Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ir. Gembong Primadjaja: Dari Program Profesi Insinyur UMI, Membangun Infrastruktur LNG untuk Akses Energi Indonesia
Berangkat dari Teknik Mesin, Ir. Gembong Primadjaja, S.T., M.B.A. membangun perjalanan profesional di persimpangan teknologi, kebijakan energi, logistik dan infrastruktur gas. Alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia Angkatan XI ini pernah terlibat dalam percepatan konversi BBM ke gas, pengembangan infrastruktur LNG, hingga memimpin perusahaan di sektor transportasi dan logistik energi.
MAKASSAR, umi.ac.id — Memiliki sumber energi belum berarti energi itu dapat langsung digunakan. Gas bisa tersedia di satu pulau. Pembangkit berada di pulau lain. Industri berada ratusan kilometer dari sumbernya. Di antara keduanya ada laut, pelabuhan, kapal, terminal, penyimpanan, fasilitas regasifikasi, jaringan distribusi, investasi, regulasi, dan teknologi. Di ruang antara "energi tersedia" dan "energi dapat digunakan" itulah infrastruktur bekerja. Dan di ruang itulah sebagian besar perjalanan profesional Ir. Gembong Primadjaja, S.T., M.B.A. berkembang.
Ia memulai dari Teknik Mesin. Masuk ke dunia energi. Terlibat dalam kebijakan konversi bahan bakar minyak ke gas. Membangun dan mengembangkan infrastruktur LNG. Bergerak di sektor perkapalan dan logistik. Kemudian membawa pengalaman tersebut ke ruang kepemimpinan korporasi. Di tengah perjalanan itu, pada 2022 ia juga memperkuat profesi keinsinyurannya melalui Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) Angkatan XI.
Berawal dari Teknik Mesin
Gembong Primadjaja merupakan alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung. Ia masuk ITB pada angkatan 1986 dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 1992. Pendidikan teknik tersebut kemudian diperkuat dengan Master of Business Administration dari Rutgers University, Amerika Serikat. Kombinasi teknik dan manajemen menjadi bekal penting bagi perjalanan profesionalnya. Karena persoalan energi tidak hanya membutuhkan mesin yang mampu bekerja. Ia membutuhkan pembiayaan.
Model bisnis.
Infrastruktur.
Logistik.
Regulasi.
Dan kemampuan membuat seluruh bagian tersebut bekerja sebagai satu sistem.
Di sinilah perjalanan Gembong mulai berkembang dari kemampuan teknis menuju pemahaman sistem energi.
Energi Harus Bergerak
Ada satu persoalan mendasar dalam sektor energi. Energi sering berada jauh dari tempat energi itu dibutuhkan. Gas bumi dapat diproduksi di satu wilayah. Sementara pembangkit, industri dan masyarakat yang membutuhkan berada di wilayah lain.
Karena itu, persoalan energi bukan hanya: berapa banyak sumber daya yang dimiliki? Tetapi juga: bagaimana sumber daya itu dipindahkan, disimpan, diubah kembali dan sampai kepada pengguna dengan biaya yang masuk akal?
Pertanyaan tersebut membawa keinsinyuran menuju dunia infrastruktur.
Pipa.
Kapal.
Terminal.
Storage.
Regasifikasi.
Pelabuhan.
Dan sistem logistik.
Di sinilah akses energi sesungguhnya dibangun.
Dari Konversi BBM menuju Gas
Salah satu fase penting perjalanan Gembong berada pada agenda konversi energi Indonesia. Pada periode 2011–2015, ia terlibat sebagai Sekretaris Tim Percepatan Konversi BBM ke BBG di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kemudian pada 2015–2016, ia menjalankan tugas sebagai staf senior pengembangan infrastruktur di Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Pada 2017, ia kembali dipercaya sebagai Ketua Tim Percepatan Konversi BBM ke BBG. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perubahan sumber energi bukan persoalan sederhana. Mengatakan "Kita pindah dari BBM ke gas" dapat selesai dalam satu kalimat. Tetapi implementasinya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Harus tersedia gas. Transportasinya. Storage. Terminal. Regasifikasi. Peralatan pengguna. Regulasi. Investasi. Dan kepastian pasar. Karena itu: transisi energi tidak terjadi hanya karena sumber energinya tersedia. Transisi terjadi ketika infrastrukturnya juga siap.
Ketika Kebijakan Bertemu Infrastruktur
Pengalaman Gembong dalam program konversi energi memberikan satu perspektif penting. Kebijakan dapat menentukan arah. Tetapi infrastruktur menentukan apakah arah tersebut dapat dijalankan. Jika pemerintah ingin meningkatkan penggunaan gas, maka harus ada fasilitas yang membuat gas sampai kepada pengguna. Di sinilah teknologi bertemu kebijakan. Dan di sinilah seorang insinyur berhadapan dengan pertanyaan yang sangat nyata: bagaimana sebuah keputusan energi dapat diwujudkan di lapangan? Kebijakan memberi tujuan. Keinsinyuran membangun jalan agar tujuan itu dapat dicapai.
Memasuki Logistik Energi
Perjalanan tersebut kemudian membawa Gembong menuju PT Pelindo Energi Logistik. Ia dipercaya menjadi Direktur sejak 2014 dan kemudian Managing Director pada periode berikutnya. Lingkungan Pelindo memberikan ruang yang sangat relevan bagi pengembangan LNG. Indonesia adalah negara kepulauan. Karena itu, distribusi energi tidak selalu dapat mengandalkan jaringan pipa. Laut justru dapat menjadi jalur energi.
Gas alam dicairkan menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) sehingga volumenya menjadi jauh lebih kecil dan lebih memungkinkan untuk diangkut menggunakan kapal. Setelah tiba di lokasi tujuan, LNG disimpan dan dikembalikan menjadi gas melalui proses regasifikasi. Dari sinilah konsep small-scale LNG menjadi relevan untuk Indonesia.
Ketika Laut Menjadi Jalur Energi
Bagi negara kepulauan, laut tidak semestinya hanya dilihat sebagai pemisah. Laut juga dapat menjadi penghubung.
LNG memungkinkan gas bergerak dari sumber produksi menuju pulau atau wilayah yang tidak terhubung jaringan pipa. Kapal menjadi bagian dari rantai energi. Pelabuhan menjadi simpul. Terminal menjadi penghubung. Dan teknologi penyimpanan serta regasifikasi memungkinkan gas digunakan kembali untuk pembangkit atau industri. Dengan cara ini, keinsinyuran menjawab karakter geografis Indonesia. Jika pipa tidak dapat menjangkau seluruh Indonesia, laut dapat menjadi bagian dari jaringan energinya.
Mini LNG Terminal Benoa
Salah satu proyek penting yang terkait dengan perjalanan Gembong berada di Bali. Pada 2016, PT Pelindo Energi Logistik bersama mitranya mengembangkan fasilitas Mini LNG Terminal di Benoa untuk mendukung pasokan gas ke pembangkit Pesanggaran.
LNG diangkut dari Bontang menggunakan kapal. Kemudian disimpan dalam Floating Storage Unit (FSU). Setelah itu LNG diregasifikasi melalui Floating Regasification Unit (FRU). Gas hasil regasifikasi kemudian digunakan untuk pembangkit. Rantai tersebut terlihat sederhana ketika ditulis. Tetapi sebenarnya mempertemukan banyak disiplin.
Teknik.
Perkapalan.
Pelabuhan.
Keselamatan.
Logistik.
Energi.
Keuangan.
Dan operasi.
Presiden Joko Widodo pada Juni 2016 bahkan meninjau langsung pengoperasian sistem tersebut. Saat itu, perpindahan penggunaan diesel menuju gas pada PLTDG Pesanggaran disebut memberikan potensi penghematan biaya energi yang sangat besar. Di sinilah sebuah infrastruktur memperoleh makna. Bukan karena bentuknya semata. Tetapi karena ia membuat pilihan energi yang sebelumnya sulit menjadi mungkin.
Dari Teknologi menuju Penghematan
Setiap pilihan energi memiliki konsekuensi ekonomi. Jika pembangkit menggunakan bahan bakar yang mahal, biaya sistem ikut meningkat. Jika bahan bakar yang lebih efisien tersedia tetapi tidak memiliki infrastruktur distribusi, manfaatnya tidak dapat dirasakan.
Karena itu, infrastruktur LNG menjadi penghubung antara dua dunia: sumber energi dan nilai ekonomi. Teknologi transportasi dan regasifikasi memungkinkan gas menggantikan bahan bakar yang lebih mahal pada kondisi tertentu. Dampaknya kemudian dapat bergerak lebih jauh.
Efisiensi pembangkitan.
Penghematan.
Daya saing industri.
Dan pada akhirnya pelayanan energi.
Teknologi baru benar-benar menjadi inovasi ketika manfaatnya dapat sampai kepada pengguna.
Membangun Infrastruktur LNG
Gembong kemudian terlibat dalam berbagai upaya pengembangan infrastruktur LNG. Pada 2016, PT Pelindo Energi Logistik di bawah keterlibatan kepemimpinannya juga menjalin kerja sama internasional untuk pengembangan infrastruktur gas alam cair. Pengalaman tersebut menempatkannya pada persimpangan berbagai kepentingan.
Teknologi.
Pembiayaan.
Investasi.
Logistik.
Pembangunan pelabuhan.
Dan kebutuhan energi nasional.
Karena pembangunan infrastruktur energi membutuhkan biaya yang sangat besar. Tidak setiap proyek dapat sepenuhnya mengandalkan anggaran pemerintah. Diperlukan kemitraan. Model bisnis. Dan kepastian ekonomi proyek. Di sinilah pengalaman MBA dan teknik kembali bertemu. Seorang insinyur harus memahami apakah sistem dapat dibangun. Seorang pengelola bisnis harus memastikan sistem tersebut juga dapat dibiayai dan dipertahankan.
Dari Pelindo menuju Perta Daya Gas
Perjalanan profesional Gembong kemudian berkembang menuju ruang yang lebih luas. Pada 2018, ia menjadi Senior Staff LNG and Power Plants di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Ia juga memiliki pengalaman di PT Indonesia Power. Selanjutnya, pada periode 2018–2020, ia berada dalam jajaran pimpinan PT Perta Daya Gas. Pengalaman ini semakin mempertemukannya dengan hubungan antara gas dan ketenagalistrikan. Gas bukan sekadar komoditas. Ia menjadi bahan bakar pembangkit. Karena itu, kegagalan rantai pasok gas dapat menjadi persoalan kelistrikan. Sebaliknya, infrastruktur gas yang baik dapat memperluas pilihan energi pembangkitan.
Di sektor energi, satu sistem jarang berdiri sendiri. Gas terhubung dengan pelabuhan. Pelabuhan terhubung dengan kapal. Kapal terhubung dengan terminal. Terminal terhubung dengan pembangkit. Pembangkit terhubung dengan jaringan. Dan jaringan terhubung dengan masyarakat.
Energi Adalah Masalah Rantai
Di sinilah perjalanan Gembong memiliki mekanisme dampak yang berbeda dari profil alumni lainnya. Fokusnya bukan hanya menghasilkan energi. Tetapi memahami rantai yang membuat energi dapat digunakan. Jika satu mata rantai terputus, seluruh sistem dapat terganggu.
Sumber gas boleh tersedia. Tetapi tanpa transportasi, ia tidak bergerak. Kapal tersedia. Tetapi tanpa terminal, LNG tidak dapat ditangani. Terminal tersedia. Tetapi tanpa regasifikasi, LNG tidak dapat digunakan sebagai gas. Gas tersedia. Tetapi tanpa pembangkit atau pengguna, tidak ada nilai ekonomi. Karena itu: ketahanan energi juga ditentukan oleh kekuatan rantai yang menghubungkan sumber energi dengan penggunanya.
Kembali ke Kampus melalui Program Profesi Insinyur UMI
Pada 2022, setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia energi dan infrastruktur, Gembong kembali memasuki ruang pendidikan. Ia mengikuti dan menyelesaikan Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia Angkatan XI.
Saat itu, ia bukan insinyur muda. Ia telah memiliki pengalaman panjang di pemerintahan.
Industri.
Logistik.
Energi.
Perkapalan.
Dan pembangunan infrastruktur LNG.
Namun pengalaman tidak membuat pembelajaran profesi berhenti. Karena profesi insinyur bukan hanya tentang pengalaman teknis. Ia juga membawa standar. Etika. Keselamatan. Tanggung jawab. Kompetensi. Dan kewajiban mempertimbangkan dampak sebuah keputusan teknik terhadap masyarakat. Di sinilah UMI menjadi salah satu bagian dari perjalanan profesionalnya.
Kampus sebagai Tempat Profesional Kembali Belajar
Perjalanan Gembong memperlihatkan satu karakter penting Program Profesi Insinyur. Kampus tidak selalu menjadi tempat seseorang datang sebelum bekerja. Kadang kampus menjadi tempat seseorang kembali setelah puluhan tahun bekerja.
Membawa pengalaman.
Membawa persoalan dunia nyata.
Membawa proyek.
Membawa keberhasilan.
Bahkan membawa kegagalan yang pernah menjadi pelajaran. Pengalaman itu kemudian bertemu dengan kerangka profesi. Dan setelah proses pendidikan selesai, profesional kembali menuju ruang pengabdian masing-masing. Belajar tidak selalu datang sebelum pengalaman. Kadang pengalaman justru membawa seseorang kembali untuk belajar.
Dari PPI UMI menuju Kepemimpinan Korporasi
Setelah menyelesaikan Program Profesi Insinyur UMI, perjalanan Gembong terus berkembang di dunia usaha. Ia memiliki pengalaman pada perusahaan perkapalan dan kemudian, pada 15 Agustus 2024, dipercaya menjadi Direktur Utama PT GTS Internasional Tbk. Perusahaan tersebut bergerak dalam ekosistem transportasi dan logistik LNG. Posisi tersebut mempertemukan kembali berbagai pengalaman yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Teknik Mesin.
LNG.
Perkapalan.
Logistik.
Infrastruktur.
Manajemen.
Dan bisnis energi.
Ia menjalankan amanah sebagai Direktur Utama GTS Internasional hingga April 2025. Walaupun jabatan tersebut telah berakhir, fase ini memperlihatkan satu pola yang konsisten dalam perjalanan profesionalnya: energi dan infrastruktur tetap menjadi benang merah.
Dari Kebijakan menuju Eksekusi
Ada orang yang bekerja menyusun kebijakan. Ada yang membangun fasilitas. Ada yang menjalankan perusahaan. Perjalanan Gembong pernah bersinggungan dengan ketiganya. Di pemerintahan, ia memahami bagaimana arah konversi energi dirancang. Di dunia infrastruktur, ia melihat bagaimana teknologi dibangun. Di perusahaan, ia memahami bagaimana sistem tersebut harus memiliki model bisnis agar dapat terus berjalan.
Tiga pengalaman itu memberikan sudut pandang yang berbeda. Kebijakan tanpa infrastruktur sulit diwujudkan. Infrastruktur tanpa model bisnis sulit bertahan. Dan bisnis energi tanpa manfaat publik kehilangan alasan strategisnya. Ketiganya harus bertemu.
Energi Berbasis Sumber Daya Lokal
Perjalanan Gembong juga membawa perhatian terhadap pemanfaatan sumber daya lokal. Indonesia memiliki sumber energi di banyak wilayah. Namun sumber daya tersebut belum tentu berada dekat dengan pusat konsumsi. Karena itu, tantangan yang sesungguhnya bukan hanya menemukan sumber daya. Tetapi membangun sistem agar sumber daya tersebut memberikan nilai tambah.
Bagi daerah.
Industri.
Masyarakat.
Dan ekonomi nasional.
Sumber daya baru menjadi kekuatan ketika dapat diubah menjadi manfaat. Infrastruktur menjadi salah satu penghubungnya.
LNG dan Masa Transisi Energi
Peran gas dalam masa depan energi terus berkembang. Indonesia pada saat yang sama harus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar yang lebih tinggi emisinya. Dalam proses transisi tersebut, gas pada berbagai sistem masih dapat mengambil peran sebagai energi transisi. Namun penggunaannya harus semakin efisien dan tetap ditempatkan dalam arah jangka panjang menuju sistem energi yang semakin rendah karbon. Bagi insinyur, perubahan ini berarti satu hal: teknologi yang relevan hari ini belum tentu sama dengan teknologi yang dominan dua puluh tahun mendatang. Karena itu, kompetensi harus terus bergerak.
Infrastruktur Bukan Tujuan Akhir
Pembangunan terminal bukan tujuan. Pembangunan kapal bukan tujuan. Pembangunan fasilitas regasifikasi juga bukan tujuan. Semua adalah alat.
Pertanyaan akhirnya tetap sederhana: untuk apa infrastruktur itu dibangun? Jika jawabannya adalah membuat energi lebih tersedia, lebih efisien, mendukung pembangkit, memperkuat industri dan memberi manfaat kepada masyarakat, maka infrastruktur tersebut telah menemukan maknanya.
Infrastruktur terbaik bukan yang paling besar. Infrastruktur terbaik adalah yang membuat manfaat dapat sampai. Inilah pesan yang paling kuat dari perjalanan Gembong.
Dari Infrastruktur menuju Akses
Jika perjalanan Gembong ditarik menjadi satu garis, mekanismenya terlihat jelas. Ilmu teknik memberinya kemampuan memahami teknologi. Kebijakan energi memperluas cara melihat kebutuhan nasional. Logistik mengajarkan bagaimana energi bergerak. Infrastruktur membuat perpindahan itu mungkin. Bisnis membuat sistem dapat bertahan. Dan seluruh rantai tersebut akhirnya bermuara pada satu kata: akses. Karena energi yang tersedia tetapi tidak dapat dijangkau belum sepenuhnya menjadi manfaat. Di sinilah keinsinyuran menemukan dimensi sosialnya. Tugas insinyur tidak selesai ketika sistem berhasil dibangun. Tugas itu memperoleh makna ketika sistem tersebut membuat kehidupan manusia bekerja lebih baik.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. Gembong Primadjaja, S.T., M.B.A. telah melalui perjalanan dari Teknik Mesin menuju berbagai ruang energi Indonesia. Ia terlibat dalam percepatan konversi BBM ke gas. Pengembangan infrastruktur. Logistik energi. LNG. Perkapalan. Pembangkit. Hingga kepemimpinan korporasi.
Pada 2022, perjalanan tersebut bersinggungan dengan Program Profesi Insinyur FTI UMI Angkatan XI. Ia kembali ke pendidikan untuk memperkuat dimensi profesinya sebagai insinyur. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa persoalan energi tidak selesai ketika sumber daya ditemukan. Energi harus bergerak. Harus disimpan. Harus didistribusikan. Harus diubah. Dan akhirnya harus sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Dari teknik menuju kebijakan. Dari kebijakan menuju infrastruktur. Dari infrastruktur menuju distribusi. Dari distribusi menuju akses.
Dan dari akses, menuju manfaat.
Itulah perjalanan keinsinyuran ketika teknologi tidak berhenti pada fasilitas. Teknologi bergerak sampai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































