Dari Kampus, Menjadi Dampak - Badruddin Kaddas: Alumni Ushuluddin dan Pascasarjana UMI, Aktivis Keumatan yang Kini Menjabat Wakil Rektor II Universitas Islam Makassar
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada perjalanan pendidikan yang tidak selesai ketika gelar diperoleh. Ilmu dapat tumbuh menjadi pengabdian, pengalaman organisasi dapat membentuk kepemimpinan, dan kampus dapat menjadi titik awal seseorang mengambil tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.
Perjalanan itu tergambar pada Badruddin Kaddas, S.Ag., M.Ag., Ph.D., alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang menempuh dua jenjang pendidikan di UMI sebelum melanjutkan pendidikan doktoral di Malaysia. Dari mahasiswa Fakultas Ushuluddin UMI, aktivis organisasi, dosen dan pimpinan fakultas, perjalanan Badruddin berkembang hingga kini menjalankan amanah sebagai Wakil Rektor II Universitas Islam Makassar (UIM).
Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ia dibangun dari pendidikan pesantren, proses akademik, pengalaman organisasi, dan pengabdian panjang dalam dunia pendidikan tinggi. Dari pesantren membangun fondasi. Dari UMI memperkuat keilmuan. Dari organisasi belajar mengabdi. Dari perguruan tinggi mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Dari Pesantren Menuju Fakultas Ushuluddin UMI
Badruddin Kaddas lahir di Timurung, Kabupaten Bone, pada 14 Desember 1974. Perjalanan pendidikannya tumbuh dari lingkungan madrasah dan pesantren. Ia pernah menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah As'adiyah No. 08 Timurung dan SD Inpres 3/77 Timurung. Pendidikan berikutnya dilanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Pinrang dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangan Pinrang.
Latar pendidikan tersebut membentuk fondasi sebelum Badruddin memasuki jenjang pendidikan tinggi. Ia kemudian memilih Fakultas Ushuluddin Universitas Muslim Indonesia sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Pada 1997, Badruddin menyelesaikan pendidikan sarjana dan memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag.).
Tetapi hubungannya dengan UMI tidak berhenti pada jenjang tersebut. Ia kembali melanjutkan pendidikan pada Pascasarjana Pengkajian Islam Universitas Muslim Indonesia dan menyelesaikan studi magister pada 2000. Dengan demikian, dua jenjang penting dalam perjalanan akademiknya—sarjana dan magister—ditempuh di Universitas Muslim Indonesia. UMI menjadi salah satu ruang yang mempertemukan fondasi pendidikan pesantren yang telah dimilikinya dengan tradisi akademik perguruan tinggi.
Dari Mahasiswa Menjadi Aktivis
Perjalanan Badruddin juga tidak dapat dipisahkan dari organisasi. Bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi, aktivitas organisasi telah menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya. Pada 1991, ia tercatat aktif di IPNU Anak Cabang Bacukiki, Parepare. Ketika menjadi mahasiswa Fakultas Ushuluddin UMI, Badruddin kemudian aktif di PMII Rayon Fakultas Ushuluddin UMI pada 1993.
Dua tahun kemudian, pada 1995, ia juga aktif di Ikatan Mahasiswa Darud Dakwah Wal Irsyad.
Kampus akhirnya bukan hanya menjadi tempat mengikuti perkuliahan. Kampus juga menjadi ruang bertemu, berdiskusi, berorganisasi, mengelola perbedaan pendapat, dan belajar mengambil tanggung jawab. Pengalaman semacam itu menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang mahasiswa sebelum memasuki kehidupan profesional. Ruang kuliah mengajarkan ilmu. Ruang organisasi mengajarkan bagaimana ilmu bertemu manusia.
Setelah Lulus, Memilih Mengabdi di Pendidikan Tinggi
Tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di UMI, Badruddin mulai memasuki dunia pengelolaan pendidikan tinggi. Pada 1998–2000, ia dipercaya sebagai Pembantu Ketua III STAI Al-Gazali Makassar. Tanggung jawab tersebut dijalankan ketika perjalanan akademiknya sendiri masih terus berkembang.
Pada saat yang hampir bersamaan, ia melanjutkan pendidikan magister Pengkajian Islam di UMI hingga selesai pada 2000. Perjalanan berikutnya kemudian membawanya ke Universitas Islam Makassar (UIM). Di perguruan tinggi tersebut, Badruddin memperoleh ruang pengabdian yang semakin luas.
Pada 2000–2009, ia dipercaya menjadi Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UIM. Hampir satu dekade berada pada posisi tersebut memberinya pengalaman dalam pengelolaan fakultas dan pendidikan tinggi. Tanggung jawab berikutnya datang pada 2009. Badruddin dipercaya menjadi Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Islam Makassar dan menjalankan amanah tersebut hingga 2012.
Dari mahasiswa, ia telah bergerak menjadi akademisi. Dari akademisi, ia kemudian memasuki ruang pengelolaan institusi pendidikan.
Terus Belajar hingga Meraih Ph.D. di Malaysia
Menjadi akademisi dan pimpinan perguruan tinggi tidak membuat proses belajar Badruddin berhenti. Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Malaysia. Badruddin menempuh pendidikan di Pusat Pengajian Bahasa, Tamadun & Falsafah, Universiti Utara Malaysia dan menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 2019.
Perjalanan akademiknya dengan demikian membentang cukup panjang. Dimulai dari madrasah dan pesantren. Dilanjutkan ke Fakultas Ushuluddin UMI. Kemudian Pascasarjana Pengkajian Islam UMI. Hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan doktoral di Malaysia.
Perjalanan tersebut menunjukkan satu prinsip yang sederhana: menjadi pendidik tidak membuat seseorang selesai belajar. Justru karena mendidik, seseorang memiliki alasan untuk terus belajar.
Kembali Mengembangkan Pendidikan Tinggi
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, perjalanan pengabdian Badruddin dalam pendidikan tinggi terus berkembang. Pada 2020, ia dipercaya menjadi Ketua Pusat Studi ASEAN Universitas Islam Makassar, tanggung jawab yang masih dijalankannya hingga sekarang berdasarkan data profil yang tersedia.
Pada periode 2020–2023, Badruddin juga dipercaya menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Makassar. Pengalaman tersebut menambah spektrum kepemimpinannya. Sebelumnya ia pernah memimpin Fakultas Agama Islam. Kemudian ia memperoleh tanggung jawab memimpin Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Perjalanannya akhirnya berkembang dari pengelolaan fakultas menuju kepemimpinan tingkat universitas. Sejak 2023, Badruddin menjalankan amanah sebagai Wakil Rektor II Universitas Islam Makassar.
Dari ruang mahasiswa, perjalanan itu telah sampai pada ruang kepemimpinan universitas. Namun garis penghubungnya tetap sama: pendidikan dan pengabdian.
Organisasi Menjadi Ruang Pengabdian yang Kedua
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, aktivitas organisasi Badruddin tidak berhenti.
Keterlibatannya yang dimulai sejak masa mahasiswa kemudian berkembang ke berbagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Ia tercatat pernah maupun masih terlibat dalam LKKNU Sulawesi Selatan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar, Ikatan Alumni PMII Sulawesi Selatan, serta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan.
Di lingkungan Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI), Badruddin juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Pengurus Wilayah DDI Sulawesi Selatan. Perjalanan organisasinya kemudian memasuki ruang yang semakin dekat dengan bidang pengabdiannya sebagai akademisi. Pada 2024, ia dipercaya menjadi Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, amanah yang berdasarkan data profil masih dijalankannya hingga sekarang.
Dengan demikian, terdapat dua ruang yang berjalan beriringan dalam perjalanan Badruddin.
Di kampus, ia bekerja dalam pengembangan pendidikan tinggi. Di organisasi, ia memperoleh ruang untuk memperluas pengabdian keumatan dan pendidikan. Keduanya bertemu pada satu titik: membangun manusia melalui pendidikan.
Dari Aktivisme Menuju Kepemimpinan Akademik
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Badruddin. Aktivitas organisasi yang dimulainya sejak muda tidak berdiri terpisah dari perjalanan akademiknya. Pengalaman berorganisasi memberikan ruang untuk belajar berkomunikasi, bekerja bersama orang lain, mengelola perbedaan, dan mengambil tanggung jawab. Sementara pendidikan akademik memberikan landasan keilmuan untuk memahami persoalan secara lebih sistematis.
Ketika keduanya bertemu, lahirlah pengalaman kepemimpinan. Badruddin pernah menjadi Pembantu Ketua. Kemudian Wakil Dekan. Menjadi Dekan Fakultas Agama Islam. Memimpin Pusat Studi ASEAN. Menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dan kini menjadi Wakil Rektor II Universitas Islam Makassar.
Jabatan-jabatan tersebut tentu bukan ukuran tunggal keberhasilan seorang alumni. Namun perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan, pengalaman, dan organisasi dapat membentuk kapasitas seseorang untuk mengambil tanggung jawab yang semakin luas. Kepemimpinan tidak lahir ketika jabatan diberikan. Kepemimpinan tumbuh dari perjalanan panjang sebelum jabatan itu datang.
UMI dalam Perjalanan Akademik Badruddin Kaddas
Dalam perjalanan tersebut, Universitas Muslim Indonesia memiliki tempat tersendiri. Badruddin bukan hanya sekali menempuh pendidikan di UMI. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ushuluddin UMI pada 1997, kemudian kembali memperdalam keilmuan melalui Pascasarjana Pengkajian Islam UMI dan lulus pada 2000. Dua jenjang pendidikan itu berada pada fase penting ketika fondasi keilmuan dan arah perjalanan profesionalnya sedang terbentuk.
Selepas UMI, ruang pengabdiannya berkembang. Ia menjadi akademisi. Memimpin fakultas. Melanjutkan pendidikan doktoral. Aktif dalam organisasi. Dan akhirnya mengambil tanggung jawab pada tingkat pimpinan universitas. Di sinilah perjalanan alumni memberikan perspektif lain mengenai dampak sebuah perguruan tinggi.
Dampak pendidikan tidak selalu terlihat sesaat setelah wisuda. Ada dampak yang baru terlihat setelah sepuluh tahun. Ada yang membutuhkan dua puluh tahun. Bahkan ada yang terus berkembang sepanjang perjalanan kehidupan seseorang. Pendidikan menanam hari ini, tetapi manfaatnya dapat tumbuh puluhan tahun kemudian.
Ilmu, Organisasi, dan Pengabdian
Perjalanan Badruddin Kaddas memperlihatkan tiga ruang yang terus berhubungan. Ilmu. Organisasi. Pengabdian.
Ilmu memberinya fondasi untuk memahami. Organisasi memberinya pengalaman bekerja bersama manusia. Pengabdian memberikan ruang untuk menggunakan keduanya. Karena perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya membutuhkan orang yang memahami teori pendidikan. Perguruan tinggi membutuhkan orang yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tata kelola, pelayanan, keputusan, dan lingkungan akademik yang memungkinkan orang lain ikut berkembang.
Demikian pula organisasi. Organisasi tidak hanya membutuhkan aktivisme. Ia membutuhkan pengetahuan, kedewasaan, kemampuan mendengar, serta kesediaan untuk bekerja bersama. Dalam perjalanan Badruddin, dunia akademik dan organisasi akhirnya tidak berjalan pada dua jalur yang saling berjauhan. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang sama.
Dari Alumni UMI, Ikut Membangun Perguruan Tinggi Lain
Ada dimensi menarik lain dari perjalanan Badruddin Kaddas. Ia memperoleh dua jenjang pendidikan di Universitas Muslim Indonesia, kemudian membawa pengalaman dan keilmuannya untuk ikut mengembangkan perguruan tinggi lain. Ini adalah salah satu bentuk sirkulasi pengetahuan dalam pendidikan tinggi. Seorang alumni tidak harus kembali bekerja di almamater agar pendidikan yang diperolehnya memberikan dampak.
Alumni dapat berada di mana saja. Di pemerintahan. Di industri. Di masyarakat. Di organisasi. Di pesantren. Atau seperti perjalanan Badruddin, berada di perguruan tinggi lain dan ikut mengambil tanggung jawab dalam pengembangannya. Karena sesungguhnya alumni membawa sebagian nilai almamater ke mana pun ruang pengabdiannya bergerak.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Badruddin Kaddas, S.Ag., M.Ag., Ph.D. belum berhenti. Tetapi perjalanan yang telah dilalui memperlihatkan sebuah rangkaian yang panjang. Dari pendidikan madrasah dan pesantren, ia memperoleh fondasi. Dari Fakultas Ushuluddin Universitas Muslim Indonesia, ia memperkuat pendidikan akademiknya. Dari Pascasarjana Pengkajian Islam UMI, ia memperdalam keilmuan. Dari organisasi, ia belajar mengelola pengabdian bersama orang lain. Dari pendidikan doktoral di Malaysia, ia memperluas horizon akademiknya. Dan dari perjalanan panjang di dunia perguruan tinggi, ia memperoleh ruang untuk mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Kini, alumni dua jenjang pendidikan Universitas Muslim Indonesia tersebut menjalankan amanah sebagai Wakil Rektor II Universitas Islam Makassar, sekaligus tetap berada dalam ruang organisasi dan pengembangan pendidikan tinggi. Perjalanan itu menyampaikan satu pesan penting. Universitas tidak hanya menghasilkan gelar.
Universitas menghasilkan manusia yang kemudian membawa ilmu ke berbagai ruang kehidupan. Sebagian membangun industri. Sebagian mengembangkan masyarakat. Sebagian memasuki pemerintahan. Sebagian membangun organisasi. Dan sebagian lainnya mengabdikan hidupnya untuk ikut membangun generasi berikutnya melalui pendidikan. Badruddin memilih jalan yang terakhir itu.
Dari pesantren, ia membangun fondasi. Dari UMI, ia memperkuat keilmuan. Dari organisasi, ia belajar mengabdi. Dari dunia akademik, ia mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Dan setelah puluhan tahun perjalanan itu berlangsung, satu hal tetap sama: ilmu tidak berhenti pada orang yang memilikinya. Ilmu menemukan dampaknya ketika membuat orang lain ikut bertumbuh. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































