Dari Kampus, Menjadi Dampak - Irwan Bachri Syam: Dulu Jadi Sopir Pete-Pete demi Kuliah di UMI, Kini Membuka Jalan Pendidikan dari Luwu Timur
Dari mahasiswa Teknik Sipil UMI yang pernah menjadi sopir pete-pete untuk membantu membiayai kuliah, Irwan Bachri Syam menempuh pendidikan hingga magister dan profesi insinyur. Kini sebagai Bupati Luwu Timur, pengalaman hidup itu ikut membentuk perhatiannya pada pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Jauh sebelum menjadi Bupati Luwu Timur, Ir. H. Irwan Bachri Syam, S.T., M.T., IPM. pernah menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Ia mahasiswa. Kuliah harus tetap berjalan. Tetapi kebutuhan hidup juga harus dipenuhi. Maka selama sekitar satu tahun, Irwan pernah menjadi sopir pete-pete untuk membantu membiayai kuliahnya.
Hari ini, puluhan tahun setelah masa itu, alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) tersebut berada pada posisi yang sama sekali berbeda. Ia dipercaya masyarakat memimpin Kabupaten Luwu Timur sebagai Bupati periode 2025–2030, setelah dilantik bersama Wakil Bupati Puspawati Husler pada 20 Februari 2025.
Tetapi cerita ini bukan terutama tentang bagaimana seorang sopir pete-pete kemudian menjadi bupati. Cerita ini tentang sesuatu yang lebih dalam: bagaimana pendidikan yang dahulu diperjuangkan untuk dirinya sendiri, kini ikut diperjuangkan agar semakin banyak orang memperoleh kesempatan yang sama.
Ketika Kuliah Harus Diperjuangkan
Dalam silaturahmi bersama pimpinan dan alumni UMI di Luwu Timur pada April 2025, Irwan mengenang masa ketika dirinya masih menjadi mahasiswa. Ia menceritakan pernah menjadi sopir pete-pete selama sekitar satu tahun untuk membantu membiayai kuliahnya. Pengalaman seperti itu sulit dilupakan. Sebab bagi sebagian mahasiswa, kuliah mungkin berarti datang ke kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, kemudian menunggu wisuda. Bagi sebagian yang lain, ada perjuangan lain sebelum sampai ke ruang kelas.
Ada biaya yang harus dicari.
Ada waktu yang harus dibagi.
Ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Dan ada mimpi yang tidak boleh berhenti hanya karena keadaan belum ideal.
Irwan pernah berada dalam fase kehidupan itu. Karena itulah ketika bertahun-tahun kemudian kembali berbicara tentang almamaternya, ia menyampaikan sebuah kalimat sederhana: “UMI adalah segala-galanya bagi saya.” Kalimat tersebut memiliki makna berbeda ketika datang dari seseorang yang pernah memperjuangkan pendidikannya dari hari ke hari.
Dari Teknik Sipil UMI
Irwan merupakan alumni S1 Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia angkatan 1997. Namun perjalanan akademiknya di UMI tidak berhenti pada pendidikan sarjana.Setelah menempuh perjalanan profesional dan pengabdian, Irwan kembali memperkuat kompetensi akademiknya dengan menyelesaikan Magister Teknik Sipil pada Program Pascasarjana UMI. Ia juga menyelesaikan Program Profesi Insinyur (PPI) pada Fakultas Teknologi Industri UMI.
Hubungan tersebut kemudian berkembang dari hubungan akademik menjadi hubungan kelembagaan alumni. Irwan kini juga mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni Program Profesi Insinyur UMI. Artinya, perjalanan Irwan dengan UMI berlangsung dalam rentang yang panjang. UMI menjadi tempat ia memperoleh pendidikan sarjana. UMI kembali menjadi tempat memperdalam ilmu pada jenjang magister. UMI juga menjadi tempat memperkuat profesionalisme melalui Program Profesi Insinyur. Dan setelah itu, hubungan tersebut terus hidup melalui jejaring alumni dan pengabdian.
Teknik Sipil Mengajarkan Membangun, Kehidupan Mengajarkan untuk Siapa Pembangunan Itu
Sebagai seorang insinyur sipil, pembangunan bukan sesuatu yang asing bagi Irwan.
Ada jalan.
Ada jembatan.
Ada gedung.
Ada perencanaan.
Ada struktur yang harus dihitung agar mampu berdiri dengan baik.
Namun ketika seorang insinyur masuk ke ruang pemerintahan, makna pembangunan menjadi jauh lebih luas. Sebab daerah tidak hanya dibangun dengan beton.
Ada manusia yang harus dibangun.
Ada anak-anak yang harus memperoleh pendidikan.
Ada keluarga yang membutuhkan pelayanan.
Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan.
Ada generasi muda yang harus dipersiapkan menghadapi masa depan.
Di sinilah perjalanan seorang insinyur bertemu dengan pengalaman seorang mantan mahasiswa yang pernah berjuang membiayai kuliahnya. Teknik mengajarkan bagaimana membangun infrastruktur. Kehidupan mengajarkan untuk siapa pembangunan itu dilakukan.
Dari Insinyur ke Ruang Pengabdian
Perjalanan Irwan kemudian bergerak dari dunia profesional menuju pemerintahan. Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Bupati Luwu Timur periode 2016–2021. Setelah melalui perjalanan politik berikutnya, masyarakat Luwu Timur kembali memberikan kepercayaan kepadanya. Pada 20 Februari 2025, Irwan Bachri Syam dilantik sebagai Bupati Luwu Timur periode 2025–2030 bersama Wakil Bupati Puspawati Husler.
Ruang pengabdiannya pun semakin luas.
Dari dunia teknik menuju pemerintahan.
Dari mengelola pekerjaan menjadi mengelola harapan masyarakat.
Dan dari pembangunan fisik menuju pembangunan manusia.
Ketika Pengalaman Hidup Masuk ke Ruang Kebijakan
Ada satu bagian menarik dalam perjalanan kepemimpinan Irwan. Pendidikan baginya bukan persoalan yang sepenuhnya abstrak. Ia pernah merasakan sendiri bagaimana sulitnya mempertahankan pendidikan ketika keadaan ekonomi menuntut seseorang bekerja sambil kuliah.
Karena itu, ketika kini berada pada posisi yang memungkinkan dirinya mengambil kebijakan, akses pendidikan memiliki makna yang lebih personal. Dalam pertemuan dengan calon wisudawan doktor UMI pada 2026, Irwan mengungkapkan bahwa pengalaman perjuangannya menempuh pendidikan menjadi salah satu inspirasi dalam pengembangan program bantuan pendidikan bagi masyarakat Luwu Timur.
Di sinilah pengalaman pribadi dapat menemukan bentuk pengabdian yang baru. Dahulu ia mencari jalan agar dirinya tetap dapat kuliah. Kini ia berada pada posisi untuk membantu membuka jalan agar masyarakat mendapatkan kesempatan pendidikan. Pendidikan yang dahulu diperjuangkan untuk mengubah hidupnya, kini diperjuangkan agar dapat mengubah kehidupan orang lain.
Dari Penerima Kesempatan Menjadi Pembuka Kesempatan
Perjalanan tersebut memberikan perspektif penting tentang pendidikan. Beasiswa atau bantuan pendidikan bukan sekadar angka dalam anggaran. Di baliknya:
Ada anak yang mungkin hampir berhenti kuliah.
Ada keluarga yang sedang menghitung kemampuan ekonomi.
Ada mahasiswa yang harus bekerja.
Ada mimpi yang sedang dipertahankan.
Irwan pernah berada dekat dengan realitas itu. Karena itu, pengalaman masa lalu memiliki kesempatan untuk diterjemahkan menjadi empati dalam kepemimpinan. Bukan berarti seluruh persoalan pendidikan selesai hanya dengan satu program. Namun seorang pemimpin yang pernah mengalami kesulitan memperoleh pendidikan memiliki alasan yang sangat manusiawi untuk memahami mengapa akses pendidikan perlu terus diperluas.
UMI dan Luwu Timur: Ketika Alumni Menghubungkan Kampus dengan Daerah
Hubungan Irwan dengan UMI juga tidak berhenti setelah ia menjadi kepala daerah. Justru hubungan tersebut memasuki fase baru. Jika dahulu UMI menjadi tempat Irwan belajar, kini UMI menjadi salah satu mitra dalam pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia di daerah yang dipimpinnya.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan UMI mengembangkan berbagai ruang kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Salah satu gagasan yang berkembang adalah kolaborasi antara Universitas Muslim Indonesia, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dalam pengembangan pendidikan unggulan.
Kawasan Puncak Indah Malili juga diarahkan menjadi salah satu ruang pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai, karakter, dan pembangunan sumber daya manusia.
Hubungan tersebut menghadirkan siklus yang menarik. Dulu seorang pemuda dari Luwu Timur datang ke UMI untuk memperoleh pendidikan. Puluhan tahun kemudian, alumni tersebut kembali membawa UMI untuk ikut memperkuat pendidikan di daerah yang dipimpinnya. Dulu datang ke kampus mencari ilmu. Kini membawa ilmu dan jejaring kampus kembali kepada masyarakat.
Pendidikan sebagai Infrastruktur Masa Depan
Latar belakang Teknik Sipil memberikan metafora yang sangat dekat dengan perjalanan Irwan. Seorang insinyur memahami pentingnya fondasi. Bangunan yang tinggi membutuhkan fondasi yang kuat. Begitu pula sebuah daerah.
Jalan dapat dibangun.
Jembatan dapat diselesaikan.
Gedung dapat berdiri.
Namun masa depan sebuah daerah tetap ditentukan oleh kualitas manusianya.
Karena itu, pendidikan sesungguhnya adalah salah satu infrastruktur masa depan yang paling penting. Ia memang tidak selalu terlihat seperti jalan atau jembatan. Tetapi pendidikan menghubungkan seseorang dengan masa depannya.
Pendidikan membuka mobilitas sosial.
Pendidikan memperbesar kesempatan.
Pendidikan membangun kompetensi.
Dan pendidikan memungkinkan seorang anak dari daerah memiliki keberanian membayangkan kehidupan yang lebih luas.
Irwan adalah salah satu orang yang mengalami sendiri bagaimana pendidikan mengubah lintasan kehidupan.
Dari Sopir Pete-Pete ke Bupati: Bukan Tentang Jarak Jabatan
Mudah untuk melihat perjalanan Irwan sebagai sebuah cerita: sopir pete-pete menjadi bupati. Tetapi bila berhenti pada kalimat itu, kita kehilangan bagian terpenting dari kisahnya. Karena inti perjalanan tersebut bukan seberapa jauh perubahan status sosial seseorang. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah memperoleh kesempatan. Irwan pernah menjadi mahasiswa yang bekerja untuk mempertahankan kuliahnya. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan Teknik Sipil. Memperkuat kompetensi melalui Magister Teknik Sipil. Menyelesaikan Program Profesi Insinyur. Memasuki dunia profesional. Menjadi Wakil Bupati. Dan kini dipercaya menjadi Bupati Luwu Timur.
Perjalanan itu dapat diringkas: mahasiswa → pekerja → sarjana teknik → insinyur → magister → wakil bupati → bupati.
Namun ukuran dampaknya bukan terletak pada panjangnya daftar tersebut. Ukuran dampaknya terletak pada apa yang dapat dilakukan dengan seluruh pengalaman itu.
Ketika Alumni Tidak Pernah Benar-Benar Meninggalkan Kampus
Seorang mahasiswa mungkin meninggalkan kampus setelah wisuda. Tetapi sesuatu dari kampus ikut berjalan bersamanya.
Ilmu.
Pengalaman.
Persahabatan.
Jejaring.
Nilai.
Bahkan masa-masa sulit yang pernah dilalui.
Semua itu dapat muncul kembali bertahun-tahun kemudian dalam cara seseorang mengambil keputusan. Irwan membawa pengalaman UMI ke Luwu Timur.
Ke ruang pemerintahan.
Ke perencanaan pembangunan.
Ke pendidikan.
Ke pengembangan sumber daya manusia.
Dan melalui kerja sama kelembagaan, perjalanan tersebut kembali mempertemukan Luwu Timur dengan UMI. Inilah salah satu bentuk hubungan alumni yang paling bermakna. Bukan hanya mengenang almamater. Tetapi mempertemukan almamater dengan kebutuhan masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kisah Irwan Bachri Syam memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat bergerak dalam sebuah lingkaran manfaat. Seorang mahasiswa memperoleh kesempatan belajar. Ia memperjuangkan kesempatan itu. Ilmu kemudian membentuk kompetensinya. Kompetensi membuka ruang pengabdian. Pengabdian membawanya kepada kepemimpinan. Dan kepemimpinan memberinya kesempatan untuk membuka jalan bagi orang lain.
Dahulu, Irwan harus mencari cara agar dapat tetap kuliah. Kini, sebagai Bupati Luwu Timur, ia berada pada posisi untuk membantu memastikan semakin banyak generasi muda memiliki jalan menuju pendidikan.
Di situlah perjalanan tersebut menjadi lebih dari sekadar kisah sukses personal. Sebab keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika ia mengubah nasib satu orang. Keberhasilan yang lebih besar terjadi ketika orang yang hidupnya berubah karena pendidikan kemudian menggunakan posisinya untuk membuka kesempatan bagi orang lain.
Dari pete-pete menuju ruang kuliah. Dari ruang kuliah menuju dunia teknik. Dari insinyur menuju pemerintahan. Dari perjuangan memperoleh pendidikan menuju ikhtiar memperluas pendidikan. Dan dari seorang alumni menuju pengabdian kepada masyarakat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































