Rektor UMI Prof. Hambali Thalib: “Riset Tak Boleh Berhenti pada Publikasi”, LP2S Siapkan Roadmap Hilirisasi Menuju Klaster Mandiri
Melibatkan 60 dosen lintas fakultas, Universitas Muslim Indonesia menyelaraskan arah penelitian, menyiapkan pusat unggulan IPTEK, dan memperkuat strategi pendanaan riset agar hasil penelitian semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan industri
MAKASSAR, umi.ac.id — Penelitian yang baik tidak cukup hanya menghasilkan artikel ilmiah. Temuannya perlu dikembangkan menjadi teknologi, kebijakan, produk, atau solusi yang benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penekanan Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., saat membuka Workshop Penyusunan Roadmap Penelitian yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya (LP2S) UMI pada 20–21 Oktober 2026, di Aula Classroom Lantai 6 Menara UMI, Makassar.
Workshop bertema “Strategi dan Praktik Penyusunan Roadmap Penelitian yang Kompetitif dan Berdampak” ini melibatkan 60 perwakilan dosen dari seluruh fakultas UMI.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan UMI memperkuat kinerja penelitian dan hilirisasi, sekaligus menata langkah menuju Klaster Mandiri dalam pengelompokan kinerja penelitian perguruan tinggi.
“Kami pimpinan universitas berkomitmen penuh mendorong penelitian dosen UMI agar berdaya saing tinggi dan berfokus pada hilirisasi. Dosen yang unggul tidak hanya telaten mengajar, tetapi juga aktif dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Langkah ini sangat menentukan lompatan UMI menuju Klaster Mandiri Kemendiktisaintek RI,” tegas Prof. Hambali.
Dari Publikasi Menuju Manfaat Nyata
Menurut Rektor, penguatan penelitian perlu diarahkan pada dua hal yang saling melengkapi: kualitas akademik dan kebermanfaatan hasil riset.
Publikasi tetap penting sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, hasil penelitian yang memiliki potensi penerapan perlu didorong lebih jauh agar dapat menjawab persoalan masyarakat maupun kebutuhan industri.
Karena itu, penyusunan roadmap penelitian tidak boleh hanya menjadi kegiatan administratif. Dokumen tersebut harus membantu dosen menentukan arah penelitian, tahapan pengembangan, peluang kolaborasi, dan hasil yang ingin dicapai.
Rektor juga mendorong dosen UMI, khususnya dosen muda, untuk lebih aktif mengakses hibah penelitian nasional serta membangun jejaring akademik internasional.
Kerja sama yang telah dijalin UMI dengan mitra di berbagai negara, termasuk Singapura dan Malaysia, diharapkan dapat dikembangkan menjadi kolaborasi penelitian yang lebih produktif.
Penguatan ini menjadi bagian dari upaya UMI meningkatkan daya saing akademik melalui penelitian yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.
Rektor Apresiasi Kepercayaan Kemendiktisaintek kepada LP2S UMI
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Hambali menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI kepada LP2S UMI untuk menjalankan kegiatan monitoring dan evaluasi skema prototipe.
“Selamat kepada pimpinan LP2S UMI atas kepercayaannya sebagai Pelaksana Monitoring dan Evaluasi (Monev) Skema Prototipe Kemendiktisaintek RI. Ini adalah kehormatan besar, karena UMI menjadi satu-satunya perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur yang dipercaya menjalankan peran strategis ini,” tambahnya.
Kepercayaan tersebut dipandang sebagai kesempatan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan penelitian UMI, sekaligus mendorong peningkatan kualitas tata kelola riset.
Bagi universitas, penguatan kapasitas penelitian tidak hanya menyangkut jumlah proposal atau publikasi, tetapi juga kemampuan mengembangkan inovasi, mengelola program penelitian, dan membangun kolaborasi yang berkelanjutan.
LP2S Siapkan Roadmap Terintegrasi dan Pusat Unggulan IPTEK
Ketua LP2S UMI, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Hattah Fattah, M.S., menjelaskan bahwa workshop ini dirancang untuk menyelaraskan arah penelitian dosen dengan prioritas pengembangan universitas dan kebijakan penelitian nasional.
Menurutnya, penelitian fundamental harus menjadi fondasi bagi pengembangan riset lanjutan yang berpotensi menghasilkan manfaat sosial, teknologi, maupun komersial.
Karena itu, LP2S mendorong penyusunan roadmap yang saling terhubung, mulai dari tingkat program studi, fakultas, hingga pusat unggulan universitas.
Dalam kegiatan tersebut, LP2S juga menyerahkan tiga dokumen unggulan IPTEK UMI yang dipersiapkan sebagai kandidat pembentukan Pusat Unggulan IPTEK.
Pembentukan pusat unggulan tersebut ditargetkan pada November 2026, dengan rencana pengembangan skema pendanaan berkelanjutan dalam dua tahun berikutnya.
Langkah ini diharapkan membantu UMI membangun kelompok penelitian yang lebih fokus, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, dan mengembangkan hasil riset secara bertahap.
Persiapkan Proposal Kompetitif untuk Pendanaan 2027
Prof. Hattah menegaskan bahwa penyusunan roadmap juga menjadi bagian dari persiapan dosen menghadapi periode pengajuan program penelitian kementerian yang diproyeksikan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
“LP2S UMI berikhtiar penuh mengawal transisi UMI dari Klaster Utama menuju Klaster Mandiri. Workshop ini dipersiapkan secara sistematis untuk menghadapi pembukaan program riset kementerian periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Kami ingin memastikan proposal dosen UMI tidak sekadar rampung, tetapi benar-benar kompetitif dan bernilai jual tinggi di tingkat nasional,” ujar Prof. Hattah Fattah.
Menurutnya, proposal penelitian yang kuat perlu memiliki arah pengembangan yang jelas. Penelitian yang dilakukan hari ini seharusnya dapat menjadi pijakan bagi tahapan penelitian berikutnya, bukan berhenti sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.
LP2S juga mendorong keterhubungan roadmap penelitian dengan delapan Center of Excellence atau Pusat Unggulan UMI yang menjadi bagian dari arah pengembangan kelembagaan riset.
“Semua roadmap harus terintegrasi. Kita tidak hanya fokus pada penelitian, tetapi juga keberlanjutannya pada pengabdian kepada masyarakat. Kebijakan kementerian saat ini membatasi dosen yang telah dua kali meloloskan penelitian fundamental untuk wajib naik kelas ke tingkat hilirisasi. Oleh karena itu, roadmap yang presisi adalah kunci utama keberhasilan kita bersama,” pungkasnya.
Menyatukan Arah Penelitian Lintas Fakultas
Workshop ini menghadirkan empat narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Hattah Fattah, M.S.; Yohanes Eko Adi Prasetyanto, Ph.D.; Prof. Dr. Ir. Andi Aladin, M.T., IPM., ASEAN Eng.; serta Prof. Dr. Andi Asrina, S.K.M., M.Kes.
Keterlibatan 60 dosen lintas fakultas menjadi bagian penting dalam upaya membangun keselarasan penelitian di lingkungan UMI.
Melalui kegiatan ini, setiap bidang keilmuan didorong untuk menyusun arah penelitian yang sesuai dengan kompetensinya, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan disiplin ilmu lain.
Pendekatan tersebut penting karena banyak persoalan masyarakat dan industri tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang ilmu.
Pengembangan teknologi, persoalan kesehatan, lingkungan, pangan, energi, maupun tata kelola membutuhkan penelitian yang saling melengkapi.
Karena itu, integrasi roadmap diharapkan membantu universitas menghubungkan keunggulan masing-masing bidang dengan kebutuhan nyata di luar kampus.
Menuju Klaster Mandiri, UMI Perkuat Ekosistem Riset Berdampak
Melalui workshop ini, UMI menempatkan penyusunan roadmap sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem penelitian yang lebih terarah.
Fokusnya bukan semata-mata meningkatkan jumlah kegiatan penelitian, melainkan memperjelas kesinambungan antara gagasan ilmiah, pelaksanaan riset, pengembangan inovasi, dan pemanfaatan hasilnya.
Upaya tersebut juga berkaitan dengan pelaksanaan Catur Dharma UMI, sebagaimana dirumuskan dalam Statuta UMI Tahun 2024, Pasal 1 angka 4, yang meliputi Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian; Pengabdian kepada Masyarakat; serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Dengan arah penelitian yang semakin terintegrasi, UMI berharap dapat memperkuat kualitas proposal, memperluas kolaborasi, mengembangkan pusat unggulan IPTEK, dan meningkatkan peluang hilirisasi hasil penelitian.
Target menuju Klaster Mandiri bukan sekadar perubahan posisi kelembagaan, melainkan dorongan untuk membangun penelitian yang lebih kuat, berkelanjutan, dan memiliki manfaat yang dapat dirasakan.
Pesan Rektor UMI menjadi penegasan arah tersebut: riset tidak boleh berhenti pada publikasi. Ilmu pengetahuan perlu terus dikembangkan hingga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
(HUMAS UMI)























































































































