Dosen UMI Edukasi Mahasiswa UTeM Malaysia Tangkal Hoaks dan Disinformasi di Era Digital
Melaka, Malaysia, umi.ac.id – Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional yang berfokus pada pemberdayaan mahasiswa sebagai agen literasi digital di Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), Malaysia, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Literasi Digital Mahasiswa FPTT UTem Malaysia di Era Disinformasi melalui Edukasi Verifikasi Informasi dan Komunikasi Publik Bertanggung Jawab”.
Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa dalam mengenali, memeriksa, serta menangkal penyebaran informasi palsu di tengah derasnya arus informasi digital.
Materi kegiatan menyoroti fenomena post-truth, yakni kondisi ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih memengaruhi penerimaan informasi dibandingkan fakta dan bukti objektif. Kondisi ini semakin kompleks dengan kehadiran algoritma media sosial dan ruang gema (echo chamber) yang dapat memperkuat pandangan tertentu tanpa proses verifikasi yang memadai.
Dalam pemaparannya, Ketua Tim Pengabdian, Muhammad Idris, S.Sos., M.I.Kom, menjelaskan tiga bentuk persoalan informasi, yaitu misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.
Misinformasi merupakan informasi keliru yang dibagikan tanpa maksud menipu, disinformasi adalah informasi salah atau menyesatkan yang sengaja disebarkan, sedangkan malinformasi merupakan informasi yang benar tetapi digunakan untuk merugikan pihak tertentu.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai pola penyebaran informasi menyesatkan, seperti judul provokatif (clickbait), penggunaan foto lama dengan konteks baru, potongan video yang tidak utuh, kutipan palsu, hingga manipulasi gambar, audio, dan video menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Tidak semua informasi yang viral dapat dipercaya. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dengan membedakan fakta, opini, interpretasi, dan manipulasi sebelum menerima maupun menyebarkan suatu informasi,” ungkap Muhammad Idris.
Untuk memperkuat kemampuan verifikasi, peserta dibekali lima langkah pemeriksaan fakta, yakni berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, memeriksa sumber, menelusuri bukti atau dokumen asli, membandingkan informasi dengan sumber tepercaya lainnya, serta menentukan apakah informasi tersebut layak dibagikan atau justru perlu dihentikan penyebarannya.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan sejumlah perangkat pemeriksa fakta, seperti Google Lens, Google Fact Check Explorer, AFP Fact Check, dan Sebenarnya.my. Pemanfaatan perangkat tersebut diharapkan membantu mahasiswa menelusuri keaslian foto, video, sumber informasi, serta konteks suatu pemberitaan.
Wakil Dekan III Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI ini melanjutkan, kegiatan ini juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai pengguna informasi yang kritis sekaligus agen edukasi di lingkungan kampus. Mahasiswa diharapkan mampu membantu teman sebaya memeriksa fakta, membuat konten edukatif, mengadakan diskusi literasi digital, serta meluruskan informasi keliru secara santun dengan menyertakan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru ikut memperluas penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Budaya memeriksa fakta sebelum membagikan informasi perlu dibangun agar ruang digital menjadi lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Melalui PkM Internasional di UTeM Malaysia ini, UMI mendorong penguatan literasi digital mahasiswa agar tidak hanya cakap mengakses teknologi, tetapi juga memiliki kecermatan dalam menilai kebenaran informasi. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membangun masyarakat digital yang kritis, bertanggung jawab, dan berdaya menghadapi tantangan disinformasi.























































































































