Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muhammad Ali: Dari Sastra Inggris UMI, Menggerakkan Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia
Berangkat dari Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia, Muhammad Ali, Ph.D. membangun perjalanan lintas bidang dari pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, pelatihan vokasi, hingga kebijakan produktivitas. Kini, pengalamannya bermuara pada tanggung jawab di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk ikut meningkatkan produktivitas tenaga kerja Indonesia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ketika seseorang memilih kuliah Sastra Inggris, mungkin tidak banyak yang membayangkan bahwa puluhan tahun kemudian ia akan berada di ruang kebijakan produktivitas tenaga kerja Indonesia. Tetapi perjalanan karier memang tidak selalu berjalan menurut nama program studi.
Itulah yang terjadi pada Muhammad Ali, Ph.D. Ia memulai perjalanan akademiknya dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dari sana, ia melanjutkan pendidikan di Australia, memasuki birokrasi pembangunan daerah di Kalimantan Timur, berkecimpung dalam pemberdayaan masyarakat, kemudian bergerak ke pemerintah pusat melalui Kementerian Ketenagakerjaan. Hari ini, tanggung jawabnya berada pada satu persoalan besar Indonesia: bagaimana membuat manusia Indonesia semakin produktif.
Berangkat dari Sastra Inggris UMI
Muhammad Ali menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra Inggris di UMI pada 1997. Sastra Inggris menjadi titik awal perjalanan akademiknya. Ia belajar bahasa, komunikasi, teks, budaya, dan bagaimana manusia menyampaikan serta memahami gagasan. Tetapi perjalanan pendidikan tidak berhenti di sana. Pada 2004, Muhammad Ali menyelesaikan Master of Arts in Asia Pacific Studies di Victoria University, Melbourne, Australia. Ia kemudian kembali ke universitas yang sama dan meraih gelar doktor pada bidang Social and Political Sciences.
Perjalanan tersebut memperluas perspektifnya. Dari bahasa menuju masyarakat. Dari komunikasi menuju pembangunan. Dari memahami teks menuju memahami persoalan sosial. Inilah salah satu pelajaran pertama dari perjalanan Muhammad Ali: program studi adalah titik keberangkatan, bukan batas akhir pengabdian.
Dari Bahasa menuju Pembangunan
Ada benang merah yang sebenarnya tidak terputus. Bahasa pada dasarnya adalah tentang manusia. Pembangunan juga tentang manusia. Kebijakan dibuat untuk manusia. Pelayanan publik diberikan kepada manusia. Dan produktivitas pada akhirnya juga ditentukan oleh manusia. Karena itu, perjalanan dari Sastra Inggris menuju pembangunan tidak harus dibaca sebagai perpindahan yang sama sekali terpisah. Kemampuan berkomunikasi, memahami konteks, membaca persoalan, dan melihat masyarakat menjadi modal yang dapat berkembang ke banyak bidang. Bahasa mengajarkan cara memahami manusia. Pembangunan memperluas pertanyaannya: bagaimana membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Belajar Pembangunan dari Daerah
Setelah menempuh pendidikan, Muhammad Ali membangun perjalanan panjang di lingkungan Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Di sinilah ia berhadapan langsung dengan realitas pembangunan. Bukan lagi teori di ruang kuliah, tetapi masyarakat, pendidikan, agama, kesejahteraan rakyat, pariwisata, budaya, perencanaan, pemerintahan, hingga pemberdayaan desa. Sejak 2006, ia mengemban berbagai tanggung jawab di lingkungan pemerintah daerah, mulai dari Bappeda hingga bidang pemberdayaan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi sekolah yang berbeda. Sebab pembangunan daerah tidak selalu berjalan seperti yang tertulis dalam dokumen. Ada kebutuhan masyarakat, keterbatasan anggaran, kondisi geografis, kapasitas aparatur, persoalan koordinasi. Dan ada prioritas yang harus dipilih. Di sanalah seorang birokrat belajar bahwa: kebijakan yang baik bukan hanya yang terlihat baik di atas kertas, tetapi yang dapat bekerja ketika bertemu kehidupan masyarakat.
Dari Perencanaan menuju Pemberdayaan
Perjalanan Muhammad Ali di Kabupaten Paser kemudian membawanya melalui berbagai posisi yang berhubungan dengan perencanaan dan kesejahteraan masyarakat. Ia pernah menangani bidang agama dan pendidikan, pariwisata, seni dan budaya, kesejahteraan rakyat, pemerintahan, perencanaan pembangunan, hingga pemberdayaan masyarakat desa.
Ruang pengabdiannya terus meluas. Tetapi benang merahnya tetap sama: manusia dan pembangunan. Di sinilah pengalaman daerah menjadi penting. Sebab angka pembangunan pada akhirnya selalu memiliki wajah. Kemiskinan adalah keluarga. Pengangguran adalah seseorang yang sedang mencari pekerjaan. Keterampilan adalah kemampuan seseorang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dan pembangunan desa adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dari Paser menuju Panggung Nasional
Pada 2017, perjalanan Muhammad Ali memasuki babak baru. Ia bergabung dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Skala pengabdiannya berubah. Jika sebelumnya ia berhadapan dengan pembangunan dalam ruang sebuah kabupaten, kini persoalan yang dihadapinya memiliki cakupan nasional. Namun pengalaman daerah tidak ditinggalkan. Justru pengalaman tersebut menjadi modal. Ia memahami bahwa kebijakan nasional pada akhirnya akan kembali ke daerah — ke balai latihan kerja, ke perusahaan, ke desa, ke pekerja, dan kepada masyarakat yang membutuhkan kesempatan.
Memasuki Dunia Pelatihan Vokasi
Di Kementerian Ketenagakerjaan, Muhammad Ali meniti perjalanan melalui berbagai fungsi yang berkaitan dengan pelatihan dan pengembangan kompetensi. Ia pernah menangani pengembangan penyelenggaraan pemagangan luar negeri. Kemudian dipercaya pada fungsi yang berkaitan dengan instrumen lembaga pelatihan pemerintah.
Perjalanan tersebut membawanya semakin dekat dengan salah satu persoalan utama ketenagakerjaan: kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki tenaga kerja dan kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja.
Sekolah dan kampus menghasilkan lulusan. Industri membutuhkan kompetensi. Teknologi terus berubah. Jenis pekerjaan berubah. Keterampilan yang relevan hari ini belum tentu cukup beberapa tahun mendatang. Di sinilah pelatihan vokasi memperoleh peran penting.
Ketika Kompetensi Harus Bertemu Kebutuhan Industri
Pelatihan tidak cukup hanya terselenggara. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah dilatih, apakah seseorang menjadi lebih mampu bekerja? Apakah kompetensinya sesuai kebutuhan industri? Apakah produktivitasnya meningkat? Apakah peluang kerjanya bertambah? Apakah penghasilannya dapat membaik?
Jika pertanyaan tersebut tidak terjawab, pelatihan berisiko berhenti menjadi kegiatan administratif.
Karena itu, pembangunan SDM membutuhkan hubungan yang kuat antara pelatihan, standar kompetensi, kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, serta perubahan teknologi. Pelatihan bukan tentang berapa banyak orang yang masuk kelas. Pelatihan adalah tentang berapa banyak kemampuan baru yang keluar dari kelas.
Memimpin Balai Besar Pelatihan Kerja
Pengalaman Muhammad Ali kemudian berkembang ketika dipercaya memimpin Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Medan. Pada posisi ini, kebijakan bertemu langsung dengan pelaksanaan. Ia tidak hanya berhadapan dengan konsep peningkatan kompetensi — ada peserta pelatihan, instruktur, peralatan, kurikulum, sertifikasi, kebutuhan industri, dan hasil pelatihan. Pengalaman ini mempertemukannya dengan sisi operasional pembangunan tenaga kerja. Sebab kualitas SDM tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi. Dibutuhkan lembaga, instruktur, sarana, metode, dan hubungan nyata dengan dunia kerja.
Dari Pelatihan menuju Standardisasi Kompetensi
Muhammad Ali kemudian dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Direktur Bina Standardisasi Kompetensi. Fase ini memperluas kembali ruang tanggung jawabnya. Kompetensi tidak cukup hanya diajarkan — kompetensi juga harus memiliki ukuran. Apa yang harus diketahui seorang pekerja? Apa yang harus mampu dilakukan? Bagaimana kemampuan tersebut diuji? Bagaimana industri dapat mempercayainya?
Standardisasi membantu membangun bahasa bersama antara pendidikan, pelatihan dan dunia kerja. Tanpa standar, seseorang dapat disebut "terampil", tetapi setiap pihak mungkin memiliki pengertian yang berbeda tentang keterampilan tersebut. Karena itu: kompetensi yang baik harus dapat dipelajari, dibuktikan, dan dipercaya.
Dari Kompetensi menuju Produktivitas
Perjalanan berikutnya membawa Muhammad Ali ke isu yang lebih luas: produktivitas. Pada 2024 ia tercatat mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas Direktur Bina Produktivitas. Kemudian ia dipercaya menjadi Direktur Bina Peningkatan Produktivitas di lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Di sinilah berbagai pengalaman sebelumnya seperti bertemu pada satu titik: pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, pelatihan, kompetensi, standardisasi, dan akhirnya produktivitas. Karena produktivitas tidak lahir dari satu faktor. Ia merupakan hasil dari banyak hal yang bekerja bersama.
Produktivitas Bukan Bekerja Lebih Lama
Produktivitas sering disalahartikan. Produktif dianggap berarti bekerja lebih lama, lebih sibuk, lebih banyak rapat, lebih banyak aktivitas. Padahal produktivitas bukan sekadar kesibukan. Seseorang dapat bekerja sepuluh jam tetapi menghasilkan sedikit. Orang lain dapat bekerja lebih singkat dengan proses yang lebih baik dan menghasilkan nilai lebih besar.
Karena itu: produktif bukan berarti semakin sibuk. Produktif berarti semakin banyak nilai yang dapat dihasilkan dari sumber daya yang digunakan. Di dalamnya ada keterampilan, teknologi, manajemen, proses kerja, budaya organisasi, inovasi, kesehatan kerja, dan kualitas kepemimpinan.
Manusia Tetap Menjadi Pusat Produktivitas
Mesin dapat meningkatkan produksi. Digitalisasi dapat mempercepat pekerjaan. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan dapat mengotomatisasi banyak proses. Tetapi teknologi tidak otomatis membuat organisasi produktif. Manusia harus mampu menggunakannya. Proses kerja harus diperbaiki. Organisasi harus beradaptasi. Dan kompetensi harus terus diperbarui.
Karena itu, tantangan produktivitas di era AI bukan hanya: teknologi apa yang kita miliki? Tetapi: apakah manusia Indonesia mampu menggunakan teknologi itu untuk menghasilkan nilai yang lebih tinggi?
Di sinilah agenda produktivitas bertemu langsung dengan masa depan tenaga kerja.
Dari Daerah Membawa Perspektif Manusia
Pengalaman Muhammad Ali di pemerintah daerah memberi warna tersendiri ketika kemudian bekerja pada level nasional. Kebijakan produktivitas dapat terdengar sangat makro — indeks, pertumbuhan, output, efisiensi, daya saing. Tetapi pada akhirnya produktivitas selalu kembali kepada manusia.
Pekerja yang memperoleh keterampilan baru. UMKM yang mampu memperbaiki proses. Perusahaan yang menjadi lebih efisien. Instruktur yang meningkatkan kualitas pelatihan. Atau seseorang yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan kemudian memiliki kemampuan untuk memasuki dunia kerja. Produktivitas nasional dibangun dari jutaan perbaikan kecil di tempat orang bekerja.
Dari Sastra Inggris menuju Bahasa Produktivitas
Di sinilah perjalanan Muhammad Ali menjadi menarik bagi UMI. Ia tidak berasal dari Teknik Industri. Bukan dari Ekonomi. Bukan pula dari Manajemen. Ia berangkat dari Sastra Inggris UMI. Namun pendidikan tidak mengunci masa depannya. Kemampuan bahasa membuka jalan menuju pendidikan internasional. Pendidikan internasional memperluas cara melihat masyarakat. Pengalaman daerah mempertemukannya dengan persoalan pembangunan. Dan pengalaman di Kementerian Ketenagakerjaan membawanya menuju pengembangan kompetensi serta produktivitas.
Perjalanan tersebut memberikan pesan sederhana bagi mahasiswa: jangan hanya bertanya, "lulusan jurusan saya bisa bekerja sebagai apa?" Pertanyaan yang lebih besar adalah: "kemampuan yang saya bangun dari jurusan ini dapat saya bawa menyelesaikan persoalan apa?"
Kampus Memberi Fondasi, Kehidupan Memperluasnya
Perguruan tinggi tidak mungkin mengajarkan seluruh pekerjaan yang akan dijalani seseorang selama puluhan tahun. Bahkan banyak pekerjaan masa depan belum ada ketika seseorang pertama kali masuk kuliah. Karena itu, nilai pendidikan tidak hanya terletak pada pengetahuan spesifik. Tetapi pada kemampuan belajar, berkomunikasi, berpikir, beradaptasi, memahami manusia, dan terus memperbarui diri. Muhammad Ali memperlihatkan perjalanan tersebut. Sastra Inggris menjadi fondasi. Tetapi kehidupan profesional memperluasnya. Ijazah mencatat dari mana seseorang memulai. Dampak menunjukkan seberapa jauh ia mengembangkan apa yang pernah dipelajari.
Produktivitas di Era AI
Tantangan yang dihadapi tenaga kerja Indonesia juga terus berubah — AI, otomasi, Internet of Things, big data, robotika, platform digital. Teknologi tersebut mengubah cara perusahaan memproduksi barang, memberikan layanan dan mengelola pekerjaan. Pada 2025, agenda peningkatan produktivitas Kemnaker bahkan mengangkat persoalan kesiapan SDM menghadapi AI, IoT dan big data. Pertanyaannya tidak lagi hanya apakah tenaga kerja memiliki pekerjaan. Tetapi apakah keterampilannya tetap relevan, apakah ia mampu bekerja bersama teknologi, apakah produktivitasnya meningkat. Dan apakah perubahan teknologi juga meningkatkan kualitas kehidupan pekerja.
Di era AI, manusia tidak cukup hanya bekerja keras. Manusia harus semakin mampu bekerja cerdas, belajar cepat, dan menciptakan nilai.
Dari Produktivitas menuju Daya Saing
Produktivitas seorang pekerja mungkin terlihat sebagai persoalan individual. Tetapi ketika dikumpulkan, dampaknya menjadi besar. Produktivitas perusahaan memengaruhi daya saing. Produktivitas industri memengaruhi kemampuan Indonesia berkompetisi. Produktivitas UMKM memengaruhi ketahanan ekonomi masyarakat. Dan produktivitas nasional memengaruhi kemampuan negara meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, peningkatan produktivitas bukan sekadar program ketenagakerjaan. Ia berada pada jantung pembangunan ekonomi. Negara tidak menjadi maju karena manusianya semakin sibuk. Negara maju ketika manusianya semakin mampu menciptakan nilai.
UMI dalam Perjalanan Muhammad Ali
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Muhammad Ali memberi satu pesan penting. Alumni tidak harus selalu bekerja pada bidang yang identik dengan nama program studinya untuk menunjukkan keberhasilan pendidikan. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu, keterampilan, nilai dan pengalaman yang diperoleh terus berkembang.
Dari Sastra Inggris UMI, Muhammad Ali bergerak menuju studi kawasan Asia Pasifik. Dari sana menuju ilmu sosial dan politik. Kemudian pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, pelatihan vokasi, standardisasi kompetensi, hingga produktivitas tenaga kerja nasional. Perjalanan itu menunjukkan bahwa pendidikan dapat memiliki jalur yang panjang sebelum dampaknya terlihat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Muhammad Ali, Ph.D. memulai perjalanan dari ruang kuliah Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Australia. Kembali mengabdi melalui pemerintahan daerah di Kabupaten Paser. Belajar langsung dari persoalan pembangunan dan masyarakat. Lalu memasuki Kementerian Ketenagakerjaan.
Dari pemagangan menuju pelatihan. Dari pelatihan menuju standardisasi kompetensi. Dari kompetensi menuju produktivitas. Dan dari produktivitas menuju persoalan yang jauh lebih besar: daya saing manusia Indonesia.
Perjalanannya mengingatkan bahwa nama program studi tidak pernah cukup untuk meramalkan masa depan seseorang. Yang menentukan adalah bagaimana pengetahuan terus dikembangkan, pengalaman terus diperluas, dan kompetensi digunakan untuk menjawab persoalan nyata.
Dari bahasa menuju pembangunan. Dari pembangunan menuju kompetensi. Dari kompetensi menuju produktivitas. Dan dari produktivitas menuju daya saing Indonesia.
Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah negara bukan hanya pada sumber daya yang dimilikinya. Tetapi pada kemampuan manusianya untuk mengubah sumber daya tersebut menjadi nilai, kesempatan, dan kesejahteraan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































