Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ir. Taufik Aditiyawarman: Dari Program Profesi Insinyur UMI, Memimpin Kilang Minyak untuk Ketahanan Energi Nasional
Lebih dari tiga dekade meniti industri minyak dan gas dari hulu hingga hilir, Ir. Taufik Aditiyawarman, M.M., PMP, IPU. memperkuat kompetensi profesinya melalui Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia. Kini, ia memimpin PT Kilang Pertamina Internasional, salah satu mata rantai strategis dalam menjaga ketahanan energi Indonesia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Setiap hari, jutaan aktivitas masyarakat bergantung pada energi. Kendaraan bergerak, pesawat terbang, industri berproduksi, barang didistribusikan, dan berbagai kegiatan ekonomi berjalan. Di belakang aktivitas tersebut terdapat sistem energi yang panjang dan kompleks. Salah satu bagian pentingnya adalah kilang yang mengolah bahan baku menjadi berbagai produk yang dibutuhkan masyarakat dan industri.
Di salah satu mata rantai strategis itulah Ir. Taufik Aditiyawarman, M.M., PMP, IPU., alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (UMI), kini mengemban tanggung jawab. Ia dipercaya sebagai Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).
Perjalanan menuju posisi tersebut tidak berlangsung singkat. Lebih dari tiga dekade, Taufik menempuh pengalaman di industri minyak dan gas — dari proyek, fasilitas produksi, operasi, sektor hulu, kemudian bergerak menuju hilir, hingga akhirnya memimpin perusahaan yang mengelola salah satu bagian penting industri pengolahan energi nasional.
Berawal dari Teknik Mesin
Fondasi keinsinyuran Taufik dibangun melalui pendidikan Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diselesaikannya pada 1992. Namun pendidikan teknik hanyalah awal. Perjalanan profesional yang semakin kompleks membuat kompetensi manajemen, kepemimpinan, dan pengelolaan proyek juga menjadi penting.
Taufik kemudian menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Indonesia. Ia juga memperkuat kompetensi melalui sertifikasi Project Management Professional (PMP), pendidikan Managing Projects di University of Manchester, serta Executive Development Program di Wharton Business School.
Kombinasi tersebut membentuk tiga lapisan kemampuan: teknik, proyek, dan kepemimpinan. Ketiganya kemudian terus diuji melalui perjalanan panjangnya di industri energi.
Kembali ke Pendidikan Profesi di UMI
Ada satu fase penting yang mempertemukan perjalanan profesional Taufik dengan Universitas Muslim Indonesia. Setelah puluhan tahun berkecimpung di industri minyak dan gas, pada 2022 ia mengikuti Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI Angkatan XII.
Pada fase itu, Taufik bukan seseorang yang baru memasuki dunia kerja. Ia telah memiliki pengalaman panjang dalam proyek, operasi, fasilitas produksi, serta kepemimpinan perusahaan energi. Namun pengalaman panjang tidak membuat pendidikan profesi kehilangan relevansi. Justru di situlah terdapat pesan penting: pengalaman membuat seorang insinyur semakin matang, dan pendidikan profesi menjaga agar kematangan itu tetap berdiri di atas kompetensi, etika, dan tanggung jawab profesional.
Program Profesi Insinyur UMI menjadi bagian dari perjalanan tersebut — bukan sebagai titik awal karier Taufik, tetapi sebagai salah satu ruang penguatan profesi ketika tanggung jawabnya telah berkembang semakin besar.
Menyeberangi Hulu dan Hilir Energi
Salah satu kekuatan perjalanan Taufik adalah pengalaman yang tidak berhenti pada satu sisi industri minyak dan gas. Ia pernah berada di sektor hulu melalui berbagai posisi strategis: Vice President Project Pertamina Hulu Energi ONWJ, Vice President Surface Facilities Pertamina EP, Direktur Pengembangan Pertamina EP Cepu, Direktur Operasi dan Produksi Pertamina Hulu Energi, hingga Direktur Pengembangan dan Produksi Pertamina Hulu Energi.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan pencarian dan produksi sumber daya energi, pengembangan lapangan, fasilitas produksi, proyek, keselamatan, teknologi, serta pengelolaan operasi. Kemudian perjalanan profesionalnya bergerak menuju sisi hilir — ia dipercaya memimpin PT Kilang Pertamina Internasional.
Perpindahan tersebut membuat pengalaman Taufik memiliki perspektif yang relatif lengkap terhadap perjalanan energi: dari bagaimana sumber energi diproduksi, hingga bagaimana bahan baku tersebut diolah menjadi produk yang dibutuhkan masyarakat. Dari hulu ia memahami bagaimana energi dihasilkan. Di hilir, ia memimpin bagaimana energi diolah menjadi manfaat.
Memimpin Kilang Pertamina Internasional
Taufik dipercaya sebagai Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional sejak Maret 2022. Sebagai Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, KPI memiliki peran penting dalam bisnis pengolahan minyak bumi dan bahan baku lainnya menjadi produk bahan bakar, pelumas, petrokimia, serta berbagai produk bernilai tambah.
Skala tersebut membuat kepemimpinan di industri kilang memiliki tantangan tersendiri. Operasi harus berjalan, keselamatan harus dijaga, keandalan fasilitas harus dipertahankan, efisiensi harus terus diperbaiki, bisnis harus berkembang. Dan pada saat yang sama, industri energi harus mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi serta tuntutan keberlanjutan.
Dalam kepemimpinannya, Taufik menekankan tiga fokus: HSSE Excellence, Operation Excellence, dan Business Excellence. Tiga hal tersebut menunjukkan bahwa industri energi tidak dapat hanya mengejar produksi — produksi harus aman, operasi harus andal, dan perusahaan harus mampu menciptakan nilai secara berkelanjutan.
Lebih dari 330 Juta Barel Bahan Baku Diolah
Skala tanggung jawab tersebut terlihat dari kinerja operasional KPI. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, total bahan baku yang diolah KPI mencapai lebih dari 330 juta barel. Capaian itu disampaikan Taufik dalam Town Hall Meeting KPI di Jakarta pada 30 Januari 2026.
Angka tersebut membantu memperlihatkan besarnya skala operasi yang berada dalam lingkup kepemimpinannya. Namun dalam industri energi, angka produksi bukan satu-satunya ukuran. Ada keandalan, keselamatan, efisiensi, kualitas produk, pasar, lingkungan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan energi. Karena itu, tantangan kepemimpinan kilang bukan hanya memastikan fasilitas terus bekerja — kilang harus aman untuk pekerja, andal untuk negara, efisien untuk perusahaan, dan adaptif terhadap masa depan energi.
Ketika Insinyur Menyelesaikan Persoalan
Perjalanan Taufik juga memperlihatkan salah satu karakter penting profesi insinyur: menyelesaikan persoalan nyata. Salah satu pengalaman teknis yang menonjol adalah proyek Synchronized Jack Up Offshore Lima Platform Complex. Proyek tersebut berkaitan dengan penanganan platform lepas pantai yang mengalami dampak penurunan permukaan. Solusi teknis dilakukan melalui pengangkatan tersinkronisasi terhadap empat platform dan jembatan yang saling terhubung.
Pekerjaan seperti itu memperlihatkan bahwa dalam dunia keinsinyuran, sebuah persoalan tidak cukup hanya diketahui. Ia harus dianalisis, risikonya dihitung, solusinya dirancang, pekerjaannya dikelola, keselamatan dijaga. Dan hasil akhirnya harus benar-benar bekerja. Insinyur tidak berhenti pada pertanyaan "apa masalahnya?", tetapi bergerak sampai "bagaimana masalah itu diselesaikan dengan aman dan dapat dipertanggungjawabkan?"
Dari Proyek Menuju Kepemimpinan
Ada perubahan menarik dalam perjalanan seorang insinyur ketika tanggung jawabnya semakin besar. Pada awal karier, seseorang mungkin bertanggung jawab terhadap satu pekerjaan, kemudian satu proyek, lalu satu fasilitas, berikutnya satu operasi, dan akhirnya sebuah organisasi besar. Pada setiap tahap, persoalan menjadi semakin kompleks.
Ketika menjadi pemimpin perusahaan, keputusan tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek teknis. Ada manusia, keuangan, teknologi, keselamatan, lingkungan, pasar, regulasi, reputasi, dan kepentingan nasional. Di titik inilah kompetensi teknik harus bertemu dengan kepemimpinan. Semakin tinggi tanggung jawab seorang insinyur, semakin luas sistem yang harus dipahaminya.
Inovasi Tidak Boleh Berhenti di Laboratorium
Budaya inovasi juga menjadi bagian penting dalam industri kilang. Di lingkungan KPI, inovator dari Kilang Dumai, Cilacap, dan Balongan pernah meraih medali serta Special Awards dalam ajang IENA 2024 di Jerman.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat tumbuh dari persoalan operasional sehari-hari — efisiensi, keandalan, keselamatan, pemanfaatan sumber daya, dan perbaikan proses. Dalam industri besar, inovasi tidak selalu harus berupa teknologi yang sepenuhnya baru. Perbaikan yang mampu membuat operasi lebih aman, lebih efisien, lebih andal, dan lebih berkelanjutan juga memiliki nilai yang besar. Karena itu, budaya keinsinyuran dan budaya inovasi memiliki hubungan yang sangat dekat — keduanya dimulai dari kemampuan melihat masalah dan keberanian mencari cara yang lebih baik untuk menyelesaikannya.
Kilang dan Ketahanan Energi
Bagi masyarakat, kilang mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun produk yang dihasilkannya berada sangat dekat dengan kehidupan. Energi menggerakkan transportasi, menopang industri, mendukung logistik, dan menjadi bagian dari berbagai aktivitas ekonomi.
Karena itu, keandalan kilang memiliki hubungan dengan ketahanan energi. Jika fasilitas pengolahan berjalan dengan aman dan optimal, rantai pasok energi menjadi lebih kuat. Jika kilang semakin efisien dan adaptif, kemampuan industri energi nasional juga semakin baik. Di sinilah pekerjaan seorang insinyur bertemu dengan kepentingan yang jauh lebih luas. Sebuah kilang memang mengolah bahan baku, tetapi pada skala nasional, yang dijaga adalah keberlangsungan aktivitas jutaan manusia.
Dari Air Laut hingga Hilirisasi
Kepemimpinan industri energi juga menuntut kemampuan melihat peluang di luar proses utama. Pada awal 2026, KPI menjajaki kerja sama pengolahan air laut di Kilang Balikpapan untuk pengembangan produksi garam. Langkah tersebut menunjukkan bagaimana infrastruktur industri dapat dilihat tidak hanya dari fungsi utamanya, tetapi juga dari peluang menciptakan nilai tambah. KPI juga terus memperluas pasar berbagai produk hasil pengolahan.
Dalam konteks yang lebih luas, industri kilang berada di tengah perubahan besar. Indonesia mendorong hilirisasi, kebutuhan energi terus berkembang, teknologi berubah, dan transisi energi menuntut perusahaan pengolahan untuk semakin adaptif. Karena itu, pemimpin industri energi tidak cukup hanya menjaga operasi hari ini — ia juga harus mempersiapkan perusahaan menghadapi kebutuhan masa depan.
Dari Keinsinyuran Menuju Kepemimpinan Strategis
Perjalanan Taufik memperlihatkan bahwa profesi insinyur dapat berkembang jauh melampaui fungsi teknis. Teknik Mesin menjadi fondasi, proyek membentuk kemampuan eksekusi, pengalaman hulu memperkuat pemahaman produksi, manajemen memperluas perspektif, pengalaman hilir mempertemukannya dengan pengolahan dan pasar. Program Profesi Insinyur UMI memperkuat perjalanan profesional keinsinyurannya. Dan kepemimpinan perusahaan menempatkannya pada tanggung jawab yang semakin strategis.
Pada 2024, kiprahnya juga memperoleh pengakuan melalui penghargaan The Best Chief Executive Officer 2024 pada GRC & Performance Excellence Award. Di luar korporasi, Taufik memiliki keterlibatan dalam organisasi dan komunitas profesi, termasuk lingkungan keinsinyuran dan manajemen proyek.
Seluruh perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi teknis dan kepemimpinan bukan dua hal yang harus dipisahkan. Justru industri strategis membutuhkan keduanya.
UMI dan Profesional yang Kembali ke Kampus
Kehadiran Taufik dalam Program Profesi Insinyur UMI juga memberikan perspektif penting tentang pendidikan tinggi. Tidak semua mahasiswa profesi datang ketika perjalanan kariernya baru dimulai. Sebagian datang setelah memiliki pengalaman bertahun-tahun. Mereka membawa pengalaman industri ke kampus. Kampus mempertemukan pengalaman tersebut dengan kerangka profesi, kompetensi, etika, dan tanggung jawab keinsinyuran. Kemudian mereka kembali ke dunia profesional dengan perspektif yang semakin kuat.
Di sinilah pendidikan sepanjang hayat memperoleh makna. Kampus bukan hanya tempat memulai karier — kampus juga dapat menjadi tempat seorang profesional kembali memperkuat dirinya di tengah perjalanan karier. Taufik adalah salah satu contohnya. Ia masuk Program Profesi Insinyur UMI setelah memiliki pengalaman panjang di industri energi. Dan perjalanan profesional tersebut kemudian berlanjut pada tanggung jawab memimpin salah satu perusahaan strategis dalam rantai energi nasional.
Dari Hulu ke Hilir, dari Profesi ke Dampak
Jika perjalanan Taufik ditarik menjadi satu garis, terlihat sebuah proses panjang: Teknik Mesin, proyek, fasilitas produksi, hulu minyak dan gas, manajemen, Program Profesi Insinyur UMI, hilir, kemudian kepemimpinan industri kilang.
Namun serial DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK tidak berhenti pada daftar jabatan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa dampak dari ilmu dan pengalaman tersebut? Dalam konteks Taufik, dampaknya berada pada skala industri — pada proyek yang dapat beroperasi lebih lama, pada fasilitas yang harus tetap aman, pada operasi yang harus tetap andal, pada inovasi yang meningkatkan kinerja, pada kilang yang mengolah ratusan juta barel bahan baku, dan pada sistem energi yang menopang aktivitas masyarakat serta perekonomian nasional.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. Taufik Aditiyawarman, M.M., PMP, IPU. membangun perjalanan profesionalnya selama lebih dari tiga dekade: dari Teknik Mesin menuju proyek energi, dari fasilitas produksi menuju kepemimpinan, dari hulu menuju hilir. Dan di tengah perjalanan panjang tersebut, ia kembali ke ruang pendidikan melalui Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI.
Hari ini, ia memimpin PT Kilang Pertamina Internasional. Sebuah tanggung jawab yang tidak hanya berbicara tentang perusahaan, tetapi juga keselamatan, keandalan operasi, inovasi, hilirisasi, dan ketahanan energi.
Perjalanan tersebut memberikan satu pesan penting: keinsinyuran bukan hanya kemampuan membangun sesuatu. Keinsinyuran adalah tanggung jawab memastikan apa yang dibangun, dioperasikan, dan dikembangkan benar-benar bekerja untuk kehidupan manusia.
Dari hulu memahami sumber energi. Dari hilir mengawal pengolahannya. Dari pengalaman membangun kompetensi. Dari profesi menjaga tanggung jawab. Dan dari kepemimpinan memperluas manfaat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































