Dari Kampus, Menjadi Dampak - Amirudin Tamoreka: Dari Pertanian UMI, Kembali Belajar Keinsinyuran sebelum Memimpin Banggai
Alumni Fakultas Pertanian UMI ini pernah menjadi asisten dosen di almamaternya, membangun pengalaman di sektor pertanian, perkebunan, energi dan dunia usaha, lalu kembali menempuh Program Profesi Insinyur di FTI UMI sebelum dipercaya memimpin Kabupaten Banggai periode 2025–2030.
MAKASSAR, umi.ac.id — Jauh sebelum menjadi Bupati Banggai, Ir. H. Amirudin, S.P., M.M., M.P., AIFO. pernah menjalani kehidupan yang sangat dekat dengan dunia akademik Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ia mahasiswa Fakultas Pertanian, aktif berorganisasi, dan bahkan pernah menjadi asisten dosen di kampus tempatnya belajar.
Perjalanan setelah itu membawanya jauh — dari pertanian ke perkebunan, dari dunia profesional ke sektor energi, dari dunia usaha menuju pemerintahan. Namun ada satu bagian penting yang membuat perjalanan Amirudin menarik: sebelum kembali terpilih memimpin Kabupaten Banggai, ia memilih kembali ke UMI untuk melanjutkan pendidikan pada Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri.
Artinya, puluhan tahun setelah meninggalkan ruang kuliah sebagai mahasiswa pertanian, proses belajarnya belum berhenti. Kini Amirudin mengemban amanah sebagai Bupati Banggai periode 2025–2030, bersama Wakil Bupati Furqanuddin Masulili. Tetapi perjalanan itu tidak dimulai dari kantor bupati. Ia dimulai dari kampus.
Lima Tahun yang Membentuk Fondasi di UMI
Amirudin menempuh pendidikan di Universitas Muslim Indonesia pada 1991–1995 melalui Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian. Masa mahasiswa bukan hanya diisi dengan kegiatan akademik. Ia aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Agronomi, anggota Senat Fakultas Pertanian UMI, serta Ketua HMI Batko Pertanian.
Namun ada sisi lain dari perjalanan tersebut yang cukup menarik. Pada 1993–1995, ketika masih berada dalam lingkungan akademik UMI, Amirudin juga dipercaya menjadi asisten dosen Fakultas Pertanian UMI. Ia berada di dua sisi proses pendidikan. Sebagai mahasiswa, ia menerima ilmu. Sebagai asisten dosen, ia mulai membantu proses pembelajaran.
Pengalaman itu menjadi salah satu fase awal perjalanan yang kemudian berkembang jauh melampaui ruang kampus.
Ketika Ilmu Pertanian Bertemu Dunia Nyata
Setelah menyelesaikan pendidikan di UMI pada 1995, Amirudin langsung memasuki dunia profesional yang masih dekat dengan ilmu yang dipelajarinya. Ia menjadi Kepala Bagian Pembibitan PT Kurnia Luwuk Sejati pada 1995–1997. Perjalanan berikutnya membawanya menjadi manajer perkebunan kelapa sawit pada 1997–2000, kemudian konsultan kelapa sawit.
Pada fase tersebut, pertanian tidak lagi hadir sebagai teori. Ia bertemu langsung dengan pembibitan, lahan, produksi, tenaga kerja, manajemen, produktivitas, dan keputusan-keputusan yang menentukan keberhasilan sebuah usaha. Di sinilah ilmu yang diperoleh di kampus mulai diuji oleh kehidupan nyata.
Dari Pertanian ke Energi dan Dunia Usaha
Perjalanan profesional Amirudin kemudian berkembang jauh melampaui sektor pertanian. Ia terlibat dalam berbagai pekerjaan dan proyek seismik Pertamina di sejumlah wilayah Indonesia. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan industri energi, proyek berskala besar, manajemen sumber daya manusia, komunikasi dengan masyarakat, serta dinamika investasi.
Ia kemudian dipercaya memegang berbagai posisi manajerial dan kepemimpinan perusahaan, termasuk Direktur Utama PT Petro Jasa Energi serta komisaris pada sejumlah perusahaan. Ruang pekerjaannya berubah. Tetapi ada kemampuan yang terus berkembang: mengelola manusia, mengelola sumber daya, membaca persoalan, mengambil keputusan, dan bekerja dengan banyak kepentingan.
Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal ketika ruang pengabdiannya berpindah ke pemerintahan.
Kembali ke UMI untuk Belajar Keinsinyuran
Salah satu bagian yang penting dalam perjalanan Amirudin justru terjadi ketika karier profesionalnya telah berkembang. Ia kembali menjadi mahasiswa. Sebelum terpilih kembali sebagai Bupati Banggai, Amirudin melanjutkan studi pada Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia.
Keputusan itu memberikan pesan sederhana namun penting. Pengalaman panjang tidak membuat seseorang selesai belajar. Dunia profesional terus berubah. Teknologi berkembang. Standar profesi meningkat. Persoalan pembangunan semakin kompleks. Dan tanggung jawab kepemimpinan membutuhkan kemampuan untuk terus memperbarui pengetahuan.
Program Profesi Insinyur UMI sendiri merupakan pendidikan profesi di bawah Fakultas Teknologi Industri yang mempersiapkan sarjana dan praktisi untuk memperkuat kompetensi serta profesionalisme keinsinyuran.
Bagi Amirudin, kembalinya ke UMI mempertemukan pengalaman panjang di pertanian, perkebunan, energi, dan dunia usaha dengan pendidikan profesi keinsinyuran. Dulu ia datang ke UMI untuk membangun fondasi ilmu pertanian. Puluhan tahun kemudian, ia kembali untuk memperkuat kompetensi profesinya.
Dari Profesional Menuju Pemerintahan
Pengalaman panjang tersebut kemudian bertemu dengan ruang pengabdian yang sama sekali berbeda: pemerintahan. Amirudin dipercaya masyarakat untuk memimpin Kabupaten Banggai. Pada Pilkada 2024, ia kembali memperoleh kepercayaan masyarakat dan kemudian dilantik bersama Furqanuddin Masulili sebagai Bupati dan Wakil Bupati Banggai periode 2025–2030 pada 2 Juni 2025.
Di pemerintahan, ukuran pekerjaan berubah. Tidak lagi hanya tentang keberhasilan satu perusahaan, satu proyek, atau satu sektor. Ada pendidikan, kesehatan, pertanian, perikanan, energi, investasi, infrastruktur, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Semua harus dilihat sebagai satu kesatuan pembangunan daerah.
Pengalaman Membentuk Cara Melihat Pembangunan
Latar belakang pertanian memberikan satu pelajaran mendasar: tidak ada hasil tanpa proses. Tanaman membutuhkan persiapan, perawatan, waktu, dan kondisi yang mendukung.
Pengalaman dunia usaha menambahkan pelajaran yang lain: sumber daya harus dikelola, keputusan harus dibuat, risiko harus diperhitungkan, dan hasil harus dapat diukur. Sementara pendidikan profesi keinsinyuran memperkuat perspektif mengenai profesionalisme, tanggung jawab, dan pengelolaan pekerjaan berbasis kompetensi.
Semua pengalaman tersebut kini bertemu dalam ruang kepemimpinan daerah. Karena membangun Banggai tidak cukup hanya dengan satu keahlian. Seorang kepala daerah harus mampu memahami potensi, mempertemukan berbagai kepentingan, menjaga sumber daya, serta memastikan pembangunan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Banggai sebagai Ruang Pengabdian
Kabupaten Banggai memiliki potensi yang besar dan beragam — pertanian, perkebunan, perikanan, energi, industri, investasi, dan sumber daya manusia. Karena itu, pembangunan membutuhkan kemampuan menghubungkan potensi ekonomi dengan kebutuhan masyarakat. Pertumbuhan harus menciptakan kesempatan. Investasi harus memberi manfaat. Sumber daya alam harus dikelola secara bertanggung jawab. Dan pembangunan harus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Di sinilah perjalanan Amirudin dari pertanian, dunia usaha, energi, hingga pemerintahan menemukan konteksnya. Apa yang dahulu dipelajari dan dialami di berbagai tempat kini digunakan dalam satu ruang pengabdian: Kabupaten Banggai.
Ketika Almamater Kembali Memberikan Pengakuan
Hubungan Amirudin dengan UMI terus berjalan setelah dirinya menjadi kepala daerah. Pada Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia tahun 2026, ia menerima Pin Emas Alumni Berprestasi UMI.
Penghargaan tersebut menghadirkan satu perjalanan yang menarik. Dulu ia datang sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian. Pernah menjadi asisten dosen. Kemudian membangun karier di luar kampus. Kembali lagi sebagai mahasiswa Program Profesi Insinyur. Lalu kembali ke almamater sebagai seorang kepala daerah yang menerima penghargaan alumni.
Amirudin menyampaikan bahwa Pin Emas tersebut bukan hanya untuk dirinya. Ia mendedikasikannya kepada UMI dan masyarakat Banggai. Di situlah penghargaan memperoleh makna yang lebih luas. Almamater memberi pengakuan kepada alumninya, sementara alumni mengembalikan penghargaan itu sebagai tanggung jawab kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Dua Bersaudara, Satu Almamater, Dua Ruang Pengabdian
Ada bagian lain yang menarik dalam perjalanan keluarga Tamoreka. Amirudin bukan satu-satunya dari keluarga tersebut yang pernah belajar di UMI. Adiknya, Ir. H. Beniyanto Tamoreka, S.T., juga merupakan alumni Universitas Muslim Indonesia.
Beniyanto telah hadir dalam seri Dari Kampus, Menjadi Dampak sebagai alumni Teknik Kimia UMI yang kini mengemban amanah sebagai anggota DPR RI dari Sulawesi Tengah dan bertugas di Komisi XII.
Dua bersaudara. Satu almamater. Namun ruang pengabdian berbeda. Amirudin berada dalam pemerintahan daerah sebagai Bupati Banggai. Beniyanto berada di parlemen nasional. Hubungan keluarga tersebut bukan ukuran utama keberhasilan keduanya. Yang lebih menarik adalah bagaimana pendidikan dari almamater yang sama kemudian berkembang melalui dua jalur tanggung jawab yang berbeda.
Dari Mahasiswa hingga Kepala Daerah
Jika perjalanan Amirudin ditarik menjadi satu garis, prosesnya cukup panjang: mahasiswa Fakultas Pertanian UMI, aktivis mahasiswa, asisten dosen, profesional perkebunan, konsultan, praktisi sektor energi, pengusaha, mahasiswa Program Profesi Insinyur UMI, kemudian Bupati Banggai.
Setiap fase memberikan pengalaman yang berbeda. Namun perjalanan tersebut tidak perlu dibaca hanya sebagai daftar jabatan. Yang lebih penting adalah apa yang dikumpulkan dari setiap fase: ilmu dari kampus, pengalaman dari lapangan, kemampuan dari dunia profesional, perspektif dari dunia usaha, kompetensi yang terus diperbarui melalui pendidikan profesi, dan kepercayaan yang diberikan masyarakat. Semua itu kini bertemu dalam satu tanggung jawab kepemimpinan.
Pendidikan Tidak Berakhir Ketika Jabatan Datang
Ada pesan menarik dari keputusan Amirudin kembali menempuh Program Profesi Insinyur UMI sebelum terpilih kembali sebagai bupati: bahwa belajar tidak harus berhenti ketika seseorang sudah berhasil. Justru semakin besar tanggung jawab, semakin besar kebutuhan untuk memperbarui kemampuan.
Seorang kepala daerah berhadapan dengan persoalan yang semakin kompleks — infrastruktur, industri, pertanian, energi, lingkungan, investasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pengalaman tidak harus dipertentangkan dengan pendidikan. Keduanya saling memperkuat. Pengalaman mengajarkan apa yang terjadi di lapangan. Pendidikan membantu seseorang membaca pengalaman itu dengan pengetahuan yang terus diperbarui.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. H. Amirudin, S.P., M.M., M.P., AIFO. memulai salah satu bagian penting perjalanan hidupnya dari Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia. Dari sana, perjalanan terus berkembang. Ia menerima ilmu. Pernah membantu membagikan ilmu sebagai asisten dosen. Membawa ilmu itu ke perkebunan dan dunia profesional. Memasuki sektor energi dan usaha. Kembali ke UMI untuk memperkuat kompetensi melalui Program Profesi Insinyur. Kemudian dipercaya masyarakat untuk kembali memimpin Kabupaten Banggai.
Pada titik ini, makna alumni menjadi lebih luas. Alumni bukan hanya seseorang yang pernah memperoleh ijazah dari sebuah universitas. Alumni adalah seseorang yang membawa proses pendidikan itu masuk ke dalam kehidupan nyata — ke pekerjaan, ke masyarakat, ke organisasi, ke perusahaan, ke pemerintahan, dan pada akhirnya ke ruang tempat keputusan dibuat untuk kepentingan banyak orang.
Dari Pertanian UMI, ia belajar memahami proses. Dari dunia profesional, ia memahami sumber daya dan tanggung jawab. Dari Program Profesi Insinyur UMI, ia kembali memperkuat kompetensi. Dan dari kepemimpinan daerah, seluruh pengalaman itu kini diuji melalui manfaat yang dirasakan masyarakat Banggai.
Sebab pada akhirnya, ukuran terpenting seorang pemimpin bukan seberapa panjang perjalanan yang telah ditempuh. Ukuran yang lebih penting adalah apakah seluruh ilmu dan pengalaman itu benar-benar membuat kehidupan masyarakat yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































