Dari Kampus, Menjadi Dampak - Bahrin Dahlan, S.Kom., M.T.: Alumni Teknik Informatika UMI, Dua Periode Pimpin Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pohuwato
MAKASSAR, umi.ac.id — Aktif berorganisasi tidak harus membuat prestasi akademik tertinggal. Bahrin Dahlan, S.Kom., M.T., alumnus Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia (FIKOM UMI), menunjukkan keduanya dapat tumbuh bersama. Aktivis mahasiswa yang menyelesaikan studinya dengan predikat pujian itu kini dipercaya memimpin Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pohuwato, Gorontalo, sebagai dekan selama dua periode. Posisi Bahrin sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pohuwato masih tercatat aktif dalam daftar dosen dan pimpinan yang dipublikasikan Universitas Pohuwato. Jejak akademiknya juga tetap berjalan melalui penelitian, publikasi, dan kegiatan pengembangan mahasiswa di bidang teknologi informasi.
Perjalanan tersebut memiliki akar yang panjang di UMI. Bahrin merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Informatika FIKOM UMI angkatan 2000. Semasa kuliah, ia tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga aktif membangun pengalaman melalui organisasi mahasiswa. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), pengurus Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), serta memimpin study club. Di luar organisasi intra kampus, Bahrin juga aktif dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Bone (IPMB) UMI dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kesibukan tersebut tidak membuat studinya tertinggal. Bahrin mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu dengan predikat pujian. Di sinilah salah satu bagian menarik dari perjalanan Bahrin. Organisasi tidak ditempatkannya sebagai pesaing akademik. Keduanya justru menjadi dua ruang belajar yang saling melengkapi.
Ruang kuliah membangun kompetensi. Organisasi melatih kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, dan kemampuan mengambil tanggung jawab.
Dari Aktivis Mahasiswa Menjadi Pemimpin Akademik
Setelah menyelesaikan pendidikan, Bahrin memilih jalur akademik dan kemudian menjadi dosen. Perjalanan tersebut akhirnya membawanya ke Universitas Pohuwato, Gorontalo. Di kampus ini, ia berkembang sebagai dosen Teknik Informatika sekaligus peneliti. Profil Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat Bahrin sebagai dosen Universitas Pohuwato pada bidang Teknik Informatika.
Jejak penelitiannya menunjukkan bahwa ilmu informatika juga digunakan untuk menjawab persoalan yang dekat dengan masyarakat. Pada 2023, misalnya, Bahrin terlibat dalam penelitian pemanfaatan Support Vector Machine untuk mengklasifikasikan tingkat kepuasan masyarakat terhadap program pencegahan stunting. Pada 2025, ia ikut dalam penelitian penerapan algoritma K-Medoids untuk menentukan status gizi balita. Artinya, informatika dalam perjalanan Bahrin tidak hanya berkaitan dengan komputer dan perangkat lunak. Teknologi digunakan sebagai alat untuk membaca persoalan sosial dan membantu menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan.
Dua Periode Memimpin Fakultas Ilmu Komputer
Perjalanan akademiknya kemudian berkembang ke kepemimpinan universitas. Bahrin dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pohuwato dan telah menjalankan amanah tersebut selama dua periode. Jabatan itu memperluas ruang pengabdiannya. Jika sebelumnya ia bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan penelitian sebagai dosen, sebagai dekan ia berhadapan dengan pengelolaan fakultas, pengembangan akademik, dosen, mahasiswa, serta arah pendidikan teknologi informasi.
Yang menarik, pengalaman organisasinya ketika menjadi mahasiswa seolah menemukan ruang penerapan yang lebih besar. Dahulu, Bahrin belajar menggerakkan mahasiswa melalui BEM. Ia mengenal tata kelola organisasi melalui BLM dan membangun budaya akademik melalui study club. Kini, pengalaman kepemimpinan tersebut berkembang dalam tanggung jawab mengelola sebuah fakultas. Dari memimpin organisasi mahasiswa, kini memimpin fakultas.
Membawa Mahasiswa Menghadapi Era AI
Kepemimpinan Bahrin juga bergerak mengikuti perubahan teknologi. Dalam kegiatan Seminar Nasional IT Smart Generation ke-5 di Universitas Pohuwato, Bahrin menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Kegiatan tersebut tidak berhenti pada seminar, tetapi dilanjutkan dengan pelatihan AI yang membahas Natural Language Processing dan Machine Learning bagi dosen serta mahasiswa.
Ini menjadi bagian penting dari dampak seorang alumni FIKOM UMI. Ilmu yang dahulu diperoleh sebagai mahasiswa Teknik Informatika kini tidak hanya digunakan untuk karier pribadinya. Melalui kepemimpinan akademik, Bahrin berada dalam posisi untuk membantu menyiapkan mahasiswa lain menghadapi perubahan teknologi yang jauh lebih cepat dibandingkan ketika dirinya pertama kali memasuki bangku kuliah.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Bahrin dapat dibaca melalui lintasan yang sederhana tetapi kuat: Teknik Informatika UMI → Aktivis Mahasiswa → Lulus dengan Pujian → Dosen → Peneliti → Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pohuwato Dua Periode.
Namun kekuatan cerita ini bukan terletak pada panjangnya daftar organisasi atau jabatan. Yang lebih penting adalah kesinambungannya. Pengalaman berorganisasi ketika mahasiswa membentuk kepemimpinan. Prestasi akademik membangun kompetensi. Profesi dosen membuka ruang berbagi ilmu. Penelitian memperluas manfaat keilmuan. Sementara jabatan dekan memberinya ruang untuk ikut menentukan arah pendidikan dan menyiapkan generasi berikutnya. Kisah Bahrin sekaligus membawa pesan bagi mahasiswa FIKOM UMI bahwa prestasi akademik dan organisasi tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling menguatkan apabila dijalani dengan disiplin dan tujuan yang jelas.
"Kampus tidak hanya menyiapkan seseorang untuk memperoleh pekerjaan. Kampus juga dapat menjadi tempat pertama seseorang belajar memimpin sebelum kelak dipercaya memimpin orang lain."
Dahulu, Bahrin belajar memimpin di antara sesama mahasiswa. Kini, ia memimpin sebuah fakultas dan ikut menyiapkan mahasiswa menghadapi masa depan teknologi. Di UMI, ia membangun kapasitas. Di Universitas Pohuwato, kapasitas itu berkembang menjadi kepemimpinan dan pengabdian pendidikan.
Dari aktivis mahasiswa, menjadi pemimpin akademik. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































