Dari Kampus, Menjadi Dampak - Dr.rer.nat. apt. Adryan Fristiohady: Dari Farmasi UMI, Menjadi Wakil Dekan UHO dan Ketua IAI Sulawesi Tenggara, dengan Jejaring Riset Internasional
Berawal sebagai mahasiswa dan asisten laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr.rer.nat. apt. Adryan Fristiohady, M.Sc. menempuh perjalanan akademik hingga University of Vienna, Austria, mengembangkan kolaborasi di Thailand dan Amerika Serikat, lalu membawa pengalaman tersebut kembali ke Indonesia. Kini ia mengabdi di Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, sekaligus memimpin Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sulawesi Tenggara.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebelum mengenal laboratorium di Austria, Thailand, dan Amerika Serikat, Adryan Fristiohady mengenal laboratorium dari kampusnya sendiri. Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia.
Sebagai mahasiswa, ia tidak hanya mengikuti perkuliahan. Ia menjadi asisten Laboratorium Kimia Dasar dan Teknologi Sediaan Farmasi. Di sana ia belajar sesuatu yang kelak menjadi bagian penting perjalanan hidupnya: penelitian membutuhkan rasa ingin tahu, ketelitian, kesabaran, dan keberanian untuk terus bertanya.
Dari laboratorium UMI itulah perjalanan Adryan bergerak jauh. Ke Yogyakarta. Ke Kendari. Ke Vienna. Ke Thailand. Ke Amerika Serikat. Lalu kembali lagi ke Indonesia. Bukan sekadar membawa gelar. Tetapi membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaring.
Berawal dari Laboratorium Farmasi UMI
Adryan menyelesaikan pendidikan Farmasi di Universitas Muslim Indonesia pada 2007. Masa pendidikan di UMI menjadi salah satu fondasi awal perjalanan akademiknya. Ketertarikannya terhadap laboratorium sudah tumbuh sejak mahasiswa ketika ia menjadi asisten pada Laboratorium Kimia Dasar dan Teknologi Sediaan Farmasi. Pengalaman sederhana itu kemudian berkembang menjadi perjalanan ilmiah yang jauh lebih panjang.
Setelah UMI, Adryan melanjutkan pendidikan profesi dan magister di Universitas Gadjah Mada. Perjalanan tersebut semakin memperkuat arah kariernya pada pendidikan tinggi dan penelitian farmasi.
Dari Makassar menuju Kendari
Pada 2014, Adryan diangkat sebagai ASN di lingkungan pendidikan tinggi. Kendari kemudian menjadi salah satu ruang utama pengabdiannya. Di Universitas Halu Oleo, ia mengembangkan karier sebagai akademisi Fakultas Farmasi. Di kota dan provinsi inilah berbagai pengalaman internasionalnya kemudian bertemu dengan kebutuhan pengembangan pendidikan, penelitian, profesi apoteker, dan sumber daya manusia di daerah. Kendari tidak hanya menjadi tempatnya bekerja. Sulawesi Tenggara menjadi ruang tempat pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai negara dibawa pulang dan dikembangkan kembali.
Dari Kendari menuju University of Vienna
Setahun setelah menjadi ASN, perjalanan akademik Adryan memasuki babak internasional. Pada 2015, ia memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral bidang Farmasi di University of Vienna, Austria, melalui Indonesia Austria Scholarship Program.
Perjalanan doktoral tersebut diselesaikannya dalam waktu sekitar dua setengah tahun. Ia kemudian menyandang gelar Dr.rer.nat., gelar doktor dalam rumpun ilmu alam yang digunakan di sejumlah universitas Eropa.
Tetapi nilai sebuah pendidikan doktoral tentu tidak hanya terletak pada gelar. Ada cara berpikir yang berubah. Ada metodologi yang semakin kuat. Ada kultur penelitian. Ada jejaring. Dan ada pengalaman berada dalam ekosistem ilmu pengetahuan internasional.
Mengembangkan Farmakologi Molekuler
Kepakaran Adryan berkembang terutama pada bidang farmakologi molekuler. Bidang ini membawa penelitian semakin jauh ke dalam mekanisme biologis yang mendasari kerja suatu senyawa atau kandidat terapi.
Artinya, penelitian tidak hanya berhenti pada pertanyaan: "Apakah suatu bahan memiliki aktivitas?" Pertanyaannya bergerak lebih dalam: "Bagaimana aktivitas itu bekerja pada tingkat molekuler?"
Di sinilah penelitian farmasi bertemu dengan biologi molekuler, farmakologi, dan berbagai pendekatan eksperimental lainnya. Penelitian kemudian menjadi cara memahami mekanisme, bukan sekadar mengamati hasil.
Doktor Bukan Garis Akhir
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Adryan tidak berhenti pada gelar akademik. Pada 2021, ia kembali keluar dari zona nyaman akademiknya melalui program postdoctoral di Thammasat University, Thailand. Pengalaman tersebut berkembang menjadi hubungan akademik yang berkelanjutan. Ia kemudian terlibat sebagai Visiting Professor di Thammasat University dalam aktivitas pendidikan, penelitian, supervisi, dan pengembangan kolaborasi akademik. Inilah salah satu bentuk penting dari mobilitas akademik. Seseorang datang untuk belajar. Kemudian hubungan tidak selesai ketika program berakhir. Hubungan itu berkembang menjadi kolaborasi. Mobilitas akademik menjadi bernilai ketika perjalanan berubah menjadi jejaring.
Dari Thailand menuju Amerika Serikat
Jejaring tersebut kembali berkembang pada 2023. Melalui program World Class Professor, Adryan memperoleh pengalaman penelitian di Oregon State University, Amerika Serikat. Perjalanan itu memperluas ruang kolaborasi ilmiahnya. Austria memberinya pengalaman pendidikan doktoral. Thailand membuka ruang postdoctoral dan kolaborasi akademik. Amerika Serikat memperluas pengalaman penelitian. Tetapi arah akhirnya tetap sama: membawa pengalaman internasional kembali untuk memperkuat ekosistem akademik di Indonesia.
Riset yang Terus Bergerak
Aktivitas penelitian Adryan berlanjut setelah berbagai pengalaman internasional tersebut. Pada 2025, ia memperoleh pendanaan penelitian melalui skema Penelitian Fundamental Reguler dan Penelitian Tesis Magister. Pada 2026, pengembangan risetnya kembali bergerak melalui Hibah Riset Kemitraan Internasional.Rangkaian tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting. Jejaring internasional bukan tujuan akhir. Jejaring harus menghasilkan aktivitas.
Penelitian.
Publikasi.
Kolaborasi.
Supervisi.
Pertukaran pengetahuan.
Dan kesempatan bagi akademisi maupun mahasiswa lain.
Jejaring yang hanya tersimpan dalam kontak adalah perkenalan. Jejaring yang menghasilkan pengetahuan adalah kolaborasi.
Membawa Pulang Jejaring ke Kendari
Di sinilah perjalanan Adryan menjadi menarik. Ia dapat saja kembali dari luar negeri hanya dengan membawa ijazah dan pengalaman personal. Tetapi perjalanan akademik memiliki nilai lebih besar ketika apa yang diperoleh di luar dapat memperkuat tempat seseorang mengabdi. Di Universitas Halu Oleo, pengalaman tersebut dibawa ke pendidikan dan penelitian. Ia juga terlibat dalam pembimbingan dan supervisi akademik, termasuk kolaborasi dengan perguruan tinggi lain di dalam dan luar negeri. Pengetahuan bergerak. Mahasiswa terhubung. Peneliti bertemu. Kolaborasi terbentuk. Dan Kendari tidak harus berada di pusat geografis Indonesia untuk dapat terhubung dengan pusat-pusat pengetahuan dunia. Dalam ilmu pengetahuan, jarak geografis semakin kehilangan kekuatannya ketika jejaring akademik bekerja.
Dari Akademisi menuju Kepemimpinan Fakultas
Perjalanan Adryan kemudian berkembang dari penelitian menuju kepemimpinan akademik. Di Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo, ia memperoleh amanah dalam bidang kemahasiswaan dan alumni. Peran tersebut memperluas orientasi pengabdiannya. Jika penelitian berurusan dengan penciptaan pengetahuan, kemahasiswaan dan alumni berurusan dengan manusia yang akan membawa pengetahuan itu ke masa depan.
Mahasiswa perlu dikembangkan.
Prestasi perlu didorong.
Organisasi perlu dibina.
Alumni perlu dihubungkan kembali dengan almamater.
Dan jejaring perlu dibangun agar pendidikan tidak berhenti ketika mahasiswa memperoleh ijazah.
Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi harus membangun jejaring manusia setelah mereka lulus.
Memimpin Apoteker Sulawesi Tenggara
Di luar kampus, ruang pengabdian Adryan berkembang melalui organisasi profesi. Ia pernah memimpin Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia Kota Kendari pada periode 2018–2022. Sejak 2022, ia dipercaya memimpin Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Tenggara. Laman resmi Ikatan Apoteker Indonesia saat ini masih mencantumkan Dr.rer.nat. apt. Adryan Fristiohady, M.Sc. sebagai Ketua PD IAI Sulawesi Tenggara.
Peran tersebut menempatkannya pada ruang yang berbeda dari laboratorium. Ada profesi yang harus diperkuat. Ada kompetensi anggota yang perlu terus dikembangkan. Ada pelayanan kefarmasian. Ada perkembangan ilmu dan regulasi. Dan ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan profesional. Di sinilah pengetahuan akademik bertemu dengan organisasi profesi.
Dari PPI Austria hingga IAI Sulawesi Tenggara
Pengalaman organisasi Adryan sebenarnya telah tumbuh dalam berbagai fase perjalanan. Ketika berada di Austria, ia pernah dipercaya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Austria pada 2016–2017. Setelah kembali ke Indonesia, pengalaman kepemimpinan itu berlanjut dalam organisasi profesi. Dari komunitas mahasiswa Indonesia di Eropa. Menuju komunitas apoteker di Kota Kendari. Kemudian ke tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara. Ruangnya berubah. Tetapi ada satu kemampuan yang terus berkembang: menghubungkan manusia untuk bergerak menuju tujuan bersama.
Ilmuwan yang Menjadi Penghubung
Jika seluruh perjalanan Adryan dibaca sebagai satu kesatuan, ada satu pola yang muncul. Ia tidak hanya bergerak dari satu institusi ke institusi lain. Ia menghubungkannya.
UMI dengan perjalanan akademiknya.
Kendari dengan Vienna.
Indonesia dengan Thailand.
Indonesia dengan Amerika Serikat.
Penelitian dengan pendidikan.
Kampus dengan organisasi profesi.
Dosen dengan mahasiswa.
Dan pengalaman internasional dengan kebutuhan daerah.
Inilah yang dapat disebut: "Ilmuwan Penghubung." Bukan sekadar ilmuwan yang memiliki jaringan. Tetapi akademisi yang menggunakan jaringan untuk memperluas ruang tumbuh ilmu pengetahuan.
Dari Laboratorium Lokal menuju Jejaring Global
Perjalanan Adryan dapat diringkas melalui satu rangkaian: Farmasi UMI → Asisten Laboratorium → Pendidikan Profesi dan Magister → Akademisi UHO → University of Vienna → Doktor Farmasi → Thammasat University → Oregon State University → Riset Internasional → Kepemimpinan Fakultas → IAI Sulawesi Tenggara → Penguatan Ekosistem Farmasi.
Ada satu hal yang menarik dari rangkaian tersebut. Perjalanannya dimulai dari laboratorium kampus. Kemudian berkembang ke laboratorium dan komunitas akademik internasional. Tetapi akhirnya kembali kepada manusia dan institusi di Indonesia. Karena ilmu yang dibawa pulang memiliki nilai ketika dapat membuka jalan bagi orang lain. Pergi untuk belajar adalah perjalanan pribadi. Pulang membawa jejaring adalah perjalanan kelembagaan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr.rer.nat. apt. Adryan Fristiohady, M.Sc. memulai perjalanan akademiknya dari Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia. Dari mahasiswa dan asisten laboratorium, ia tumbuh menjadi akademisi dan peneliti.
Dari UMI, perjalanan membawanya ke Universitas Gadjah Mada. Ke Universitas Halu Oleo di Kendari. Ke University of Vienna di Austria. Ke Thammasat University di Thailand. Dan ke Oregon State University di Amerika Serikat.
Namun perjalanan tersebut tidak berhenti di luar negeri. Ia kembali membawa pengalaman itu ke Indonesia. Ke ruang kuliah. Ke laboratorium. Ke mahasiswa. Ke kolaborasi penelitian. Ke kepemimpinan fakultas. Dan ke organisasi profesi sebagai Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Tenggara.
Dari laboratorium Farmasi UMI menuju jejaring akademik internasional. Dari jejaring global kembali menuju Kendari dan Sulawesi Tenggara. Pergi untuk belajar. Pulang untuk menghubungkan.
Itulah perjalanan ilmu ketika ia tidak berhenti menjadi milik seorang individu. Ia menjadi jalan agar semakin banyak orang dapat tumbuh bersamanya. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































