Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muh. Aswad, S.Kom.I., M.Sos., ASN Dosen dan Sekretaris Prodi KPI STAIN Majene: Dari FAI UMI Menggerakkan Literasi Akademik dan Membina Generasi
Makassar, umi.ac.id — Kampus bukan sekadar tempat mendapatkan gelar. Kampus adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, jejaring, dan keberanian mengambil peran yang kelak menentukan bagaimana seorang alumni memberi manfaat kepada masyarakat.
Perjalanan itu tercermin dalam sosok Muh. Aswad, S.Kom.I., M.Sos., alumnus Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam, Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dari ruang kuliah KPI FAI UMI, Aswad kemudian memilih jalan pengabdian di dunia pendidikan tinggi Islam. Kini ia merupakan ASN/PNS, dosen tetap, sekaligus Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Majene, Sulawesi Barat.
UMI Menjadi Ruang Menempa Diri
Aswad memulai pendidikan di Fakultas Agama Islam UMI pada 2010 dengan memilih Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Masa mahasiswa tidak hanya ia habiskan di ruang kuliah. Ia aktif menempa kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kepekaan sosial melalui berbagai organisasi internal maupun eksternal kampus.
Aktivitas tersebut memperluas ruang belajarnya. Salah satu pengalamannya adalah keterlibatan dalam kegiatan pencegahan terorisme bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan.
Pengalaman organisasi yang dipadukan dengan pendidikan komunikasi dan penyiaran Islam membentuk fondasi penting bagi perjalanan profesionalnya. Dari UMI, ia belajar bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara. Komunikasi adalah kemampuan menghadirkan pengetahuan agar dapat dipahami, dipercaya, dan memberi manfaat.
Menjadi ASN dan Mengabdi sebagai Dosen
Perjalanan berikutnya membawa Aswad semakin dekat dengan dunia akademik. Pada 2020, ia dinyatakan lulus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan memulai pengabdian sebagai dosen tetap Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Majene.
Di ruang inilah ilmu yang dahulu diperolehnya sebagai mahasiswa kembali hidup dalam bentuk yang berbeda. Jika dahulu ia duduk sebagai mahasiswa menerima pengetahuan, kini ia berdiri di hadapan mahasiswa untuk membagikan ilmu, membangun cara berpikir, serta mempersiapkan generasi baru yang akan memasuki masyarakat. Sebagai akademisi, Aswad menjalankan pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab dosen di perguruan tinggi.
Dipercaya Menjadi Sekretaris Prodi KPI
Perjalanan akademiknya kemudian berkembang ke ranah kepemimpinan dan tata kelola program studi. Aswad dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Majene. Posisi tersebut menempatkannya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga bagian dari pengelolaan akademik yang ikut menentukan kualitas proses pendidikan mahasiswa.
Bagi seorang alumni KPI, perjalanan tersebut memiliki makna tersendiri. Ia berangkat dari mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UMI, kemudian kembali mengembangkan bidang keilmuan yang sama sebagai dosen sekaligus pengelola Program Studi KPI di perguruan tinggi Islam negeri. Dari belajar komunikasi Islam, kini ikut menjaga keberlanjutan pendidikan komunikasi Islam.
Menggerakkan Literasi melalui Pers Mahasiswa
Pengabdian Aswad tidak berhenti di ruang kuliah dan pengelolaan program studi. Ia juga dipercaya menjadi Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers LIMA SIDIK STAIN Majene. Melalui pers mahasiswa, ruang pendidikan menjadi lebih luas. Mahasiswa tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga belajar membaca fakta, membangun argumentasi, melakukan verifikasi, menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, dan memahami bahwa sebuah tulisan memiliki konsekuensi intelektual maupun sosial.
Peran tersebut memperlihatkan satu garis yang konsisten dalam perjalanan Aswad: komunikasi, pendidikan, dan literasi. Inilah yang dapat disebut sebagai "literasi yang mengabdi"—pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi digunakan untuk membangun kesadaran, integritas, dan kualitas generasi.
Dari Kampus Menjadi Dampak
Kisah Muh. Aswad menjadi bagian dari narasi besar alumni Universitas Muslim Indonesia: "Dari Kampus Menjadi Dampak." Apa yang dimulai dari ruang kuliah KPI Fakultas Agama Islam UMI kini berkembang menjadi pengabdian di dunia pendidikan tinggi Islam.
Dari mahasiswa yang aktif berorganisasi, ia tumbuh menjadi ASN dan dosen. Dari seorang pembelajar, ia berkembang menjadi pendidik. Dari aktivitas komunikasi, ia bergerak membangun tradisi literasi. Dan dari alumnus KPI UMI, kini ia ikut mempersiapkan generasi baru mahasiswa KPI di STAIN Majene.
Perjalanan tersebut mencerminkan nilai pendidikan yang dikembangkan Universitas Muslim Indonesia melalui Catur Dharma UMI: ilmu tidak cukup dipelajari, tetapi harus menemukan jalan menuju pengabdian dan kemaslahatan. Karena ukuran keberhasilan sebuah kampus bukan hanya berapa banyak alumni yang berhasil diluluskan, tetapi berapa banyak alumni yang setelah lulus mampu menyalakan ilmu di tempat lain. Muh. Aswad telah membawa satu nyala itu dari UMI menuju Majene.
Dari Kampus Menjadi Dampak. Dari satu ruang belajar, lahir ruang-ruang pembelajaran baru. Dari satu alumni, manfaat ilmu diteruskan kepada generasi berikutnya. (Bersambung)























































































































