Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. H. Erman Suparno: Alumni Teknik Sipil UMI, dari Mandor Bangunan hingga Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
Sebelum dipercaya menjadi anggota DPR RI dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Erman Suparno, M.B.A., M.Si. mengenal dunia kerja dari lapangan konstruksi. Ia pernah menjalani pekerjaan sebagai mandor bangunan, kemudian tumbuh sebagai profesional konstruksi, dan di tengah perjalanan kariernya menyelesaikan pendidikan Teknik Sipil di Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada 1986. Pengalaman sebagai pekerja, insinyur, dan pimpinan perusahaan kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuju parlemen dan pemerintahan nasional.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua perjalanan menuju kepemimpinan nasional dimulai dari ruang kekuasaan. Ada yang justru tumbuh dari lapangan kerja, menghadapi persoalan nyata, membangun kompetensi secara bertahap, dan melanjutkan pendidikan ketika karier sedang berjalan.
Perjalanan seperti itulah yang terlihat dalam sosok Dr. Ir. H. Erman Suparno, M.B.A., M.Si., alumnus Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia.
Erman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 20 Maret 1950. Setelah menyelesaikan pendidikan di STM Negeri 1 Yogyakarta pada 1969, ia memasuki dunia kerja dan pernah menjalani pekerjaan sebagai mandor bangunan sebelum kemudian membangun karier profesional di bidang konstruksi.
Pengalaman tersebut mempertemukannya sejak awal dengan realitas dunia kerja: disiplin, tanggung jawab, pengelolaan tenaga kerja, persoalan teknis, mutu pekerjaan, serta tuntutan menyelesaikan pekerjaan sesuai target. Dunia konstruksi kemudian menjadi ruang panjang yang membentuk perjalanan profesionalnya.
Dari Lapangan Konstruksi ke Teknik Sipil UMI
Perjalanan karier membawa Erman ke PT Pembangunan Perumahan (PP). Kemampuannya berkembang melalui berbagai pekerjaan konstruksi hingga kemudian ia mendapat penugasan di Makassar untuk menangani operasional perusahaan di wilayah Sulawesi. Fase Makassar menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Di tengah kesibukan bekerja, Erman memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia.
Ia menjalani pekerjaan dan pendidikan secara bersamaan hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan Teknik Sipil UMI pada 1986. Biografi Politikus si Tukang Beton juga mencatat fase tersebut sebagai masa ketika Erman bekerja sekaligus menempuh pendidikan di Fakultas Teknik UMI. Bagi perjalanan Erman, pendidikan tinggi tidak hadir sebelum dunia kerja, tetapi tumbuh bersama pengalaman profesionalnya. Lapangan konstruksi memberinya pengalaman mengenai persoalan pembangunan secara nyata, sedangkan pendidikan Teknik Sipil UMI memperkuat fondasi akademik dan analisis terhadap pekerjaan yang telah ditekuninya. Di sinilah UMI menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pekerja konstruksi yang terus meningkatkan kapasitas dirinya di tengah tuntutan profesi.
Dari Makassar ke Proyek Berskala Nasional
Pengalaman Erman di dunia konstruksi terus berkembang. Biografinya mencatat sekitar 14 tahun perjalanan profesionalnya di Sulawesi Selatan sebelum ia kembali ke Jakarta dan kemudian dikirim ke Jepang pada 1990 untuk memperdalam construction management atau manajemen konstruksi.
Salah satu karya yang dicatat dalam perjalanan profesionalnya di kawasan Sulawesi adalah pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Toton dan Pulau Batam. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari fase panjang ketika Erman menangani berbagai pekerjaan konstruksi dan pembangunan infrastruktur. Sepulang dari Jepang, tanggung jawab profesionalnya semakin berkembang. Ia kemudian dipercaya memimpin PT PP-Taisei Indonesia Construction.
Dalam periode kepemimpinannya, biografi Erman mencatat keterlibatan perusahaan dalam sejumlah proyek besar, antara lain Kompleks Bidakara Jakarta, Hotel Kempinski di Jalan Sudirman, dan Gedung Bank Internasional Indonesia di Jalan M.H. Thamrin. Pengalaman tersebut memperluas perjalanan Erman dari seorang pekerja lapangan menjadi profesional yang terlibat dalam pengelolaan pekerjaan konstruksi berskala besar.
Pendidikan Tetap Berjalan
Kesibukan profesional tidak menghentikan perjalanan akademik Erman.
Setelah menyelesaikan Teknik Sipil di UMI, ia melanjutkan pendidikan dan memperoleh gelar M.B.A. dari Newport University, California, Amerika Serikat, pada 1993. Pendidikan berikutnya ditempuh pada bidang administrasi negara di Universitas Indonesia, sebelum kemudian menyelesaikan pendidikan doktor bidang ilmu pendidikan di Universitas Negeri Jakarta.
Perjalanan tersebut memperlihatkan pola yang konsisten dalam hidup Erman: pekerjaan dan pendidikan berjalan beriringan. Ia tidak meninggalkan dunia profesional untuk belajar, tetapi menggunakan pendidikan untuk terus memperluas cara pandangnya terhadap persoalan yang ditemui dalam pekerjaan. Dari teknik sipil, wawasan akademiknya berkembang menuju manajemen, administrasi, hingga pendidikan. Pengalaman multidisiplin tersebut kemudian menjadi bagian dari bekalnya ketika ruang pengabdian bergerak dari perusahaan menuju kebijakan publik.
Dari Profesional Konstruksi ke DPR RI
Setelah puluhan tahun berkiprah sebagai profesional, perjalanan Erman memasuki fase baru ketika ia terjun ke dunia politik.
Pada Pemilu 1999, Erman terpilih menjadi anggota DPR RI. Ia kembali terpilih pada Pemilu 2004 dan kemudian menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI yang membidangi antara lain infrastruktur dan perhubungan. Riwayat tersebut juga tercatat dalam biografi Politikus si Tukang Beton.
Masuknya Erman ke parlemen memperluas ruang penerapan pengalaman profesionalnya. Persoalan yang sebelumnya dihadapi pada tingkat proyek dan perusahaan kemudian bertemu dengan pembahasan infrastruktur dan pembangunan pada tingkat kebijakan nasional. Perjalanan ini penting karena menunjukkan bahwa pengalaman teknis tidak selalu berhenti pada profesi teknis. Pengetahuan lapangan dapat berkembang menjadi salah satu bekal dalam memahami persoalan pembangunan dari sisi yang lebih luas.
Dipercaya Menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI
Perjalanan Erman kemudian memasuki pemerintahan nasional ketika ia dipercaya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia mencatat Erman Suparno diangkat menggantikan Fahmi Idris sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dokumen Kementerian Ketenagakerjaan juga mencatat berbagai regulasi yang ditandatangani Erman dalam kapasitas tersebut hingga 2009.
Posisi itu membawa perjalanan Erman ke ruang tanggung jawab yang berbeda. Jika dunia konstruksi mempertemukannya dengan tenaga kerja pada tingkat proyek dan perusahaan, kementerian mempertemukannya dengan persoalan ketenagakerjaan dalam skala nasional. Pengalaman sebagai pekerja, profesional, dan pimpinan perusahaan memberikan latar yang khas ketika ia kemudian berada pada ruang kebijakan ketenagakerjaan. Salah satu jejak kebijakan pada masa tersebut terlihat pada regulasi mengenai penyelenggaraan pemagangan, lembaga pelatihan kerja, penempatan tenaga kerja, hingga program jaminan sosial bagi tenaga kerja yang bekerja di luar hubungan kerja. Dokumen resmi Kementerian Ketenagakerjaan mencatat Erman sebagai penandatangan sejumlah regulasi tersebut dalam kapasitas Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Dari Membangun Infrastruktur ke Pembangunan Manusia
Jika perjalanan Erman dibaca secara utuh, terdapat perubahan skala pengabdian yang menarik. Pada fase awal, ia bekerja dengan bangunan, proyek, dan infrastruktur. Ketika tanggung jawabnya berkembang, ia mulai mengelola organisasi, perusahaan, dan tenaga kerja. Setelah memasuki parlemen dan pemerintahan, ruang kerjanya semakin luas hingga menyentuh persoalan kebijakan ketenagakerjaan.
Dengan demikian, pengalaman teknik dan konstruksi tidak berdiri sendiri. Di balik setiap proyek selalu ada manusia yang merencanakan, membangun, mengawasi, dan menyelesaikannya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu benang merah yang menghubungkan dunia konstruksi dengan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan. Dari membangun infrastruktur, ruang pengabdiannya berkembang menuju pembangunan manusia yang berada di balik pembangunan itu sendiri. Inilah sisi penting yang membuat perjalanan Erman relevan dalam seri Dari Kampus, Menjadi Dampak. Ceritanya bukan hanya tentang seorang alumni UMI yang pernah menjadi menteri, melainkan tentang bagaimana pengalaman kerja, pendidikan, profesionalisme, dan kepemimpinan terakumulasi sepanjang perjalanan hidup.
Pengabdian yang Berlanjut
Setelah menyelesaikan tugas di pemerintahan, aktivitas Erman tidak berhenti. Perjalanannya berlanjut melalui dunia pendidikan, usaha, profesi, serta organisasi sosial dan keagamaan. Ia pernah terlibat dalam pendidikan pascasarjana Teknik Sipil, kembali berkegiatan dalam dunia usaha konstruksi, serta menjalankan sejumlah amanah organisasi. Hubungannya dengan Universitas Muslim Indonesia juga berlanjut melalui organisasi alumni. Dalam perjalanan organisasinya, Erman pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Muslim Indonesia (IKA UMI). Keterhubungan tersebut memperlihatkan bahwa relasi alumni dengan almamater tidak harus berhenti ketika pendidikan selesai. Pengalaman yang diperoleh setelah meninggalkan kampus dapat kembali menjadi modal sosial, profesional, dan jejaring bagi komunitas alumni.
Dari Mandor Bangunan hingga Menteri
Perjalanan Erman Suparno memiliki kekuatan karena tidak dibangun dalam satu fase. Ia mengenal dunia kerja dari lapangan, kemudian tumbuh dalam industri konstruksi. Ketika karier sedang berjalan, ia menempuh pendidikan Teknik Sipil di UMI. Kompetensinya terus berkembang hingga dipercaya memimpin perusahaan, kemudian memasuki DPR RI dan akhirnya mengemban amanah sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Karena itu, perjalanan tersebut dapat dirangkum dalam satu lintasan: Mandor Bangunan → Profesional Konstruksi → Teknik Sipil UMI → Pimpinan Perusahaan → DPR RI → Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Namun nilai perjalanan seorang alumni tidak semata-mata terletak pada tingginya jabatan yang pernah dicapai. Nilainya juga berada pada proses yang membentuknya, ilmu yang terus dikembangkan, pengalaman yang dikumpulkan, serta bagaimana seluruh bekal tersebut digunakan ketika tanggung jawab semakin luas.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Bagi UMI, perjalanan Dr. Ir. H. Erman Suparno, M.B.A., M.Si. meninggalkan satu pesan penting tentang pendidikan. Perguruan tinggi tidak selalu menjadi titik awal perjalanan seseorang. Bagi sebagian orang, kampus justru hadir ketika perjuangan telah dimulai. Pendidikan kemudian memperkuat pengalaman, memperluas perspektif, dan memberi fondasi akademik bagi perjalanan berikutnya.
Itulah yang terjadi pada Erman. Ketika masuk Teknik Sipil UMI, ia telah mengenal dunia konstruksi. Setelah menyelesaikan pendidikannya, pengalaman dan kompetensinya terus berkembang hingga mencapai ruang kepemimpinan perusahaan, parlemen, dan pemerintahan nasional. Karena itu, kisah Erman Suparno bukan hanya cerita tentang dari mandor menjadi menteri. Cerita yang lebih penting adalah bagaimana seseorang terus belajar di tengah pekerjaan, mengembangkan kompetensi sepanjang perjalanan, dan membawa akumulasi pengalaman tersebut ke ruang tanggung jawab yang semakin luas.
"Pendidikan tidak selalu menjadi awal perjalanan. Kadang ia hadir di tengah perjuangan, memperkuat pengalaman, lalu memperluas jalan pengabdian."
Dari lapangan konstruksi menuju ruang kuliah Teknik Sipil UMI, dari dunia profesional menuju parlemen, dan dari pengalaman pembangunan menuju tanggung jawab ketenagakerjaan nasional, perjalanan itu menunjukkan bagaimana ilmu dan pengalaman dapat bertemu dalam satu lintasan pengabdian. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































