Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ahmad Saleh: Dari Farmasi UMI, Meraih Doktor di Austria, Kini Menjadi Wakil Rektor IV Universitas Mandala Waluya
Dari Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ahmad Saleh, Ph.D. menempuh perjalanan akademik hingga University of Innsbruck, Austria, dan mendalami teknologi penghantaran obat berbasis nanopartikel. Pengalaman riset, publikasi, dan jejaring akademik internasional tersebut kini dibawanya ke ruang kepemimpinan sebagai Wakil Rektor IV Universitas Mandala Waluya bidang kerja sama dan hubungan internasional.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada satu pertanyaan sederhana di balik perjalanan panjang penelitian obat: Obat sudah ditemukan. Tetapi bagaimana memastikan obat itu dapat sampai ke tempat yang tepat di dalam tubuh?
Pertanyaan itu membawa dunia farmasi masuk ke wilayah yang semakin kompleks: nanopartikel, mukosa, membran sel, peptida, lipid, sistem penghantaran, dan berbagai teknologi yang dirancang agar zat aktif dapat bekerja semakin efektif.
Di bidang inilah Ahmad Saleh, Ph.D., alumnus Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia, membangun sebagian perjalanan ilmiahnya. Dari Farmasi UMI, ia melanjutkan pendidikan hingga University of Innsbruck, Austria. Dari sana lahir berbagai penelitian dan publikasi internasional mengenai drug delivery system.
Kini perjalanan itu memasuki ruang yang berbeda. Ahmad tidak hanya meneliti bagaimana obat dapat menembus sebuah penghalang biologis. Ia kini memperoleh tanggung jawab untuk ikut membuka lebih banyak penghubung antarinstitusi sebagai Wakil Rektor IV Universitas Mandala Waluya bidang kerja sama dan hubungan internasional.
Berawal dari Farmasi UMI
Perjalanan tersebut berawal di Universitas Muslim Indonesia. Ahmad menempuh pendidikan Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi UMI pada 2004–2008. Di sinilah fondasi keilmuannya dibangun: obat, bahan aktif, formulasi, farmakologi, teknologi farmasi, dan berbagai pengetahuan yang menjadi dasar profesi kefarmasian.
Tetapi pendidikan sarjana ternyata baru menjadi pintu pertama. Ahmad melanjutkan pendidikan profesi apoteker dan magister. Kemudian perjalanan akademiknya bergerak jauh dari Indonesia. Ia menuju Austria.
Dari Makassar menuju Innsbruck
Pada 2019, Ahmad memulai perjalanan doktoralnya di bidang Pharmaceutical Sciences, Institute of Pharmacy, University of Innsbruck, Austria. Perjalanan ini membawanya semakin dalam ke dunia penelitian teknologi farmasi. Bukan sekadar mengenai obat apa yang dapat digunakan. Tetapi: bagaimana obat itu dibawa, dilindungi, dilepaskan, dan dihantarkan menuju target biologisnya.
Inilah dunia drug delivery system. Bidang yang mempertemukan ilmu farmasi dengan kimia material, biologi, nanoteknologi, dan teknologi formulasi.
Ketika Tantangannya Bukan Lagi Menemukan Obat
Sebuah molekul obat dapat memiliki aktivitas yang baik di laboratorium. Namun ketika masuk ke tubuh manusia, persoalannya dapat berubah. Ada lingkungan biologis, enzim, mukus, membran, perubahan pH, stabilitas, dan berbagai penghalang yang harus dilewati sebelum zat aktif mencapai lokasi yang dituju.
Karena itu, salah satu tantangan farmasi modern bukan hanya: "Obat apa yang bekerja?" Tetapi juga: "Bagaimana membawa obat itu sampai ke tempat ia harus bekerja?" Di sinilah fokus penelitian Ahmad berkembang.
Meneliti Penghantaran Obat
Jejak ilmiah Ahmad memperlihatkan konsistensi pada teknologi penghantaran obat. Profil akademiknya mencatat bidang seperti drug delivery, mucosal drug delivery systems, nanoparticle drug delivery systems, dan nanoteknologi.
Penelitiannya berkembang pada berbagai pendekatan: chitosan-polyphosphate nanoparticles, peptide antibiotic-polyphosphate nanoparticles, self-emulsifying drug delivery systems, nanostructured lipid carriers, charge-converting nanocarriers, hingga liposom dengan karakteristik tertentu untuk meningkatkan kemampuan sistem pembawa melewati hambatan biologis.
Semua istilah tersebut mungkin terdengar sangat teknis. Namun gagasan dasarnya dapat disederhanakan: bagaimana membuat obat dapat melakukan perjalanan yang lebih baik di dalam tubuh.
Nanopartikel untuk Menghadapi Penghalang Biologis
Salah satu penelitian Ahmad membahas chitosan-polyphosphate nanoparticles untuk pelepasan obat yang ditargetkan pada membran absorpsi. Penelitian tersebut mencantumkan Ahmad dengan afiliasi Center for Chemistry and Biomedicine, Department of Pharmaceutical Technology, Institute of Pharmacy, University of Innsbruck, sekaligus Department of Pharmacy, Universitas Mandala Waluya, Indonesia.
Penelitian lainnya mengembangkan nanopartikel berbasis antibiotik-peptida dan polifosfat untuk menghadapi hambatan enzimatik serta mukus di usus. Pertanyaannya tetap sama: Bagaimana sistem pembawa dapat membantu zat aktif melewati hambatan yang secara alami dimiliki tubuh?
Dari sinilah penelitian berkembang menjadi rekayasa pada skala yang sangat kecil. Tetapi tujuan akhirnya tetap sangat manusiawi: membuat terapi dapat dihantarkan dengan lebih baik.
Dari Nanopartikel menuju Lipid
Riset Ahmad kemudian terus berkembang. Dalam publikasi di International Journal of Pharmaceutics, Ahmad bersama tim peneliti mengembangkan nanostructured lipid carriers yang dimodifikasi menggunakan cell-penetrating peptides. Ia juga terlibat dalam penelitian mengenai nanopartikel berbasis lipid dan pendekatan modifikasi permukaan untuk meningkatkan interaksi serta pengambilan oleh sel.
Pada 2025, namanya kembali muncul dalam penelitian mengenai charge-converting liposomes, sebuah pendekatan yang dirancang untuk menghadapi tantangan penetrasi lapisan mukus sekaligus meningkatkan cellular uptake. Artinya, fokus penelitian tersebut terus bergerak pada satu persoalan fundamental: bagaimana mengatasi penghalang antara obat dan tempat obat itu harus bekerja.
Publikasi sebagai Jejak Pengetahuan
Penelitian memperoleh makna lebih luas ketika hasilnya dapat diperiksa, dikritik, dikembangkan, dan digunakan oleh ilmuwan lain. Karena itu, publikasi menjadi bagian penting dalam perjalanan Ahmad. Jejak publikasinya mencakup berbagai jurnal internasional pada bidang farmasi, biomaterial, dan penghantaran obat. Bidang penelitiannya juga tercatat secara konsisten pada profil SINTA sebagai drug delivery, mucosal drug delivery systems, nanoparticle drug delivery systems, dan nanoteknologi.
Di sinilah penelitian tidak berhenti sebagai eksperimen. Ia berubah menjadi pengetahuan yang dapat diteruskan.
Ilmuwan Tidak Bekerja Sendiri
Ada pelajaran lain dari dunia penelitian modern. Ilmu pengetahuan semakin jarang tumbuh dari satu orang yang bekerja sendirian. Satu publikasi dapat mempertemukan peneliti dari beberapa disiplin. Satu laboratorium dapat mempertemukan mahasiswa doktoral dengan profesor dan peneliti dari berbagai negara. Satu pertanyaan ilmiah dapat membutuhkan perspektif farmasi, kimia, material, biologi, dan kedokteran sekaligus.
Ahmad mengalami lingkungan seperti itu selama pendidikan dan penelitian internasionalnya. Karena itu, selain menghasilkan publikasi, pendidikan doktoral juga menghasilkan sesuatu yang tidak kalah penting: jejaring.
Sebelum Austria, Sudah Menjadi Dosen
Perjalanan Ahmad di dunia perguruan tinggi sebenarnya telah dimulai jauh sebelum pendidikan doktoralnya. Ia telah menjadi dosen Farmasi di lingkungan Universitas Mandala Waluya sejak 2010. Jejaknya dalam pengembangan pendidikan Farmasi juga terlihat ketika ia pernah menjalankan tanggung jawab sebagai Ketua Program Studi Farmasi.
Artinya, ketika berangkat menempuh pendidikan doktoral, Ahmad tidak hanya membawa identitas seorang mahasiswa. Ia membawa pengalaman sebagai dosen dan pengelola pendidikan. Setelah memperoleh pengalaman internasional, ia kembali membawa perspektif baru kepada institusinya.
Dari Peneliti menuju Wakil Rektor IV
Pada 2025, perjalanan tersebut memasuki babak baru. Ahmad dipercaya menjadi Wakil Rektor IV Universitas Mandala Waluya bidang kerja sama dan hubungan internasional. Ruang kerjanya pun berkembang. Jika sebelumnya banyak waktunya digunakan untuk membaca literatur, melakukan eksperimen, menganalisis data, menulis manuskrip, dan mempublikasikan penelitian, kini ada tanggung jawab kelembagaan yang lebih luas: kerja sama, kemitraan, jejaring akademik, hubungan internasional, dan bagaimana perguruan tinggi dapat terhubung dengan institusi lain.
Perubahan tersebut sebenarnya memiliki satu benang merah dengan perjalanan ilmiahnya. Penelitian mengajarkannya bahwa pengetahuan tumbuh melalui koneksi. Kepemimpinan perguruan tinggi memberinya ruang untuk memperluas koneksi itu.
Dari Drug Delivery menuju Knowledge Connection
Ada paralel yang menarik. Selama pendidikan doktoral, Ahmad meneliti bagaimana sebuah zat aktif dapat dihantarkan melewati berbagai hambatan biologis menuju tempat yang dituju. Sekarang, sebagai Wakil Rektor IV, ruang kerjanya berkaitan dengan bagaimana institusi, pengetahuan, akademisi, mahasiswa, dan peluang dapat saling dihubungkan.
Tentu keduanya merupakan pekerjaan yang berbeda. Namun ada satu gagasan yang mempertemukannya: membangun jalur agar sesuatu yang bernilai dapat sampai ke tempat yang membutuhkannya. Dalam penelitian, yang dihantarkan adalah obat. Dalam kerja sama akademik, yang dihubungkan adalah pengetahuan, manusia, dan kesempatan.
Inilah yang dapat disebut: "Dari Drug Delivery menuju Knowledge Connectivity." Dari penghantaran obat menuju keterhubungan pengetahuan.
Membawa Pengalaman Internasional Pulang
Pengalaman internasional memperoleh nilai terbesar ketika tidak berhenti menjadi pengalaman personal. Ia harus kembali — masuk ke ruang kuliah, masuk ke laboratorium, masuk ke sistem pendidikan, masuk ke jejaring penelitian, dan membuka kesempatan bagi orang lain.
Dalam konteks itulah posisi Wakil Rektor IV memiliki relevansi dengan perjalanan Ahmad. Pengalaman selama berada di Austria bukan hanya sebuah gelar doktor. Ia membawa pemahaman mengenai bagaimana penelitian internasional bekerja, bagaimana kolaborasi dibangun, bagaimana publikasi dikembangkan, bagaimana jejaring ilmiah tumbuh, dan bagaimana perguruan tinggi dapat berinteraksi dengan ekosistem akademik global. Belajar ke luar negeri menjadi lebih bermakna ketika pengalaman itu kembali menjadi pintu bagi orang lain.
Dari Farmasi UMI menuju Jejaring Akademik Internasional
Universitas Muslim Indonesia berada pada titik awal perjalanan tersebut. Dari Fakultas Farmasi UMI, Ahmad memperoleh fondasi keilmuan yang kemudian terus berkembang: Farmasi UMI, profesi, magister, dosen, peneliti, University of Innsbruck, publikasi internasional, doktor, kemudian Wakil Rektor. Jika dibaca sebagai perjalanan, ada perubahan ruang pengabdian yang menarik: dari mempelajari obat → meneliti penghantaran obat → menghasilkan pengetahuan → membangun jejaring → memimpin kerja sama perguruan tinggi.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ahmad Saleh memulai perjalanan akademiknya dari Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia. Ia kemudian masuk ke dunia pendidikan tinggi sebagai dosen. Melanjutkan perjalanan akademik hingga University of Innsbruck, Austria. Meneliti nanopartikel, mukosa, lipid, peptida, liposom, dan berbagai teknologi penghantaran obat. Penelitiannya melahirkan publikasi internasional dan mempertemukannya dengan jejaring ilmiah lintas negara.
Kini, perjalanan tersebut memasuki ruang pengabdian yang lebih luas. Ahmad Saleh dipercaya menjadi Wakil Rektor IV Universitas Mandala Waluya bidang kerja sama dan hubungan internasional. Dulu ia meneliti bagaimana obat dapat melewati penghalang untuk sampai ke targetnya. Kini ia ikut membangun jalan agar perguruan tinggi dapat melampaui batas institusinya dan terhubung dengan dunia yang lebih luas.
Dari penghantaran obat menuju keterhubungan pengetahuan. Sebab pada akhirnya, ilmu tidak hanya membutuhkan orang yang menemukannya. Ilmu juga membutuhkan orang yang mampu menghubungkannya dengan manusia, institusi, dan dunia yang lebih luas. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































