Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ir. Amalia Adininggar Widyasanti: Dari Program Profesi Insinyur UMI, Kini Menjadi Kepala Badan Pusat Statistik
Berangkat dari Teknik Kimia, Ir. Amalia Adininggar Widyasanti, S.T., M.Si., M.Eng., Ph.D. membawa cara berpikir sistem ke dunia ekonomi, perdagangan, perencanaan pembangunan, hingga statistik nasional. Alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia Angkatan X ini kini dipercaya menjadi Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebuah angka dapat terlihat sangat sederhana.
5 persen pertumbuhan ekonomi.
2 persen inflasi.
Satu angka kemiskinan.
Satu angka pengangguran.
Satu angka ekspor.
Namun di balik angka itu terdapat kehidupan. Ada keluarga yang sedang mengatur pengeluaran. Ada petani yang menjual hasil panen. Ada perusahaan yang mempertimbangkan investasi. Ada pemerintah yang harus menentukan prioritas pembangunan. Dan ada jutaan keputusan yang setiap hari membentuk perekonomian Indonesia. Karena itu, angka tidak pernah benar-benar hanya angka. Di balik angka terdapat cerita tentang manusia, ekonomi dan arah sebuah negara.
Di dunia itulah perjalanan Ir. Amalia Adininggar Widyasanti, S.T., M.Si., M.Eng., Ph.D., yang akrab disapa Winny, kini berada. Ia memulai perjalanan dari Teknik Kimia. Kemudian bergerak menuju ekonomi. Masuk ke perencanaan pembangunan. Mendalami perdagangan dan investasi. Mengelola analisis makro. Terlibat dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Hingga akhirnya dipercaya memimpin Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
Di tengah perjalanan tersebut, pada 2021 ia juga memperkuat identitas profesionalnya melalui Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) Angkatan X.
Berawal dari Teknik Kimia
Amalia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung pada 1995. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Sains di ITB. Perjalanan akademiknya berlanjut ke Amerika Serikat dengan meraih Master of Engineering dari Rensselaer Polytechnic Institute.
Namun perjalanan ilmunya tidak berhenti pada teknik. Ia kemudian mengambil langkah lintas disiplin dengan menempuh pendidikan Ph.D. in Economics di University of Melbourne, Australia, yang diselesaikannya pada 2005. Perpindahan tersebut terlihat seperti perjalanan dari dua dunia yang berbeda. Teknik Kimia berbicara tentang proses. Ekonomi berbicara tentang manusia, pasar, produksi, konsumsi dan kebijakan. Tetapi keduanya memiliki satu persamaan penting: keduanya bekerja dengan sistem.
Teknik Mengajarkan Cara Melihat Sistem
Dalam Teknik Kimia, perubahan kecil pada satu bagian proses dapat memengaruhi keseluruhan sistem.
Temperatur berubah.
Tekanan berubah.
Laju alir berubah.
Komposisi berubah.
Maka hasil akhir ikut berubah.
Ekonomi bekerja dengan pola yang tidak sepenuhnya berbeda.
Suku bunga berubah.
Investasi dapat berubah.
Harga berubah.
Konsumsi bergerak.
Perdagangan berubah.
Lapangan kerja ikut terpengaruh.
Karena itu, perpindahan Amalia dari teknik menuju ekonomi bukan berarti meninggalkan cara berpikir teknik. Justru kemampuan melihat keterhubungan antarkomponen menjadi modal penting. Teknik mengajarkan bagaimana sebuah sistem bekerja. Ekonomi memperluas pertanyaannya: bagaimana jutaan manusia bekerja di dalam sebuah sistem.
Dari Teknik menuju Perencanaan Pembangunan
Pada 1999, Amalia memasuki Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Di sinilah perjalanan profesionalnya bertemu langsung dengan persoalan pembangunan Indonesia. Perencanaan pembangunan bukan sekadar menyusun dokumen. Ia membutuhkan pemahaman tentang: pertumbuhan ekonomi, investasi, perdagangan, produktivitas, lapangan kerja, pembiayaan, kemiskinan, ketimpangan, hingga perubahan struktur ekonomi. Amalia kemudian mengemban berbagai posisi strategis.
Ia pernah menjadi Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerja Sama Ekonomi Internasional. Kemudian dipercaya menjadi Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik. Dua jabatan tersebut mempertemukan dua perspektif penting. Bagaimana Indonesia berhubungan dengan ekonomi global. Dan bagaimana keadaan ekonomi Indonesia dibaca melalui data.
Dari Perdagangan menuju Analisis Makro
Perdagangan dan investasi membawa seorang perencana melihat dunia dari luar. Apa yang sedang terjadi pada ekonomi global? Ke mana investasi bergerak? Apa yang terjadi pada ekspor dan impor? Bagaimana perubahan ekonomi negara lain memengaruhi Indonesia? Sementara perencanaan makro membawa pertanyaan lain. Bagaimana pertumbuhan ekonomi nasional? Bagaimana konsumsi masyarakat? Bagaimana investasi? Bagaimana inflasi? Bagaimana produktivitas? Bagaimana pembangunan harus diarahkan? Di sinilah data menjadi semakin penting. Karena perencanaan tanpa data mudah berubah menjadi asumsi. Negara sebesar Indonesia tidak dapat direncanakan hanya dengan perasaan. Ia membutuhkan fakta.
Angka.
Analisis.
Dan bukti.
Ketika Data Menjadi Bahasa Pembangunan
Amalia kemudian dipercaya sebagai Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan. Ia juga terlibat dalam kepemimpinan Sekretariat Nasional Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Pada fase berikutnya, ia dipercaya menjadi Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas. Tanggung jawabnya semakin luas. Ekonomi Indonesia tidak dapat dibaca hanya melalui satu indikator. Pertumbuhan tinggi belum tentu berarti seluruh masyarakat merasakan manfaat yang sama. Investasi meningkat belum tentu otomatis menciptakan pekerjaan yang dibutuhkan. Ekspor tumbuh belum tentu selalu menghasilkan nilai tambah terbesar di dalam negeri. Karena itu, pembangunan membutuhkan kemampuan melihat banyak indikator secara bersamaan. Data tidak hanya memberi tahu kita di mana kita berada. Data membantu menjelaskan apakah kita bergerak ke arah yang benar.
Dari Perencanaan menuju Statistik Nasional
Pada 17 Juli 2023, Amalia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik. Perjalanan tersebut menarik. Selama bertahun-tahun ia berada pada sisi yang menggunakan data untuk merencanakan pembangunan. Kemudian ia memasuki institusi yang memiliki tanggung jawab besar untuk menghasilkan statistik resmi negara. Pada 19 Februari 2025, Presiden Republik Indonesia melantiknya sebagai Kepala Badan Pusat Statistik definitif. Amalia menjadi Kepala BPS ke-11.
Perjalanan tersebut membentuk lingkaran pengalaman yang kuat. Dari menggunakan data. Menganalisis data. Merancang kebijakan dengan data. Hingga akhirnya memimpin institusi yang menjaga kualitas data nasional.
Dari Pengguna Data menjadi Penjaga Data
Ada perbedaan besar antara menggunakan data dan bertanggung jawab atas data. Seorang perencana bertanya: Apa yang dikatakan data? Tetapi pemimpin lembaga statistik juga harus bertanya: Apakah data ini berkualitas? Apakah metodologinya benar? Apakah definisinya konsisten? Apakah masyarakat dapat mempercayainya? Apakah data dapat digunakan sebagai dasar kebijakan? Di sinilah ruang tanggung jawab Amalia berubah. Dari membaca angka menjadi menjaga kepercayaan terhadap angka. Karena statistik resmi tidak hanya digunakan oleh pemerintah. Ia digunakan dunia usaha.
Investor.
Akademisi.
Media.
Organisasi internasional.
Dan masyarakat.
Data Adalah Infrastruktur Tak Terlihat
Kita mudah mengenali infrastruktur fisik.
Jalan.
Jembatan.
Pelabuhan.
Bandara.
Jaringan listrik.
Tetapi sebuah negara juga memiliki infrastruktur yang tidak selalu terlihat. Salah satunya adalah data.
Tanpa data yang baik, pemerintah dapat salah menentukan sasaran program. Bantuan dapat tidak tepat sasaran. Investasi dapat salah membaca pasar. Perencanaan wilayah dapat keliru. Dan evaluasi pembangunan menjadi lemah.
Karena itu: data adalah infrastruktur keputusan. Ia mungkin tidak terlihat seperti jalan atau jembatan. Tetapi hampir setiap kebijakan besar membutuhkan data untuk menentukan ke mana harus bergerak.
Memperkuat Profesi Insinyur di UMI
Sebelum memimpin BPS, terdapat satu fase penting yang menghubungkan perjalanan Amalia dengan Universitas Muslim Indonesia. Pada 2021, ia menyelesaikan Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI Angkatan X. Saat itu, kariernya telah sangat matang. Ia telah lama berada di Bappenas. Mengelola berbagai isu perdagangan, investasi, ekonomi makro dan pembangunan nasional. Namun ia kembali memperkuat identitas profesionalnya sebagai insinyur. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keinsinyuran tidak harus selalu berakhir pada pabrik, mesin atau konstruksi. Cara berpikir insinyur dapat hadir dalam berbagai ruang. Termasuk perencanaan pembangunan.
Ekonomi.
Kebijakan publik.
Dan statistik.
Kembali ke UMI Membicarakan Industri Kimia
Hubungan Amalia dengan PSPPI FTI UMI juga tidak berhenti pada status alumni. Pada 9 Oktober 2021, ia tampil sebagai pembicara dalam 9th Professional Engineer Colloquium Program PSPPI FTI UMI. Tema yang dibawakannya: "Industri Kimia sebagai Penggerak Pembangunan Ekonomi Berbasis Bio". Tema tersebut seperti mempertemukan kembali seluruh perjalanan akademiknya.
Teknik Kimia.
Industri.
Teknologi.
Ekonomi.
Dan pembangunan.
Ia membicarakan bagaimana industri kimia dapat berkembang melalui integrasi infrastruktur, digitalisasi proses bisnis, transformasi menuju green chemical, serta pemanfaatan sumber daya berbasis bio. Di sini terlihat satu pesan penting: teknologi memperoleh nilai ekonomi ketika mampu dihubungkan dengan industri, sumber daya dan arah pembangunan.
Teknik dan Ekonomi Tidak Harus Berjalan Sendiri
Ada kecenderungan memisahkan ilmu terlalu tegas. Anak teknik berbicara teknologi. Anak ekonomi berbicara pasar. Anak statistik berbicara data. Anak kebijakan berbicara regulasi. Padahal persoalan pembangunan nyata tidak pernah datang menurut batas fakultas. Membangun industri membutuhkan teknologi. Tetapi juga membutuhkan pasar.
Investasi.
Energi.
SDM.
Logistik.
Regulasi.
Data.
Dan kebijakan.
Karena itu, kemampuan lintas disiplin menjadi semakin penting. Perjalanan Amalia menunjukkan bahwa: disiplin ilmu adalah titik keberangkatan, bukan batas akhir kontribusi.
Membaca Ekonomi sebagai Sebuah Sistem
Latar belakang Teknik Kimia memberi perspektif menarik terhadap pekerjaan ekonomi. Dalam sistem proses, seseorang harus melihat aliran.
Input. Transformasi. Output. Efisiensi. Gangguan. Dan umpan balik. Ekonomi juga memiliki aliran.
Barang.
Jasa.
Modal.
Tenaga kerja.
Investasi.
Informasi.
Dan perdagangan.
Ketika satu bagian berubah, bagian lain dapat ikut bergerak. Karena itu, ekonomi tidak dapat dibaca melalui satu angka. Pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Inflasi saja tidak cukup. Kemiskinan saja tidak cukup. Investasi saja tidak cukup. Semua harus dibaca sebagai bagian dari satu gambaran.
Angka yang berdiri sendiri memberi informasi. Angka yang dihubungkan memberi pemahaman.
Dari Data menuju Keputusan
Kini, sebagai Kepala BPS, Amalia berada pada institusi yang menghasilkan banyak indikator penting Indonesia. Pertumbuhan ekonomi. Inflasi. Kemiskinan. Ketenagakerjaan. Produksi. Perdagangan. Pertanian. Industri. Penduduk. Dan berbagai statistik sosial ekonomi lainnya.
Setiap angka dapat menjadi awal sebuah keputusan. Jika inflasi pangan naik, pemerintah membutuhkan respons. Jika kemiskinan berubah, kebijakan sosial harus dievaluasi. Jika pengangguran meningkat, penciptaan lapangan kerja harus diperkuat. Jika sebuah sektor tumbuh, peluang investasi dapat terbuka. Karena itu: data yang baik tidak membuat keputusan untuk kita. Tetapi data yang baik membuat kita tidak mengambil keputusan dalam gelap.
Mengawal Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional
Salah satu agenda penting yang berada dalam kepemimpinan BPS saat ini adalah penguatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Tujuannya sangat nyata. Program pembangunan membutuhkan sasaran yang jelas. Siapa yang membutuhkan bantuan? Di mana mereka berada? Bagaimana kondisi sosial ekonominya? Program apa yang paling sesuai?
Persoalan tersebut tidak dapat dijawab dengan basis data yang terpisah-pisah dan tidak konsisten. Semakin baik integrasi data, semakin besar peluang kebijakan menjadi lebih tepat sasaran. Di sinilah statistik bertemu langsung dengan pelayanan publik. Satu kesalahan data mungkin terlihat kecil di layar komputer. Tetapi bagi keluarga yang kehilangan akses bantuan karena kesalahan tersebut, dampaknya sangat nyata.
Perempuan Kedua yang Memimpin BPS
Perjalanan Amalia juga memiliki catatan sejarah. Ia menjadi perempuan kedua yang memimpin Badan Pusat Statistik, setelah Sudarti Soerbakti pada periode 2000–2004. Namun seperti pada banyak kisah kepemimpinan perempuan, maknanya sebaiknya tidak berhenti pada kata "kedua". Yang lebih penting adalah semakin terbukanya ruang kepemimpinan publik bagi perempuan dengan kompetensi tinggi.
Teknik.
Ekonomi.
Perencanaan.
Data.
Dan kepemimpinan lembaga nasional.
Semua menjadi bagian dari perjalanan seorang perempuan Indonesia. Kompetensi tidak ditentukan oleh gender. Tanggung jawab diberikan kepada mereka yang mampu menjaganya.
Dari Angka menuju Kepercayaan
BPS menghadapi tantangan yang semakin besar. Masyarakat hidup di era informasi. Angka beredar sangat cepat. Grafik dapat dibuat dalam beberapa detik. AI dapat menghasilkan analisis dalam hitungan saat. Media sosial dapat menyebarkan angka tanpa konteks. Dalam lingkungan seperti itu, tantangan lembaga statistik bukan hanya menghasilkan data. Tetapi menjaga kepercayaan terhadap data. Metodologi harus kuat. Independensi harus dijaga. Kualitas harus konsisten. Penjelasan harus mudah dipahami. Dan data harus semakin mudah diakses. Karena: angka memperoleh kekuatan bukan hanya ketika ia tersedia, tetapi ketika publik percaya bahwa angka itu dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Statistik menuju Masa Depan
Data pada dasarnya selalu berbicara tentang masa lalu dan masa kini. Berapa penduduk yang tercatat. Berapa harga yang berubah. Berapa ekonomi tumbuh. Berapa orang bekerja. Namun data tersebut digunakan untuk membuat keputusan tentang masa depan. Berapa sekolah harus dibangun? Di mana rumah sakit dibutuhkan? Sektor apa yang perlu diperkuat? Wilayah mana yang tertinggal? Berapa kebutuhan pangan? Berapa kebutuhan energi? Artinya: statistik membaca hari ini agar negara dapat mempersiapkan hari esok. Di sinilah data menemukan dampaknya.
UMI dalam Perjalanan Seorang Perencana Nasional
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Amalia memiliki makna tersendiri. Ia bukan alumni sarjana UMI. Hubungannya dengan UMI hadir melalui Program Profesi Insinyur. Tetapi hubungan tersebut justru memperlihatkan karakter pendidikan profesi. Seorang pejabat senior. Doktor ekonomi. Perencana nasional. Dan profesional dengan pengalaman internasional kembali memasuki pendidikan profesi untuk memperkuat kompetensi keinsinyurannya. UMI menjadi salah satu ruang tempat pengalaman profesional tersebut bertemu dengan standar profesi. Dari kampus, pengalaman itu kembali dibawa ke ruang pengabdian yang lebih luas.
Dari Insinyur menuju Penjaga Infrastruktur Data
Jika perjalanan Amalia ditarik menjadi satu garis, transformasinya terlihat jelas. Teknik Kimia mengajarkan sistem. Ekonomi memperluas sistem itu ke masyarakat dan pasar. Bappenas mempertemukannya dengan perencanaan pembangunan. Analisis statistik memperkuat dasar pengambilan keputusan. Program Profesi Insinyur UMI memperkuat identitas profesionalnya. Dan BPS menempatkannya pada tanggung jawab menjaga salah satu fondasi terpenting pembangunan: data yang dapat dipercaya. Inilah mekanisme dampaknya. Dari memahami sistem, menuju merencanakan sistem, kemudian memastikan sistem memiliki data untuk mengambil keputusan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. Amalia Adininggar Widyasanti, S.T., M.Si., M.Eng., Ph.D. memulai perjalanan dari Teknik Kimia. Kemudian bergerak menuju ekonomi. Dari ekonomi menuju perdagangan dan investasi. Dari sana menuju perencanaan pembangunan. Dari perencanaan menuju analisis statistik. Di tengah perjalanan tersebut, ia memperkuat profesi keinsinyurannya melalui Program Profesi Insinyur FTI UMI Angkatan X tahun 2021. Kini ia memimpin Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Perjalanannya menunjukkan bahwa dampak seorang insinyur tidak selalu hadir dalam bentuk benda yang dapat disentuh.
Tidak selalu pabrik.
Tidak selalu mesin.
Tidak selalu jembatan.
Kadang dampaknya hadir dalam angka yang dapat dipercaya. Angka yang membantu pemerintah memahami keadaan. Angka yang membantu dunia usaha mengambil keputusan. Angka yang membantu akademisi membaca perubahan. Dan angka yang membantu Indonesia melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih.
Dari teknik menuju ekonomi. Dari ekonomi menuju perencanaan. Dari perencanaan menuju data. Dan dari data menuju keputusan.
Karena negara yang ingin menentukan masa depannya harus terlebih dahulu mampu membaca dirinya sendiri. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































