UMI Perkuat Akses Pendanaan Riset BRIN, Rektor UMI : Riset Jangan Hanya Selesai Diteliti, Harus Dimanfaatkan
MAKASSAR, umi.ac.id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus memperkuat kapasitas dosen dan penelitinya dalam memperoleh pendanaan riset nasional. Salah satunya melalui Sosialisasi Skema Pendanaan Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tahun 2026, yang digelar di Classroom LPM Lantai 6 UMI, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya (LP2S) UMI tersebut menghadirkan Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN RI, sebagai narasumber utama.
Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., diwakili oleh Wakil Rektor II UMI Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara H.W., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Turut hadir Ismail Sulaiman, S.Sos., M.Si., Staf Ahli Deputi BRIN RI yang juga Penanggung Jawab Kegiatan Indonesia Timur dan Ahli Madya Analis Pemanfaatan Iptek, serta Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Hattah Fattah, M.S., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya (LP2S) UMI.
Kegiatan berlangsung secara hybrid dan secara khusus diikuti para dosen/peneliti yang telah memasukkan proposal riset BRIN. Tercatat sebanyak 30 peserta hadir secara langsung (offline) dan 31 peserta mengikuti secara daring (online).
Rektor UMI : Peluang Sudah Ada, Proposal Harus Dikawal
Mewakili Rektor UMI, Prof. Zakir Sabara menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti pada sosialisasi skema pendanaan. Menurutnya, peluang pendanaan BRIN yang tersedia harus benar-benar dimanfaatkan oleh dosen dan peneliti UMI dengan memperkuat kualitas proposal serta menyesuaikannya dengan skema pendanaan yang tepat.
Peserta, kata Prof. Zakir, perlu memanfaatkan kehadiran langsung pihak BRIN untuk mendapatkan masukan terhadap proposal yang telah disiapkan. Mulai dari melihat kekuatan proposal, menemukan bagian yang masih lemah hingga menentukan kesesuaian proposal dengan skema pendanaan BRIN. Hal tersebut sejalan dengan arahan Rektor agar proposal dibuka dan dibedah bersama, kemudian diperbaiki sebelum diajukan.
“Peluang BRIN sudah ada. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memastikan dosen dan peneliti UMI mampu memanfaatkan peluang itu dengan proposal yang berkualitas. Yang sudah siap kita dorong, sementara yang masih membutuhkan penguatan harus terus didampingi,” ujar Prof. Zakir.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari seberapa banyak proposal yang memperoleh pendanaan. Hasil akhirnya harus dapat terlihat dalam bentuk publikasi, inovasi, teknologi, rekomendasi kebijakan maupun produk yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Karena itu, ia menegaskan pesan Rektor UMI
“Riset UMI jangan hanya selesai diteliti. Riset UMI harus selesai dimanfaatkan.”
Menurut Prof. Zakir, prinsip tersebut sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, di mana aktivitas penelitian perguruan tinggi harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. UMI, lanjutnya, memiliki modal sumber daya akademik yang cukup besar. Saat ini UMI memiliki 1.003 dosen aktif dan 97 Guru Besar aktif, dengan publikasi terindeks Scopus mencapai 1.216 dokumen. UMI juga memiliki 41 jurnal terakreditasi SINTA dan satu jurnal terindeks Scopus.
Dari sisi pendanaan, penelitian UMI telah mencapai sekitar Rp21,14 miliar. Khusus tahun 2026, dosen UMI memperoleh sekitar Rp5,7 miliar pendanaan penelitian Kemdiktisaintek untuk 54 judul penelitian. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk semakin memperluas akses pendanaan penelitian melalui BRIN.
BRIN Dorong Peneliti UMI Maksimalkan Skema Pendanaan
Sementara itu, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN RI Prof. Dr. Eng. Agus Haryono memaparkan berbagai peluang dan skema pendanaan riset yang dapat dimanfaatkan para peneliti UMI.
Kehadiran BRIN dalam kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memberikan penguatan terhadap proposal yang telah disiapkan peserta. Dengan demikian, para pengusul tidak hanya memperoleh informasi mengenai skema pendanaan, tetapi juga dapat mengetahui kesesuaian substansi dan skema yang akan dituju.
Dalam konteks tersebut, peserta didorong untuk aktif berdiskusi mengenai karakter proposal yang kompetitif, kelemahan yang umum ditemukan dalam proposal penelitian, hingga pemilihan skema yang paling sesuai. Agenda coaching proposal memang menjadi salah satu penekanan kegiatan sebagaimana tercantum dalam sambutan pembukaan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi semakin banyak peneliti UMI untuk berkompetisi mendapatkan pendanaan BRIN sekaligus membuka ruang kolaborasi riset yang lebih luas antara kedua institusi.
LP2S UMI Siap Kawal Proposal Dosen
Ketua LP2S UMI, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Hattah Fattah, M.S., menyampaikan bahwa LP2S akan terus mengambil peran dalam mendampingi dan mengawal dosen UMI agar semakin kompetitif dalam memperoleh pendanaan penelitian eksternal, termasuk dari BRIN.
Menurut Prof. Hattah, kehadiran langsung BRIN menjadi kesempatan strategis bagi peneliti UMI untuk memperoleh informasi sekaligus masukan terhadap proposal yang telah disusun.
Ia menegaskan, tindak lanjut menjadi bagian penting setelah sosialisasi. Proposal yang telah siap perlu didorong, sedangkan proposal yang masih memiliki kekurangan perlu mendapatkan pendampingan. Hal tersebut sejalan dengan amanah yang disampaikan kepada LP2S agar proses setelah sosialisasi benar-benar dikawal.
“Target kita bukan sekadar dosen memahami skema BRIN, tetapi bagaimana semakin banyak proposal UMI yang kompetitif, memperoleh pendanaan, menghasilkan luaran berkualitas, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata kepada masyarakat,” ungkapnya.
Prof. Hattah juga berharap komunikasi antara UMI dan BRIN terus berkembang menjadi kolaborasi yang lebih konkret, baik melalui penelitian bersama, pemanfaatan fasilitas riset, penguatan kapasitas peneliti maupun pengembangan inovasi.
Harapan tersebut sejalan dengan pesan Rektor UMI agar hubungan UMI dan BRIN tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi diteruskan melalui peluang riset bersama, pemanfaatan fasilitas, serta perbaikan kapasitas peneliti secara berkelanjutan. (Humas UMI)























































































































