Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. Ali Amal, S.T., M.Si., IPU: Alumni Teknik Sipil UMI, dari Proyek Jalan PLTA Bakaru hingga Pembina Jasa Konstruksi Kementerian PUPR
Dr. Ir. Ali Amal, S.T., M.Si., IPU membangun perjalanan lebih dari tiga dekade di bidang teknik sipil, jalan, jembatan, keselamatan jalan, dan jasa konstruksi. Alumni Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini memulai pengalaman profesional dari pekerjaan lapangan, terlibat dalam proyek jalan Bendungan Bakaru Hydro Electric Power di Pinrang, kemudian menangani berbagai proyek jalan dan jembatan hingga menjalankan tugas pembinaan jasa konstruksi di Kementerian PUPR. Perjalanannya menunjukkan bagaimana pengalaman proyek dapat berkembang menjadi keahlian, standar, keselamatan, dan pengembangan kompetensi insan konstruksi.
MAKASSAR, umi.ac.id — Jalan dan jembatan bukan sekadar bentangan beton dan aspal. Di balik setiap infrastruktur terdapat proses perencanaan, pengujian material, pengawasan mutu, keselamatan, standar teknis, serta tenaga profesional yang memastikan konstruksi dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Di ruang itulah Dr. Ir. Ali Amal, S.T., M.Si., IPU membangun perjalanan profesionalnya.
Ali Amal merupakan alumnus Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1991. Dari fondasi keilmuan tersebut, perjalanan profesionalnya berkembang dari pekerjaan lapangan menuju pengelolaan proyek jalan dan jembatan, keselamatan jalan, standardisasi teknis, hingga pembinaan jasa konstruksi.
Ia kemudian menyelesaikan pendidikan Magister Perkotaan dan Transportasi di Universitas Hasanuddin pada 2003 dan meraih gelar doktor Teknik Sipil dari Universitas Tarumanagara pada 2012. Penguatan kompetensi profesionalnya berlanjut melalui Program Profesi Insinyur Teknik Sipil Universitas Hasanuddin yang diselesaikannya pada 2023 dengan IPK 4,00.
Dari Teknik Sipil UMI ke Lapangan Konstruksi
Pengalaman profesional Ali Amal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an. Pada 1985–1987, ia terlibat sebagai pengawas lapangan dalam pembangunan Gedung SMEA Negeri Palu dan Workshop Kawatuna di Palu.
Pengalamannya kemudian berkembang ke pekerjaan infrastruktur yang lebih kompleks. Ia pernah menjadi Quality Engineer pada proyek jalan Bendungan Bakaru Hydro Electric Power di Pinrang, serta Senior Quality Material Engineer pada proyek peningkatan Jalan Paket 21 Enrekang–Makale ADB-XI.
Fase tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan kompetensinya. Teknik sipil tidak lagi hanya dipahami melalui teori di ruang kuliah, tetapi diterapkan melalui pengawasan pekerjaan, material, mutu, dan persoalan teknis yang ditemukan langsung di lapangan.
Perjalanan berikutnya membawa Ali Amal ke lingkungan pekerjaan umum dan bina marga. Ia pernah menjadi Asisten Teknik Pengawasan P3T-Nas pada Ditjen Bina Marga, kemudian dipercaya sebagai Asisten Perencanaan Jalan dan Jembatan di Kanwil Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Selatan.
Memimpin Proyek Jalan dan Jembatan
Seiring bertambahnya pengalaman, tanggung jawab Ali Amal juga berkembang. Pada 2000–2001, ia tercatat sebagai pemimpin proyek peningkatan Jalan Ruas KM 260–Watampone. Selanjutnya, pada 2002–2005, ia menjadi Pimpinan Bagian Proyek pembangunan Jalan Maros–Ujung Lamuru–Watampone.
Pengalaman tersebut berlanjut pada 2005–2010 ketika ia dipercaya menjadi Pimpinan Bagian Proyek Sinjai–Arasoe–Watampone–Sengkang–Impa Impa–Tarumpakae, dengan estimasi nilai proyek sekitar Rp120 miliar.
Berbagai penugasan itu memperlihatkan satu benang merah dalam perjalanan Ali Amal: jalan dan jembatan menjadi ruang panjang penerapan ilmu Teknik Sipil yang dipelajarinya sejak di UMI.
Namun perjalanan tersebut tidak berhenti pada pembangunan fisik.
Infrastruktur Bukan Hanya Dibangun, tetapi Harus Aman
Pengalaman panjang pada jalan dan jembatan kemudian berkembang ke bidang keselamatan. Pada 2013–2015, Ali Amal menjabat Kepala Seksi Keselamatan Jalan, Subdirektorat Teknik Lingkungan dan Keselamatan Jalan, Direktorat Bina Teknik Kementerian PUPR.
Dalam perjalanan profesionalnya, ia juga terlibat sebagai pengarah, adviser, dan narasumber ahli dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan keselamatan jalan, investigasi lokasi rawan kecelakaan, laik fungsi jalan, serta pelatihan keselamatan jalan.
Fase ini memperluas makna pekerjaannya di bidang infrastruktur. Jalan yang baik bukan hanya jalan yang selesai dibangun. Jalan juga harus memenuhi standar teknis, berfungsi dengan baik, dan memperhatikan keselamatan penggunanya.
Di sinilah pengalaman lapangan mulai berkembang menjadi kontribusi yang lebih luas: dari mengerjakan infrastruktur menuju menjaga mutu dan keselamatannya.
Dari Proyek menuju Pembinaan Jasa Konstruksi
Perjalanan Ali Amal kemudian semakin bergeser dari pelaksanaan proyek menuju pengembangan standar dan kompetensi konstruksi. Pada 2015–2017, ia menjabat Kepala Seksi Bimbingan Teknis Subdirektorat Standar dan Pedoman Direktorat Jembatan, Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR.
Selanjutnya, pada 2017–2021, ia menjalankan tugas sebagai Pejabat Pembina Jasa Konstruksi Madya pada Direktorat Bina Jasa Konstruksi Kementerian PUPR.
Pada fase inilah pengalaman panjangnya di lapangan memperoleh ruang dampak yang berbeda. Pengetahuan yang sebelumnya digunakan untuk mengawasi mutu, merencanakan jalan dan jembatan, serta mengelola proyek kemudian ikut digunakan dalam pembinaan kompetensi insan konstruksi.
Ali Amal terlibat dalam berbagai kegiatan bimbingan teknis dan pelatihan, antara lain keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi, laboratorium beton dan aspal, perencanaan teknis jembatan, sistem manajemen mutu, serta sistem manajemen keselamatan konstruksi.
Dengan demikian, kontribusinya tidak lagi hanya melekat pada infrastruktur yang pernah dikerjakan. Pengalaman tersebut juga ditransmisikan melalui standar, pembinaan, pelatihan, dan peningkatan kompetensi profesional.
Dari Membangun Infrastruktur hingga Membangun Kompetensi
Inilah bagian yang membedakan perjalanan Ali Amal. Pada fase awal, dampaknya dapat dilihat melalui pekerjaan fisik: gedung, jalan, jembatan, material, dan proyek. Pada fase berikutnya, dampak tersebut berkembang melalui keselamatan, standar teknis, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia konstruksi.
Perjalanan panjang itu juga disertai pengakuan kompetensi profesional. Ali Amal tercatat memiliki sertifikasi Insinyur Profesional Utama (IPU), kompetensi Ahli Utama Teknik Jalan, Ahli Utama Teknik Jembatan, serta kompetensi di bidang asesmen dan uji kompetensi.
Ia juga tercatat sebagai anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), dengan aktivitas profesional yang berkaitan dengan jalan, jembatan, dan terowongan.
Atas pengabdiannya, Ali Amal menerima Satyalancana Karya Satya X Tahun pada 2014 dan Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2017.
Ilmu yang Berpindah dari Proyek ke Manusia
Jika perjalanan Ali Amal dibaca secara utuh, dampaknya tidak hanya terletak pada berapa banyak proyek yang pernah ditangani. Ada proses yang lebih panjang. Ilmu Teknik Sipil UMI membawanya ke lapangan. Pengalaman lapangan membentuk keahlian dalam jalan dan jembatan. Keahlian tersebut berkembang ke keselamatan dan standar teknis, lalu digunakan untuk ikut membina kompetensi tenaga konstruksi.
Dengan kata lain, perjalanan profesionalnya bergerak dari membangun infrastruktur menuju ikut membangun manusia yang membangun infrastruktur.
Di situlah pengalaman seorang insinyur memperoleh daya ungkit yang lebih besar. Satu proyek memiliki batas lokasi dan waktu, sedangkan pengetahuan, standar, dan kompetensi yang ditransmisikan kepada profesional lain dapat bekerja pada lebih banyak proyek dan lebih banyak tempat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Dr. Ir. Ali Amal, S.T., M.Si., IPU dimulai dari Teknik Sipil UMI dan berkembang melalui pengalaman panjang dalam dunia konstruksi Indonesia. Ia pernah berada di lapangan sebagai pengawas dan quality engineer, menangani proyek jalan dan jembatan, memasuki bidang keselamatan jalan, terlibat dalam penyusunan dan penerapan standar teknis, hingga menjalankan tugas pembinaan jasa konstruksi di Kementerian PUPR.
Rangkaian tersebut membentuk perjalanan yang jelas: Teknik Sipil UMI → Lapangan Konstruksi → Jalan dan Jembatan → Keselamatan Jalan → Standar Teknis → Pembinaan Jasa Konstruksi → Pengembangan Kompetensi.
Dampaknya tidak berhenti pada infrastruktur yang pernah dibangun atau ditangani. Pengalaman itu berkembang menjadi pengetahuan yang dibagikan, standar yang diterapkan, keselamatan yang diperhatikan, serta kompetensi profesional yang ikut diperkuat.
"Insinyur tidak hanya meninggalkan jejak pada infrastruktur yang dibangun, tetapi juga pada standar, keselamatan, dan kompetensi manusia yang meneruskan pembangunan."
Itulah perjalanan dari ilmu menuju profesi, dari profesi menuju keahlian, dan dari keahlian menuju dampak. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































