Arsitektur UMI Yudisium 39 Mahasiswa, Masa Studi Tercepat 3 Tahun 7 Bulan
MAKASSAR, umi.ac.id — Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali melahirkan 39 lulusan baru melalui Yudisium Mahasiswa Tugas Akhir. Dari 39 mahasiswa tersebut, tercatat masa studi tercepat 3 tahun 7 bulan, sementara capaian akademik tertinggi mencapai IPK 3,94.
Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran keberhasilan mahasiswa menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan, mulai dari proses pembelajaran, penyusunan Tugas Akhir, bimbingan, seminar, ujian, hingga pemenuhan seluruh persyaratan akademik.
Yudisium dibuka Wakil Dekan III Fakultas Teknik UMI, Dr. Ir. Mahmuddin, M.T., dan dihadiri Ketua Program Studi Arsitektur UMI, Dr. Pratiwi Juniar Achmad Gani, S.T., M.Sc., Sekretaris Program Studi, serta jajaran dosen Program Studi Arsitektur UMI.
Bagi Program Studi Arsitektur, yudisium tidak hanya menjadi penanda selesainya proses akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Ketua Program Studi Arsitektur UMI, Dr. Pratiwi Juniar Achmad Gani, mengatakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan, khususnya Tugas Akhir, membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menerima kritik dan evaluasi.
“Hari ini bukan sekadar tentang sebuah nama yang akan dibacakan dan sebuah status kelulusan yang akan ditetapkan. Hari ini merupakan titik dari sebuah perjalanan panjang yang telah dilalui mahasiswa selama menempuh pendidikan di Program Studi Arsitektur,” ungkapnya.
Menurut Pratiwi, perjalanan akademik para mahasiswa juga tidak terlepas dari dukungan dosen pembimbing, dosen penguji, tenaga kependidikan, serta keluarga yang mendampingi mahasiswa hingga menyelesaikan pendidikan.
Karena itu, capaian masa studi tercepat maupun IPK tertinggi menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa yang patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh angka dan lamanya masa studi.
Pesan serupa disampaikan Wakil Dekan III Fakultas Teknik UMI, Dr. Ir. Mahmuddin, M.T. Ia mengingatkan para lulusan bahwa setiap mahasiswa memiliki perjalanan akademik yang berbeda.
“Keterlambatan bukanlah kegagalan, tetapi bagian dari proses. Yang terpenting adalah tetap berusaha, terus melangkah, dan menyelesaikan apa yang telah dimulai,” pesannya.
Menurut Mahmuddin, yang lebih penting setelah menyelesaikan pendidikan adalah bagaimana lulusan mampu membawa kompetensi yang diperoleh di kampus ke dalam kehidupan profesional. Hal tersebut menjadi tantangan berikutnya bagi 39 lulusan Program Studi Arsitektur UMI. Mereka tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan dan keterampilan arsitektur, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Pratiwi mengatakan, ilmu arsitektur yang diperoleh mahasiswa selama berada di kampus harus mampu diterjemahkan menjadi karya dan solusi yang memberikan manfaat lebih luas.
“Kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang baru. Ilmu arsitektur yang telah diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, gambar kerja, maket, laporan, ataupun Tugas Akhir. Ilmu tersebut akan menemukan maknanya ketika dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” pesannya.
Dengan bertambahnya 39 lulusan baru, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UMI berharap jejaring alumni semakin kuat dan mampu berkontribusi dalam pengembangan dunia arsitektur, profesi, masyarakat, serta almamater. Yudisium sekaligus menjadi apresiasi bagi para mahasiswa yang telah menuntaskan pendidikan, serta bagi dosen dan tenaga kependidikan yang mendampingi proses akademik hingga para mahasiswa mencapai tahap kelulusan.
(HUMAS)























































































































