Abdidaya Ormawa 2026 di UMI Dorong Gerakan “Mahasiswa Pulang, Program Tetap Berjalan”
Empat sarasehan mempertemukan pimpinan 60 perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, dan mitra untuk memastikan inovasi pemberdayaan tidak berhenti setelah kompetisi berakhir
Makassar, umi.ac.id - Apa gunanya program pengabdian mahasiswa yang berhasil meraih penghargaan, tetapi berhenti begitu mahasiswa meninggalkan desa?
Pertanyaan inilah yang menjadi perhatian utama dalam empat forum sarasehan Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Jumat (23/10/2026).
Melibatkan delegasi dari 60 perguruan tinggi, kegiatan yang berlangsung di sejumlah ruang Fakultas Kedokteran UMI tersebut membahas satu tantangan penting: bagaimana memastikan inovasi mahasiswa terus memberi manfaat meskipun program, pendampingan, dan pendanaannya telah berakhir.
BACA JUGA:
Empat forum yang diselenggarakan meliputi Sarasehan Pimpinan Perguruan Tinggi, Sarasehan Dosen Pendamping, Sarasehan Ormawa dan Tim Pelaksana, serta Sarasehan Mitra Abdidaya Ormawa.
Pimpinan Kampus: Pengabdian Tidak Boleh Berhenti pada Laporan
Sarasehan Pimpinan Perguruan Tinggi berlangsung di Aula Teleconference Lantai 5 Fakultas Kedokteran UMI dengan tema “Memperkuat Kolaborasi Antarperguruan Tinggi untuk Keberlanjutan Program Pemberdayaan Masyarakat”.
Forum ini membahas pentingnya dukungan kelembagaan, kebijakan kampus, sumber daya, dan pendanaan agar program mahasiswa dapat terus dikembangkan.
Salah satu perhatian utama adalah menghubungkan hasil pemberdayaan mahasiswa dengan kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan dukungan perguruan tinggi, inovasi yang telah dirintis mahasiswa berpeluang menjadi program berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan tahunan.
Dosen dan Mahasiswa: Dari Inovasi Menuju Dampak
Di Lantai 2 Gedung Baru Fakultas Kedokteran UMI, Sarasehan Dosen Pendamping membahas tema “Penguatan Peran Dosen Pendamping dalam Mewujudkan Program Ormawa yang Berdampak dan Berkelanjutan”.
Para dosen berbagi pengalaman mengenai pembimbingan mahasiswa, perancangan program, serta strategi mendampingi masyarakat sesuai kebutuhan wilayah binaan.
Dosen tidak hanya berperan sebagai pembimbing akademik, tetapi juga membantu mahasiswa memastikan program dapat dilaksanakan dan dikembangkan bersama masyarakat.
Sementara itu, Sarasehan Ormawa dan Tim Pelaksana di Lantai 5 mengangkat tema “Dari Karya menjadi Dampak: Inovasi, Kolaborasi dan Keberlanjutan Gerakan Mahasiswa”.
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bertukar pengalaman tentang inovasi pertanian berbasis Internet of Things (IoT), ekonomi sirkular, kesehatan masyarakat, hingga penguatan ekonomi desa.
Forum ini membuka peluang pertukaran gagasan dan kerja sama antartim untuk mengembangkan pendekatan pemberdayaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di daerah lain.
Mitra Desa: Masyarakat Harus Menjadi Pemilik Keberlanjutan
Aspek keberlanjutan turut dibahas dalam Sarasehan Mitra Abdidaya Ormawa di Lantai 1 Gedung Fakultas Kedokteran UMI.
Mengangkat tema “Sinergi Kemitraan Multipihak dalam Membangun Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat yang Berkelanjutan”, forum ini mempertemukan unsur perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah desa atau kelurahan, dan mitra eksternal.
Para mitra memperoleh ruang untuk mengevaluasi pelaksanaan program, menyampaikan kebutuhan masyarakat, serta memberikan masukan mengenai langkah pengembangan berikutnya.
Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena keberhasilan pemberdayaan tidak hanya diukur dari inovasi yang diperkenalkan, tetapi juga dari kemampuan warga memanfaatkan dan melanjutkannya secara mandiri.
Mahasiswa boleh menyelesaikan program, tetapi manfaatnya diharapkan tetap hidup di tengah masyarakat.
UMI Jadi Ruang Pertemuan Gagasan Pengabdian Nasional
Keempat sarasehan tersebut mempertemukan empat unsur yang saling melengkapi: pimpinan kampus menyiapkan dukungan, dosen memperkuat pendampingan, mahasiswa mengembangkan inovasi, dan mitra menjaga keberlanjutan manfaatnya.
Sebagai tuan rumah Abdidaya Ormawa 2026, UMI menghadirkan ruang pertukaran pengalaman pemberdayaan masyarakat dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Semangat ini sejalan dengan identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta pelaksanaan Catur Dharma UMI sebagaimana dirumuskan dalam Statuta UMI Tahun 2024, Pasal 1 angka 4, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Melalui empat sarasehan tersebut, Abdidaya Ormawa 2026 menempatkan keberlanjutan sebagai perhatian bersama, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Sebab, ukuran pengabdian bukan hanya apa yang berhasil dikerjakan mahasiswa selama berada di desa, tetapi juga apa yang tetap mampu dijalankan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus. Mahasiswa pulang, program tetap berjalan. Dari karya, menjadi dampak yang berkelanjutan.























































































































