Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. H. Ruksamin: Dari Menjual Koran demi Kuliah di UMI, Menjadi Bupati Dua Periode hingga Sekjen PBB
Perjalanannya dimulai dari keluarga sederhana dan hari-hari menjual koran untuk membantu membiayai kuliah Teknik Kimia di Universitas Muslim Indonesia. Puluhan tahun kemudian, Dr. Ir. H. Ruksamin, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng. menjadi insinyur profesional, memimpin Konawe Utara selama dua periode, dan kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang.
MAKASSAR, umi.ac.id — Jauh sebelum memiliki gelar doktor, menjadi insinyur profesional, duduk di parlemen, atau memimpin sebuah kabupaten, Ruksamin pernah menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Ketika menjadi mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar, ia harus memikirkan dua hal sekaligus: bagaimana tetap kuliah dan bagaimana bertahan hidup.
Salah satu jalan yang ditempuhnya adalah menjual koran. Dari rumah ke rumah. Penghasilannya membantu memenuhi kebutuhan makan sekaligus pendidikan. Tidak ada jabatan. Tidak ada fasilitas kekuasaan. Yang ada adalah seorang mahasiswa yang ingin menyelesaikan pendidikan dan bersedia bekerja untuk mempertahankan cita-citanya.
Puluhan tahun kemudian, mahasiswa itu dikenal sebagai Dr. Ir. H. Ruksamin, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Ia pernah menjadi guru, anggota DPRD, Ketua DPRD, Wakil Bupati, Bupati Konawe Utara selama dua periode, Insinyur Profesional Utama, ASEAN Engineer, dan kini dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang.
Namun sebelum semua jabatan itu datang, perjalanannya dimulai dari satu hal yang sangat sederhana: keinginan untuk terus belajar meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Dari Keluarga Sederhana Menuju UMI
Ruksamin lahir dan tumbuh di Sulawesi Tenggara dalam keluarga sederhana. Orang tuanya menjalani kehidupan sebagai guru dan petani. Dari lingkungan tersebut, pendidikan menjadi salah satu jalan yang diyakininya dapat membuka masa depan.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Sulawesi Tenggara, Ruksamin menuju Makassar dan melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 1997.
Namun perjalanan menuju gelar sarjana tersebut bukan perjalanan yang ringan. Di tengah perkuliahan, ia harus mencari tambahan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan. Ia menjual koran dari rumah ke rumah. Pengalaman itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang mahasiswa, keputusan untuk tetap kuliah sambil bekerja memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting: ketika fasilitas terbatas, kemauan sering menjadi modal pertama untuk terus berjalan.
Teknik Kimia dan Cara Melihat Persoalan
Teknik Kimia kemudian menjadi fondasi akademik pertama Ruksamin. Bidang ini mengajarkan bagaimana suatu proses dipahami, bagaimana bahan diolah, bagaimana sumber daya digunakan, bagaimana efisiensi dihitung, bagaimana keselamatan diperhatikan, dan bagaimana sebuah sistem dapat menghasilkan nilai tambah.
Cara berpikir tersebut kelak memperoleh ruang yang berbeda ketika Ruksamin memasuki kehidupan publik. Karena pembangunan daerah juga berhadapan dengan persoalan sistem: sumber daya alam, manusia, anggaran, infrastruktur, lingkungan, investasi, pelayanan publik, dan berbagai kepentingan yang harus dipertemukan.
Teknik mengajarkan bagaimana mengelola proses. Pemerintahan mengajarkan bahwa di dalam setiap proses selalu ada manusia yang harus dilayani.
Dari Teknik Menuju Administrasi Publik
Perjalanan pendidikan Ruksamin tidak berhenti pada Teknik Kimia. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Halu Oleo dan kemudian menyelesaikan pendidikan doktoral pada bidang Administrasi Publik di Universitas Diponegoro pada 2015.
Di sini dua dunia mulai bertemu: keinsinyuran dan pemerintahan. Teknik membantu melihat sistem, sumber daya dan proses. Administrasi publik memperluas cara pandang tentang kebijakan, organisasi pemerintahan, pelayanan, tata kelola dan masyarakat. Perpaduan tersebut menjadi relevan ketika perjalanan profesionalnya semakin dekat dengan kepemimpinan daerah.
Pernah Menjadi Guru
Sebelum memasuki dunia politik, Ruksamin pernah berdiri di depan kelas. Ia menjadi guru di SMA Negeri Wawotobi pada 2000–2001. Fase ini mungkin singkat dibanding perjalanan politiknya. Namun ada nilai penting di dalamnya. Seorang guru bekerja dengan manusia. Ia belajar menyampaikan sesuatu agar dipahami, mendengar, membimbing, dan melihat bahwa setiap orang memiliki kemampuan serta persoalan yang berbeda. Pengalaman tersebut kemudian diikuti perjalanan menuju ruang pengabdian yang lebih luas.
Dari Legislatif Menuju Eksekutif
Pada 2004, Ruksamin memasuki dunia legislatif sebagai anggota DPRD Kabupaten Konawe. Perjalanannya berkembang cepat. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua DPRD Konawe Utara periode 2007–2009, lalu Wakil Ketua I DPRD Konawe Utara periode 2009–2011.
Dari legislatif, ruang pengabdiannya bergerak menuju eksekutif. Pada 2011–2016, ia menjadi Wakil Bupati Konawe Utara. Kemudian masyarakat memberinya amanah yang lebih besar. Ruksamin menjadi Bupati Konawe Utara periode 2016–2021. Kepercayaan tersebut kembali diperoleh untuk periode kedua, 2021–2025.
Dari mahasiswa yang dahulu harus menjual koran untuk mempertahankan pendidikannya, perjalanan itu membawanya hingga memimpin daerah tempat ia lahir dan tumbuh.
Memimpin Daerah Kaya Sumber Daya
Konawe Utara memiliki karakter pembangunan yang khas. Daerah ini memiliki sumber daya alam, termasuk potensi pertambangan yang besar. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan. Tetapi sumber daya alam selalu membawa pertanyaan yang lebih besar: bagaimana dikelola? Siapa yang memperoleh manfaat? Bagaimana lingkungan dijaga? Bagaimana nilai tambah diciptakan? Dan bagaimana kekayaan alam dapat dikonversi menjadi kesejahteraan manusia?
Di sinilah latar belakang Teknik Kimia dan pengalaman pemerintahan Ruksamin bertemu. Seorang insinyur terbiasa melihat sumber daya sebagai sesuatu yang harus dikelola melalui proses. Seorang kepala daerah harus memastikan proses tersebut memiliki hubungan dengan pembangunan masyarakat. Sumber daya alam baru memiliki arti ketika kekayaannya dapat diubah menjadi kesempatan bagi manusia.
Kembali ke UMI untuk Menjadi Insinyur
Dua puluh tahun setelah menyelesaikan pendidikan Teknik Kimia di UMI, Ruksamin kembali ke almamaternya. Pada 2017, ia mengikuti dan menyelesaikan Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia. Ia menjadi bagian dari angkatan awal Program Profesi Insinyur UMI.
Fase ini menarik. Ketika kembali ke UMI, Ruksamin bukan lagi mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan pertamanya. Ia telah menjadi pejabat publik dan sedang mengemban amanah sebagai Bupati Konawe Utara. Namun ia kembali menjadi mahasiswa. Hal tersebut menyampaikan pesan yang kuat: jabatan tidak membuat seseorang selesai belajar. Justru semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat kompetensi.
Program Profesi Insinyur menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia mempertemukan kembali pengalaman seorang kepala daerah dengan fondasi keinsinyuran yang telah dibangunnya sejak Teknik Kimia.
Dari Ir. Menuju Insinyur Profesional
Perjalanan profesi Ruksamin terus berkembang. Ia memperoleh jenjang Insinyur Profesional Madya (IPM) pada 2018. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh pengakuan ASEAN Engineer melalui ASEAN Engineering Register. Perjalanan profesionalnya kemudian berkembang hingga memperoleh jenjang Insinyur Profesional Utama (IPU).
Dengan demikian, identitas keinsinyurannya tidak berhenti pada gelar Ir. Ada perjalanan profesi, ada pengalaman, ada kompetensi, dan ada tanggung jawab profesional yang terus dikembangkan. Hal tersebut menjadi semakin relevan karena ruang pengabdiannya berada pada daerah yang memiliki aktivitas pembangunan dan sumber daya alam yang besar.
Salah Satu Angkatan Awal PPI UMI
Ruksamin memiliki posisi tersendiri dalam sejarah Program Profesi Insinyur UMI. Ia merupakan peserta Angkatan I Program Profesi Insinyur FTI UMI. UMI sendiri merupakan salah satu perguruan tinggi yang sejak awal mendapat mandat menyelenggarakan Program Profesi Insinyur dan kemudian menjadi perguruan tinggi swasta pertama di Indonesia serta perguruan tinggi di luar Jawa yang menyelenggarakan Program Profesi Insinyur.
Catatan ini penting. Karena perjalanan Ruksamin bukan hanya berhubungan dengan pengembangan profesinya sendiri. Ia juga menjadi bagian dari generasi awal perjalanan pendidikan profesi insinyur di UMI. Dari satu angkatan awal tersebut, Program Profesi Insinyur UMI kemudian berkembang dan melahirkan semakin banyak insinyur dari berbagai sektor.
Dari Kesulitan Pendidikan Menuju Kebijakan Pendidikan
Ada satu cara lain membaca perjalanan Ruksamin. Ia memahami dari pengalaman pribadi bahwa pendidikan tidak selalu mudah dijangkau. Ia pernah merasakan bagaimana mempertahankan kuliah ketika kemampuan ekonomi terbatas. Pengalaman seperti itu memberikan perspektif yang berbeda ketika seseorang kemudian berada di ruang pengambilan kebijakan.
Sebab angka putus kuliah bukan sekadar statistik. Di balik angka terdapat manusia. Ada keluarga yang kesulitan. Ada anak muda yang ingin belajar. Ada mimpi yang mungkin berhenti karena biaya. Ruksamin pernah berada dalam posisi tersebut.
Karena itu, perjalanan hidupnya memberikan satu pelajaran sederhana: orang yang pernah memperjuangkan kesempatan untuk dirinya sendiri dapat memahami betapa berharganya kesempatan ketika kelak ia memiliki ruang untuk membukanya bagi orang lain.
Dua Periode Mengemban Amanah Daerah
Menjadi Bupati selama dua periode berarti menjalani hampir satu dekade tanggung jawab langsung kepada masyarakat. Dalam rentang tersebut, seorang kepala daerah menghadapi banyak hal: infrastruktur, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, investasi, pertambangan, lingkungan, bencana, pelayanan publik, dan harapan masyarakat yang terus berubah.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan sekaligus. Tidak semua keputusan dapat menyenangkan semua pihak. Namun kepemimpinan daerah menuntut satu kemampuan utama: membuat pilihan di tengah keterbatasan.
Latar keinsinyuran memiliki relevansi pada ruang tersebut. Dalam teknik, setiap pilihan memiliki konsekuensi: ada biaya, ada risiko, ada manfaat, ada batas. Dalam pemerintahan pun demikian. Bedanya, konsekuensi kebijakan langsung menyentuh kehidupan manusia.
Dari Kepala Daerah Menuju Ruang Politik Nasional
Setelah mengakhiri dua periode kepemimpinan sebagai Bupati Konawe Utara pada 2025, perjalanan pengabdian Ruksamin tidak berhenti. Pada 2026, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang (PBB).
Posisi tersebut memperluas ruang kerjanya. Jika sebelumnya tanggung jawabnya berpusat pada satu kabupaten, kini ruang organisasinya berskala nasional. Ada struktur partai di berbagai daerah, ada kader, ada konsolidasi, ada gagasan politik, dan ada aspirasi masyarakat yang harus dihubungkan dengan agenda organisasi.
Perjalanan ini memperlihatkan pola yang terus berkembang: dari kelas menuju masyarakat, dari masyarakat menuju legislatif, dari legislatif menuju pemerintahan, dari pemerintahan daerah menuju ruang politik nasional.
Tetap Terhubung dengan Almamater
Di tengah perjalanan tersebut, Ruksamin juga tetap memiliki hubungan dengan UMI. Ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muslim Indonesia Wilayah Sulawesi Tenggara. Hubungan alumni dengan almamater menjadi penting karena universitas tidak berhenti ketika mahasiswa diwisuda. Alumni membawa nama, ilmu, pengalaman dan jaringan kampus ke berbagai ruang kehidupan. Sebaliknya, pengalaman alumni kembali menjadi pengetahuan bagi generasi setelahnya.
Ruksamin beberapa kali kembali ke UMI dan berbicara kepada mahasiswa serta alumni tentang pengalaman pendidikan, profesi, industri dan kepemimpinan. Dengan cara itulah hubungan kampus dan alumni terus hidup.
Dari Koran ke Kebijakan
Barangkali inilah garis paling sederhana untuk membaca perjalanan Ruksamin. Dulu, ia menjual koran agar tetap bisa kuliah. Kemudian ia menyelesaikan pendidikan Teknik Kimia. Menjadi guru. Masuk parlemen. Menjadi Wakil Bupati. Menjadi Bupati dua periode. Kembali ke UMI untuk menempuh Program Profesi Insinyur. Menjadi IPU dan ASEAN Engineer. Dan kemudian bergerak ke ruang politik nasional.
Perjalanannya berubah. Tetapi pendidikan selalu berada di dalamnya. Dulu ia bekerja agar tetap bisa belajar. Kemudian ia belajar agar memiliki kemampuan untuk bekerja dan mengabdi lebih luas. Itulah transformasinya.
Dampak Bukan Tentang Seberapa Jauh Kita Pergi
Serial Dari Kampus, Menjadi Dampak bukan hanya bercerita tentang jabatan yang dicapai alumni. Sebab jabatan dapat berakhir. Periode pemerintahan selesai. Posisi organisasi dapat berganti. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan dengan kesempatan tersebut.
Pada Ruksamin, perjalanan itu memiliki dimensi yang sangat manusiawi. Ia pernah memulai dari keterbatasan. Karena itu kisahnya bukan sekadar tentang seseorang yang menjadi Bupati. Ini adalah kisah mengenai bagaimana pendidikan dapat memperbesar ruang kemungkinan dalam kehidupan seseorang.
Dari keluarga guru dan petani. Menjadi mahasiswa Teknik Kimia. Menjual koran untuk bertahan. Menjadi sarjana. Guru. Legislator. Insinyur. Kepala daerah. Hingga pemimpin organisasi politik nasional.
Kesempatan pertama yang diperjuangkan seseorang melalui pendidikan dapat berkembang menjadi kesempatan untuk melayani jauh lebih banyak orang.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Ir. H. Ruksamin, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng. memiliki hubungan yang panjang dengan Universitas Muslim Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan Teknik Kimia UMI pada 1997. Dua dekade kemudian, ia kembali ke kampus yang sama untuk menempuh Program Profesi Insinyur. UMI hadir pada dua fase perjalanan hidupnya: ketika ia sedang membangun fondasi, dan ketika ia sedang memperkuat profesi.
Di antara kedua fase tersebut terdapat perjalanan yang panjang. Ada kesulitan ekonomi, ada pekerjaan, ada pendidikan, ada politik, ada pemerintahan, ada profesi, ada keberhasilan, dan tentu ada berbagai tantangan yang menyertai setiap tanggung jawab.
Namun satu hal tetap terlihat: perjalanan besar dapat dimulai dari perjuangan yang sangat sederhana. Dulu berjalan dari rumah ke rumah membawa koran. Kemudian berjalan dari desa ke desa membawa tanggung jawab sebagai kepala daerah. Kini ruang pengabdiannya kembali meluas pada tingkat nasional. Tetapi titik awalnya tetap dapat ditelusuri: seorang anak dari keluarga sederhana, seorang mahasiswa Teknik Kimia UMI, dan sebuah keputusan untuk tidak menyerah terhadap pendidikan.
Dari koran menuju ruang kuliah. Dari ruang kuliah menuju profesi. Dari profesi menuju pemerintahan. Dari pemerintahan menuju pengabdian yang lebih luas.
Karena pendidikan tidak selalu langsung mengubah dunia. Kadang pendidikan terlebih dahulu mengubah hidup satu orang. Kemudian orang itulah yang memperoleh kesempatan untuk ikut mengubah kehidupan banyak orang. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































