Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muhammad Arif, S.H., M.E.I.: Alumni Hukum Ekonomi Syariah UMI, Kini Wakasek Kesiswaan dan Keagamaan Sekolah Islam Athirah
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua lulusan bekerja pada bidang yang persis sama dengan nama program studinya. Namun, ilmu dan nilai yang diperoleh selama kuliah dapat menemukan jalan pengabdian yang lebih luas.
Itulah yang terlihat dalam perjalanan Muhammad Arif, S.H., M.E.I., alumnus Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 2019. Kini, Arif mengabdikan dirinya di dunia pendidikan dan dipercaya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Keagamaan di Sekolah Islam Athirah.
Perjalanannya memperlihatkan satu hal penting: pendidikan Hukum Ekonomi Syariah tidak hanya memberinya pengetahuan akademik. Pengalaman selama menjadi mahasiswa UMI juga membentuk cara memandang manusia, tanggung jawab, dan kebermanfaatan.
Pelajaran yang Tidak Tertulis di Transkrip Nilai
Bagi Arif, masa kuliah di UMI meninggalkan banyak pengalaman. Ia memperoleh ilmu dari ruang kelas dan para dosen. Namun, ketika mengenang perjalanan tersebut, justru ada pelajaran sederhana yang terus dibawanya hingga hari ini.
"Pelajaran yang paling penting bukanlah sekadar mata kuliah yang diajarkan di dalam kelas," ungkap Arif.
"Akan tetapi, bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bagaimana kita memperlakukan sesama dengan baik," lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi menarik karena berbicara tentang sesuatu yang sering tidak tercantum dalam transkrip akademik. Nilai dapat menunjukkan hasil belajar. Tetapi cara memperlakukan manusia menunjukkan hasil pendidikan. Di situlah pengalaman kampus menemukan makna yang lebih luas.
Dari Hukum Ekonomi Syariah Menuju Pendidikan
Arif merupakan alumnus Hukum Ekonomi Syariah UMI. Namun, perjalanan profesionalnya kemudian membawanya memasuki dunia pendidikan. Kini, sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Keagamaan Sekolah Islam Athirah, ruang pengabdiannya bersentuhan langsung dengan pembinaan peserta didik. Tanggung jawab tersebut bukan hanya mengenai kegiatan kesiswaan. Ada karakter yang harus dibentuk, kedisiplinan yang harus ditumbuhkan, nilai keagamaan yang harus dibiasakan, serta hubungan antarmanusia yang harus dijaga.
Di sinilah pesan yang diperolehnya selama kuliah menjadi relevan. Ilmu dapat berasal dari berbagai disiplin. Tetapi ketika seseorang dipercaya mendidik generasi muda, kemampuan memahami dan memperlakukan manusia menjadi bagian penting dari kepemimpinan pendidikan. Dari mempelajari hukum dan nilai-nilai ekonomi syariah, Arif kini berada pada ruang yang membantunya menerjemahkan nilai Islam menjadi pembinaan karakter generasi muda.
Kesiswaan dan Keagamaan: Membina Manusia, Bukan Hanya Siswa
Posisi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Keagamaan menempatkan Arif dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Di usia sekolah, seorang anak tidak hanya sedang mengejar prestasi akademik. Mereka sedang membentuk kebiasaan, karakter, cara berpikir, pergaulan, kedisiplinan, dan cara memandang kehidupan. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang pintar. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang memiliki akhlak, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan hidup bersama orang lain.
Dalam konteks inilah pengalaman Arif menjadi relevan dengan nilai pendidikan yang dibawanya dari UMI. Pendidikan terbaik bukan hanya membuat seseorang semakin tahu, tetapi membuatnya semakin tahu bagaimana memperlakukan manusia.
Ketika Kebermanfaatan Menjadi Ukuran Pendidikan
Perjalanan Muhammad Arif dapat dibaca melalui lintasan yang sederhana: Hukum Ekonomi Syariah UMI → Nilai Keislaman → Kepedulian kepada Sesama → Dunia Pendidikan → Kesiswaan dan Keagamaan → Pembinaan Karakter Generasi Muda.
Lintasan tersebut menunjukkan bahwa dampak alumni tidak selalu harus hadir melalui jabatan besar atau perjalanan karier yang panjang. Dampak dapat dimulai dari manusia yang setiap hari berada di hadapan kita. Bagi seorang pendidik, satu nasihat yang didengar siswa, satu kebiasaan baik yang ditanamkan, atau satu keteladanan yang terus diingat dapat memiliki pengaruh jauh melampaui ruang sekolah. Karena pendidikan bekerja melalui manusia. Dan manusia membawa apa yang dipelajarinya ke masa depan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Bagi UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, perjalanan Muhammad Arif menghadirkan pesan yang sangat dekat dengan makna pendidikan. Kampus memang harus menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi. Tetapi kompetensi harus berjalan bersama karakter, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama. Itulah esensi pendidikan yang tidak berhenti pada ijazah.
Arif membawa satu pelajaran dari UMI yang sederhana, tetapi memiliki jangkauan panjang: menjadi manusia yang bermanfaat dan memperlakukan sesama dengan baik. Hari ini, nilai tersebut memperoleh ruang pengabdian melalui dunia pendidikan.
Dari ruang kuliah Hukum Ekonomi Syariah UMI, ia memasuki ruang pembinaan generasi muda. Dari pengalaman sebagai mahasiswa, ia membawa nilai kebermanfaatan. Dan melalui amanah di Sekolah Islam Athirah, nilai tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya.
"Nilai dapat menunjukkan hasil belajar. Tetapi cara memperlakukan manusia menunjukkan hasil pendidikan."
Dari mempelajari nilai, kini ikut membentuk generasi. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































