Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Misri Gozan: Dari Program Profesi Insinyur UMI, Mengawal Mutu Pendidikan Teknik Indonesia sebagai Ketua LAM Teknik
Guru Besar Teknik Kimia Universitas Indonesia ini merupakan alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI. Dari riset bioproses, bioenergi dan lingkungan, perjalanan pengabdiannya berkembang hingga dipercaya memimpin Komite Eksekutif LAM Teknik PII—ruang strategis yang ikut menjaga mutu pendidikan teknik dan menyiapkan generasi insinyur Indonesia.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ketika sebuah gedung berdiri kokoh, teknologi bekerja, energi dihasilkan, atau industri beroperasi, perhatian kita biasanya tertuju pada hasil akhirnya. Namun ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang memastikan orang-orang yang merancang semua itu benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan?
Di sinilah mutu pendidikan teknik menjadi penting. Sebelum seorang insinyur merancang infrastruktur, mengembangkan teknologi, mengoperasikan industri atau mengambil keputusan teknis, ada proses pendidikan yang harus memastikan bahwa pengetahuan, kompetensi, etika dan profesionalismenya terbentuk dengan baik.
Pada ruang itulah Prof. Dr.-Ing. Ir. Misri Gozan, M.Tech., IPU., ASEAN Eng., INV. kini mengambil salah satu peran pentingnya. Ia merupakan Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia sekaligus Ketua Komite Eksekutif Lembaga Akreditasi Mandiri Program Studi Keteknikan Persatuan Insinyur Indonesia (LAM Teknik PII).
Menariknya, di tengah perjalanan panjang sebagai akademisi, peneliti dan profesional keinsinyuran, Prof. Misri juga pernah kembali menjadi mahasiswa. Pada 2020, ia menyelesaikan Program Profesi Insinyur Angkatan VII pada Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Dari sana terlihat satu perjalanan yang menarik: dari ilmu teknik menuju riset, dari riset menuju pendidikan, dari pendidikan menuju profesi, dan dari profesi menuju sistem yang ikut menjaga mutu pendidikan teknik Indonesia.
Fondasi Keilmuan yang Dibangun Panjang
Perjalanan akademik Prof. Misri dibangun selama bertahun-tahun. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia pada 1993. Kemudian melanjutkan pendidikan Master of Technology pada bidang teknologi proses dan lingkungan di Massey University, Selandia Baru. Perjalanan akademiknya berlanjut ke Jerman hingga meraih gelar Doktor-Ingenieur (Dr.-Ing.) dari Technische Universität Dresden.
Pendidikan tersebut mempertemukannya dengan berbagai bidang yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan risetnya: teknik kimia, bioproses, teknologi lingkungan, bioenergi, biorefinery, pemanfaatan limbah, hingga pengembangan teknologi untuk kebutuhan manusia.
Keilmuannya terus bergerak mengikuti persoalan yang berkembang. Karena dalam dunia teknik, ilmu tidak cukup hanya dipahami. Ilmu harus mampu digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Dari Laboratorium ke Ruang Pendidikan
Sebagai Guru Besar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Prof. Misri menjalankan salah satu tugas paling mendasar seorang akademisi: mendidik generasi berikutnya. Namun pendidikan teknik tidak hanya berbicara tentang mentransfer rumus, teori atau metode.
Mahasiswa teknik harus belajar bagaimana pengetahuan digunakan, bagaimana risiko dihitung, bagaimana keselamatan dijaga, bagaimana lingkungan diperhatikan, bagaimana keputusan dapat dipertanggungjawabkan, dan bagaimana teknologi pada akhirnya memberikan manfaat kepada manusia.
Karena itu, ruang pendidikan dan ruang penelitian tidak pernah benar-benar terpisah. Penelitian memperbarui pengetahuan. Pengetahuan masuk ke ruang pendidikan. Mahasiswa membawa pengetahuan tersebut menuju profesi. Dan profesi membawanya ke masyarakat. Prof. Misri berada dalam rantai tersebut sebagai pendidik sekaligus peneliti.
Ketika Riset Mencari Jawaban
Bidang keilmuan Prof. Misri antara lain meliputi bioprocess engineering, bioenergy, biorefinery, environmental engineering, serta pemanfaatan limbah menjadi sumber daya bernilai. Tema-tema tersebut memiliki satu benang merah: bagaimana teknologi digunakan untuk menjawab kebutuhan manusia sekaligus menghadapi keterbatasan sumber daya dan persoalan lingkungan.
Riset bioenergi, misalnya, tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana energi dapat dihasilkan. Ada pertanyaan lain: bisakah limbah dimanfaatkan? Bisakah biomassa memperoleh nilai tambah? Bisakah proses dibuat lebih efisien? Bisakah dampak lingkungan dikurangi? Dan bisakah hasil penelitian bergerak menuju penggunaan yang lebih luas?
Di situlah pekerjaan seorang akademisi bertemu dengan pekerjaan seorang insinyur. Peneliti mencari pengetahuan baru. Insinyur memastikan pengetahuan itu dapat bekerja di dunia nyata.
Ketika Penelitian Bertemu Inovasi
Perjalanan Prof. Misri juga bersentuhan dengan ruang inovasi dan hilirisasi. Ia pernah terlibat dalam pengelolaan pusat riset dan ekosistem inovasi di Universitas Indonesia, termasuk pada pengembangan rekayasa biomedis dan lingkungan inkubasi inovasi.
Ruang seperti ini penting karena salah satu tantangan perguruan tinggi adalah jarak antara penelitian dan pemanfaatan. Banyak pengetahuan lahir di laboratorium. Namun tidak semuanya sampai kepada masyarakat.
Karena itu, riset membutuhkan jembatan: dari laboratorium menuju prototipe, dari prototipe menuju inovasi, dari inovasi menuju penggunaan, dan dari penggunaan menuju dampak.
Di sinilah seorang akademisi tidak hanya bertanya, "Apa yang bisa diteliti?" Tetapi juga, "Untuk apa penelitian ini dilakukan?"
Kembali Menjadi Mahasiswa di UMI
Ada bagian yang menarik dalam perjalanan tersebut. Setelah menempuh pendidikan sampai tingkat doktor, menjadi akademisi, peneliti dan profesor, Prof. Misri kembali memasuki pendidikan profesi. Pada 2020, ia menyelesaikan Program Profesi Insinyur Angkatan VII Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia.
Pada fase itu, ia bukan lagi seseorang yang baru memasuki dunia teknik. Ia telah memiliki pengalaman akademik dan profesional yang panjang. Namun pengalaman tersebut tidak membuat proses belajar menjadi selesai. Justru profesi keinsinyuran menuntut kompetensi, etika, tanggung jawab, serta kesadaran bahwa setiap keputusan teknis dapat membawa konsekuensi kepada manusia dan lingkungan.
Di sinilah pendidikan profesi menemukan maknanya. Gelar akademik menunjukkan kedalaman ilmu. Profesi mengingatkan untuk siapa ilmu itu digunakan dan bagaimana tanggung jawabnya dijalankan.
Dari Alumni PPI UMI Menuju Penguatan Mutu Nasional
Hubungan Prof. Misri dengan pendidikan profesi insinyur kemudian memperoleh dimensi yang lebih luas. Ia tidak hanya menjalani profesi keinsinyuran. Ia kini berada pada salah satu posisi penting dalam sistem penjaminan mutu pendidikan teknik Indonesia.
Prof. Misri dipercaya menjadi Ketua Komite Eksekutif LAM Teknik PII. Sebelumnya, ia juga telah lama terlibat dalam dunia akreditasi dan penjaminan mutu pendidikan tinggi.
Peran tersebut mungkin tidak selalu terlihat publik seperti pembangunan jalan, jembatan, kilang atau teknologi. Tetapi dampaknya bekerja lebih jauh ke dalam sistem. LAM Teknik berhadapan dengan program-program studi yang mendidik calon insinyur. Ketika mutu program studi diperkuat, kualitas proses pendidikan diharapkan meningkat. Ketika proses pendidikan semakin baik, kompetensi lulusan ikut diperkuat. Dan ketika lulusan tersebut memasuki dunia profesi, kualitas pendidikan yang mereka peroleh ikut menentukan kualitas pekerjaan yang mereka hasilkan.
Karena itu: akreditasi bukan sekadar memberi peringkat. Akreditasi adalah salah satu cara menjaga kepercayaan terhadap proses yang melahirkan para insinyur.
Mutu Tidak Berhenti pada Nilai Akreditasi
Salah satu kekeliruan dalam melihat akreditasi adalah menganggapnya selesai ketika sebuah program studi memperoleh status tertentu. Padahal akreditasi pada hakikatnya merupakan bagian dari proses membangun budaya mutu. Ada evaluasi diri, data, proses pendidikan, sumber daya manusia, mahasiswa, lulusan, luaran, capaian, dampak. Dan ada perbaikan yang harus terus berjalan.
Itulah sebabnya penjaminan mutu tidak boleh menjadi pekerjaan yang hanya dilakukan ketika masa akreditasi mendekat. Mutu bukan acara lima tahunan. Mutu adalah kebiasaan setiap hari.
Dalam konteks pendidikan teknik, hal itu bahkan menjadi semakin penting. Karena lulusan kelak akan merancang, mengoperasikan, mengawasi dan mengambil keputusan pada berbagai sistem yang menyangkut keselamatan dan kehidupan masyarakat.
Dari Input menuju Outcome
Menariknya, perhatian Prof. Misri terhadap mutu pendidikan teknik juga masuk ke dalam ruang akademik. Ia turut menulis publikasi mengenai kerangka Input–Process–Output dalam akreditasi pendidikan tinggi keteknikan di Indonesia.
Ini memperlihatkan bahwa akreditasi baginya bukan hanya pekerjaan administratif. Ia juga menjadi objek pemikiran akademik: bagaimana sumber daya masuk ke dalam pendidikan, bagaimana proses pendidikan berlangsung, apa yang dihasilkan. Dan yang semakin penting: apa yang terjadi setelah lulusan meninggalkan kampus?
Pertanyaan terakhir itulah yang membawa penjaminan mutu menuju outcome. Sebuah program studi tidak cukup hanya menunjukkan bahwa ia memiliki dosen, laboratorium dan kurikulum. Ia juga harus mampu menunjukkan bahwa proses tersebut benar-benar menghasilkan kompetensi dan manfaat.
Dampak yang Bekerja Melalui Sistem
Serial Dari Kampus, Menjadi Dampak selama ini memperlihatkan beragam bentuk dampak alumni. Ada yang bekerja melalui pemerintahan, parlemen, rumah sakit, industri, riset, pendidikan, energi, dan pelayanan masyarakat.
Pada Prof. Misri Gozan, mekanismenya berbeda. Dampaknya bekerja melalui sistem mutu. Ia memang mendidik mahasiswa, mengembangkan penelitian, membangun inovasi. Namun ketika berada pada sistem akreditasi pendidikan teknik, dampaknya dapat menjangkau lebih jauh.
Satu standar yang baik dapat memengaruhi banyak program studi. Satu program studi yang membaik mendidik banyak mahasiswa. Mahasiswa tersebut kemudian menjadi insinyur. Dan para insinyur itu kelak bekerja pada berbagai sektor pembangunan Indonesia. Di sinilah terdapat efek berantai yang sangat besar: satu sistem mutu dapat memengaruhi ribuan ruang belajar yang kelak melahirkan ribuan keputusan keinsinyuran.
Dari Mengajar Insinyur hingga Menjaga Sistem yang Melahirkan Insinyur
Ada perbedaan antara mengajar seorang mahasiswa dan membangun sistem pendidikan. Seorang dosen dapat mendidik mahasiswa di kelasnya. Seorang pembimbing dapat membentuk peneliti di laboratoriumnya. Namun ketika seseorang ikut bekerja pada sistem penjaminan mutu, ruang pengaruhnya bertambah luas. Ia ikut memikirkan bagaimana sebuah program studi seharusnya berjalan, bagaimana capaian diukur, bagaimana kualitas dievaluasi, dan bagaimana perbaikan harus dilakukan.
Karena itu, perjalanan Prof. Misri dapat dibaca sebagai perkembangan ruang pengabdian: dari menghasilkan pengetahuan, menjadi mendidik manusia, kemudian ikut menjaga sistem yang mendidik manusia tersebut.
Indonesia Tidak Hanya Membutuhkan Lebih Banyak Insinyur
Indonesia terus membangun infrastruktur, energi, industri, teknologi, digitalisasi, lingkungan, ketahanan pangan, kesehatan, dan berbagai sektor lainnya yang membutuhkan kemampuan rekayasa. Artinya, Indonesia membutuhkan insinyur. Namun jumlah saja tidak cukup.
Indonesia membutuhkan insinyur yang kompeten, profesional, beretika, mampu beradaptasi, menguasai teknologi, memahami keselamatan, memiliki kepedulian lingkungan, dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan profesionalnya.
Karena itu, membangun Indonesia sesungguhnya juga berarti membangun mutu orang-orang yang akan membangunnya. Di sinilah pendidikan teknik dan sistem akreditasi memperoleh posisi strategis.
UMI dan Ekosistem Profesi Insinyur
Perjalanan Prof. Misri juga memberi perspektif menarik bagi UMI. Program Profesi Insinyur FTI UMI tidak hanya diikuti oleh profesional yang baru memasuki dunia keinsinyuran. Di dalam perjalanan program tersebut hadir pula akademisi, praktisi dan pemimpin profesi dengan pengalaman yang telah berkembang panjang.
Prof. Misri merupakan salah satu contohnya. Ia datang ke Program Profesi Insinyur UMI ketika telah memiliki fondasi akademik dan pengalaman yang kuat. Kemudian perjalanan pengabdiannya terus berkembang hingga kini dipercaya berada pada salah satu posisi strategis dalam sistem akreditasi program studi keteknikan Indonesia.
Hubungan seperti ini memperlihatkan bahwa pendidikan profesi dapat menjadi ruang pertemuan antara: pengalaman → ilmu → profesi → standar → mutu. Dan ketika orang-orang di dalam jejaring tersebut bergerak pada berbagai sektor, dampaknya ikut meluas.
Dari Ilmu Menjadi Standar
Jika perjalanan Prof. Misri ditarik menjadi satu garis, terdapat pola yang menarik. Teknik membangun fondasi. Bioproses memperdalam keilmuan. Riset menghasilkan pengetahuan. Pendidikan mentransfer pengetahuan. Inovasi mendorong pemanfaatan. Program Profesi Insinyur memperkuat dimensi profesional. Dan akreditasi membawa pengalaman itu menuju sistem penjaminan mutu.
Semua bergerak menuju satu pertanyaan: bagaimana memastikan pendidikan teknik benar-benar menghasilkan manusia yang mampu menjalankan tanggung jawab keinsinyuran dengan baik? Karena pada akhirnya, teknologi yang baik membutuhkan insinyur yang baik. Dan insinyur yang baik membutuhkan ekosistem pendidikan yang juga baik.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Prof. Dr.-Ing. Ir. Misri Gozan, M.Tech., IPU., ASEAN Eng., INV. telah melalui perjalanan yang panjang: dari pendidikan teknik menuju teknologi lingkungan, dari bioproses menuju bioenergi dan pemanfaatan limbah, dari penelitian menuju pendidikan, dari pendidikan menuju inovasi, dari pengalaman akademik menuju Program Profesi Insinyur UMI, dan dari profesi menuju kepemimpinan dalam penjaminan mutu pendidikan teknik Indonesia.
Kini, sebagai Ketua Komite Eksekutif LAM Teknik PII, ruang pengabdiannya menyentuh sesuatu yang sangat fundamental: mutu generasi insinyur yang akan ikut membangun Indonesia.
Karena pembangunan yang baik tidak dimulai ketika beton dituangkan. Tidak dimulai ketika mesin dinyalakan. Dan tidak dimulai ketika sebuah teknologi digunakan. Jauh sebelum itu, pembangunan dimulai dari manusia yang dipersiapkan untuk merancang semuanya.
Maka menjaga mutu pendidikan teknik sesungguhnya adalah menjaga salah satu fondasi pembangunan bangsa.
Dari riset menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan menjadi pendidikan. Dari pendidikan menjadi profesi. Dari profesi menjadi standar. Dan dari standar, lahir mutu yang dampaknya menjangkau banyak generasi.
Itulah perjalanan Prof. Misri Gozan. Dari Program Profesi Insinyur UMI. Menuju ruang pengabdian yang ikut menjaga kualitas pendidikan teknik Indonesia. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































