Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Ir. Muhammad Ishak Cenne, S.T., M.T., IPM: Alumni Teknik Sipil UMI, Kini PPK Sanitasi dan Air Minum Cipta Karya Sulawesi Tengah
MAKASSAR, umi.ac.id — Infrastruktur tidak selalu berupa jalan, jembatan, atau gedung yang mudah terlihat. Ada infrastruktur yang bekerja lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: air minum yang layak, sistem air limbah domestik, sanitasi permukiman, dan pengelolaan lingkungan yang menentukan kualitas kesehatan masyarakat.
Di bidang itulah Dr. Ir. Muhammad Ishak Cenne, S.T., M.T., IPM membangun perjalanan profesionalnya. Lahir di Enrekang, 10 Desember 1974, Ishak menempuh pendidikan Teknik Sipil di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2002. Pendidikan tersebut menjadi fondasi perjalanan panjangnya dalam bidang infrastruktur permukiman dan penyehatan lingkungan.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknik Sipil di Universitas Hasanuddin dan menempuh pendidikan doktor di Universitas Brawijaya. Universitas Brawijaya mencatat Muhammad Ishak Cenne menyelesaikan Program Doktor Kajian Lingkungan dengan predikat Dengan Pujian pada 19 Februari 2018. Perjalanan akademik itu membentuk kombinasi keilmuan yang kuat: teknik sipil memberinya fondasi infrastruktur, sedangkan kajian lingkungan memperluas perspektifnya mengenai hubungan pembangunan, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
Dari Teknik Sipil UMI ke Penyehatan Lingkungan
Karier Ishak berkembang di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya pada bidang Cipta Karya dan penyehatan lingkungan permukiman.
Jejak awal kepegawaiannya juga terdokumentasi dalam arsip Kementerian Pekerjaan Umum. Muhammad Ishak Cenne, kelahiran Enrekang 10 Desember 1974, tercatat dalam daftar CPNS pada lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Perjalanan profesionalnya kemudian banyak bersentuhan dengan persoalan sanitasi, persampahan, air limbah domestik, dan infrastruktur permukiman.
Bidang tersebut mungkin tidak selalu terlihat semegah pembangunan jalan atau jembatan, tetapi dampaknya langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Sanitasi yang baik berhubungan dengan kesehatan lingkungan, kualitas permukiman, dan pencegahan berbagai persoalan kesehatan.
Di sinilah ilmu Teknik Sipil UMI menemukan salah satu bentuk pengabdiannya: membangun infrastruktur yang tidak sekadar berdiri, tetapi membuat lingkungan tempat manusia hidup menjadi lebih sehat dan layak.
Bertumbuh dari Teknis hingga PPK
Perjalanan Ishak di bidang penyehatan lingkungan dibangun secara bertahap. Ia pernah menjalankan berbagai fungsi pada satuan kerja bidang penyehatan lingkungan permukiman, mulai dari pendampingan dan pemberdayaan hingga tanggung jawab sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Dalam perjalanan tersebut, Ishak terlibat dalam program sanitasi berbasis masyarakat, pengelolaan persampahan, pembangunan sistem air limbah, serta berbagai program infrastruktur permukiman. Peran sebagai PPK membawa tanggung jawab yang lebih besar. Pekerjaan tidak lagi hanya dilihat dari aspek teknis, tetapi juga dari sisi perencanaan, pelaksanaan kontrak, anggaran, mutu pekerjaan, kepatuhan terhadap regulasi, dan manfaat yang harus diterima masyarakat. Karena itu, tanggung jawab PPK berada pada titik pertemuan antara keahlian teknik, tata kelola, akuntabilitas, dan pelayanan publik.
Dari Sanitasi hingga Pemulihan Pascabencana Sulawesi Tengah
Pengalaman Ishak kemudian membawanya ke Sulawesi Tengah, wilayah yang menghadapi kebutuhan besar dalam pembangunan dan pemulihan infrastruktur pascabencana. Ia terlibat dalam berbagai pekerjaan sanitasi dan infrastruktur permukiman, termasuk pekerjaan yang berkaitan dengan kawasan hunian tetap pascabencana.
Dokumen proyek 2023, misalnya, mencatat Muhammad Ishak Cenne sebagai PPK dalam pekerjaan optimalisasi TPS3R di Kawasan Huntap Duyu, Kota Palu, dan Kawasan Huntap Pombewe, Kabupaten Sigi, di bawah Balai Prasarana Permukiman Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Keterlibatan tersebut memberi dimensi berbeda pada pekerjaan infrastruktur. Pada kawasan pascabencana, pembangunan bukan semata menghadirkan fasilitas fisik. Infrastruktur menjadi bagian dari proses masyarakat membangun kembali kehidupan mereka. Sanitasi, persampahan, air limbah, dan layanan dasar menjadi bagian penting agar kawasan hunian tidak hanya dapat ditempati, tetapi juga sehat dan berkelanjutan.
Sanitasi sebagai Bagian dari Kesehatan Masyarakat
Dampak pekerjaan Ishak juga terlihat pada program sanitasi berbasis masyarakat. Pada Januari 2024, ia tercatat sebagai PPK Sanitasi BPPW Provinsi Sulawesi Tengah dalam kegiatan serah terima pekerjaan Sanitasi Berbasis Masyarakat atau Sanimas di Kabupaten Buol. Program tersebut menjangkau 18 desa sasaran lokus stunting.
Pada kegiatan tersebut, Ishak menekankan pentingnya kolaborasi serta pemanfaatan fasilitas sanitasi oleh masyarakat. Program pembangunan sistem air limbah itu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendukung penanganan stunting. Di sinilah pembangunan sanitasi memperoleh makna yang lebih luas. Saluran dan instalasi pengolahan air limbah bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah lingkungan yang lebih sehat dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Kini PPK Sanitasi dan Air Minum di Sulawesi Tengah
Perjalanan panjang tersebut berlanjut hingga sekarang. Dokumen kegiatan Sanimas tahun anggaran 2025 masih mencantumkan Muhammad Ishak Cenne, S.T., M.T. sebagai PPK Sanitasi pada Satker Pelaksanaan Cipta Karya Provinsi Sulawesi Tengah. Sementara itu, dokumen pekerjaan program tahun anggaran 2026 yang terindeks mencantumkan Dr. Ir. Muhammad Ishak Cenne, S.T., M.T. sebagai PPK Sanitasi dan Air Minum, Satuan Kerja Pelaksanaan Cipta Karya Provinsi Sulawesi Tengah, pada pekerjaan di bawah Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Sulawesi Tengah.
Posisi tersebut memperlihatkan kesinambungan perjalanan profesionalnya. Dari penyehatan lingkungan permukiman, ruang tanggung jawabnya berkembang pada dua kebutuhan dasar masyarakat yang saling berkaitan erat: sanitasi dan air minum. Keduanya merupakan infrastruktur dasar yang menentukan kualitas permukiman dan kesehatan masyarakat.
Keahlian yang Terus Diperbarui
Perjalanan profesional Ishak juga disertai dengan pengembangan kompetensi melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. Bidangnya mencakup urban sanitation, sanitasi berbasis masyarakat, pengelolaan air limbah domestik, persampahan, hingga berbagai aspek sosial dan keselamatan dalam pekerjaan konstruksi. Ia juga tercatat memiliki kompetensi profesional Insinyur Profesional Madya (IPM). Pada 2024, Ishak tampil sebagai PPK Sanitasi BPPW Sulawesi Tengah dalam pemaparan mengenai Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) terpusat dan setempat. Materinya menempatkan pengelolaan air limbah sebagai bagian penting dalam mengurangi dampak buruk sanitasi terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Jejak akademiknya juga menunjukkan perhatian yang konsisten terhadap persoalan lingkungan. Salah satu publikasinya membahas pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat di Tamalate, Makassar, menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process. Artinya, bidang yang dikerjakan dalam profesi juga berkembang menjadi perhatian akademik dan keilmuan.
Dari Infrastruktur menuju Kualitas Hidup
Jika perjalanan Muhammad Ishak Cenne dibaca secara utuh, kekuatannya bukan hanya pada panjangnya pengalaman di lingkungan Cipta Karya.
Ada satu benang merah yang konsisten: infrastruktur untuk kualitas hidup manusia. Teknik Sipil UMI memberinya fondasi keinsinyuran. Pendidikan magister memperdalam kompetensi teknik, sedangkan pendidikan doktor memperluas perspektif lingkungan. Pengalaman profesional kemudian mempertemukan seluruh keilmuan tersebut dengan persoalan nyata di masyarakat.
Sanitasi, persampahan, air limbah, air minum, permukiman, hingga rehabilitasi pascabencana menjadi ruang tempat ilmu itu bekerja. Perjalanannya dapat dirangkum dalam satu lintasan: Enrekang → Teknik Sipil UMI → Magister Teknik Sipil → Doktor Kajian Lingkungan → Penyehatan Lingkungan Permukiman → Sanitasi dan Air Minum → Pemulihan Pascabencana → Pelayanan Infrastruktur Dasar Masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Dr. Ir. Muhammad Ishak Cenne, S.T., M.T., IPM menunjukkan bahwa dampak seorang insinyur tidak selalu hadir dalam bentuk infrastruktur yang monumental. Sebagian dampak justru hadir melalui fasilitas yang digunakan masyarakat setiap hari: sanitasi yang lebih baik, pengelolaan air limbah yang lebih tertata, air minum yang lebih layak, lingkungan permukiman yang lebih sehat, serta infrastruktur dasar yang membantu masyarakat membangun kembali kehidupannya setelah bencana.
Dari Teknik Sipil UMI, Ishak membawa ilmu ke bidang penyehatan lingkungan. Dari pengalaman teknis, tanggung jawabnya berkembang ke pengelolaan program. Dari program, dampaknya bergerak menuju kebutuhan dasar masyarakat.
"Infrastruktur terbaik bukan hanya yang kokoh berdiri, tetapi yang membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih sehat, layak, dan bermartabat."
Itulah perjalanan dari teknik menuju lingkungan, dari infrastruktur menuju kualitas hidup, dan dari kampus menuju pengabdian nyata kepada masyarakat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































