Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muhsin Palinrungi: Dari Sastra Inggris UMI, Ikut Membangun Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif IKN
Berawal dari Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia, Dr. Muhsin Palinrungi, S.S., M.A. menempuh perjalanan melalui pemberdayaan masyarakat, perencanaan pembangunan dan birokrasi daerah hingga dipercaya mengambil bagian dalam pengembangan kebudayaan, pariwisata dan ekonomi kreatif di Ibu Kota Nusantara.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ketika sebuah ibu kota baru dibangun, yang diperlukan bukan hanya jalan, gedung, kawasan pemerintahan dan infrastruktur. Sebuah kota membutuhkan manusia, membutuhkan kebudayaan, membutuhkan ruang interaksi, membutuhkan kreativitas, membutuhkan kegiatan ekonomi. Dan membutuhkan identitas yang membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari kota tersebut.
Di salah satu ruang itulah Dr. Muhsin Palinrungi, S.S., M.A., alumni Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia (UMI), kini mengabdikan pengalaman panjangnya. Sejak September 2023, Muhsin dipercaya sebagai Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif pada Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN).
Namun perjalanannya menuju IKN tidak dimulai dari ilmu tata kota atau pembangunan infrastruktur. Ia berangkat dari bidang yang mungkin bagi sebagian orang terlihat jauh dari pembangunan ibu kota: Sastra Inggris.
Justru di situlah perjalanan ini menjadi menarik. Karena pendidikan tidak selalu menentukan satu pekerjaan untuk selamanya. Pendidikan dapat menjadi fondasi untuk memahami manusia, berkomunikasi, terus belajar, kemudian berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Berawal dari Sastra Inggris UMI
Muhsin menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia pada 1997. Ketika menjadi mahasiswa, proses belajarnya tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Ia aktif dalam organisasi dan pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI periode 1995–1997. Pada masa yang berdekatan, ia juga aktif sebagai Ketua Remaja Masjid Nurul Arafah.
Ruang organisasi memberikan pengalaman yang tidak seluruhnya tersedia dalam buku: belajar berbicara, belajar mendengar, belajar bekerja dengan orang lain, belajar menyelesaikan persoalan, dan belajar menerima tanggung jawab. Pengalaman-pengalaman sederhana seperti itulah yang kemudian menjadi bagian dari fondasi ketika ruang pengabdiannya semakin luas.
Ilmu yang Tidak Berhenti pada Satu Bidang
Setelah menyelesaikan pendidikan di UMI, Muhsin tidak berhenti belajar. Ia melanjutkan pendidikan Community Development di La Trobe University, Australia, dan kemudian menyelesaikan pendidikan doktoral bidang Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar.
Perjalanan akademiknya kemudian membentuk kombinasi yang menarik: Sastra Inggris → Community Development → Administrasi Publik. Sastra memberikan dasar komunikasi dan pemahaman terhadap bahasa serta manusia. Community development memperluas perspektif tentang masyarakat dan pemberdayaan. Administrasi publik memperkuat pemahaman mengenai pemerintahan, kebijakan, organisasi dan pelayanan publik. Ketiganya kemudian bertemu dalam perjalanan profesionalnya.
Di sinilah pendidikan menunjukkan sifatnya yang dinamis. Jurusan adalah titik keberangkatan. Bukan batas akhir perjalanan.
Bertumbuh dari Pemerintahan Daerah
Karier Muhsin berkembang melalui Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Ia menjalani berbagai penugasan yang mempertemukannya dengan banyak persoalan pembangunan, mulai bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial di Bappeda, lingkungan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran, hingga kembali pada perencanaan pembangunan daerah.
Pengalaman tersebut memberinya perspektif yang semakin luas — bahwa persoalan masyarakat saling berhubungan. Pendidikan berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Kesejahteraan berkaitan dengan ekonomi. Ekonomi berkaitan dengan pembangunan. Pembangunan membutuhkan perencanaan. Dan perencanaan membutuhkan data serta kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.
Kariernya kemudian berkembang hingga dipercaya menjadi Sekretaris Bappeda Kabupaten Paser pada 2016–2017, dilanjutkan sebagai Kepala Bagian Bina Kesejahteraan Rakyat pada 2017–2018. Pada 2018, Muhsin dipercaya memimpin Bappeda Kabupaten Paser, yang kemudian berkembang menjadi Bappedalitbang. Di ruang inilah ia semakin dekat dengan proses bagaimana sebuah daerah menentukan masa depannya.
Ketika Gagasan Harus Menjadi Program
Bekerja dalam perencanaan pembangunan memberikan satu pelajaran penting: gagasan yang baik belum tentu menjadi kebijakan yang baik. Ia membutuhkan data, prioritas, anggaran, koordinasi. Dan membutuhkan kemampuan menerjemahkan kebutuhan masyarakat menjadi program yang dapat dilaksanakan.
Ketika memimpin lembaga perencanaan pembangunan daerah, Muhsin berhadapan langsung dengan proses tersebut. Ada banyak kebutuhan masyarakat, sementara sumber daya selalu terbatas. Karena itu, pembangunan membutuhkan kemampuan menentukan apa yang harus didahulukan, bagaimana program dijalankan, dan bagaimana manfaatnya diukur.
Pengalaman ini kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan berikutnya.
Dari Perencanaan ke Pemuda dan Pariwisata
Pada 2021, Muhsin dipercaya menjadi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Paser. Ruang kerjanya kembali berubah — dari perencanaan pembangunan secara luas menuju sektor yang bersentuhan langsung dengan manusia, destinasi, potensi daerah dan kreativitas.
Di sana, pariwisata tidak hanya dibaca sebagai tempat orang datang berkunjung. Pariwisata berkaitan dengan masyarakat lokal, UMKM, pemuda, budaya, lingkungan, olahraga, promosi, dan kesempatan ekonomi. Pengalaman tersebut kelak memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tanggung jawab berikutnya di Ibu Kota Nusantara.
Ketika Perjalanan Membawanya ke IKN
Pada 4 September 2023, Muhsin Palinrungi dilantik menjadi Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita Ibu Kota Nusantara. Skala tanggung jawabnya berubah. Ia tidak lagi bekerja hanya dalam konteks satu kabupaten. Ia menjadi bagian dari pembangunan sebuah ibu kota baru Indonesia.
Tugasnya juga bukan sekadar mempromosikan pariwisata. Ada kebudayaan yang harus dijaga, potensi lokal yang harus dikembangkan, produk pariwisata yang harus dibangun, ekonomi kreatif yang perlu tumbuh, ekowisata, masyarakat lokal. Dan ada kebutuhan untuk memastikan bahwa pembangunan IKN tidak hanya menghasilkan ruang fisik, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi.
Di titik ini, perjalanan panjang Muhsin mulai terlihat sebagai sebuah rangkaian yang saling berhubungan. Sastra Inggris memberinya dasar komunikasi. Community development mempertemukannya dengan masyarakat. Administrasi publik memperkuat pemahaman tata kelola. Bappeda mengajarkannya perencanaan. Dinas Pariwisata mempertemukannya dengan potensi daerah. Dan IKN menjadi ruang tempat pengalaman tersebut digunakan dalam skala yang lebih besar.
Membangun Kota Bukan Hanya Membangun Bangunan
Pembangunan sebuah kota sering kali paling mudah dilihat dari fisiknya — jalan baru, gedung baru, kawasan baru. Namun masyarakat tidak hidup hanya di antara bangunan. Mereka membutuhkan ruang untuk berkegiatan, ruang untuk bekerja, ruang untuk berekspresi, ruang untuk mempertahankan kebudayaan, dan ruang untuk membangun kehidupan ekonomi.
Karena itu, kebudayaan, pariwisata dan ekonomi kreatif bukan pelengkap pembangunan kota. Ketiganya ikut menentukan bagaimana sebuah kota hidup.
Dalam struktur OIKN, Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif antara lain menjalankan fungsi pengembangan produk pariwisata dan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, pengembangan ekowisata dan wisata kebugaran, serta peningkatan nilai tambah potensi lokal.
Artinya, pembangunan IKN tidak hanya bertanya: "Apa yang akan dibangun?" Tetapi juga: "Kehidupan seperti apa yang akan tumbuh di dalamnya?"
Ketika Potensi Lokal Tidak Boleh Tertinggal
Salah satu tantangan pembangunan kawasan baru adalah memastikan masyarakat dan potensi lokal tidak menjadi penonton. Di sinilah pendekatan kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif menjadi penting.
Masyarakat perlu mendapatkan ruang. Pemuda perlu memperoleh kesempatan. Budaya lokal perlu tetap hidup. Potensi wisata perlu dikelola secara bertanggung jawab. Dan kegiatan ekonomi baru harus membuka manfaat bagi masyarakat di kawasan Nusantara dan sekitarnya.
Salah satu contoh kerja tersebut terlihat melalui pelatihan pemandu ekowisata bagi pemuda di kawasan Nusantara. Program seperti ini memperlihatkan sisi pembangunan yang sangat konkret. Modernisasi wilayah tidak hanya membutuhkan infrastruktur. Ia juga membutuhkan manusia yang dipersiapkan untuk mengambil bagian di dalamnya.
Dari Bahasa Menuju Kemampuan Memahami Manusia
Di sinilah latar belakang Sastra Inggris Muhsin menjadi menarik untuk dibaca kembali. Ia memang tidak kemudian berkarier sebagai sastrawan atau pengajar bahasa Inggris. Tetapi pendidikan bahasa dan sastra tidak hanya membicarakan kata. Ia juga melatih komunikasi, membuka perspektif terhadap budaya, mengenalkan cara manusia menyampaikan gagasan, dan mempertemukan seseorang dengan dunia yang lebih luas.
Kemampuan tersebut kemudian berkembang melalui pendidikan community development dan administrasi publik. Karena pembangunan pada akhirnya tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menghitung. Pembangunan juga membutuhkan orang yang mampu mendengar, memahami, berkomunikasi, dan menghubungkan banyak kepentingan.
Pengalaman Lokal untuk Tantangan Nasional
Sebelum masuk ke IKN, Muhsin telah menjalani perjalanan panjang dalam pemerintahan daerah. Hal itu menjadi penting. Sebab pembangunan nasional pada akhirnya bertemu dengan realitas lokal. Kebijakan bertemu masyarakat. Perencanaan bertemu kebutuhan. Investasi bertemu ruang hidup. Pariwisata bertemu budaya. Dan modernisasi bertemu identitas yang sudah ada sebelumnya.
Pengalaman bertahun-tahun di Kabupaten Paser memberikan perspektif yang tidak seluruhnya dapat diperoleh dari meja kerja. Ia pernah bekerja dalam perencanaan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, pemuda, olahraga, pariwisata. Kemudian membawa seluruh pengalaman tersebut ke IKN.
Dengan demikian, perjalanan dari daerah ke Ibu Kota Nusantara bukan berarti meninggalkan pengalaman lokal. Justru pengalaman lokal menjadi bekal untuk mengerjakan tanggung jawab nasional.
Belajar dari Dunia
Pengembangan kapasitas Muhsin juga berlangsung melalui berbagai pengalaman internasional. Ia pernah memperoleh pengalaman pendidikan dan penugasan di Australia serta mengikuti program pengembangan sumber daya manusia di Jepang. Perjalanan tersebut memperluas perspektifnya tentang masyarakat, lingkungan, pembangunan, dan tata kelola.
Pengalaman internasional menjadi penting bukan untuk sekadar melihat bagaimana negara lain bekerja. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan memilih pengetahuan yang relevan, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia. Sebab pembangunan yang baik tidak dibangun dengan menyalin. Ia dibangun dengan belajar, memahami konteks, lalu menyesuaikan.
Kembali Menghubungkan Alumni dengan Almamater
Hubungan Muhsin dengan Universitas Muslim Indonesia juga tidak berhenti setelah kelulusannya. Ia pernah dipercaya memimpin jaringan alumni UMI di Kabupaten Paser. Kemudian pada 2026, ia kembali mendapat amanah yang lebih dekat dengan fakultas tempat perjalanan akademiknya bermula.
Muhsin terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan UMI periode 2026–2031.
Ada lingkaran perjalanan yang kembali bertemu. Dulu ia datang sebagai mahasiswa Sastra Inggris. Kemudian meninggalkan kampus untuk mengembangkan pengalaman. Kini, setelah perjalanan profesional membawanya hingga Ibu Kota Nusantara, ia kembali dipercaya memimpin jejaring alumni fakultasnya.
Hubungan tersebut menjadi penting jika alumni tidak hanya berkumpul untuk mengenang masa kuliah. Alumni memiliki pengetahuan, jaringan, pengalaman, dan akses pada berbagai ruang pengabdian. Jika semuanya kembali terhubung dengan kampus, alumni dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membuka kesempatan baru bagi mahasiswa dan almamater.
Pesan untuk Mahasiswa: Jurusan Bukan Batas Masa Depan
Ada satu pelajaran yang sangat kuat dari perjalanan Muhsin Palinrungi. Ia kuliah Sastra Inggris. Kemudian mendalami community development. Memperkuat diri melalui administrasi publik. Bekerja dalam birokrasi. Memimpin perencanaan pembangunan. Mengelola pemuda dan pariwisata. Dan akhirnya dipercaya mengelola kebudayaan, pariwisata, serta ekonomi kreatif di Ibu Kota Nusantara.
Jika hanya melihat pekerjaan akhirnya, seseorang mungkin bertanya: Apa hubungan Sastra Inggris dengan pembangunan IKN?
Jawabannya ada pada perjalanan. Pendidikan memberikan fondasi. Organisasi membentuk kemampuan bekerja bersama. Pendidikan lanjutan memperluas perspektif. Pengalaman mempertemukan ilmu dengan kenyataan. Dan kemauan belajar membuat seseorang mampu memasuki tanggung jawab yang semakin kompleks.
Karena itu, mahasiswa tidak perlu selalu takut ketika masa depannya ternyata tidak persis sama dengan nama program studinya. Yang jauh lebih penting adalah kompetensi apa yang dibangun, kemampuan apa yang terus dikembangkan, dan persoalan apa yang kelak mampu diselesaikan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Muhsin Palinrungi, S.S., M.A. memulai perjalanan dari Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia. Dari sana, jalannya berkembang jauh — dari organisasi mahasiswa menuju pengabdian publik, dari bahasa menuju pemberdayaan masyarakat, dari pemberdayaan masyarakat menuju administrasi publik, dari birokrasi daerah menuju perencanaan pembangunan, dari pariwisata daerah menuju Ibu Kota Nusantara. Dan dari seorang alumni kembali menjadi pemimpin jejaring alumni fakultasnya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus membawa seseorang berjalan dalam satu garis lurus. Kadang ilmu berkembang ketika bertemu pengalaman yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Dan justru di sanalah pendidikan menemukan kekuatannya. Sastra Inggris menjadi titik awal. Pengalaman memperluas jalan. Pendidikan lanjutan memperkuat kemampuan. Dan pengabdian menentukan untuk apa seluruh pengetahuan itu digunakan.
Hari ini, ketika Indonesia membangun Ibu Kota Nusantara, alumni UMI tersebut berada di salah satu ruang yang ikut memikirkan bagaimana kebudayaan dijaga, pariwisata dikembangkan, ekonomi kreatif tumbuh, dan potensi masyarakat lokal memperoleh tempat.
Karena sebuah ibu kota tidak cukup hanya selesai dibangun. Ia harus menjadi kota yang hidup, memiliki identitas, memberi ruang kepada masyarakat, dan menciptakan kesempatan. Di situlah perjalanan dari Sastra Inggris UMI menemukan ruang dampaknya. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































