan pendekatan teknologi dan keberlanjutan yang tepat, pertanian dapat menjadi bagian dari sumber energi masa depan.
Karena itu, pengembangan bahan bakar nabati harus diperkuat sejak sekarang. Bukan hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui riset, inovasi, budidaya, teknologi, investasi, dan hilirisasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Antrean BBM hari ini jangan hanya membuat kita bertanya kapan BBM kembali lancar. Antrean tersebut harus menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak cukup diukur dari seberapa banyak BBM tersedia hari ini. Ketahanan energi adalah kemampuan sebuah bangsa memastikan bahwa generasi berikutnya tetap memiliki energi yang cukup, terjangkau, berkelanjutan, dan bersumber dari kekuatan sendiri. Dan dalam perjalanan menuju ke sana, pertanian Indonesia tidak hanya dapat menjadi lumbung pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari lumbung energi bangsa.























































































































