Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr. Rusmulyadi "Baskoro": Tiga Jenjang Pendidikan di UMI, Hari Ini Terpilih sebagai Rektor Universitas Pohuwato 2027–2031
Menempuh S1, S2, hingga S3 di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr. Rusmulyadi, S.H., M.H. membawa perjalanan akademiknya dari mahasiswa, dosen, hingga kepemimpinan fakultas. Hari ini, 22 September 2026, alumnus UMI yang akrab disapa Baskoro tersebut terpilih sebagai Rektor Universitas Pohuwato untuk periode 2027–2031.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada hubungan dengan almamater yang selesai ketika seseorang menerima ijazah. Ada pula yang terus hidup dalam perjalanan seseorang. Bagi Dr. Rusmulyadi, S.H., M.H., Universitas Muslim Indonesia hadir dalam tiga jenjang pendidikan tingginya. S1 di UMI. S2 di UMI. S3 di UMI.
Dari tiga jenjang pendidikan tersebut, Rusmulyadi kemudian membawa ilmu dan pengalaman akademiknya menuju Gorontalo. Menjadi dosen. Menjalani kepemimpinan fakultas. Mengembangkan pengalaman dalam pengelolaan pendidikan tinggi.
Dan hari ini, 22 September 2026, perjalanan tersebut memasuki babak baru. Dr. Rusmulyadi terpilih sebagai Rektor Universitas Pohuwato periode 2027–2031.
Tiga Jenjang Pendidikan, Satu Almamater
Rusmulyadi merupakan alumnus Universitas Muslim Indonesia yang memiliki perjalanan pendidikan cukup khas. Bukan hanya satu jenjang pendidikannya ditempuh di UMI. Tetapi tiga. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum (S1), Magister Hukum (S2), hingga pendidikan doktoral (S3) di Universitas Muslim Indonesia.
Artinya, sebagian besar fondasi pendidikan tingginya tumbuh dalam lingkungan akademik UMI. Dari jenjang sarjana, ketika fondasi keilmuan hukum dibangun. Berlanjut ke magister, ketika kemampuan analisis semakin diperdalam. Hingga doktoral, ketika perjalanan akademik menuntut kemandirian berpikir dan kemampuan menghasilkan pengetahuan. Tiga jenjang tersebut kemudian menjadi bekal untuk memasuki ruang pengabdian yang lebih luas.
Dari UMI menuju Gorontalo
Setelah melalui perjalanan pendidikan, Rusmulyadi mengembangkan karier akademiknya di Gorontalo. Ia berkiprah sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Karier tersebut kemudian membawanya pada amanah kepemimpinan sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo.
Posisi itu menjadi fase penting dalam perjalanan akademiknya. Sebab menjadi akademisi berbeda dengan memimpin sebuah unit akademik. Seorang dosen bertanggung jawab terhadap pendidikan, penelitian, dan pengembangan mahasiswa. Seorang pemimpin fakultas harus melihat ruang yang lebih luas. Dosen. Mahasiswa. Kurikulum. Mutu. Tata kelola. Sumber daya. Dan masa depan institusi. Dari sinilah pengalaman kepemimpinan pendidikan tinggi Rusmulyadi terus berkembang.
Dari Dekan menuju Rektor
Hari ini perjalanan itu bergerak satu tingkat lebih jauh. 22 September 2026 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan akademik Dr. Rusmulyadi. Ia terpilih sebagai Rektor Universitas Pohuwato periode 2027–2031.
Amanah tersebut membawa tanggung jawab yang berbeda. Jika sebelumnya ruang kepemimpinannya berada pada tingkat fakultas, kini cakupannya adalah sebuah universitas. Ada berbagai fakultas dan program studi. Ada dosen dan tenaga kependidikan. Ada mahasiswa dan alumni. Ada penelitian. Ada pengabdian kepada masyarakat. Ada mutu dan akreditasi. Ada kerja sama. Ada teknologi. Ada tata kelola. Dan ada harapan masyarakat terhadap perguruan tinggi. Karena itu, menjadi rektor bukan sekadar perubahan jabatan. Ia adalah perubahan skala tanggung jawab.
Ketika Alumni Dipercaya Memimpin Perguruan Tinggi
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Rusmulyadi juga memiliki makna tersendiri. Dampak sebuah perguruan tinggi tidak selalu berada di dalam pagar kampusnya sendiri. Sebagian dampaknya berjalan keluar bersama alumninya.
Ada alumni yang membangun perusahaan. Ada yang bekerja dalam pelayanan kesehatan. Ada yang menjadi peneliti. Ada yang mengabdi kepada masyarakat. Ada pula yang membangun dan memimpin institusi pendidikan. Rusmulyadi berada pada jalur terakhir itu.
Tiga jenjang pendidikan yang ditempuh di UMI kemudian dibawa menuju perjalanan panjang sebagai akademisi hingga memperoleh kepercayaan memimpin perguruan tinggi.
Alumni adalah salah satu cara sebuah kampus hadir di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh gedungnya.
Bukan Lagi Hanya Mengelola Fakultas
Perubahan dari kepemimpinan fakultas menuju universitas membawa konsekuensi besar. Seorang rektor tidak hanya memikirkan satu disiplin ilmu. Ia harus mempertemukan berbagai bidang ilmu dalam satu arah institusi. Tidak hanya melihat satu fakultas. Tetapi keseluruhan universitas. Tidak hanya mengelola kegiatan akademik hari ini. Tetapi juga mempersiapkan institusi menghadapi perubahan pendidikan tinggi pada masa depan.
Transformasi digital. Kecerdasan artifisial. Perubahan kebutuhan dunia kerja. Mutu pendidikan. Riset. Kolaborasi. Kepercayaan masyarakat. Dan kemampuan perguruan tinggi memberi dampak kepada daerah tempatnya berada. Di titik ini, pengalaman akademik dan kepemimpinan yang telah dijalani Rusmulyadi memperoleh ruang pengujian yang lebih besar.
Dari Kampus menuju Kepemimpinan Kampus
Ada satu pola menarik dalam perjalanan Rusmulyadi. Ia masuk perguruan tinggi sebagai mahasiswa. Kemudian menjadi akademisi. Dipercaya memimpin fakultas. Dan kini terpilih memimpin sebuah universitas. Perjalanan itu dapat diringkas: Mahasiswa → Sarjana → Magister → Doktor → Dosen → Dekan → Rektor.
Sebuah perjalanan panjang yang memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat berkembang menjadi tanggung jawab kepemimpinan. Inilah yang dapat disebut: "Ilmu yang Bertumbuh Menjadi Amanah."
Karena semakin tinggi pendidikan dan semakin besar jabatan seseorang, semakin luas pula manusia dan institusi yang ikut berada dalam lingkup tanggung jawabnya.
Pohuwato sebagai Ruang Pengabdian Berikutnya
Universitas Pohuwato kini menjadi ruang pengabdian berikutnya bagi Rusmulyadi. Amanah periode 2027–2031 akan menempatkannya pada tanggung jawab untuk membawa universitas bertumbuh bersama mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, yayasan, pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat.
Di sinilah ukuran kepemimpinan akademik tidak lagi hanya terletak pada jabatan. Tetapi pada perubahan yang dapat dibangun selama masa kepemimpinan. Apakah mahasiswa semakin baik? Apakah dosen semakin berkembang? Apakah mutu institusi meningkat? Apakah penelitian semakin hidup? Apakah lulusan semakin relevan? Dan apakah keberadaan universitas semakin dirasakan masyarakat?
Karena pada akhirnya: jabatan rektor memiliki periode. Dampak kepemimpinan seharusnya melampaui periode.
Tiga Kali Menjadi Mahasiswa UMI
Ada bagian yang membuat perjalanan Rusmulyadi berbeda dalam seri Dari Kampus, Menjadi Dampak. Ia bukan hanya sekali menjadi mahasiswa UMI. Tiga jenjang pendidikan tingginya tumbuh dari almamater yang sama. S1. S2. S3.
Karena itu, ketika hari ini ia terpilih sebagai Rektor Universitas Pohuwato, perjalanan tersebut juga menjadi cerita mengenai bagaimana pendidikan dapat tumbuh lintas generasi dan lintas institusi. Ilmu diperoleh di satu kampus. Kemudian dikembangkan melalui pengalaman. Dan pada waktunya digunakan untuk membantu membangun kampus yang lain.
Satu kampus mendidiknya. Kampus lain mempercayainya untuk memimpin.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Rusmulyadi, S.H., M.H. memulai perjalanan pendidikan tingginya di Universitas Muslim Indonesia. Ia menyelesaikan S1 di UMI. Kembali melanjutkan S2 di UMI. Dan menuntaskan S3 di UMI. Dari Makassar, perjalanan akademiknya bergerak menuju Gorontalo. Menjadi dosen. Menjalani kepemimpinan sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo.
Hingga akhirnya, pada 22 September 2026, ia memperoleh kepercayaan baru: terpilih sebagai Rektor Universitas Pohuwato periode 2027–2031. Perjalanan itu memperlihatkan satu rangkaian sederhana: UMI → Pendidikan Hukum → Akademisi → Dekan → Rektor Universitas Pohuwato.
Bagi UMI, kisah Rusmulyadi adalah salah satu wajah dampak alumni. Bukan karena seorang alumni memperoleh jabatan. Tetapi karena ilmu yang dibangun selama bertahun-tahun kini memperoleh ruang tanggung jawab yang semakin luas.
Dari mahasiswa menuju pemimpin perguruan tinggi. Dari belajar mengembangkan diri menuju amanah mengembangkan institusi. Dari tiga jenjang pendidikan di UMI, menuju satu amanah besar memimpin universitas. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































