Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani: Dari Program Profesi Insinyur UMI, Perempuan Pertama yang Memimpin PLN hingga Dewan Energi Nasional
Lebih dari tiga dekade berkecimpung dalam ekosistem energi dan industri, Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, M.M., IPM., ASEAN Eng. menapaki perjalanan dari staf operasional hingga pucuk kepemimpinan perusahaan ketenagalistrikan nasional. Alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia ini pernah mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin PLN dan kini dipercaya menjadi Anggota Dewan Energi Nasional dari unsur industri.
MAKASSAR, umi.ac.id — Listrik baru terasa sangat penting ketika ia padam. Rumah berhenti terang. Mesin berhenti bekerja. Sistem komunikasi terganggu. Industri kehilangan waktu produksi. Rumah sakit harus memastikan daya tetap tersedia. Dan aktivitas jutaan manusia dapat berubah hanya dalam hitungan detik.
Di balik sesuatu yang tampak sederhana—menekan sakelar lalu lampu menyala—terdapat sistem yang sangat besar: pembangkit, jaringan, transmisi, distribusi, investasi, pengadaan, manajemen risiko, teknologi, dan ribuan orang yang memastikan sistem tersebut tetap bekerja.
Di dalam dunia itulah Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, M.M., IPM., ASEAN Eng. membangun sebagian besar perjalanan profesionalnya. Ia memulai dari staf. Bertumbuh menjadi pemimpin. Menjadi Direktur Utama PT Indonesia Power. Kemudian pada 2019 mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang dipercaya menjalankan tugas sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero).
Kini ruang pengabdiannya semakin luas. Sejak Januari 2026, ia menjadi Anggota Dewan Energi Nasional dari unsur Pemangku Kepentingan Bidang Industri periode 2026–2030. Di tengah perjalanan tersebut, Universitas Muslim Indonesia juga menjadi bagian dari penguatan profesinya. Pada 2022, Sripeni menyelesaikan Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI Angkatan XI.
Berawal dari Teknik Kimia
Fondasi akademiknya dibangun melalui Teknik Kimia. Sripeni menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia Universitas Diponegoro pada 1992. Teknik Kimia mengajarkan lebih dari sekadar reaksi kimia. Di dalamnya terdapat pemahaman tentang energi, proses, efisiensi, material, keselamatan, pengendalian, dan bagaimana sebuah sistem industri bekerja.
Cara berpikir tersebut kemudian membawanya memasuki sektor yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: ketenagalistrikan. Pada 1993, setahun setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Sripeni memulai karier di lingkungan PT PLN. Dari sinilah perjalanan lebih dari tiga dekade di dunia energi dimulai.
Memulai dari Bawah
Tidak semua pemimpin memulai kariernya dari ruang direksi. Sripeni memulai sebagai staf. Ia menjalani berbagai fungsi di PLN dan PT Indonesia Power, dari pekerjaan operasional, pendanaan, asuransi, pengelolaan aset, keuangan, hingga manajemen perusahaan.
Perjalanan tersebut berlangsung bertahun-tahun. Tidak instan. Tidak langsung berada di puncak. Ia mengalami bagaimana sebuah perusahaan energi bekerja dari berbagai lapisan organisasi. Pengalaman seperti ini memberi satu hal yang tidak selalu dapat diperoleh dari buku: pemahaman tentang bagaimana keputusan di ruang rapat akhirnya bekerja di lapangan.
Dari Staf menuju Direksi
Karier Sripeni terus berkembang. Ia dipercaya menangani berbagai fungsi keuangan dan pendanaan sebelum kemudian menjadi Direktur Keuangan PT Indonesia Power pada 2013. Tiga tahun berikutnya, tanggung jawabnya bertambah. Pada 2016, ia dipercaya menjadi Direktur Utama PT Indonesia Power.
Perjalanan itu memiliki makna tersendiri. Dari seorang staf, ia berkembang menjadi orang yang memimpin perusahaan pembangkitan listrik. Ruang tanggung jawabnya berubah. Bukan lagi hanya satu divisi. Tetapi organisasi, operasi pembangkit, keuangan, SDM, investasi, risiko, keselamatan, dan keberlangsungan pasokan energi. Pada tingkat itu, keputusan seorang pemimpin dapat memengaruhi sistem yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Ketika Perempuan Memimpin Industri yang Sangat Teknis
Dunia energi dan ketenagalistrikan sejak lama identik dengan profesi teknik yang didominasi laki-laki: insinyur, operator, teknisi, pembangkit, jaringan, proyek, lapangan. Namun kompetensi tidak memiliki jenis kelamin.
Pada 2016, Sripeni menjadi perempuan pertama yang memimpin PT Indonesia Power. Tiga tahun kemudian, sejarah yang lebih besar tercipta. Pada 2 Agustus 2019, ia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero). Dengan penugasan tersebut, Sripeni menjadi perempuan pertama yang memimpin perusahaan listrik negara.
Catatan itu penting. Namun yang jauh lebih penting bukan hanya bahwa seorang perempuan berhasil mencapai posisi tertinggi. Yang lebih penting adalah pesan yang lahir dari perjalanan tersebut: ruang kepemimpinan teknik harus terbuka bagi siapa pun yang memiliki kompetensi, integritas, pengalaman, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Memimpin PLN pada Saat Sistem Diuji
Menjadi pemimpin perusahaan energi bukan jabatan yang ringan. Sistem kelistrikan bekerja 24 jam. Tidak mengenal hari libur. Tidak boleh berhenti hanya karena organisasi sedang menghadapi persoalan.
Ketika Sripeni dipercaya menjadi Plt Direktur Utama PLN pada 2019, ia berada pada salah satu posisi dengan tingkat tanggung jawab publik yang sangat besar. Setiap keputusan menyangkut layanan jutaan pelanggan, keandalan, investasi, pengadaan, operasional, dan kepercayaan masyarakat. Pengalaman tersebut memperlihatkan satu karakter penting kepemimpinan pada sektor strategis: pemimpin tidak hanya diuji ketika sistem berjalan baik. Pemimpin justru terlihat ketika sistem menghadapi tekanan.
Dari Teknik ke Manajemen
Perjalanan akademik Sripeni juga berkembang mengikuti kebutuhan profesinya. Setelah menyelesaikan Teknik Kimia, ia melanjutkan pendidikan Magister Manajemen. Kemudian menyelesaikan pendidikan doktor dalam bidang ilmu ekonomi.
Perjalanan tersebut menunjukkan perubahan ruang tanggung jawab. Pada awal karier, kompetensi teknis menjadi fondasi. Ketika tanggung jawab berkembang, ia membutuhkan perspektif lain: keuangan, ekonomi, manajemen risiko, investasi, tata kelola, dan strategi organisasi. Karena semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi teknik, semakin sedikit persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu. Insinyur memahami sistem teknis. Pemimpin harus memahami seluruh sistem.
Dari PLN menuju Kebijakan Energi
Setelah menyelesaikan perjalanan panjang di PLN, Sripeni tidak meninggalkan dunia energi. Ruang pengabdiannya justru berkembang. Sejak 2020, ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Ketenagalistrikan.
Perubahan tersebut membawa pengalaman korporasi menuju ruang kebijakan. Selama puluhan tahun sebelumnya, ia melihat bagaimana kebijakan energi dijalankan oleh perusahaan. Kini ia dapat melihat persoalan dari sisi yang berbeda: bagaimana kebijakan dirumuskan, bagaimana target energi ditetapkan, bagaimana investasi diarahkan, bagaimana sistem kelistrikan disiapkan menghadapi perubahan teknologi, dan bagaimana transisi energi harus berjalan tanpa mengorbankan keandalan.
Energi Bukan Hanya Soal Pembangkit
Persoalan energi Indonesia semakin kompleks. Pertumbuhan kebutuhan listrik harus dipenuhi. Industri membutuhkan energi yang kompetitif. Masyarakat membutuhkan layanan yang andal. Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi tuntutan transisi energi: energi terbarukan, dekarbonisasi, efisiensi, elektrifikasi, digitalisasi jaringan, penyimpanan energi, hingga kemungkinan pengembangan teknologi baru.
Pertanyaannya bukan lagi: "Bagaimana menghasilkan listrik?" Pertanyaannya semakin luas: "Bagaimana menyediakan energi yang cukup, andal, terjangkau, kompetitif, dan semakin berkelanjutan?" Itulah tantangan energi masa depan.
Ketika Energi Bertemu Industri
Perjalanan Sripeni kemudian bersentuhan semakin erat dengan industri pupuk dan petrokimia. Ia dipercaya menjadi Komisaris PT Pupuk Kujang dan kemudian memegang tanggung jawab sebagai Komisaris Utama.
Pengalaman tersebut memperlihatkan hubungan erat antara energi dan industri. Pabrik membutuhkan energi. Energi menentukan biaya produksi. Efisiensi energi memengaruhi daya saing. Emisi memengaruhi keberlanjutan. Dan transformasi menuju industri rendah karbon membutuhkan teknologi baru. Karena itu, transisi energi tidak mungkin hanya dibicarakan oleh sektor kelistrikan. Ia harus melibatkan industri. Energi dan industri adalah dua sistem yang harus berubah bersama.
Dari Industri Konvensional menuju Industri Rendah Karbon
Di lingkungan industri pupuk dan petrokimia, isu keberlanjutan menjadi semakin relevan. Industri perlu terus menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat. Namun proses produksinya harus semakin efisien. Penggunaan energi harus diperbaiki. Emisi perlu ditekan. Teknologi rendah karbon perlu dikembangkan. Dan kemampuan teknologi dalam negeri perlu diperkuat.
Pada titik inilah pengalaman Teknik Kimia, ketenagalistrikan dan manajemen industri Sripeni bertemu. Transformasi energi tidak hanya membutuhkan sumber energi baru. Ia juga membutuhkan cara baru menggunakan energi. Karena energi paling bersih tidak selalu hanya berasal dari pembangkit baru. Kadang ia berasal dari energi yang berhasil dihemat melalui proses yang lebih efisien.
Kembali Menjadi Mahasiswa di UMI
Di tengah perjalanan profesional yang telah sangat panjang, Sripeni kembali memasuki ruang pendidikan. Pada 2022, ia mengikuti Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia Angkatan XI.
Pada saat itu, ia bukan lagi insinyur muda. Ia telah menjadi mantan Direktur Utama Indonesia Power, pernah memimpin PLN, menjadi tenaga ahli Menteri ESDM, dan memiliki pengalaman puluhan tahun di sektor energi. Namun ia kembali belajar.
Ada pesan penting dari perjalanan tersebut. Pengalaman panjang tidak membuat profesionalisme selesai. Profesi insinyur memiliki dimensi yang terus harus diperkuat: kompetensi, etika, keselamatan, tanggung jawab, keberlanjutan, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Di sinilah Program Profesi Insinyur UMI menjadi bagian dari perjalanan profesional Sripeni.
Dari Pengalaman menuju Kompetensi Profesi
Setelah puluhan tahun bekerja di sektor energi, Sripeni memahami satu hal: keputusan teknik memiliki konsekuensi. Kesalahan dapat mengganggu layanan. Investasi yang tidak tepat dapat membebani perusahaan. Pengelolaan risiko yang lemah dapat menciptakan masalah. Sementara keputusan yang baik dapat menghasilkan manfaat bertahun-tahun.
Karena itu: profesi insinyur bukan hanya tentang kemampuan membuat sistem bekerja. Profesi insinyur adalah tanggung jawab memastikan sistem bekerja dengan aman, efisien, etis, dan memberi manfaat. Pendidikan profesi mengingatkan bahwa kompetensi teknis selalu berjalan bersama tanggung jawab publik.
Memimpin Badan Kejuruan Teknik Kimia
Perjalanan Sripeni juga terus berhubungan dengan organisasi profesi. Ia dipercaya memimpin Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia. Ruang tersebut mempertemukan akademisi, profesional, industri dan generasi muda insinyur kimia.
Peran organisasi profesi menjadi semakin penting ketika industri berubah cepat: digitalisasi, AI, dekarbonisasi, energi baru, material baru, circular economy, dan tuntutan keselamatan yang semakin tinggi. Insinyur tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang dipelajari ketika kuliah. Mereka harus terus belajar sepanjang perjalanan profesinya.
Dari PLN menuju Dewan Energi Nasional
Pada 28 Januari 2026, perjalanan pengabdian Sripeni memasuki babak baru. Presiden Republik Indonesia melantiknya sebagai Anggota Dewan Energi Nasional dari unsur Pemangku Kepentingan Bidang Industri periode 2026–2030.
Posisi tersebut memperluas skala tanggung jawabnya. Jika sebelumnya ia banyak berhadapan dengan perusahaan, kini pengalaman tersebut dibawa ke ruang yang lebih dekat dengan arah energi nasional. Dewan Energi Nasional memiliki posisi strategis dalam tata kelola energi Indonesia. Di ruang ini bertemu pemerintah, akademisi, industri, teknologi, ekonomi, dan kepentingan jangka panjang negara.
Pengalaman Sripeni dari ruang operasional hingga korporasi menjadi modal penting. Sebab kebijakan energi yang baik membutuhkan pemahaman terhadap apa yang benar-benar terjadi ketika kebijakan tersebut diterapkan.
Dari Operator Sistem menuju Arsitek Kebijakan
Ada satu cara menarik membaca perjalanan Sripeni. Pada awal karier, ia bekerja di dalam sistem ketenagalistrikan. Ia memahami operasi, pendanaan, aset, risiko, manajemen. Kemudian ia memimpin perusahaan yang menjalankan sistem tersebut. Kini ia berada pada ruang yang ikut memikirkan arah sistem energi nasional.
Skala dampaknya berubah. Dari mengoperasikan sistem, menjadi memimpin sistem, kemudian ikut merancang arah sistem. Inilah mekanisme dampak yang membuat perjalanan Sripeni berbeda. Pengalaman lapangan tidak berhenti sebagai pengalaman. Ia bergerak menuju tata kelola. Dan tata kelola bergerak menuju kebijakan.
Dari Ketenagalistrikan menuju Ketahanan Energi
Indonesia membutuhkan energi dalam jumlah besar — untuk rumah, sekolah, rumah sakit, industri, transportasi, digitalisasi, pertanian, pertambangan, dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, energi bukan hanya soal teknis. Ia berhubungan dengan ketahanan nasional.
Jika pasokan energi terganggu, aktivitas ekonomi ikut terganggu. Jika terlalu bergantung pada sumber tertentu, risiko meningkat. Jika energi terlalu mahal, industri kehilangan daya saing. Jika transisi dilakukan tanpa perencanaan, keandalan dapat terganggu. Di sinilah pengalaman panjang seorang praktisi memperoleh relevansi bagi kebijakan nasional. Ketahanan energi bukan hanya tentang memiliki sumber energi. Ketahanan energi adalah kemampuan memastikan energi tersedia ketika masyarakat dan negara membutuhkannya.
Transisi Energi Harus Tetap Menjaga Keandalan
Transformasi energi Indonesia harus berjalan. Namun perubahan sebesar ini tidak dapat dilakukan hanya dengan slogan. Pembangkit baru membutuhkan investasi. Jaringan harus diperkuat. Teknologi penyimpanan harus berkembang. Industri harus beradaptasi. SDM harus disiapkan. Regulasi harus memberikan kepastian. Dan masyarakat tetap membutuhkan listrik setiap saat.
Karena itu: transisi energi yang baik bukan sekadar berpindah sumber energi. Ia adalah kemampuan berubah tanpa kehilangan keandalan. Pengalaman Sripeni yang tumbuh dari sistem ketenagalistrikan memberikan perspektif penting terhadap persoalan tersebut.
Perempuan Insinyur dan Ruang Kepemimpinan
Kisah Sripeni juga membawa pesan lain. Ia membuktikan bahwa perempuan dapat berada pada ruang kepemimpinan tertinggi dalam dunia teknik dan energi. Namun narasi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada kata "perempuan pertama". Menjadi yang pertama memang penting. Tetapi dampak yang lebih besar adalah ketika keberhasilan itu membuat menjadi yang kedua, ketiga, kesepuluh, dan keseratus menjadi sesuatu yang biasa. Tonggak sejarah menjadi benar-benar berarti ketika setelahnya jalan menjadi lebih terbuka bagi orang lain.
Bagi mahasiswa perempuan yang hari ini belajar teknik, kisah tersebut memberi satu pesan: laboratorium tidak memiliki batas gender. Pembangkit tidak memiliki batas gender. Ruang direksi tidak memiliki batas gender. Dan kepemimpinan teknologi seharusnya juga tidak memiliki batas gender. Yang dibutuhkan adalah kompetensi, integritas, kerja keras, dan keberanian memikul tanggung jawab.
UMI dalam Perjalanan Profesional
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Sripeni memiliki arti tersendiri. Ia bukan alumni sarjana UMI. Hubungannya dengan UMI hadir pada fase ketika karier profesionalnya telah sangat matang. Ia datang sebagai seorang profesional senior. Kemudian kembali menjadi mahasiswa melalui Program Profesi Insinyur.
Ini memperlihatkan karakter pendidikan profesi. Kampus tidak hanya menjadi tempat seseorang memulai perjalanan. Kampus juga dapat menjadi tempat seseorang kembali memperkuat dirinya di tengah perjalanan. Program Profesi Insinyur mempertemukan pengalaman industri dengan standar kompetensi, etika dan tanggung jawab keinsinyuran. Dan dari UMI, para profesional tersebut kembali ke berbagai ruang pengabdian masing-masing.
Dari Pengalaman Pribadi menuju Arah Energi Bangsa
Serial Dari Kampus, Menjadi Dampak mencoba melihat satu pertanyaan sederhana: ke mana ilmu dan pengalaman seorang alumni kemudian bergerak?
Pada Sripeni Inten Cahyani, perjalanan itu terlihat jelas. Dari Teknik Kimia menuju PLN. Dari staf menuju direksi. Dari Indonesia Power menuju kepemimpinan PLN. Dari korporasi menuju kebijakan energi. Dari industri menuju organisasi profesi. Dari Program Profesi Insinyur UMI menuju penguatan identitas profesional. Dan kini menuju Dewan Energi Nasional.
Skala pengabdiannya terus berubah. Namun benang merahnya tetap sama: energi, industri, manusia, dan tanggung jawab.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, M.M., IPM., ASEAN Eng. telah melalui perjalanan profesional lebih dari tiga dekade. Ia memulai sebagai staf. Kemudian menjadi pengelola keuangan, direktur, direktur utama, perempuan pertama yang memimpin PLN, tenaga ahli Menteri ESDM, pemimpin organisasi profesi, pemimpin di lingkungan industri, alumni Program Profesi Insinyur UMI, dan kini Anggota Dewan Energi Nasional.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa karier tidak selalu bergerak melalui lompatan besar. Sering kali ia dibangun melalui pengalaman demi pengalaman, tanggung jawab demi tanggung jawab, keputusan demi keputusan. Sampai suatu hari, seseorang tidak lagi hanya bekerja di dalam sebuah sistem. Ia dipercaya ikut menentukan ke mana sistem itu bergerak.
Dari operasi menuju kepemimpinan. Dari kepemimpinan menuju tata kelola. Dari tata kelola menuju kebijakan. Dari ketenagalistrikan menuju masa depan energi Indonesia. Dan mungkin inilah salah satu pelajaran terpenting dari perjalanan Sripeni Inten Cahyani: menjadi yang pertama adalah sebuah pencapaian. Membuka jalan agar lebih banyak orang dapat melangkah setelah kita adalah sebuah dampak. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































