Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. H. Mahmud: Alumni Teknik Sipil UMI, Kini Anggota DPRD Sulawesi Selatan dan Ketua Umum PATSI UMI
MAKASSAR, umi.ac.id — Perjalanan seorang alumni tidak selalu berhenti pada gelar akademik atau profesi yang pertama kali ditekuninya. Ada yang membawa ilmu dari kampus ke dunia kerja, mengembangkannya melalui pengalaman profesional dan organisasi, kemudian memperluas pengabdian hingga ke ruang kebijakan publik.
Lintasan itulah yang dijalani Dr. Ir. H. Mahmud, S.T., M.M., M.S.P., M.T., IPM, alumnus Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dari dunia perencanaan dan konsultansi infrastruktur, perjalanan profesionalnya berkembang ke organisasi profesi dan kini berlanjut sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Persatuan Alumni Teknik Sipil UMI (PATSI UMI) periode 2026–2030.
Mahmud lahir di Uluale, Kabupaten Sidenreng Rappang, 5 Desember 1975. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN No. 5 Arawa, kemudian SMP Uluale dan STM Negeri 80 Parepare. Perjalanan akademiknya membawanya ke Makassar untuk menempuh pendidikan Teknik Sipil di Universitas Muslim Indonesia hingga menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1999.
Pendidikan di UMI menjadi fondasi keinsinyurannya. Mahmud kemudian memperluas kapasitas akademiknya melalui pendidikan magister dalam bidang Manajemen, Perencanaan Wilayah dan Kota, serta Teknik Sipil. Perjalanan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktor dengan menyelesaikan pendidikan Ilmu Lingkungan di Universitas Brawijaya, Malang, pada 2022.
Pilihan pendidikan tersebut memperluas cara pandangnya terhadap pembangunan. Teknik sipil memberinya fondasi mengenai infrastruktur, perencanaan wilayah memperkuat pemahaman mengenai ruang dan pembangunan, manajemen memperkaya kemampuan pengelolaan, sedangkan ilmu lingkungan menempatkan pembangunan dalam perspektif keberlanjutan.
Dari Perencana Infrastruktur ke Organisasi Profesi
Sebagai insinyur dan konsultan, Mahmud terlibat dalam berbagai pekerjaan perencanaan dan pembangunan jalan serta jembatan di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sulawesi, Sumatra, Maluku, hingga Kalimantan. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan beragam kondisi wilayah dan kebutuhan pembangunan. Jalan dan jembatan yang dalam perspektif teknik merupakan konstruksi fisik, bagi masyarakat memiliki fungsi yang jauh lebih besar. Infrastruktur membuka konektivitas, memperlancar mobilitas, mendekatkan pelayanan, dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Karier profesional Mahmud kemudian berkembang ke organisasi profesi. Ia pernah dipercaya memimpin DPD Persatuan Konsultan Indonesia (PERKINDO) Sulawesi Selatan dan menjalankan tanggung jawab sebagai Sekretaris Jenderal DPP PERKINDO. Ia juga aktif dalam Ikatan Sarjana Asal Sidrap (ISA-SIDRAP).
Keterlibatan dalam organisasi memperluas ruang kontribusinya. Jika pekerjaan konsultansi berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, organisasi profesi mempertemukannya dengan pembangunan kapasitas manusia, penguatan jejaring, dan peningkatan kompetensi profesional.
Dari Infrastruktur ke Ruang Kebijakan Publik
Perjalanan Mahmud kemudian memasuki ruang yang berbeda ketika ia memperoleh amanah sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Aktivitasnya sebagai legislator masih tercatat sepanjang 2026, termasuk dalam kegiatan pengawasan APBD Provinsi Sulawesi Selatan pada Juni 2026. Masuk ke lembaga legislatif memperluas ruang pengabdiannya.
Jika sebelumnya ia banyak bekerja melalui perencanaan, konsultansi, dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur, kini ia berada dalam lembaga yang menjalankan fungsi pembentukan peraturan daerah, penganggaran, dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengalaman sebagai insinyur, konsultan, akademisi, dan organisator menjadi latar profesional yang dibawanya ke ruang tersebut. Perspektif pembangunan tidak lagi hanya dilihat melalui proyek fisik, tetapi dalam konteks kebutuhan masyarakat, anggaran daerah, pelayanan publik, lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan.
Kembali ke Almamater melalui PATSI UMI
Di tengah tugasnya sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan, Mahmud tetap menjaga keterhubungan dengan almamater. Pada Kongres II Persatuan Alumni Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia yang berlangsung pada 13 Juni 2026 di Makassar, Mahmud terpilih sebagai Ketua Umum PATSI UMI periode 2026–2030 setelah memperoleh 42 suara. Amanah tersebut membuat perjalanan profesionalnya kembali bertemu dengan kampus tempat fondasi keilmuannya dibangun.
Mahmud membawa gagasan "PATSI Pasti Berdampak", dengan arah agar organisasi alumni tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi berkembang menjadi jejaring yang memberikan manfaat nyata bagi alumni, almamater, mahasiswa, masyarakat, dan pembangunan. Gagasan tersebut relevan dengan perjalanan panjangnya. Setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia infrastruktur, organisasi profesi, dan kebijakan publik, pengalaman itu kini dapat dihubungkan kembali dengan pengembangan alumni Teknik Sipil UMI.
Ketika Pengalaman Teknik Memasuki Ruang yang Lebih Luas
Jika perjalanan Mahmud dibaca secara utuh, terdapat satu benang merah yang tetap terjaga, yaitu pembangunan.
Pada awal perjalanan profesionalnya, pembangunan hadir melalui perencanaan jalan dan jembatan. Dalam organisasi profesi, pembangunan berkembang menjadi penguatan kapasitas dan jejaring profesional. Ketika memasuki DPRD Sulawesi Selatan, ruang pengabdiannya meluas ke kebijakan publik. Sementara melalui PATSI UMI, pengalaman tersebut kembali dipertemukan dengan almamater dan generasi insinyur berikutnya.
Lintasannya dapat dirangkum sebagai berikut: Sidrap → Teknik Sipil UMI → Perencana dan Konsultan Infrastruktur → Organisasi Profesi → DPRD Sulawesi Selatan → Ketua Umum PATSI UMI.
Namun nilai perjalanan alumni tentu tidak terletak pada panjangnya daftar jabatan. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh dari kampus terus berkembang, menemukan ruang penerapan yang semakin luas, dan kemudian memberikan manfaat kepada masyarakat, profesi, serta almamater.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Dr. Ir. H. Mahmud, S.T., M.M., M.S.P., M.T., IPM memperlihatkan bagaimana pendidikan teknik dapat berkembang dari kompetensi profesional menuju tanggung jawab yang lebih luas. Teknik Sipil UMI memberinya fondasi keinsinyuran. Dunia konsultansi memberinya pengalaman menghadapi persoalan pembangunan di berbagai daerah. Organisasi profesi memperluas jejaring dan ruang kontribusinya. Lembaga legislatif membawanya ke ruang kebijakan publik. Sementara PATSI UMI mempertemukan kembali seluruh pengalaman tersebut dengan almamater.
"Insinyur tidak hanya merancang bagaimana sebuah jalan atau jembatan dibangun. Pengalaman keinsinyuran juga dapat memberi perspektif tentang bagaimana pembangunan direncanakan agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat."
Dari Teknik Sipil UMI, Mahmud membangun kompetensi. Pengalaman profesional memperluas perspektifnya, organisasi memperkuat jejaring pengabdiannya, dan kini ruang kebijakan publik memperbesar cakupan tanggung jawabnya.
Perjalanan itu kemudian kembali bertemu dengan UMI melalui PATSI, membawa pengalaman seorang alumni untuk ikut memperkuat alumni lainnya.
Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































