Dosen UMI Perkenalkan Balaghah di UTeM Malaysia, Perkuat Dakwah Digital yang Kreatif dan Berintegritas
Melaka, Malaysia, umi.ac.id - Ilmu retorika sastra Arab atau Balaghah diperkenalkan dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) sebagai pendekatan untuk memperkuat dakwah digital mahasiswa Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM). Melalui materi dan arahan praktik video edukasi, mahasiswa diajak menyusun pesan keagamaan yang jelas, menarik, santun, dan bertanggung jawab.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional tersebut berlangsung di Fakulti Pengurusan Teknologi dan Teknousahawanan UTeM, Malaysia, Selasa (27/10/2026). Tema yang diangkat adalah 'Pemberdayaan Mahasiswa UTeM dalam Dakwah Digital: Sinergi Retorika Sastra Arab, Komunikasi Publik, dan Tata Kelola Keuangan'.
Tim PkM UMI dipimpin Dr. Nurjannah, S.S., M.Pd., dengan anggota Dr. Ramdhan Satra, Dr. Agussalim Beddu Malla, Dr. Andi Nurwana, Dr. Hajering, dan Nurhalisa. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa UMI, Nur Aisyah dan Diran Ratu.
Bahasa yang Tepat untuk Audiens Digital
Dalam pemaparannya, Dr. Nurjannah menjelaskan bahwa Balaghah membantu penyampai pesan memilih ungkapan, memperjelas makna, dan menyesuaikan komunikasi dengan situasi serta karakter audiens.
“Dakwah digital tidak cukup hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga membutuhkan ketepatan bahasa, kejelasan makna, dan kemampuan memahami karakter audiens. Di sinilah Retorika Sastra Arab memiliki peran penting dalam membangun komunikasi dakwah yang efektif,” jelasnya.
Dekan Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI tersebut memperkenalkan tiga cabang utama Balaghah, yakni Ilmu Ma’ani, Ilmu Bayan, dan Ilmu Badi’.
Ilmu Ma’ani menekankan kesesuaian ungkapan dengan konteks komunikasi dan keadaan pendengar. Ilmu Bayan membantu memperjelas gagasan melalui berbagai cara pengungkapan, termasuk perumpamaan dan metafora. Sementara itu, Ilmu Badi’ membahas keindahan ungkapan yang dapat memperkuat penyampaian pesan ketika digunakan secara tepat.
Ketiga pendekatan tersebut diperkenalkan sebagai bekal untuk menyusun konten yang mudah dipahami tanpa kehilangan substansi keagamaannya.
Etika
Etika Komunikasi sebagai Landasan
Selain teknik penyampaian, materi pengabdian menekankan etika komunikasi Qur’ani melalui prinsip qaulan sadidan, yakni perkataan yang benar; qaulan balighan, yaitu perkataan yang mengena dan membekas; serta qaulan layyinan, yakni perkataan yang lembut.
Prinsip tersebut menjadi pedoman dalam memilih bahasa, membangun cerita, dan menyampaikan ajakan di media digital. Daya tarik konten perlu berjalan bersama kebenaran pesan serta penghormatan kepada audiens.
“Melalui penguasaan ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’, mahasiswa diharapkan mampu mengemas pesan dakwah secara lebih kreatif, komunikatif, dan santun, tanpa kehilangan substansi nilai-nilai Islam,” jelas Nurjannah.
Arahkan Praktik Cideo Edukasi 60-90 Detik
Sebagai penerapan materi, mahasiswa UTeM diarahkan mengembangkan proyek kampanye dakwah digital melalui video edukasi berdurasi 60–90 detik dengan tema 'Berbicara dengan Hikmah, Berbagi dengan Integritas'.
Dalam praktik tersebut, mahasiswa didorong memilih pesan utama, menggunakan bahasa yang sesuai dengan audiens, serta membangun alur cerita dan ajakan positif. Etika komunikasi menjadi perhatian dalam proses pengemasan konten.
Arahan proyek ini memberi ruang untuk menghubungkan pemahaman Balaghah dengan kebutuhan komunikasi singkat di media digital. Mahasiswa dapat mengeksplorasi kreativitas sekaligus mempertimbangkan kejelasan makna dan tanggung jawab atas pesan yang disampaikan.
Melalui kegiatan ini, UMI mempertemukan khazanah bahasa dan sastra Arab dengan praktik komunikasi digital. Pengabdian tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa UTeM untuk mengembangkan konten dakwah yang relevan dengan generasi muda, berlandaskan pengetahuan, dan disampaikan dengan hikmah.























































































































