Dari Kampus, Menjadi Dampak - Aslail Akbar, S.KM.: Alumni FKM UMI, Dirikan PT Indotama Jasa Sertifikasi dan PT Zayyan Zara Travel
MAKASSAR, umi.ac.id — Seorang sarjana kesehatan masyarakat tidak selalu berkarier di rumah sakit, puskesmas, atau instansi kesehatan. Kompetensinya juga dapat berkembang menjadi kewirausahaan yang menciptakan layanan, membuka ruang kerja, dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Jalan itulah yang ditempuh Aslail Akbar, S.KM., alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) angkatan 2008 yang menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2013.
Berangkat dari pengalaman akademik dan organisasi di UMI, Aslail kemudian membangun usaha pada dua bidang yang berbeda tetapi memiliki satu benang merah: pelayanan dan kepercayaan. Pada 2019, ia mendirikan PT Indotama Jasa Sertifikasi yang bergerak dalam layanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Enam tahun kemudian, pada 2025, ia memperluas kiprah kewirausahaannya dengan mendirikan PT Zayyan Zara Travel yang bergerak dalam layanan perjalanan ibadah Umrah dan Haji Khusus. Dari keselamatan pekerja hingga pelayanan jamaah, perjalanan Aslail memperlihatkan bahwa kewirausahaan dapat tumbuh ketika ilmu, keberanian, dan orientasi pelayanan bertemu.
Organisasi Kampus Menjadi Ruang Belajar Kepemimpinan
Putra kelahiran Pepuro Utara, Luwu Timur, itu telah mengasah kemampuan kepemimpinan sejak menjadi mahasiswa FKM UMI. Aslail aktif dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa, organisasi mahasiswa di tingkat fakultas, hingga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Pengalaman tersebut menjadi ruang belajar di luar kelas. Berorganisasi mempertemukannya dengan banyak karakter manusia, melatih komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, serta kemampuan membangun jejaring. Bekal itu kemudian menemukan relevansinya ketika Aslail memasuki dunia usaha. Sebab membangun perusahaan bukan hanya membutuhkan modal dan gagasan. Seorang entrepreneur juga harus mampu membaca kebutuhan, membangun tim, mengambil keputusan, menjaga kepercayaan, dan memastikan layanan terus berkembang.
“Kampus memberi ilmu. Organisasi melatih kepemimpinan. Dunia usaha kemudian menguji keduanya melalui keputusan dan tanggung jawab nyata.”
Dari FKM UMI Menuju Bisnis Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pada 2019, Aslail mendirikan PT Indotama Jasa Sertifikasi dan menjalankan peran sebagai founder, CEO, sekaligus direktur. Perusahaan tersebut bergerak sebagai Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3), dengan layanan antara lain pelatihan K3 bersertifikasi Kemnaker dan BNSP, konsultasi, serta penyediaan layanan terkait K3.
Di sinilah latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat Aslail menemukan salah satu jalur implementasinya. K3 tidak semata-mata berbicara mengenai pemenuhan persyaratan di tempat kerja. Di baliknya terdapat manusia yang harus dilindungi dari risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat pekerjaan. Karena itu, layanan K3 pada akhirnya berkaitan dengan sesuatu yang sangat mendasar: memastikan manusia dapat bekerja dengan lebih aman dan sehat.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ilmu kesehatan masyarakat dapat berkembang dari ruang akademik menuju kewirausahaan dan kebutuhan dunia kerja. Dari seorang lulusan FKM, Aslail bergerak menjadi pelaku usaha yang membangun layanan pada bidang yang bersinggungan langsung dengan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja.
Dari Keselamatan Kerja Menuju Pelayanan Perjalanan Ibadah
Perjalanan kewirausahaan Aslail tidak berhenti pada bidang K3. Pada 2025, ia mendirikan PT Zayyan Zara Travel, tempat ia juga menjalankan peran sebagai founder, CEO, dan direktur. Perusahaan tersebut bergerak dalam pelayanan perjalanan Umrah dan Haji Khusus dengan keberangkatan grup setiap bulan.
Sekilas, K3 dan perjalanan ibadah merupakan dua bidang yang berbeda. Namun ada satu benang merah yang mempertemukan keduanya: kepercayaan. Dalam layanan K3, perusahaan dan peserta mempercayakan proses peningkatan kompetensi dan kebutuhan keselamatan kerja. Dalam perjalanan ibadah, jamaah mempercayakan perjalanan yang memiliki nilai spiritual dan personal yang sangat besar. Karena itu, bisnis pelayanan tidak cukup hanya menjual produk. Ia harus mampu menjaga amanah.
“Bisnis boleh bergerak pada bidang yang berbeda, tetapi kepercayaan pelanggan tetap memiliki bahasa yang sama: pelayanan yang baik dan amanah yang dijaga.”
Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Layanan
Perjalanan Aslail juga memberikan perspektif lain mengenai dampak seorang alumni. Perguruan tinggi tentu mempersiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia kerja. Tetapi pendidikan juga dapat melahirkan keberanian untuk menciptakan layanan dan membangun usaha.
Aslail memilih jalan tersebut. Ia tidak membatasi kompetensinya hanya pada satu jenis pekerjaan. Latar belakang kesehatan masyarakat dibawanya menuju bidang K3. Pengalaman kepemimpinan dan kewirausahaan kemudian dikembangkan ke sektor perjalanan ibadah. Lintasannya membentuk perjalanan yang jelas: FKM UMI → Organisasi Mahasiswa → Kewirausahaan → PT Indotama Jasa Sertifikasi → Layanan K3 → PT Zayyan Zara Travel → Pelayanan Perjalanan Ibadah.
Perjalanan ini sekaligus menunjukkan bahwa karier alumni tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Kompetensi dapat berkembang. Peluang dapat berubah. Bidang usaha dapat berbeda. Tetapi nilai yang dibawa dapat tetap sama. Bagi Aslail, benang merah tersebut adalah kepemimpinan, pelayanan, kepercayaan, dan tanggung jawab.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kisah Aslail Akbar memperluas gambaran mengenai kiprah alumni FKM UMI. Ada alumni yang mengabdi di puskesmas dan rumah sakit. Ada yang bekerja di pemerintahan. Ada yang bergerak dalam kesehatan dan keselamatan kerja. Ada pula yang memilih membangun usaha dan menciptakan layanan bagi masyarakat.
Aslail berada pada jalur kewirausahaan. Melalui PT Indotama Jasa Sertifikasi, ia mengembangkan layanan pada bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Melalui PT Zayyan Zara Travel, ia memperluas pengabdian usahanya pada pelayanan perjalanan ibadah. Dua perusahaan, dua bidang pelayanan, tetapi bertemu pada satu prinsip: usaha bertumbuh ketika kepercayaan dijaga.
Bagi UMI, perjalanan tersebut meninggalkan satu pengetahuan penting bahwa pendidikan kesehatan masyarakat tidak hanya melahirkan tenaga kesehatan. Ia juga dapat menjadi fondasi lahirnya entrepreneur yang memahami manusia, pelayanan, keselamatan, dan tanggung jawab sosial.
“Wirausaha bukan hanya tentang membangun perusahaan. Nilainya menjadi lebih besar ketika perusahaan yang dibangun mampu menghadirkan layanan, menjaga kepercayaan, dan memberi manfaat kepada orang lain.”
Dari keselamatan pekerja, menuju pelayanan jamaah. Dari kompetensi, menjadi kewirausahaan berbasis kepercayaan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































